×
×

Search in Mata Mata Musik

Juang Manyala Abadikan Perjalanan Hidupnya Dalam “30”, Album Solo Debutnya

Posted on: 10/27/20 at 12:00 pm

Juang Manyala Abadikan Perjalanan Hidupnya Dalam "30", Album Solo Debutnya
Juang Manyala.

Album bertajuk 30 menjadi titik pencapaian baru bagi Juang Manyala dalam menjalani kehidupan selama 30 tahun. Karya-karya sederhana yang ditulis langsung berdasarkan pengalaman hidup sang seniman, meliputi spiritual, kultur, keluarga, kesenian, dan berbagai hal penting yang terjadi dalam keseharian.

Baca juga: Mainkan ‘Waking Up’, SUAR Tampil Keren Di Virtual Show Debut Lou Belle Sessions

Pada 25 dan 26 Oktober lalu, Juang Manyala menggelar ekshibisi musik berupa showcase sekaligus launching album 30 di Prolog Studio, Makassar sebagaimana yang tertera pada gambar di bawah ini.

Di album 30 ini, Juang Manyala melibatkan beberapa seniman lokal dan nasional, mereka adalah:

Basri Baharuddin Sila, maestro musik tradisional asal Sulawesi Selatan. Melalui musik, tari dan teater skala internasional, Daeng Basri melanglang buana di dunia perfilman dengan menjadi pengarah musik (music director) untuk film Atambua 39˚ Celsius yang disutradarai oleh Riri Riza.

Andi Fadly Arifuddin, yang akrab disapa Fadly, lahir di Ujung Pandang, Sulawesi Selatan, adalah vokalis utama dari band Padi yang juga salah satu pendirinya, sekaligus vokalis dari band Musikimia.

Cholil Mahmud, adalah vokalis dan gitaris dari band pop alternatif dan salah satu ikon musik indie Indonesia, Efek Rumah Kaca dan Pandai Besi.

Satrio Budiono, dikenal sebagai penata suara film. Satrio mendirikan Fourmix JFS sebagai studio Dolby Atmos pertama di Indonesia. Film debutnya adalah Petualangan Sherina dan beberapa karyanya antara lain: Nanti Kita Cerita Tentang Hari Ini (NKCTHI), Habibie & Ainun 3 (2019), Keluarga Cemara (2019), Ada Apa Dengan Cinta 2 (AADC), Humba Dreams (2019), Bebas (2019), dan masih banyak lagi.

Riri Riza, adalah seorang sutradara, penulis skenario, dan produser film terkenal Indonesia. Doi muncul dalam debutnya sebagai sutradara melalui film Kuldesak pada 1998, dan film drama musikalnya yang berjudul Petualangan Sherina.

Gardika Gigih, merupakan seorang komponis dan pianis lulusan ISI Yogyakarta. Sejak duduk di bangku kuliah, Gigih telah banyak membuat komposisi musik, baik album sebagai pianis, maupun proyek lainnya seperi musik untuk film dan konsep bebunyian eksperimental.

Wukir Suryadi, adalah personel dari duo grup Senyawa dari Yogyakarta. Doi adalah komposer yang menciptakan instrumennya sendiri yang diberi nama Bambu Wukir.

Aditya Ahmad, dikenal melalui sederet prestasinya dari film-film pendek independen yang dibuat sepanjang dekade ini. Sejauh ini, doi telah membuat dua film pendek yang berhasil meraih pengahargaan di kancah internasional.

Ardhyanta Sampetoding, adalah vokalis band rock Melismatis. Bersama band tersebut, doi telah merilis dua album pada tahun 2011 dan 2016.

Rahmat Zulfikar, adalah seorang desainer yang merancang City Branding Sulawesi Selatan. Aktif bersama kolektif kreatif yang doi dirikan yaitu Ethnica.

Jasmine Risach, adalah salah satu penyanyi muda berbakat asal Makassar yang sudah mengeluarkan single perdananya berjudul ‘Little Bird’.

Andry Bayu Jasmine, adalah seorang Produser dan Audio Engineer. Setelah lulus dari studinya di Study Music Production di Foothill, California, Amerika Serikat, doi kembali ke Makassar dan mendirikan studio produksi yang diberi nama Celestial Records.

Tracklist Album 30:
Track 1 : “Jenggala” with Daeng Basri Sila
Track 2 : “Matoa” with Wukir Suryadi
Track 3 : “Anre Gurutta” with A. Fadly Arifuddin (Fadly Padi)
Track 4 : “WE” with Cholil Mahmud & Gardika Gigih
Track 5 : “Riuh” with Ardhyanta Sampetoding
Track 6 : “Asa” with Jasmine Risach

Tunggu album 30 milik Juang Manyala ini hadir di layanan musik streaming.

SEKILAS TENTANG JUANG MANYALA

Juang Manyala mendirikan band rock Melismatis sejak 2006 di Makassar, kemudian doi pindah ke Bandung untuk melanjutkan studi musiknya di Universitas Pasundan, Bandung.

Lulus dari studinya, doi pulang untuk mendirikan sebuah ruang kolektif kesenian yang diberi nama Prolog Studio. Melalui kolektif tersebut, doi bergerak bersama komunitas-komunitas untuk mendukung geliat scene musik di kota Makassar, salah satunya melalui festival musik tahunan bernama Prolog Fest.

Baca juga: Fadly (Padi) Tampil Di ‘Tanpa Batas Waktu’, Single Ade (Govinda) Yang Syahdu

Saat ini doi aktif bersama band rock bernama LOKA’ dan menjadi komposer musik untuk beberapa film salah satunya film Athirah (Emma’) karya sutradara ternama Riri Riza yang menjadi film terbaik Piala Citra tahun 2016. Melalui film itu, Juang Manyala masuk sebagai nominasi Penata Musik Terpilih Piala Maya 2016.

Sumber: Siaran Pers
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter