×
×

Search in Mata Mata Musik

Kapan Childish Gambino Mulai Banyak Disukai Orang?

Posted on: 05/10/18 at 5:08 pm

Childish Gambino telah banyak berubah sejak kemunculan pertamanya di industri hiburan. Sempat dikenal sebagai penulis lirik yang ‘cringe-worthy’, sekarang ia pun berhasil menjadi suara musik dari generasinya.

Oleh Steven Edelstone (Consequence of Sound)

Dalam beberapa bulan setelah peluncuran album debut Childish Gambino, Camp, saya memutar lagu elektronik “Heartbeat” di acara radio kampus saya di Berkeley, California. Ini mungkin adalah lagu paling nge-pop yang dimainkan hari itu – atau bahkan minggu itu – di radio KALX yang tidak banyak dikenal, tetapi saya tidak menduga reaksi yang saya terima dari seorang pria yang menelepon hotline DJ, yang mengatakan sesuatu seperti “ini adalah lagu terburuk yang pernah saya dengar di radio ini.” Suaranya mencapai nada panas; dia terkesan sangat marah dan tersinggung karena saya memainkan lagu seperti itu. Dari ratusan lagu yang pernah saya mainkan selama tiga tahun lebih saya menjadi DJ di stasiun radio kampus itu, inilah pertama kalinya saya membuat seseorang menelepon untuk memperdebatkan pilihan lagu saya.

Namun pria tersebut tidak sendirian – Camp adalah salah satu rilisan yang paling banyak dikritik di tahun 2011. Meskipun kami memberikan nilai A- untuk ulasan album tersebut di situs web ini, publikasi seperti The Guardian dan SPIN benar-benar mengkritik langkah besar pertama Donald Glover ke dunia rap, dengan ulasan paling menohok dari Ian Cohen (Pitchfork) dengan nilai 1,6. “Album ini mempertahankan beberapa humor yang terlalu kuat dari acara komedi Donald Glover, Community, tetapi aliran Glover yang berlebihan dan seperti kartun serta produksi pop-rap yang juga berlebihan cukup membuat Camp menjadi salah satu album rap yang secara unik paling tidak disukai tahun ini (dan sebagian besar lainnya),” tulis ulasan tersebut, yang pada akhirnya mencantumkan beberapa baris yang paling cringe-worthy dari album ini, termasuk “Asian girls everywhere / UCLA,” “You can kiss my ass, Human Centipede,” dan “I made the beat and murdered it, Casey Anthony.”

Beralih ke tahun 2018, kritik yang sangat negatif ini justru tidak ditemukan, dan Donald Glover tiba-tiba menjadi salah satu artis yang paling dikagumi di industri musik saat ini. Dia benar-benar mendominasi siklus berita musik dalam beberapa hari terakhir menyusul episode SNL-nya, di mana dia menjadi pembawa acara dan tampil, dan perilisan lagu “This Is America”, yang dilengkapi dengan salah satu video musik yang paling viral dan penting dalam sejarah modern. Pitchfork pun tidak hanya berubah 180 derajat, dengan melabeli lagu ini sebagai Lagu Baru Terbaik, tetapi Glover juga lulus dari publikasi musik; “This Is America” memicu sejumlah pembicaraan di seluruh media, termasuk artikel yang sangat positif di CNN, The Atlantic, The New Yorker, dan The Washington Post.

Alter ego rap Glover yang didapat dari ‘mesin’ penghasil nama Wu-Tang adalah pangkal setiap lelucon selama bertahun-tahun, namun kini dia tiba-tiba dianggap sama kritisnya dengan Chance the Rapper atau Radiohead, memimpin beberapa festival terbesar dalam negeri, dan bahkan dinobatkan sebagai salah satu dari 100 Orang Paling Berpengaruh di 2017 oleh majalah Time. Bagaimana itu bisa terjadi?

Glover telah beredar di mata publik selama belasan tahun sekarang, tetapi untuk sebagian besar periode tersebut, dia dilihat sebagai seorang komedian. Diawali dengan karyanya di era awal komik YouTube, Derrick Comedy, dia muncul di permukaan Internet melalui klip seperti “Bro Rape” dan “National Spelling Bee”, dua video yang, jika dilihat kembali, tidak bertahan lama.

