×
×

Search in Mata Mata Musik

Iwan Fals Mengenang Galang Rambu Anarki & Membuka Tabir Misterinya

Posted on: 03/26/21 at 10:30 am

Iwan Fals Mengenang & Membuka Tabir Misteri Galang Rambu Anarki
Galang Rambu Anarki / Iwan Fals. (Foto: dok. Ist).

Galang Rambu Anarki. Anak sulung ikon musik legendaris Indonesia Iwan Fals. Sosok pemuda ini tentunya masih dalam ingatan, khususnya kalian yang besar di era 1990-an.

Baca juga: Iwan Fals Rilis Ulang Album “Mata Dewa” Dalam Format Vinyl

Nama Galang juga dijadikan salah satu lagu hits Iwan Fals, berjudul ‘Galang Rambu Anarki’ yang terdapat pada album Opini. Lagu ini bercerita tentang kegelisahan orang tua menghadapi kenaikan harga-harga barang sebagai imbas dari kenaikan harga BBM pada awal tahun 1982. Yaitu tepat pada hari kelahiran Galang, 1 Januari 1982.

Setelah remaja Galang mengikuti jejak ayahnya terjun di bidang musik. Meski demikian, musik yang Galang mainkan berbeda dengan yang telah menjadi ciri khas ayahnya. “Saya adalah saya. Iwan Fals adalah Iwan Fals!” ujar Galang secara tegas kepada majalah Hai, 15 Maret 1997, sebulan sebelum hari terakhirnya tiba.

Galang, Daya Tarik Bunga

Band Bunga, sejak terbentuk pada 1995 hingga selamanya akan terus dikaitkan dengan nama Galang Rambu Anarki. Dan Galang seolah menjadi daya tarik bagi anak-anak muda era 1990-an terhadap band yang mengusung alternative rock ini. Buktinya, meskipun masih dalam tahap mengerjakan album pertama, nama Bunga sudah terdengar oleh masyarakat luas.

Selain wajahnya yang tampan, Galang memiliki gaya penampilan yang nyentrik dan keren. Seperti memiliki tato bergambar kawat berduri di leher, baju bergambar logo anarki, dan celana sobek-sobek membuat banyak anak muda yang mengidolainya. Sosok Galang mengingatkan pada Kurt Cobain, pentolan Nirvana yang menjadi salah satu musisi idolanya.

Di band Bunga, Galang Rambu Anarki menjadi anggota paling muda dibandingkan personel Bunga lainnya, seperti Tony Vialy (vokal), Nial (bass), Oka (dram), dan Eri (gitar). Namun keterampilannya bermain gitar dan menciptakan lagu membuat dirinya cukup disegani rekan bandnya.

Bunga Untukmu, Galang

Sayangnya, di tahun 1997 setelah semua lagu selesai dikerjakan, Bunga mendapat kabar duka. Gitaris sekaligus frontman Bunga, Galang Rambu Anarki meninggal dunia. Padahal saat itu, Bunga hampir mendapat label rekaman.

“Setelah album rampung, sempet Enggak jelas. Karena Enggak ada satu pun label yang mau. Alasannya musik Bunga alirannya Enggak jelas. Mereka (label) maunya itu jadi solonya Galang, tapi Galang Enggak mau. Galang sempet nelpon salah satu label, dengan pembicaraan ‘ini (Bunga) band gue om, bukan solo,” ungkap Nial, sang bassis kepada Kapanlagi. “Nah, setelah sempet enggak jelas itu kami iseng-iseng masukin lagu judulnya ‘Gila’ ke Indie 8. Terus beberapa minggu kemudian (Galang) meninggal,” lanjutnya.

Kepergian Galang Rambu Anarki memang membuat para personel Bunga lainnya sangat terpukul. Pasalnya, di usia masih cukup muda Galang sudah dipanggil Yang Maha Kuasa. Apalagi, kontribusi Galang pada Bunga sangatlah besar. “Ya sedihlah. Personel kami sudah enggak ada. Makanya album ini buat Galang,” ujar Nial.

Enggak lama setelah kepergian Galang, album Bunga rampung dan beredar di pasaran. Album yang diberi judul Untukmu, Galang ini langsung diburu oleh anak-anak muda kala itu. Banyak yang penasaran dengan lagu-lagu yang dibuat Bunga.

