×
×

Search in Mata Mata Musik

Inilah Mengapa Eyehategod Menjadi Band Live Terbaik Amerika

Posted on: 09/18/18 at 7:02 am

Para penggemar musik metal mungkin sudah mengenal veteran Big Easy ini sebagai legenda bawah tanah. Namun, para penggemar musik rock juga bisa menyukai riff-riff gila mereka.

Oleh: Hank Shteamer. (Rolling Stones)

Konser Eyehategod adalah rentetan pesan yang tiada henti. Hari Jumat lalu, di Brooklyn Bazaar, New York, vokalis Mike Williams banyak mengacungkan jari tengah ke para penonton, baik selama dan di antara jeda lagu. Kapan pun tangan mereka kosong, Jimmy Bower dan Gary Mader, gitaris dan bassist band asal New Orleans ini, melakukan hal yang sama. Seperti biasa, mereka mengucapkan rasa terima kasih yang tulus: Bower bertepuk tangan untuk para penonton; Williams mengatakan, “Kami benar-benar mencintai kalian, sungguh.” Saat memperkenalkan lagu “Medicine Noose,” Bower menirukan gerakan gantung diri, dan Williams menambahkan, “Lagu ini tentang bunuh diri.” Saat lagunya usai, sang vokalis kembali memainkan peran tuan rumah yang ramah: “Apakah kalian bersenang-senang?”

Dan kelihatannya, semua orang memang bersenang-senang. Bahkan sebelum penampilan utama dimulai, saat band ini mulai memainkan musik pengantar khasnya di atas panggung, orang-orang di depan panggung saling mendorong dan berteriak, dan semakin bersemangat. Kemudian, Williams memberikan sinyal, sambil berteriak, “Kami Eyehategod, dari New Orleans, Louisiana,” dengan teriakannya yang khas. Hill mulai menghitung mundur, dan band ini pun mulai membawakan “Agitation! Propaganda!,” lagu bergaya hardcore yang membuka album eponim mereka di 2014, dan lokasi itupun seketika dipenuhi oleh kegilaan. Para penonton tampak aktif menyanyikan lagu-lagu pembuka, termasuk rocker hardcore veteran asal Maryland The Obsessed, teman tur mereka di AS pada 24 September nanti. Namun saat ini, rasanya seperti semacam saklar yang dijentikkan dalam otak para penonton. Selama 90 menit berikutnya, konser ini menjadi ladang penuh keringat dan bir, dengan beberapa penonton yang mulai membuka baju mereka, dan mosh pit-nya pun seolah siap menelan seluruh ruangan.

Ada beberapa band yang sangat lihai memainkan musik heavy rock atau metal. Mereka erat, intens, profesional; mereka memancarkan aura macho yang tepat. Anda mungkin melihat mereka tampil di klub, menganggukkan kepala Anda dan mulai menyukai musik mereka, dan bahkan membeli kaos mereka di meja merchandise setelahnya. Kemudian ada band lainnya, segelintir kecil, yang, melalui kombinasi alkemis eksekusi dan attitude, melampaui subgenre mereka secara total dan terhubung dengan akar awal rock & roll, memberikan penonton kesan, “Apa yang sedang terjadi saat ini?” yang menjadi ciri khas artis asal Amerika mulai dari Howlin’ Wolf hingga Jerry Lee Lewis dan The Stooges. Eyehategod adalah salah satu dari band ini. Tak peduli seberapa besar ketertarikan Anda dengan musik metal atau punk atau cabang musiknya, jika Anda  mencintai musik rock, Anda harus menonton penampilan mereka secara live setidaknya sekali.

Tidak ada sebutan yang pas untuk menggambarkan musik yang dimainkan Eyehategod. Sempat muncul istilah, “sludge metal,” yang sering dikaitkan dengan mereka dan band Big Easy lainnya seperti Down (yang diisi Bower di bagian drum) dan Crowbar, yang mana keduanya tidak benar-benar terdengar seperti Eyehategod kecuali dalam hal “riff besar dan tempo yang lambat.” Tapi itu rasanya terlalu membatasi, tidak pas dengan cara Eyehategod memilih dan menggabungkan elemen dari era dan gerakan yang berbeda untuk menciptakan bentuk akhir seni berbasis riff yang diperkeras.