Berpindah haluan ke pertunjukan menulis di 30 Rock dan peran utama dalam Community yang diproduksi Dan Harmon, Glover tiba-tiba berada di tengah dunia komedi kutu buku.  Pembawaannya sebagai Troy Barnes yang sangat hyper membuatnya menjadi kecintaan dunia blog seiring popularitas Community di masyarakat.

Pada saat Community memperkenalkan kita pada teori kekacauan perbaikan di musim ketiga, Glover bersiap merilis versi lengkap debutnya, Camp, melalui Glassnote Records. Meski dia telah merilis sejumlah mixtape di tahun-tahun sebelumnya, ini adalah pertama kalinya dia mendekatkan musiknya ke masyarakat luas (dengan pengecualian lagu “Werewolf Bar Mitzvah” dan “La Biblioteca”).

Dengan hanya karier akting Glover yang tersisa, masuk akal rasanya jika kriktikus musik pada saat itu melihat Camp sebagai album pseudo-comedy, yang mengasah lirik yang dimainkan seperti tweet yang buruk (“I’ve seen it all like I’m John Mayer’s penis hole”). Hasilnya, mudah melihat Childish Gambino sebagai proyek sampingan Glover – pertama sebagai aktor komedi dan kedua sebagai musisi – dan kenyataan bahwa Glover membuka tur Gambino pertamanya dengan setelan komedi selama 90 menit semakin menekankan hal tersebut.

Namun sementara para kritikus dan penggemar hip-hop hampir seutuhnya mengabaikan Childish Gambino, dia mulai memainkan ruang yang kian besar, termasuk di sirkuit festival di tahun 2012, di mana dia tampil siang hari di Coachella dan Bonnaroo di antara yang lain.

Pada saat peluncuran Because the Internet di bulan Desember 2013, ada cukup banyak dukungan di sekitar waktu rilis, terutama setelah beredarnya catatan yang mengkhawatirkan tentang mengapa dirinya meninggalkan Community dan masalah publiknya dengan Glassnote, yang ingin menunda perilisan ke tahun 2014 yang bertentangan dengan keinginan Glover.

Tetapi meski dengan begitu banyaknya publisitas yang terjadi, para kritikus masih belum sepenuhnya menganggapnya serius, dengan ulasan yang paling kritis – nilai “F” dari Philip Cosores – yang berasal dari sini. “Kenyataannya adalah, terkait Childish Gambino, kebanyakan orang sudah mengambil keputusan terkait Donald Glover, dalam artian bahwa mereka tahu penting atau tidaknya pandangan mereka terhadap Glover ketika mendengarkan Childish Gambino,” tulis Cosores, menyimpulkan bahwa pada tahun 2013, Gambino entah menjadi seorang ikon atau sebuah lelucon dengan sedikit jalan tengah di antara keduanya. Dia melanjutkan, “Jadi, tidak mengejutkan jika Because the Internet hadir dengan tangan mengepal, siap untuk menghadapi tantangan dari para puritan rap yang tidak mau menerima Gambino dengan syarat apa pun (pendapatnya)… Tetapi, jika kamu memasuki suatu album seperti ini, keraguan yang diberikan Gambino sama besarnya dengan keraguan yang diberikan dunia rap bagi musiknya.”

Ketidaknyamanan yang dirasakan para kritikus terhadap album ini mungkin terangkum sempurna oleh Eric Sundermann di Noisey. Dalam tulisannya di tahun 2013 “Kamu Tidak Suka Because the Internet dari Childish Gambino Karena Internet”, dia menjelaskan, “Ketika album tersebut benar tiba, saya khawatir mendengarkannya karena, bagaimana jika saya benar-benar menyukai album Childish Gambino ini? Kenyataan bahwa saya memiliki diskusi internal ini — baik apakah benar bagi saya untuk menyukai musik ini atau tidak — secara inheren lucu, tapi apa yang lebih penting adalah bahwa hal tersebut menjadi indikasi tentang apa sebenarnya Because the Internet itu sendiri, betapa Glover sadar diri, apa yang dia coba raih dengan Gambino, dan apa yang dipikirkan budaya terhadapnya.”