Album Untukmu, Galang seakan menjadi ‘kenang-kenangan’ Bunga kepada Galang Rambu Anarki. Banyak sekali foto-foto Galang di dalam sampul album tersebut. Setiap lirik lagu yang terdapat di album tersebut, ada satu foto Galang. Album ini memiliki lagu hit sepanjang masa, ‘Kasih, Jangan Kau Pergi’.

Selain Bunga, Galang tercatat memiliki dua band lagi, yakni Sangkakala dan Borr yang bergenre hardcore.

Iwan Fals Ungkap Penyebab Kematian Galang

Galang meninggal di usia yang terbilang masih sangat muda. Banyak spekulasi yang beredar mengenai penyebab kematian Galang. Tetapi Iwan Fals menepis kabar yang mengatakan Galang meninggal akibat overdosis obat-obatan terlarang.

“Nah banyak pertanyaan apakah dia (Galang) meninggal karena overdosis, itu juga ‘kan. Enggak (meninggal karena obat-obat terlarang),” kata Iwan Fals dikutip dari video episode 18 ‘Ngalor Ngidulnya Iwan Fals’ di kanal YouTube Iwan Fals Musica.

“Bahwa pernah mencoba hal-hal begitu, tapi setelah dicoba dan dia enggak suka, ‘aku yang penting udah tahu Pah, enggak enak’. Dia enggak suka, jadi enggak benar,” tutur Iwan Fals. Musisi bernama asli Virgiawan Listanto ini menceritakan Galang bermasalah dengan pernapasannya. Penyakit itu yang menyebabkan Galang meninggal di usia 15 tahun.

“Dia hanya lemah di pernapasan, takdirnya,” ujar Iwan Fals (selanjutnya kita panggil Om Iwan). Sejak awal orang tua dan keluarganya pun telah menyatakan bahwa Galang memiliki penyakit asma akut.

Keinginan Galang Sebelum Meninggal

Sebelumnya, Om Iwan mengungkapkan keinginan putra sulungnya sebelum meninggal. “Tapi sebelum meninggal, dia (Galang) memastikan dirinya sebagai musisi, oke saya izinkan. ‘Kenapa kok mau bermusik?’ ‘ya aku senang aja musik’, padahal saya enggak ngajarin dia main musik gitu,” lanjut Om Iwan.

“Bisa aja dia bergaul bersama temen-temennya, akhirnya bisa main gitar, punya grup, ada Bunga, ada Sangkakala, rekaman, wah kaget juga saya, sebagai gitaris,” imbuh Om Iwan yang kini berusia 59 tahun.

“Terus yang bikin saya lebih kaget, dia ingin menikah. ‘Gimana hidupnya’, ‘dari musik Pah’, ‘lho kenapa kamu enggak mau nerusin sekolah?’, ‘wah aku enggak mau sekolah Pah’. ‘Lihat tuh Pah, anak sekolah, jalan di trotoar, enggak tertib aturan, di sekolah temen-temenku pada suka nyontek, aku enggak mau keterusan ikut-ikutan nyontek, karena Papah bilang enggak apa-apa hasil jelek yang penting hasil usaha sendiri’,” tutur Om Iwan lagi menirukan percakapan dengan Galang.

Arti Di Balik Nama Galang Rambu Anarki

Kemudian Iwan Fals lanjut menjelaskan arti di balik nama Galang Rambu Anarki. Yang juga sering kali dipertanyakan oleh publik. Nama yang terdengar tidak biasa, bukan nama yang mainstream, seperti umumnya nama orang Indonesia. Tidak mengandung unsur suku atau etnik seperti nama Jawa, Sunda, Batak, Bali, dan lainnya. Nama yang tidak jarang juga dianggap remeh karena terkesan nyeleneh ini ternyata memiliki filosofi yang luar biasa.

“Saya terinspirasi oleh Pulau Galang. Penampung manusia perahu dari Vietnam. Manusia perahu ini (adalah) orang-orang warga negara Vietnam yang enggak mau ikut Komunis. Orang-orang Vietnam Selatan yang kalah perang (dari Vietnam Utara/Vietkong/Komunis) dan kabur dari negaranya. Pulau Galang itu menampung pengungsi-pengungsi yang ingin mendapat harapan baru di tanah baru, ingin melupakan peperangan, perang ‘kan waduh serem ya. Ribuan jumlahnya. Nah saya berharap Galang seperti itu. Dia menampung segala keluh kesah, mimpi-mimpi manusia, masa depannya, niat-niat baiknya. Harapan saya sebagai orang tua, dia menggalang dan mengumpulkan orang-orang seperti itu”.

