×
×

Search in Mata Mata Musik

Hayley Williams Masih Cinta Paramore

Posted on: 08/25/18 at 7:11 am

Pentolan band Paramore mengungkapkan cerita di balik album No. 1 terbaru bandnya, termasuk bagaimana ia mengatasi masalah “writer’s block”

Oleh Bruce Britt (GRAMMY)

Ketika Paramore merilis single terbarunya “Still Into You,” mereka kemungkinan tidak menyadari seberapa relevan judul lagu itu nantinya. Lagu yang ceria namun sangat ‘rock’ ini diambil dari album terbaru mereka Paramore — rekaman lengkap pertama mereka tanpa personel pendiri Josh dan Zac Farro, yang keluar di tahun 2010. Segala keraguan bahwa perubahan lineup mungkin menggagalkan karier Paramore ditampik saat para fans mendongkrak album baru tersebut ke peringkat No. 1 di Billboard 200, yang menandai peringkat atas pertama band ini.

Masih cinta, memang.

Kesuksesan mendadak album Paramore menjadi kemenangan dramatis bagi vokalis Hayley Williams, bassist Jeremy Davis dan gitaris Taylor York. Sesuai dengan nama romantis mereka, Paramore benar-benar telah memuaskan telinga para pendengar radio dengan album-album seperti All We Know Is Falling (2005), Riot! (2007) dan Brand New Eyes (2009). Mereka memperoleh nominasi GRAMMY untuk kategori Best New Artist dan Best Pop Performance By A Duo Or Group With Vocals untuk lagu “The Only Exception” masing-masing di tahun 2007 dan 2010. Selain itu di tahun 2010, Hayley dan Taylor meraih nominasi GRAMMY untuk kategori Best Song Written For Motion Picture, Television Or Visual Media untuk lagu “Decode” dari soundtrack film Twilight.

Sekarang, dilengkapi dengan koleksi terbaru lagu punk-cenderung-pop yang menghibur, Paramore akan memulai pertunjukannya. Tak lama setelah pengumuman tour internasional Paramore di tahun 2013, vokalis Hayley Williams mengungkapkan rahasia mendalam pada album baru tersebut dalam sebuah wawancara eksklusif dengan GRAMMY.com.

Bagaimana Paramore berbeda dari segi musik dan lirik dari album-album sebelumnya?
Secara musik, sangat jauh berbeda. Taylor masuk sebagai partner in crime saya untuk menulis musik dan mengerjakan beberapa demo. Setiap kali kami akan menulis lagu baru, dia akan mengejutkan saya dengan membuat sesuatu secara kebetulan yang bahkan lebih baik dari apa yang awalnya kami kerjakan di hari itu. Lagu-lagunya lebih melodis, lebih berani secara musik, dan kurang peduli tentang apa yang akan dipikirkan orang lain. Suara dan ritme baru menginspirasi melodi dan materi lirik untuk saya utak-atik kembali, yang sebenarnya membuat saya merasa sangat terbebas sebagai seorang penulis. Pada saat kami bertiga akan mengeksekusi lagu-lagu tersebut di studio, kami sangat terkejut dengan apa yang kami bisa hasilkan jika kami berusaha.

Single pertama “Now” adalah tentang tekad dan ketekunan. Apakah tema ini menyebar ke lagu lainnya di album ini?

Tema tersebut adalah salah satu untaian benang yang menarik semua 17 lagu bersama. Tidak hanya hadir dalam lirik, tapi juga dalam semangat album secara keseluruhan. Saat Taylor menulis riff untuk “Now,” saya merasa lebih yakin dari sebelumnya kalau kami menuju sesuatu yang hebat … sebagai manusia, sebagai teman dan sebagai Paramore. Saya hanya tidak yakin apa itu. Saya rasa Anda bisa mengatakan itu adalah campuran tekad dan sikap saya yang tidak sabar.

Dua tahun terakhir menjadi tantangan emosional [bagi Anda], yang diselingi rasa frustasi dan kecewa. Secara lirik, apakah Anda menahan dorongan untuk terdengar “angst-y” di lagu terbaru?

Saya tidak ingin album baru kami menjadi Brand New Eyes, Pt. 2. Kami sudah pernah berada di situ dan itu bukanlah masa yang saya anggap menyenangkan. Ketika kami memulai menulis saya benar-benar mengusir banyak perasaan saya tentang perjuangan sebagai sebuah band dan kehilangan dua orang personil dan teman. Hal ini mulai menjadi masalah ketika saya mengalami  writer’s block yang intens. Semua lirik saya menjadi sampah. Ada banyak sobekan kertas lecek bertebaran di kamar saya. Itu membuat saya frustasi. Saya memutuskan untuk sedikit terus terang di bagian jeda dan di beberapa baris di beberapa lagu yang berbeda dan berkata pada diri sendiri, “Tidak apa-apa berkata jujur. … Asal jangan kasar tentang hal itu.”