Di sinilah titik balik bagi Childish Gambino sebagai suatu proyek musik; meski banyak kritikus yang tidak menyukai album tersebut (yang anehnya, sebenarnya mendapat nilai Metacritic yang lebih rendah dari Camp), mereka mulai bergulat dengan gagasan bahwa mungkin ada cukup sesuatu untuk dikerjakan, bahwa untuk setiap kesalahan musik dan langkah dari Glover, dia kini memiliki cukup banyak lagu untuk membangun penampilan live yang solid. Dengan 30 Rock dan sekarang Community di masa lalunya, Childish Gambino lebih seperti seorang rapper daripada seorang komedian dan kita harus memperlakukannya seperti itu ke depannya.

Karena begitu banyak hal yang dilakukan Glover sehari-hari menjadi bahan berita, selebritas dan kehadirannya secara konstan di 2013 dan 2014 membuatnya mendapatkan banyak pendengar baru, yang justru mendorongnya ke barisan depan lineup festival. Sekarang tiba-tiba berada di garis yang sama dengan Spoon dan dua baris di depan Interpol di Lollapalooza, Childish Gambino, terlepas dari pendapat kritikus, adalah seorang bintang yang bonafide sebagai musisi.

Tetap saja, banyak orang tidak menyukai musiknya, memandangnya terlalu referensial, derivatif, dan berantakan. Atlanta pun mengubah segalanya.

Menyusul kembalinya Glover ke dunia akting di 2015 – walaupun kali ini dalam genre drama seperti The Martian, bukan film komedi konyol seperti di awal kariernya – Atlanta, sebuah acara tentang adegan rap Atlanta, menunjukkan kehebatannya yang tidak dapat dipungkiri sehingga mustahil untuk menyangkal bakatnya. Diciptakan, dibintangi, dan kadang disutradarai oleh Glover sendiri, Atlanta menjadi salah satu acara yang paling dicintai dalam dekade ini, hampir segera setelah episode pertamanya pada bulan September 2016.

Dengan cerdiknya, acara ini dipasangkan dengan Pharos Experience, gabungan imersif dari tiga acara di mana Childish Gambino memulai debutnya dengan musik baru dari album akhirnya Awaken, My Love! di Joshua Tree, California. Dengan para kritikus tiba-tiba berada di bawah kendalinya untuk pertama kalinya dalam karier Glover, dia membuat kagum semua orang yang hadir dengan pembukaan suara yang sepenuhnya baru dengan instrumentasi yang sangat berbeda dari karya-karya sebelumnya.

Tapi yang paling penting, Awaken, My Love!, yang dirilis bulan Desember 2016, akhirnya memperlihatkan Childish Gambino membahas subjek yang berbobot dan penting – terutama pengalaman orang kulit hitam di Amerika – untuk pertama kalinya dalam musiknya. Bait-bait yang mereferensikan budaya pop dari karya-karya awalnya pun hilang; Awaken, My Love! mendefinisikan kembali Childish Gambino sebagai musisi yang serius dengan ide-ide yang mendalam dan cerdas tentang kondisi masyarakat Amerika setelah Donald Trump mencalonkan diri sebagai dan akhirnya memenangkan kursi presiden.

Atlanta tidak hanya memberinya platform untuk membahas isu-isu ini secara panjang lebar, tetapi juga kredibilitas untuk menulis musik tentang tema ras di Amerika dengan keyakinan. Apabila Gambino, seorang artis yang dilengkapi dengan beberapa lirik yang paling cringey dan ‘culun’ dalam ingatan, mengeluarkan album soul  yang begitu serius seperti Awaken, My Love! tanpa Atlanta, para kritikus pasti akan cepat menyerangnya karena menciptakan album yang tidak otentik, yang mencuri kepekaan musik George Clinton atau Prince tanpa penjelasan untuk mendukungnya. Namun dengan Atlanta, Glover menjadi figur otoritas di kalangan orang hitam di Amerika, yang memungkinkan lagu seperti “Redbone” dianggap Penting dan Ikonis, layak menjadi soundtrack Perlawanan terhadap Donald Trump. Bukan suatu kebetulan bahwa “Redbone” ditampilkan di awal Get Out.

