×
×

Search in Mata Mata Musik

Irfan “Rotor” Sembiring, Legenda Metal Indonesia Telah Berpulang Ke Sisi-Nya

Posted on: 02/16/21 at 12:30 pm

Irfan "Rotor" Sembiring, Legenda Metal Indonesia Telah Berpulang Ke Sisi-Nya
Penampilan Irfan Sembiring, sesudah dan sebelum, masa kini dan masa lalu.

Kabar duka tentang kepergian Irfan Sembiring, sang legenda musik extreme metal Indonesia tentu saja menjadi sangat emosional bagi para penggemar Rotor, band thrash metal yang membesarkan namanya sejak era awal 1990-an, terutama bagi keluarga tercinta dan kerabat dekatnya. Hari ini, Selasa siang, 16 Februari 2021, kabar yang sangat mengejutkan ini pertama kali tersiar dari beranda Facebook pribadinya Irfan dan telah dikonfirmasi oleh sohib lawasnya, Bakar Bufthaim, mantan dramer Rotor. Irfan dikabarkan oleh salah seorang kawannya telah mengembuskan napas terakhirnya di kediaman orang tuanya. Ucapan belangsungkawa pun membanjiri beranda seluruh kanal media sosial.

Innalillahi wa inna innalillahi rojiun. Telah meninggal dunia IRFAN SEMBIRING Rotor.. Mudah2an Husnul Khotimah.🙏🙏🙏

Posted by Bakar Bufthaim on Monday, February 15, 2021

Baca juga: Album Legendaris Rotor “Behind The 8th Ball” Dirilis Dalam Format Piringan Hitam

Seluruh insan rock Indonesia jelas sangat terkejut, pasalnya belum lama, tepatnya pada 9 Januari 2021 lalu, Irfan bersama Bakar menghadiri acara peluncuran album Rotor Behind The 8th Ball berformat piringan hitam (vinyl) sebagai pembicara utama. Sebuah album perdana Rotor yang pertama kali dirilis oleh AIRO Records pada 1992 silam dalam format kaset. Serta album thrash metal pertama yang dirilis oleh major label. Acara yang digelar di M Bloc Space, Jakarta Selatan itu berlangsung seru dan ramai dikunjungi para penggemar Rotor. Di acara itu, Irfan tampak sehat dan ceria, sama sekali tidak menunjukkan indikasi apa-apa.

Irfan di kediamannya berpose memegang album vinyl Rotor Behind The 8th Ball. (Foto: via Facebook Irfan Sembiring).

Rotor, Legenda Thrash Metal Indonesia

Rotor, 1992 (ki-ka): Irfan Sembiring (vokal/gitar), Bakar Bufthaim (dram), dan Judapran (bass).

Bagi pecinta musik cadas pasti mengenal band thrash metal, Rotor. Band ini tidak terbantahkan adalah salah satu pionir musik thrash metal garda terdepan. Seperti namanya, Rotor merupakan baling-baling dari mesin bersuara bising dan seperti itulah gempuran suara dari genre musik yang dibawakan Rotor. Namun siapa sangka sosok gondrong dan urakan di balik berdirinya Rotor, sejak puluhan tahun silam telah berbalik 180 derajat dari kehidupan yang terlihat ugal-ugalan kala itu.

Sosok yang bernama Irfan Sembiring, pendiri Rotor, band metal legendaris di kancah musik cadas Tanah Air. Selepas keluar dari Sucker Head pada 1990, Irfan mendirikan Rotor pada 1991. Untuk musik bergenre seperti ini, Rotor termasuk band metal yang dikenal oleh masyarakat luas di Indonesia setelah beredarnya album perdananya yang sukses, Behind The 8th Ball, yang dirilis oleh AIRO Records, major label yang dimiliki oleh pengusaha beken sekaligus musisi kawakan Setiawan Djody.

Namun kejayaan bermusik yang pernah diraihnya hanya sekadar numpang singgah saja, tidak terus melekat selama-lamanya. Meskipun pernah berambisi untuk dapat bersaing di kancah internasional namun ternyata hal itu menggiringnya ke pintu kesadaran pada makna hidup di dunia.

Berawal dari Rotor menjadi band pembuka konser Metallica di Stadion Lebak Bulus, Jakarta pada 1993. Setelah konser yang berakhir dengan kerusuhan fatal itu, Irfan bersama dua orang temannya, Judapran dan Jodie, berangkat ke Amerika Serikat (AS). Mereka mengadu nasib di negeri Paman Sam mengejar impiannya menjadi seperti Sepultura, band thrash metal asal Brazil yang telah sukses di kancah internasional.

Formasi lawas terakhir Rotor, 1993 (ki-ka): Reeve (dram), Judapran (bass), Jodie (vokal), Irfan (gitar/vokal).

