×
×

Search in Mata Mata Musik

Kembali Dengan OSDM Yang Lebih Gelap dan Non-Konformitas

Posted on: 02/2/20 at 9:00 am

Rottenblast 'Illusi Soliteris'
Cover album ‘Ilusi Soliteris’ milik Rottenblast (Gambar: Blackandje Records).

ROTTENBLAST
Ilusi Soliteris
(2020, Blackandje)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Rottenblast lahir dari rahim scene musik cadas kota Malang pada 2010. Berawal dengan merilis demo bertitel Brutality In The World pada Juli di tahun yang sama. Sejak awal terbentuk, komposisi musik Rottenblast terpengaruh oleh band-band death metal kelas dunia seperti Dying Fetus, Suffocation, Cannibal Corpse, Malevolent Creation, hingga Morbid Angel.

Pada awal 2011, Rottenblast tergabung dalam 4 way Split CD bersama Goremonger (Amerika Serikat), Analdiction (Singapura), Last Vigil (Filipina). Proyek ini bertajuk Rotting Ejaculation of Morbid Reality, yang dirilis oleh label rekaman asal Meksiko, Bizzare Experiment Records.

Baru pada akhir 2013, Rottenblast resmi merilis album debut bertajuk Pasukan Tak Bertuhan, yang dirilis oleh Gr8day Records (Malang). Album tersebut berisi sembilan lagu, plus satu cover song ‘Mechanix’ milik sang legenda thrash metal, Megadeth.

Di sela kesibukan manggungnya, Rottenblast sempat merilis single bertajuk ‘Victim of Throne’ pada 2015, serta merilis video klip lagu tersebut pada tahun berikutnya.

Salah satu lagu Rottenblast juga sempat termuat dalam kompilasi IDDM: Bloodshed Across The Nation rilisan Blackandje Records pada 2019.

Formasi Rottenblast saat ini adalah Hafid Ahmad (gitar), Robby Ilmiawan (vokal), Galih Paskah (bass), Yudha Wiratama (dram), dan Chairul Yuda (gitar). Bersama formasi ini mereka berhasil merilis album keduanya, Ilusi Soliteris di bawah bendera Blackandje Records pada 30 Januari 2020.

Kelebihan: Meski corak musik yang diusung Rottenblast sama sekali tidak baru dengan Old School Death Metal (OSDM) yang beratmosfer gelap, dengan dirilisnya album baru mereka ini menjadi hal yang baru bagi scene IDDM (Indonesian Death Metal) lantaran dominasi brutal death metal yang “ultra ngebut” dengan kiblat band-band Amerika Serikat. Dan tentu saja hal itu diiringi oleh musikalitas yang membuat rahang saya menganga sampai mulut saya kemasukan lalat (untungnya tidak sampai tertelan) sehingga mampu meniupkan angin segar bagi sebagian pendengar yang sudah merasa ‘pengap’ dengan opsi-opsi musikal dari pasar lokal yang cenderung monoton. Setelah Exhumation yang menapaki jalur menuju kegelapan yang lebih pekat lebih dahulu, Rottenblast tampil memukau mengekshibisi 9 lagu yang memaparkan direksi musikal OSDM yang juga terpengaruh oleh black metal dan thrash metal. Sebuah evolusi musikal yang signifikan dari album pertamanya dengan menerapkan konsep retrospektif era lawas ‘90an mulai dari komposisi musik, sound, artistik sampai fesyen kelima anggota band tak ubahnya melihat sosok muda nan beringas Dismember atau Dissection yang mengenakan jaket kulit, denim dan sabuk peluru. Suatu hal penting yang masih lalai diperhatikan oleh banyak band lain sebagai entertainer di dunia showbiz. Audio sangar harus divisualisasikan secara sangar. Begitulah kura-kura (ninja), hehe.

Intro ‘1965’ berupa petikan dan solo gitar melodius nan mencekam berhasil menjadi gerbang masuk yang atraktif untuk hanyut bersama lagu-lagu penjebol speakernya, yakni ‘Parade Darah’, ‘Deviasi Tahta’, ‘Victim of Throne’, ‘Genosida’, ‘Ilusi Soliteris’, ‘Hegemoni Vigilante’, ‘Simposium Kompulsif’, dan ‘Negeri Temaram’. Semua lagu tersebut memiliki pola aransemen yang sama, yaitu berdurasi 3 menitan dan tidak memiliki riffing atau pun melodi yang ikonik alias catchy sehingga cukup lama bagi saya untuk menghafal judul dari tiap lagunya. Semua lagu terasa flat namun hebatnya tetap efektif memprovokasi headbanging secara “tanpa beban” berkat struktur yang solid dari tiap bagian komposisi musiknya yang diaransir secara proporsional, kapan dan dimana harus blastbeat, bertempo sedang atau lambat, mengisi solo gitar, dan lain-lain yang tepat penempatannya. Demikian pula halnya pattern dan karakter vokal middle growl Robby yang mengingatkan kepada David Vincent era Morbid Angel Altars of Madness yang sukses menyatu bersama musiknya. Seperti sudah menjadi tradisi Rottenblast bahwa tiap album menyertakan bonus cover song dan kali ini ‘Flag of Hate’ milik Kreator yang dijamin membuat penggemar legenda thrash Jerman ini memutar lagunya berulang-ulang.

Kekurangan: Meski menampilkan banyak hook yang memikat hati dalam tiap lagunya, sayangnya tidak ada satu pun lagu dalam album ini yang “stand out” di antara lainnya padahal mereka memiliki potensi besar untuk mengkreasikannya. Semuanya dibuat flat.

Kesimpulan: Ilusi Soliteris adalah contoh gamblang album yang mempresentasikan non-konformitas dalam ranah dan pasar musik metal ekstrim.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Death Vomit - Ngobrol Seputar Album Baru

DEATH VOMIT - Ngobrol Seputar Album Baru (MMM Artist Talk)

Death Vomit, monster death metal kelahiran Yogyakarta ini album barunya yang berjudul Dominion Over Creation sudah siap rilis, tinggal tunggu tanggal mainnya s

on Apr 4, 2020
Playlist Hammersonic 2020 Hari Kedua.

Playlist Hammersonic 2020 Hari Kedua Yang Seharusnya Kita Tonton!

Yup, inilah playlist lanjutan dari playlist hari pertama Hammersonic Festival 2020 yang gagal terselenggarakan gara-gara "Vid-Covad-Covid-Paman-Dolid-Pakai

on Mar 28, 2020
Playlist Hammersonic 2020

Playlist Hammersonic 2020 Hari Pertama Yang Seharusnya Kita Tonton!

Tidak sedikit orang yang mengatakan (mengeluh lebih tepatnya), mungkin termasuk kamu, bahwa twenty-twenty alias 2020 adalah tahun yang SUCKS! alias menyeba

on Mar 27, 2020
DEATH VOMIT JOGJAROCKARTA 2020

Death Vomit Segera Memuntahkan Album Baru, 'Dominion Over Creation...

Death Vomit (ki-ka): Roy Agus (dram), Sofyan Hadi (vokal/gitar), Oki Haribowo (bass) Monster death metal sepuh kelahiran Yogyakarta, Death Vomit belum lama

on Feb 5, 2020