Ulasan yang memukau mengikuti peluncuran album ini, yang akhirnya membawanya ke jajaran nominasi Album of the Year di acara Grammys 2018. Berita utama “Childish Gambino Benar-Benar Bagus Sekarang” seperti di SPIN menjadi hal yang biasa, dan penulis yang sama yang mencemooh rilisan terdahulunya sekarang sepenuhnya mendukung. Dia dipuji untuk aktingnya dengan cara yang tidak pernah dia dapatkan sebelumnya – masuknya dia ke dalam film spin-off Han Solo dan live action Lion King dipuji besar-besaran. Dua kemenangan Glover di Golden Globe untuk Atlanta langsung menganugerahkannya status ikonis, bahkan tanpa mempertimbangkan pidato penerimaannya yang mengutip Migos. Untuk memparafrasa berita utama Noisey yang terbit keesokan paginya setelah acara penganugerahan: Donald Glover kini berkuasa.

Dengan kekaguman yang secara konsisten membanjirinya selama lebih dari dua tahun terakhir, penampilannya memuncak di akhir pekan lalu dalam acara SNL dan peluncuran video “This Is America”. Bahkan para penulis yang masih relatif setengah hati setelah perilisan Awaken, My Love! tidak dapat menyangkal kecemerlangan episode SNL terbaik musim ini dan video musik terbaik tahun ini. Brandon Stousy, mantan redaktur pelaksana di Pitchfork yang bekerja di sana ketika situs tersebut memberi nilai 1,6 untuk Childish Gambino, menuliskan, “video gambino mengingatkan saya: selebritas masih bisa menggunakan platform mereka untuk melakukan hal-hal yang nyata.”

Tidak ada yang pernah menyangkal bahwa Donald Glover memiliki bakat komedi, tetapi butuh waktu hampir satu dekade untuk meyakinkan penggemar hip-hop dan jurnalis musik bahwa Childish Gambino berhak mendapatkan kekaguman yang sama untuk musiknya. Kini setelah dia memenangkan hati para kritikus dan memiliki kedudukan untuk membuat pernyataan panjang lebar tentang politik dan budaya kulit hitam, bab selanjutnya dari karier Childish Gambino kemungkinan akan menjadi bab yang paling menarik dan signifikan. Kini setelah kita semua memiliki pemikiran yang sama tentang karier musik Donald Glover, kesenangan yang sebenarnya akan segera dimulai.

Posted on May 9, 2018, 12:00 pm

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Barack Obama

Barack Obama Dorong Penjualan Setiap Musisi di Playlist Spotify-nya!

Siapa sangka daftar putar musim panas mantan Presiden Amerika Serikat ini memberikan dampak signifikan dan kembali meningkatkan penjualan setiap musisi yang di

on Sep 5, 2019
Childish Gambino

Childish Gambino Rilis Lagu Baru Lewat Aplikasi AR

“Algorhythm” sebelumnya sudah pernah dibawakan di salah satu konser live Gambino. Sebagaimana dibuktikan melalui debut film terbarunya di berbagai plat

on Apr 25, 2019
Cerita di Balik Proses Produksi Film Guava Island

Cerita di Balik Proses Produksi Guava Island

Royalty, kolektif kreatif di balik program TV Atlanta, “This Is America” dan Childish Gambino, menjelaskan bagaimana mereka menciptakan proyek rahasia, Gua

on Apr 15, 2019
Setelah Coachella 2019, Guava Island Tersedia di Amazon Prime

Setelah Coachella 2019, Guava Island Tersedia di Amazon Prime

Tepat setelah set Donald Glover di Coachella, film barunya bersama Rihanna ini akan bisa ditonton gratis via Prime Video Seperti yang diumumkan sebelumnya,

on Apr 12, 2019