“Saya tidak terlalu suka istilah itu,” kata Williams kepada seorang pewawancara mengenai sebutan “sludge” di 2010. “Bagi saya, kami hanyalah band rock ‘n’ roll dan blues. Kami tidak pernah menyebut diri kami band sludge metal. Sebutan itu dibuat-buat oleh para jurnalis. Saya pikir kami memulai suatu gaya musik, menyatukan hardcore punk dengan metal lambat bergaya Sabbath —seperti campuran Black Flag dan Black Sabbath. Mereka adalah dua band favorit saya jadi masuk akal rasanya.” Dia lebih ringkas menambahkan dalam catatan untuk penerbitan kembali album masterpiece mereka dalam versi vinyl di tahun 1993, Take as Needed for Pain, yang bertengger di nomor 92 di daftar Greatest Metal Albums of All Time Rolling Stone: “Total hardcore dan total doom.” Lagu pembuka “Blank,” dengan kontras antara bashing yang cepat dan groove evil-blues yang lambat, melambangkan karakteristik band ini.

Band-band lain sebelumnya, khususnya Corrosion of Conformity asal Raleigh di album klasik mereka tahun 1985 Animosity, pernah menampilkan formula yang serupa. Tapi Eyehategod, yang dibentuk pada 1988, membuatnya terasa lebih murni dan lebih besar, menambahkan semacam ketidaksukaan terhadap orang-orang. “Semua pengikut jalan saya harus mencapai penemuan spiritual, melalui perjalanan penuh halusinasi dengan LSD setiap minggunya, dan dengan mariyuana setiap hari,” tertulis di sebuah catatan di edisi asli Take as Needed. “Mereka harus meninggalkan keluarga dan masyarakat mereka sesegera mungkin.” Lirik Williams yang terpisah-pisah dan jarang dimengerti, penuh dengan adegan penuh teka-teki yang sering kali membuat mual tentang degradasi, melengkapi gambaran yang buruk tentang mereka.

Tetapi berbeda dengan doktrin anti-sosial yang ditunjukkan band ini, konser Eyehategod justru menunjukkan kebersamaan. Williams mengompori penonton untuk terus berdesakan — apa pun yang dia teriakan seolah ingin memicu perkelahian di bar — tapi gurauannya lebih terasa sebagai ungkapan kasih sayang ketimbang bermaksud buruk. Teman-teman seband-nya juga turut kena ledek. “Jimmy akan menunjukkan penisnya ke kalian,” ledek Williams kepada para penonton pada Jumat lalu, sementara Bower hanya melihat dengan ekspresi terkejut. “Kalian harus melihatnya; [penisnya] sangat aneh.” Williams berhenti, dan kemudian menambahkan, “Bentuknya seperti sekumpulan benang.” Lalu dia berpelukan di atas panggung dengan Bower dan Mader, terkadang di tengah lagu, dan mengundang orang merchandise mereka ke atas panggung untuk menyanyikannya lagu selamat ulang tahun bersama penonton. (Dengan gaya khas Eyehategod, kue ulang tahunnya dilengkapi dengan sebatang rokok sebagai lilinnya.)

Di samping gurauan itu semua, penciptaan musik Eyehategod sendiri sangatlah serius. Band ini memulai karier sebagai provokator: “Itulah konsep Eyehategod di awal: Untuk bermain selambat dan semenjengkelkan mungkin dan menghancurkan orang-orang,” kata Williams kepada Decibel di 2006. (“Kami sangat senang kalau orang-orang membenci kami,” tambah Bower.) Kini, berbanding terbalik dengan niche yang mereka ciptakan sendiri, mereka menjadi virtuoso. Tak banyak band mampu menampilkan riff-riff organik, dan dengan cerdik membuatmu merasakan groove yang diberikan. Jumat lalu, penampilan band ini membawakan lagu-lagu favorit dari album Take as Needed seperti “Sister Fucker (Part 1)” dilakukan penuh penghayatan, sehingga terasa warna R&B yang kuat, bukan sekedar pertunjukan metal yang kaku.