Namun ternyata impian Irfan dan kedua temannya harus kandas begitu saja, karena ketatnya persaingan yang ada di sana dan mereka tidak dapat menembusnya. Semangat itu, kenang Irfan, langsung pudar saat melihat daftar artis metal yang sudah rekaman di Kantor Pusat Billboard, di California. “Kalau gue enggak salah ingat, ada 6.000 band metal yang terdaftar sudah rekaman, itu baru California saja. Semuanya lebih unik, dan lebih keren dari Rotor,” tutur Irfan dalam suatu wawancara.

Segala upaya dicoba terus oleh tiga metalhead Indonesia ini, namun tetap saja mereka tidak berhasil menaklukkan belantika musik AS. Akhirnya kegiatan mereka di sana hanya keluyuran dari club malam satu ke club malam yang lain termasuk hang out di club Rainbow, tempat berkumpulnya bintang film porno.

Karena tidak mendapat ruang meniti karier di AS, akhirnya kondisi keuangan mereka pun makin menipis. Maka untuk bertahan hidup di negara maju tersebut, mereka mencari kehidupan dengan caranya masing-masing. Jodie ke San Fransisco dan Judha ke Alabama bekerja di pengolahan ayam, sedangkan Irfan hanya menetap di Los Angeles dan tidak lama setelah itu mereka memutuskan untuk pulang ke Tanah Air.

Rotor circa 1993 di Kresikars, pensi SMU 82, Jakarta.

Sepulangnya dari AS, mereka bertiga pecah dan mendirikan band masing-masing, Jodie membentuk band Getah, sedangkan Judapran meninggal dunia akibat over dosis narkoba. Sementara Irfan mendirikan label Rotorcorp yang kemudian diteruskan oleh Krisna Sadrach (almarhum) dari Sucker Head. Namun tidak lama setelah kematian Judapran pada 1998, Jodie yang pernah menikahi aktris Ayu Azhari menyusul meninggal dunia akibat over dosis.

Hijrahnya Irfan Dari Dunia Fana

Irfan di usianya yang ke-50 tahun. (Foto: via Facebook Irfan Sembiring).

Kegagalan serta kehidupan urakan yang dialami oleh Irfan telah membawa cahaya hidayah yang masuk ke hati pria berdarah Batak ini, tanpa disengaja dia juga memperhatikan gaya hidup dan kehidupan artis terkenal, “Gue perhatiin waktu di Amerika, kehidupan musisi sukses tuh enggak enak, terutama matinya enggak ada yang enak. Gue terus mencari-cari, jalan hidup yang paling sukses jadi apa,” ujarnya. 

Memasuki tahap pencarian tujuan hidup pada 1997, tibalah dia di toko buku di wilayah Jakarta. Saat itu dia langsung tertuju pada buku berjudul “The 100: A Ranking of the Most Influential Persons in History” yang ditulis oleh Michael H. Hart. Membuka isi buku itu dia pun heran karena tertulis nama Nabi Muhammad SAW sebagai orang nomor satu yang memiliki pengaruh sejagat.

“Ini buku yang mengarang dari namanya beragama Nasrani, paling enggak non-muslim, tapi urutan pertama Muhammad, berarti orang ini fair,” kata Irfan. Dari sinilah dia terus mencari apa dan bagaimana hal itu dapat terjadi.

Penasaran dengan sosok Nabi Muhammad SAW, akhirnya mengantarkan Irvan untuk mencari bagaimana kiprah dan kepribadian manusia yang disebut sebagai kekasih Allah tersebut. Pada tahun 1998, dia memutuskan untuk mencari Ustadz yang dapat menjelaskan tentang perkara tersebut, sampai akhirnya setelah malang melintang dari masjid ke masjid dan mengikuti beberapa pengajian, pria kelahiran Surabaya, 2 Maret 1970 ini akhirnya bertekad meninggalkan hingar bingar dan kehidupan urakan yang pernah dia jalani.

Sejak memantapkan hati untuk berhijrah, Irfan lebih sering mengunjungi masjid dan beriktikaf. Padahal sebelumnya dia jarang sekali ke masjid, namun sejak itu baginya masjid adalah tempat yang menyejukkan dan menentramkan jiwa, menurutnya masuk ke dalam masjid itu ibarat ikan di dalam air tidak merasa sesak bernapas.

Hasil ikut pengajian ke sana sini, dia akhirnya mantab mengikuti pola keagamaan jamaah tabligh pada 1998, hasil pesantren kilat tiga hari di Jakarta Selatan. Dari sana, dia mengaku ketagihan dakwah, termasuk berguru hingga ke India dan Pakistan.

Segala hingar bingar duniawi dilepas, termasuk aktivitas bermusiknya. Padahal, rekannya di jamaah itu enggak ada yang memaksanya berhenti menekuni dunia musik metal.

“Guenya aja yang lebay, padahal enggak ada yang nyuruh berhenti, tapi semuanya, termasuk bisnis, ditinggal total,” kata Irfan dalam suatu wawancara.

