×
×

Search in Mata Mata Musik

Green Day “Father of All Motherfuckers”: Hella Mega Rock And Roll

Posted on: 02/17/20 at 10:30 am

Green Day "Father of All Motherfuckers".
Cover album ‘Father of All Motherfuckers’ oleh Green Day. (Foto: Warner Music).

GREEN DAY
Father of All Motherfuckers
(2020, Reprise)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Band punk paling mainstream sedunia Green Day memberikan kejutan dengan album studio ke-13 mereka, Father of All Motherfuckers. Album ini merupakan album Green Day dengan durasi terpendek, berisi 10 lagu yang kelar didengarkan hanya dalam waktu 26 menit. Setelah mendengarkan tiga single yang telah dirilis terlebih dahulu, meski sempat terkejut, para fans tetap semangat menunggu untuk mendengarkan lagu-lagu yang belum dirilis yang tersisa di album ini.

Baca juga: Green Day Imbangi Rekor Foo Fighters Pada Chart Rock Airplay Billboard

Pada bulan September 2019, band ini menggelar gig kejutan di Whiskey Go Go di Sunset Blvd. untuk mendukung peluncuran pengumuman “Hella Mega Tour” mereka yang akan datang, yang akan digelar di stadion terbuka seantero Amerika Serikat (AS) bersama Weezer dan Fall Out Boy yang seharusnya berjalan Maret lalu namun, you know, diundur karena wabah Covid-19. Beberapa kritikus menilai bahwa popstar seperti Billie Eilish mampu menjual habis tiket konser berskala stadion tanpa mesti berbagi panggung dengan siapa pun alias tunggal, yang menyiratkan bahwa band rock – bahkan yang nge-top dan sukses – pun perlu band-band pendamping untuk memenuhi kapasitas venue yang sama. Yang pasti rock tidak pernah mati, soal merajai industri musik atau tidak tergantung seberapa besar daya ledak sebuah album baru di pasaran. Bagaimana dengan Father of All…?

Kelebihan: Di album ini Green Day seperti memberi pendengar pelajaran sejarah rock and roll. Dimulai dengan riff utama lagu pembuka ‘Father of All…’ yang mengingatkan kepada ‘Fire’-nya Jimi Hendrix. Kemudian penghormatan dilanjutkan kepada The Beatles dengan ‘Stab You in the Heart’, sebuah lagu “throwback” rock and roll era awal yang cocok buat berdansa “twist”. Single ketiga ‘Oh Yeah!’ lebih kentara lagi, lagu ini mengutip bagian chorus dari lagu hit 1970-an Gary Glitter, ‘Do You Wanna Touch Me?’ yang kemudian dicover oleh Joan Jett and The Blackhearts pada 1984. Sedangkan lagu penutup ‘Graffitia’ mengingatkan kepada Billy Idol era 1980, seperti lagu-lagu lainnya terdapat banyak sequence tepuk tangan.

Lagu-lagu seperti ‘Father of All…’ dan ‘Fire, Ready, Aim’ memang menampilkan gaya vokal Billie Joe Amrstrong dan musiknya yang berbeda. Lagu-lagu di album ini seperti meninggalkan hampir semua yang Green Day pernah rilis dalam 10 tahun terakhir, sekarang menjadi lebih banyak menghasilkan aransemen yang menyerupai pop, sering kali mencakup beberapa harmoni vokal yang ber-layer, dan penggunaan piano, dan kurang bernuansa “garage” secara produksi sound. Lebih menginkorporasi elemen musik Soul dan R&B dari artis-artis keluaran Motown Records era 1960an. Lebih banyak anthem dansa ketimbang moshing dan pogo. Satu-satunya lagu yang Green Day banget adalah ‘Sugar Youth’, membuat kita bisa memejamkan mata sambil membayangkan lagu yang belum dirilis dari Dookie (1996), dengan Billie Joe yang masih berumur 22 tahun main gitar sambil nyanyi dengan mata melotot.