“Rambu, enggak mungkin kita hidup tanpa petunjuk. Paling enggak secara naluri, kita butuh kabar, keterangan-keterangan, kalau enggak ya kita tersesat hidup kita. Manusia ‘kan enggak sama, tentunya ada yang lemah dan yang lebih kuat. Saya berharap Galang bisa memberikan keterangan-keterangan tentang kebaikan kepada lingkungan, teman-temannya. Kalau ada yang kebingungan bisa sebagai petunjuk, obat penyuluh”.

Definisi Anarki Iwan Fals

“Anarki. Anarki ini ‘kan paham ya. Tapi saya sering kecewa mendengarkan istilah anarki yang diselewengkan dan disalahartikan seolah-olah perusuh, perusak. Padahal bagi saya perusuh, perusak itu vandal, vandalisme. Bermula dari suku atau apa yang merusak patung atau karya seni yang indah-indah itu, nah itu orang-orang vandal. Kalau anarki enggak, anarki hanya orang-orang yang enggak suka dengan negara, hierarki, aturan-aturan. Tapi sesungguhnya dia enggak suka perang, dia cinta damai. Bahwa manusia punya aturan sendiri. Laper dia makan, ngantuk dia tidur, kalau dia enggak mau mencederai orang ya dia enggak akan mencederai. Dia tahu kalau mencubit itu sakit, makanya dia enggak akan mencubit”.

“Tapi sesungguhnya secara kodrati manusia sudah makhluk sosial, enggak bisa hidup sendirian, tergantung dengan orang lain. Tapi anarki enggak suka (diatur seperti) ‘eh lo harus begini harus begitu’. Strata, tingkatan-tingkatan, bagi dia semua orang sama, apalagi di mata Tuhan, masing-masing punya kelebihan dan kekurangan. Sering sekali saya dengar di media-media, ‘wah tindakan-tindakan anarkis’. Memang pernah ada cerita orang-orang anarkis kecewa karena enggak suka dengan negara sehingga di-bully (diprovokasi) terus, mereka menjadi marah lalu… ya mungkin dari situ. Tapi sesungguhnya secara sikap tidak seperti itu”.

“Neneknya memberikan nama Al-Amin, Ibunya memberikan Lanam. Galang Rambu Al-Amin, Galang Rambu Lanam. Dalam forum keluarga, suara saya yang menang, hehe”.

Baca juga: 50 Album Terfavorit Dalam Jurnal Sang Legenda Grunge, Kurt Cobain

“Sekarang dia sudah tenang di Surga. Ya mudah-mudahan saya bisa meneruskan cita-citanya sebagai makhluk sosial. Ya seperti ‘Galang Rambu Anarki’ itu tadi”.

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Iwan Fals Mata Dewa

    Iwan Fals Rilis Ulang Album "Mata Dewa" Dalam Format Vinyl

    Sang musisi legenda Tanah Air, Iwan Fals kali ini merilis ulang salah satu album klasiknya yang berjudul Mata Dewa. Reissue album ini dikemas secara fisik

    on Mar 8, 2021
    Synchronize Festival 2019

    Synchronize Festival 2019 After Movie

    Semakin mengukuhkan sebagai salah satu festival wajib hadir di Indonesia Baca juga: Penampilan Dekat di Synchronize Festival 2019 Gelaran Synchronize Fes

    on Oct 21, 2019

    Surat Buat Wakil Rakyat - Iwan Fals Live from Synchronize Festival 201...

    Hadir sebagai line-up kejutan di hari kedua SYnchronize Festival 2019 Secara mengejutkan legenda hidup musik Indonesia hadir dan tampil di Synchronize F

    on Oct 14, 2019

    Iwan Fals Hadir di Synchronize Fest Hari Kedua Sebagai Kejutan

    Juga tribute untuk almarhum Chrisye yang dibawakan oleh Erwin Gutawa dan puluhan penampil lainnya Puluhan penampil berhasil memuaskan para penonton yang

    on Oct 8, 2019