×
×

Search in Mata Mata Musik

Hourglass – Niskala

Posted on: 02/11/19 at 7:45 pm

Penggambaran putus asa dan harapan yang dibuat dengan indah secara abstrak oleh Niskala.

Oleh: FEK. 

Lagi-lagi Yogyakarta mengeluarkan musisi berbakatnya. Empat tahun waktu yang dirasa cukup untuk Niskala memantapkan diri menelurkan album penuh bertajuk Hourglass. Tepat di hari lahirnya 14 Desember 2018, mereka merilis sebuah album yang dirilis dalam bentuk cakram padat, dipaketkan dengan sebuah buku berisi 26 halaman yang berisi foto representasi dari masing-masing lagu dalam Hourglass buatan Bramsky.

Instrumental Post Rock. Jelas bahwa lagu-lagu mereka sebagian besar berisi penggabungan suara alat musik yang dimainkan oleh Danar Puspito (Guitar, Glockenspiel), Inderajaya (Drum), Damar Puspito (Bass), Danish Wisnu (Synth, Guitar) dan Daniel Bagas (Guitar) tanpa suara vokal. Sama seperti nama Niskala, rasa yang dibuat dari setiap lagunya tidak disalurkan melalui lirik yang dinyanyikan oleh seorang vokalis, melainkan dibuat secara abstrak kedalam penggabungan instrumen musik. Penggambaran yang tepat mungkin adalah sebuah rasa putus asa sekaligus harapan yang dibuat dengan indah.

Baca Juga: Galaksi Palapa – Kelompok Penerbang Roket

Tidak sepenuhnya instrumen, dalam lagu “Seeing The Unseen” terdapat suara wanita, Chintya Anindita, yang menyatu dengan irama lagu yang membuat saya seperti mengambang menghadap langit di lautan lepas. Serta orang berpidato atau berpuisi –entahlah menyebutnya seperti apa– dalam bahasa Inggris dan Jerman pada “Commemorate” yang diisi oleh Daniel Bagas.

Sangat dalam! Walaupun tidak digambarkan secara jelas, saya benar-benar merasakan kedalaman mood ketika mendengarkan lagu mereka. Pada lagu “Alana”, saya ditenggelamkan oleh semesta ke laut terdalam, kekelaman sangat terasa. Tapi di bagian akhir lagu, seperti ditolong ke permukaan untuk menghirup udara bebas. Hampir sama,“Captured Trails” juga memberikan penggambaran yang mirip namun lebih halus dalam menaikkan mood.

“Legacy of the Moon” adalah penggambaran sebuah harapan yang dapat memberikan nuansa positif. Duduk sendiri, melamun, di sebuah sabana luas dengan desiran angin adalah situasi yang tepat untuk mendengarkan lagu ini.

Sangat sayang karya mereka untuk dilewatkan karena pengemasan yang bekelas dari bentuk fisik album sampai proses kreatif pembuatan lagunya. Ditambah pula foto-foto Bramsky yang cukup merepresentasikan kedalaman karya mereka dengan foto simple namun bermakna. Didominasi dengan warna hitam putih serta faded dengan saturasi rendah.

Verdict: 8/10.
Percayalah pada semesta!

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya LMNOPOP!

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019
Ulasan Album" The Sailor-Rich Brian

Ulasan Album: The Sailor-Rich Brian

Rich Brian atau Brian Imanuel Soewarno di tahun ke-19 hidupnya; melepas ‘Chigga’-nya dan tidak lagi mencari kontroversi demi jumlah klik di Youtube. Ol

on Aug 14, 2019