Selain pelajaran sejarah rock dalam waktu kurang dari 30 menit album ini, yang perlu digarisbawahi adalah liriknya yang selalu menjadi poin kuat bagi Billie Joe Armstrong yang tetap setia pada tema punk pada lagu-lagu seperti ‘I was a Teenage Teenager’: “Aku adalah seorang remaja remaja yang penuh dengan kencing dan cuka” dan “Hidupku berantakan dan sekolah hanya untuk pecundang”.

Satu hal yang pasti, begitu banyak bertebaran hook di sepanjang album sehingga sekali dengar langsung nyantol di kuping. Suka atau tidak itu relatif. Tapi nyantol karena saking catchy-nya, itu pasti.

Kekurangan: Tidak sedikit band yang terjebak dalam bayangan mereka sendiri. Termasuk band sekaliber Green Day, mereka tidak selalu bisa membuat album yang sedahsyat American Idiot atau album terobosan yang mampu mengguncang mainstream seperti Dookie. Untuk Father of All… memang berpotensi gagal menyenangkan fans yang sudah mengikuti band ini sejak era 1990an. Mungkin album ini soundtrack dansa yang kita butuhkan di kala suntuk, tapi jelas bukan tipikal pop punk yang kita inginkan dari Green Day.

Rumornya, ini adalah album terakhir dari kontrak 10 albumnya dengan Reprise Records (sublabel Warner Music Group). Kalau asumsi “sotoy” saya sih, mungkin Green Day tidak ingin memperpanjang kontraknya sehingga membuat album yang “belok” dari pakem musik band ini walau tetap menjaga musikalitasnya untuk menciptakan polemik, baik di pasar, media maupun fans. Kalau pun itu benar, tetap disayangkan status Green Day sebagai pahlawan pop punk yang mengubah wajah punk di dunia, sekali untuk selamanya.

Baca juga: Billie Joe Armstrong (Green Day) Duet Virtual Bareng Susanna Hoffs (The Bangles)

Kesimpulan: Father of All Motherfuckers adalah album rock and roll yang fun. Tapi kemungkinan tidak akan membawa pencapaian tertentu atau memenangkan album terbaik tahun ini yang sepertinya itu memang bukan sesuatu yang penting bagi Green Day lagi. Jangan terlalu dianggap serius. Sepertinya mereka sudah lelah marah-marah dengan mengusung tema revolusi setelah “30 years something ngeband”. Di tengah suhu politik, sosial dan ekonomi global yang panas, Green Day kini justru ingin mengurangi beban stress kita dengan berpesta ketimbang bikin lagu bertema ‘Anti-Trump’.

Verdict: 8/10

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Kuasa

Selain Eksplorasi Secara Massif, Album KAUSA "Una In Perpetuum" Bertam...

Sebagai band yang berbasis heavy metal dan punk rock, KAUSA termasuk band yang gemar berpetualang secara musikal. Dan kini mereka menganalogikan diri merek

on Oct 13, 2020
Turnamen Lagu Punk

Inilah Sang Juara Turnamen 24 Lagu Punk Rock Indonesia Terbaik 2020!

Ok guys, usai sudah, Turnamen 24 Lagu Punk Rock Indonesia Terbaik 2020 persembahan MataMata Musik yang digelar selama bulan September. Tibalah sa

on Oct 1, 2020
Waiting Room

Pionir Skacore Waiting Room Hidup Kembali Via Reissue Album Debutnya

Waiting Room circa 1998. (Foto: via Facebook/Waiting Room). Band veteran pengusung skacore (kombinasi ska, punk rock dan hardcore), Waiting Room telah meril

on Sep 30, 2020
Time Bomb and The Gangs

Lewat 'One Roots', Time Bomb and The Gangs Ajak Bersatu Semua Perbedaa...

Time Bomb and The Gangs. Dari zaman ke zaman perkembangan musik rock cukup signifikan penyebaran dan pengaruhnya di dunia. Nggak sedikit musik ini melahirka

on Sep 29, 2020