Komposisi berempat mereka saat ini masih terbilang baru — Hill bergabung setelah kematian drumer lama mereka Joey LaCaze di 2013, dan gitaris Brian Patton, baru-baru ini hengkang untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama keluarganya — namun sangat meyakinkan. Bower menjadi frontman band ini, menyuntikkan setiap riff dengan penuh gaya dan mengisi jeda dengan vibrato khasnya. Gitarnya berfungsi layaknya suara pendukung, seperti yang dia tunjukkan dengan mengucapkan hampir semua yang dia mainkan. Mader dan Hill bernapas dengannya seperti grup jazz yang hebat.

Williams adalah elemen kekacauannya. Dengan senyuman sintingnya, fiturnya yang berongga dan jari-jarinya yang diplester, dia terlihat — dan kadang terdengar — seperti orang gila di jalanan, bingung dan bergumam sendiri. (Di luar panggung, Williams telah melalui banyak hal: kecanduan heroin, penjara, transplantasi hati setelah terkena sirosis.) Dia menarik-narik rambutnya, membuat tanda salib, menyentakkan gagang mik ke depan dan ke belakang. Pembawaannya, aksi setengah berteriak dan setengah melengking yang kasar dan tiada hentinya, melengkapi groove band ini. Dia sempat mengambil gitar Bower dan mulai beraksi dengan Mader dan Hill membawakan musik hardcore yang diimprovisasi, sementara Bower menonton mereka dengan senyum lebar. “Saya hanya tahu riff Discharge,” ujar Williams kepada penonton.

Konser Eyehategod di hari Jumat itu tidak jauh berbeda dari konser-konser mereka sebelumnya. Lagu yang dibawakan kebanyakan diambil dari Take as Needed dan Eyehategod, album terakhir mereka dengan Patton dan LaCaze, dan bisa dibilang album terbesar kedua mereka secara keseluruhan. Kalau ini band lain, orang mungkin akan mulai bertanya-tanya kapan mereka akan kembali ke studio, atau setidaknya mulai memutar beberapa lagu baru di konser mereka.

Namun Eyehategod tidak seperti itu. Dalam 30 tahun kariernya, mereka baru hanya merilis lima album penuh. Hal itu mungkin karena mereka tidak membutuhkan materi yang segar: Tiap malam di atas panggung, mereka membawakan repertoar mereka dengan penuh perasaan dan ketulusan yang hanya bisa ditandingi oleh band paling elite di genre mana pun. Hari Jumat lalu, di antara lelucon tentang penis, obrolan tak berbobot dan aksi buang ingus Williams, musik mereka dimainkan di level yang lebih tinggi. Konser Eyehategod mungkin menampilkan sedikit hal yang tidak senonoh, tapi perasaan yang didapat oleh para penonton adalah sesuatu hal yang sakral.

Keterangan foto utama: Band veteran beraliran doom-hardcore asal New Orleans, Eyehategod, saat ini di tahun ke-30 mereka, memancarkan semangat rock & roll yang tiada habisnya. (Foto: Hillarie E. Jason)

Sumber: https://www.rollingstone.com/music/music-news/eyehategod-hardcore-live-band-724942/
Posted on September 17, 2018

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Drummer Eyehategod Ditikam dan Dirampok di Meksiko

Drummer Eyehategod Ditikam dan Dirampok di Meksiko

Aaron Hill diserang saat sedang berjalan menuju lokasi pertunjukan Eyehategod di Guadalajara. Drummer Eyehategod, Aaron Hill, ditikam dan dirampok dalam per

on Jul 9, 2019
Adult Swim

Adult Swim Rilis Kompilasi Metal Swim 2

Berisi lagu-lagu baru dari Eyehategod, Author & Punisher, Alien Weaponry, dan masih banyak lagi Baca Juga: Autechre Rilis “sinistrail sentinel” untu

on May 12, 2019
Tool Perdana Bawakan 2 Lagu Baru Secara Live

Tool Selipkan 2 Lagu Baru di Setlist Konser Terbarunya

Band ini perkenalkan “Descending” dan “Invincible” dalam konser mereka di Jacksonville. Baca Juga: Dua Alat Musik Milik Lamb of God Raib Dicuri!

on May 7, 2019
Coachella 2019 Ungkap Jadwal Siaran Langsung & Video

Jadwal Siaran Langsung Coachella 2019!

Tahun ini, Coachella juga akan menyiarkan langsung sejumlah penampilan dari akhir pekan pertama di saluran Youtube-nya. Sekitar 69 artis yang sudah dikon

on Apr 11, 2019