Kendati telah berhijrah, namun Irfan tidak membenci musik, bahkan di tahun 2013, dia sempat menghidupkan kembali Rotor dengan formasi baru yang berisi teman-teman lamanya. Selain sempat manggung beberapa kali, dia juga membuat lagu baru. Namun lirik lagu yang dibawakannya merupakan lirik yang sarat nilai Islam. Pada dasarnya lirik yang ditulis oleh Irfan merupakan terjemahan berbahasa Inggris dari Alquran, seperti lagu berjudul ‘Infidel’ yang merupakan terjemahan berbahasa Inggris dari Surat Al Kafirun.

“Selain mendengar masukan dari berbagai pihak, dari dulu tidak ada musik ke arah agama, musik ya musik, dulu cuma ada satu lagu yang liriknya tentang Islam, dan lagu Infidel ini hanya untuk dipasarkan di luar negeri,” jelas Irfan, saat diwawancara oleh media.

Ketika ditanya tentang terjunnya kembali Irfan ke panggung musik, dia pun memberikan suatu perumpamaan, “Gue kasih tamsil (perumpamaan) biar cepet ngerti, sebab gue juga enggak ngerti, tamsilnya gini, ibaratnya tukang bakso kelihatannya dia mendistribusikan bakso di mata masyarakat, padahal niat aslinya dia cari nafkah buat anak istrinya. Enggak ada tukang bakso idealis mau membaksokan masyarakat. kalau gue maen musik ini seperti tukang bakso tadi, niat gue sendiri gue pengen ketemu fans mau silaturrahmi dengan mereka,” ujar Irfan, mengutip dari wawancaranya.

Baginya tetap terlibat dalam dunia musik merupakan cara dia berdakwah terhadap teman-temannya sesama personel band. “Gue kasihan sama teman musisi yang tiap hari latihan, akhir pekan ngeband, terus manggung, kasihan besok mati, gimana mau bikin report ke Allah. Enggak bisa elu laporan, ‘ya Allah, saya sudah bikin sekian album’ enggak bakal diterima,” ujarnya sambil tersenyum, mengutip dari wawancaranya.

Irfan yang gaya ngomongnya tetap “gaoel” ini, telah menyadari bahwa rencana jangka panjang itu hanyalah kehidupan akhirat saja sedangkan dunia ini hanya sementara. Maka hidup di dunia ini adalah sebagai ladang amal yang digarap dan dipanen untuk kehidupan abadi di akhirat. “Jangka panjang dalam Islam itu ya akhirat, paling lama umur lu 60-70 tahun, dunia ini jangka pendek, jangka panjang itu start mulai sakaratul maut karena akhirat ini selama-lamanya”.

Kegiatan utama terakhir Irfan banyak diisi dengan berdakwah dari kampung ke kampung bersama Jamaah Tablig. Dia berdakwah tanpa sumbangan, dia menyadari bahwa berdakwah merupakan keindahan hidup di dunia. Untuk menafkahi anak istrinya, dia menggeluti dunia MLM. Baginya bersyukur adalah hal utama dalam mencari kebahagiaan, seberapa pun rezeki yang didapat, tanpa harus memaksa apa yang telah ditentukan Allah.

Baca juga: Marsha Zazula, Co-Founder Megaforce Yang Berjasa ‘Menemukan’ Metallica Meninggal

Irfan di usia 51 tahun, meninggalkan seorang istri dan empat orang anak laki-laki.

Selamat jalan Bang Irfan, you’re one of a kind, rasa terima kasih enggak cukup membalas semua jasa dan dedikasi Abang selama hidup. Now you’re gone, but not forgotten, your spirit lives on. Hail IRS \m/

Sumber: Dari Berbagai Literatur & Video Wawancara
Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Sang Juara Thrash

    Sang Juara Turnamen 32 Lagu Thrash Metal Klasik Internasional

    Akhirnya setelah Babak Final Megadeth Vs Metallica kita tiba di penghujung Turnamen 32 Lagu Thrash Metal Klasik Internasional. Untuk mengumumkan Sang Juara

    on Apr 4, 2021
    Megadeth Vs Metallica

    Turnamen Babak Final – Side A: Megadeth Vs Metallica. Yuk Vote!

    Megadeth Vs Metallica, sounds killer, huh? Vote dengan tulis di kolom komentar di bawah! Caranya gampang, login terlebih dahulu ke akun Facebook atau

    on Apr 1, 2021
    Turnamen Thrash Final

    Babak Final: Turnamen 32 Lagu Thrash Metal Klasik Internasional

    Tabik HEAVY Militia! Selamat datang di Babak Keempat Turnamen 32 Lagu Thrash Metal Klasik Internasional. Beberapa hari lalu, kita telah memainkan B

    on Apr 1, 2021
    Metallica Vs Sepultura

    Turnamen Babak 4 – Side B: Metallica Vs Sepultura. Yuk Vote Sekarang...

    Metallica Vs Sepultura, sounds killer, huh? Vote dengan tulis di kolom komentar di bawah! Caranya gampang, login terlebih dahulu ke akun Facebook atau

    on Mar 29, 2021