Band ini memperkenalkan beberapa tekstur sonik terbaru di album ini seperti funk slap bass, paduan suara gospel dan senar. Apakah ada kekhawatiran tentang memadukan tekstur baru ini tanpa mengorbankan suara punk/pop khas band ini?

Sikap kami sepanjang keseluruhan proses rekaman adalah “coba semuanya!” Kami tidak pernah menjatuhkan ide tanpa setidaknya memberikan kesempatan yang adil. Sejauh tetap setia pada genre yang membuat kami seperti sekarang ini, saya pikir kami tidak melakukan sesuatu yang sekotor itu. Lihatlah Blondie, atau Ramones atau Clash! Kalau Anda tidak bisa melakukan apa yang Anda inginkan di band Anda sendiri atau di sebuah lagu atas nama punk rock, lalu apa gunanya?

Album baru ini menandai kali pertama band ini bekerja sama dengan produser Justin Meldal-Johnsen. Bagaimana kalian memilih dia?

Karyanya di album Hurry Up, We’re Dreaming. dari M83 tidak dapat disangkal. Kami penggemar berat album tersebut ketika baru keluar. Saat kami memutuskan untuk mengadakan rapat dengan dia, kami semua pikir dia akan terlalu keren buat kami. Maksud saya, dia pergi tour dengan [Nine Inch Nails] dan Beck, apa yang akan dia inginkan dengan band kami? Lalu kami semua bertemu dan langsung dekat karena banyak hal — hal-hal berbeda untuk masing-masing dari kami. Rasanya seperti takdir. Kami bertemu banyak orang lain, produser papan atas. Bagaimana pun juga, kami tidak bisa berhenti berpikir untuk membuat rekaman dengan JMJ.

Apakah ada alasan kalian memilih judul Paramore untuk album ini? Apakah ini pernyataan eksistensial bahwa “kami masih berdiri”?

Ini benar-benar sebuah pernyataan bagi kami, dan semoga bagi siapa saja yang telah mengikuti band kami sejauh ini. Ini adalah album yang selalu kami niatkan untuk buat. Hanya saja waktunya tidak pernah tepat sebelumnya.

Band ini menunjukkan sisi lemahnya di single yang masuk nominasi GRAMMY di tahun 2010 “The Only Exception.” Apakah lagu tersebut menandai langkah besar dalam perubahan band ini?

Pada saat itu, lagu tersebut hanya terasa seperti lagu percintaan. Saya sedikit lebih mengerti sekarang. Lagu itu berbeda bagi kami; sisi Paramore yang lebih halus ketika kami paling dikenal karena kemarahan kami. Itu mungkin awal mula kami menyadari kalau kami bisa melangkah dengan mengikuti naluri kami sebagai penulis lagu.

Pelajaran apa yang kalian ambil dari pengalaman beberapa tahun terakhir?
Hal yang paling nyata adalah bahwa kami bertiga mengerti sekarang, tanpa ragu, bahwa kami semua benar-benar ingin berada di sini. Siapa pun yang tidak berkomitmen dengan hatinya tidak bisa bertahan selama ini. Selain itu, kami menjadi teman yang lebih baik ke satu sama lain daripada sebelumnya. Itulah yang paling penting.

 

Posted on December 2, 2014 4:06 pm

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Gimana Nasib Masa Depan Paramore

Hayley Williams Akui Tidak Tahu Arah Paramore Selanjutnya!

Sudah lebih dari dua tahun sejak Paramore merilis album terakhir mereka, After Laughter, dan hampir setahun sejak mereka terakhir menggelar pertunjukan live, d

on Aug 18, 2019
Hayley Williams

Hayley Williams Isyaratkan Materi Baru Paramore Atau Solonya?

Teaser yang diunggah di Instagram pribadi Hayley Williams tidak ada suaranya! Baca Juga: American Football Gandeng Hayley Williams di “Uncomfortably Numb

on Jun 24, 2019
Claire Elise Boucher Akan ‘Bunuh’ Grimes!

Claire Elise Boucher Akan 'Bunuh' Grimes!

Dalam wawancara dengan WSJ Magazine, artis asal Kanada ini juga membahas tentang Elon Musk dan rencananya mengeksekusi persona Grimes di hadapan publik. Ole

on Mar 25, 2019
American Football Gandeng Hayley Williams di “Uncomfortably Numb”-1

American Football Gandeng Hayley Williams di “Uncomfortably Numb”

Video musiknya menghadirkan penampilan dari Blake Anderson Oleh Trey Alston (Pitchfork) American Football meluncurkan lagu baru “Uncomfortably Numb,”

on Jan 23, 2019