×
×

Search in Mata Mata Musik

In Memoriam: Tonny Christian Pangemanan dan NOXA, Martir Grindcore

Posted on: 11/14/20 at 6:00 am

Tonny Christian Pangemanan.

Langit nampak cerah namun kali ini begitu terasa gelap dan berkabut, itulah suasana yang menyelimuti komunitas musik cadas Tanah Air sejak mendengar berita duka atas meninggalnya mantan vokalis band grindcore Noxa, Tonny Christian Pangemanan pada hari Jum’at, 13 November 2020.

Baca juga: Akhirnya Noxa Resmi Punya Vokalis Baru

Tonny yang akrab disapa Togen, singkatan dari Tonny Gendut, atau juga akrab disapa Atenk oleh teman-temannya ini telah resmi mengundurkan diri dari Noxa sejak 14 September 2019 karena alasan masalah kesehatannya seperti yang Tonny posting di akun media sosialnya. Tonny berawal terserang stroke dan sempat berhasil tertangani, namun sesuai anjuran dokter, Tonny sudah nggak bisa melakukan aktivitas yang menguras energi terlalu banyak. Selain pola makan-minum yang dijaga, pola istirahat dan aktivitasnya juga. Walhasil, Tonny terpaksa harus meninggalkan Noxa, band bergenre musik bertegangan tinggi yang performa live-nya pun sangat menguras energi.

Tonny terhitung sudah 17 tahun main band jatuh bangun bersama Noxa, tepatnya sejak band ini terbentuk pada 2002 silam di Jakarta oleh mendiang dramer Robin Hutagaol dan gitaris Ade Himernio. Setelah sepakat mengusung grindcore, Robin dan Ade segera merekrut Tonny sebagai vokalis dan Dipa Biomantara sebagai bassis. Mereka semua adalah empat sekawan yang kuliah di bawah satu atap Universitas Sahid, Jakarta. Nama Noxa dipilih karena memiliki arti efek yang berbahaya pada tubuh, menurut mereka pas banget dengan agresi musik grindcore yang mereka usung. Awalnya Noxa sering mengcover lagu-lagu Napalm Death dan Nasum, sebelum akhirnya fokus menggarap lagu-lagu sendiri.

Noxa mark I, 2003. Ki-ka: Dipa, Ade, Tonny (depan), Robin.

Sejak debut album Noxa pada 2003, band ini langsung melesat ke jajaran atas scene musik underground dengan tampil di berbagai gigs seantero Indonesia hingga ke Singapura dan Malaysia. Noxa memang band yang terbilang baru saat itu, namun nama Robin sudah sangat beken sejak doi masih memperkuat Sucker Head dan Brain The Machine. Namun Noxa bukanlah band yang ingin serba instan, sebaliknya sangat low profile, bahkan hingga saat ini. Sekitar pertengahan 2003, ada sebuah festival bertajuk “A Tribute To Napalm Death” di Kampus Mercu Buana, Jakarta yang membuka registrasi band untuk tampil dengan biaya Rp 50 ribu. Noxa diundang sebagai bintang tamu, namun pihak Noxa menolak karena lebih memilih ikutan registrasi dan membayar saja dengan alasan mereka band baru. Mereka bilang, mau berjuang dari bawah dan merasakan gerilyanya lagi. This band is indeed something, the next big thing…

Album kedua Noxa, Grind Viruses (2006) turut melibatkan Keijo Niinimaa, vokalis band grindcore Finlandia, Rotten Sound menulis lirik lagu ‘Starvation’. Pada 2008, album ini dirilis ulang oleh Stay Heavy Records dari Finlandia untuk pasar Eropa dan di tahun yang sama, Noxa tampil di Tuska Open Air Metal Festival, Helsinki, Finlandia, menjadi satu-satunya perwakilan band Indonesia di antara puluhan band manca negara.

Noxa usai penampilannya di Tuska Open Air Metal Festival, Finlandia, 2009.

Pada 17 Januari 2009, Robin meninggal karena kecelakaan motor, dan enam bulan kemudian digantikan oleh Alvin Eka Putra dan langsung berencana menggarap album berikutnya. Pada 2010, Noxa tampil di Obscene Extreme Festival, Republik Ceko, kembali menjadi satu-satunya band yang mengibarkan bendera merah putih di atas panggung di depan ribuan penonton internasional.

Noxa mark II. Ki-ka: Dipa, Tonny, Alvin, Ade.

Dan pada Juli 2011, album ketiga Noxa, The Legacy dirilis yang dalam rekamannya turut melibatkan dua musisi dari band grindcore Amerika Serikat, yakni Jason Netherton (Misery Index) dan Shane McLachlan (Phobia). Kemudian pada 2016, Noxa sempat merilis mini album Buka Mata yang berisi 5 lagu dan disusul oleh album penuh Propaganda yang dirilis pada 9 Maret 2019, yang merupakan album terakhir Tonny berkiprah di Noxa.

Baca juga: Watch Out! Grind For Better Life, Film Kronikel Gerilya Trio Grindcore Proletar

Tonny dikenal sebagai sosok yang sangat baik, periang, humoris, sangat humble kepada siapa saja tanpa memandang apa pun walau namanya sudah melegenda di scene musik independen nasional dan internasional, kepergiannya ke pangkuan Sang Pencipta tentu meninggalkan kesedihan bagi orang-orang yang menyanyanginya.

Satu hal yang pasti, bersama Robin dan Noxa, Tonny telah berjasa mengangkat derajat musik grindcore yang identik termarjinalkan di industri musik ke level nasional dan internasional. Sebagaimana grindcore, lirik-lirik lagu Noxa bertema sosial dan politik. Noxa membuat musik ekstrim ini disegani dan dihormati oleh industri mapan, secara nggak langsung menegaskan bahwa sepak terjak band dan genre musik ini bukan main-main alias the real deal.

Selamat jalan, Tonny, heaven can wait. Salam buat Robin. Rest in Power. Grind on! \m/

Noxa di Obscene Extreme Festival 2010, Republik Ceko, Eropa.

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi
Foto-Foto: Noxa Facebook

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

DUSX

Trio Death/Grind DUSX Muntahkan EP Debut "Toxicious Anthropoid" Yang G...

DUSX. Pasukan death/grind yang berbasis di Bandung, DUSX memuntahkan album mini (EP) perdana mereka bertajuk Toxicious Anthropoid via Disaster Records sejak

on Oct 27, 2020
Napalm Death

Napalm Death "Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism": Kembalinya Sang...

Cover album Napalm Death Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism. (Gambar: Century Media Records). NAPALM DEATHThroes Of Joy In The Jaws Of Defeatism(2020, C

on Sep 19, 2020
Mitch Harris

Band Baru Mitch Harris (Napalm Death) & Dirk Verbeuren (Megadeth) Siap...

Brave The Cold: Mitch Harris dan Dirk Verbeuren. (Foto: Mission Two Entertainment). Akhirnya, terjawab sudah pertanyaan para fans Napalm Death tentang absen

on Sep 10, 2020
Proletar

Watch Out! Grind For Better Life, Film Kronikel Gerilya Trio Grindcore...

Proletar. Dari scene musik ekstrim cadas Tanah Air, akan dirilis sebuah film yang mendokumentasikan salah satu kiprah perjalanan pejuangnya. Diberi judul Gr

on Sep 6, 2020