×
×

Search in Mata Mata Musik

Kembalinya Trauma Sebagai 'Balakosa' Pelestari OSDM Yang Otentik

Posted on: 01/5/20 at 11:30 am

TRAUMA BALAKOSA
Cover album ‘Balakosa’ milik Trauma (Gambar: Morbid Noise Records)

TRAUMA
Balakosa
(2019, Morbid Noise)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Trauma yang resmi terbentuk di Jakarta pada 21 Agustus 1992 merupakan salah satu ‘Old Guard’ pengibar death metal angkatan pertama bersama Grausig, Jasad, Forgotten dan masih banyak lagi. Belasan kali mengalami pergantian line-up, namun tidak pernah menyurutkan niat veteran ini untuk tetap eksis bergerilya dan berkarya dalam scene musik ‘bawah tanah’ yang independen (indie).

Bersama album teranyarnya ini, Trauma tercatat telah mengantongi 5 full length album, 5 split album (dengan band yang berasal dari luar Indonesia) dan telah berpartisipasi di sekitar 50 album kompilasi rilisan label rekaman dari dalam dan luar negeri.

Sejauh ini, Trauma sudah menjajal lebih dari 200 pentas musik yang digelar di banyak kota di seluruh Indonesia. Dalam beberapa kesempatan, di tahun 2011 dan 2013 lalu Trauma juga tampil di kota Penang dan Johor Bahru, Malaysia. Adalah vokalis Nino Aspiranta, satu-satunya personil orisinil band yang tersisa sebagai nahkoda kapal perang dengan 3 awak lainnya: Rusdi Hamid (bass), Ramadhani Utomo (dram) dan akuisisi terakhir, Henry Kemal (gitar).

Kelebihan: Balakosa yang berarti kekuatan dan kejayaan nampaknya juga cukup representatif menggambarkan progresi signifikan musikalitas Trauma pada materi album baru ini, selain menjadi tema sentral lirik seluruh lagunya.

Dan yeah, akhirnya, setelah ber-melodic death n’ roll ria melalui 3 album sebelumnya secara berturut-turut: Paradigma: Demi Hidup Tak Harus Mati (2003), Dominasi Kemenangan (2008) dan Perennial (2012) yang masih terdengar ‘pincang’ dalam mempresentasikan death metal, konsep ‘pure death metal’ yang digeber sejak album debut Extinction of Mankind (1998) dan ketiga split album dengan band asing (2000) telah kembali tumbuh berbuah dan panen agresifitas impresif di sana-sini dalam tiap komposisi lagu Balakosa. Dari trek pertama, ‘Supremasi Kebencian’ hingga trek sembilan, ‘Diabolikal’, Trauma tampil memukau mengeksekusi tiap bagan musiknya.

Dari sektor gitar, riffing-nya begitu menusuk dengan progresi kord yang terstruktur rapih namun bernuansa ‘jahat’ sekaligus memorable dengan pemilihan sound gitar ‘downtuned’ yang abrasif, berat, beraksen jelas dan memiliki long-sustain. Plus, sayatan ritem dua layer yang variatif. Riff inilah kunci kesuksesan sebuah lagu jika bagian-bagian lain musiknya seperti bass dan dram mampu berpadu akur satu dengan lainnya menciptakan aransemen yang apik. Itulah yang terjadi sehingga menunjang isian pattern vokal growl dan scream Nino yang terkenal juara berlafal jelas menyemburkan lirik-lirik berbahasa Indonesia. Meski sarat dengan cerita kegelapan termasuk kehancuran dan kesedihan, di sini Nino seperti berusaha memotivasi pendengar untuk lebih tegar menghadapi kesulitan hidup, bangkit dari keterpurukan dan keputusasaan. Seruan pemberdayaan dari lingkup personal hingga global seperti pada lagu ‘Tak’kan Binasa’, ‘Terlahir Melawan Keputusasaan’ atau ‘Hidup Adalah Kemenangan’, yang potensial menjadi ‘anthemic’ sekaligus berfaedah. Daya emosional lirik tersebut pun terakomodir secara sempurna dengan raungan galak bermuatan beat-beat ‘headbanging’ non stop yang konsisten gagah.

Kekurangan: Intro bernuansa mencekam lagu ‘Tak’an Binasa’ berupa dentingan piano yang bernada tinggi dan ditingkahi dentangan lonceng gereja terdengar ‘pincang’ begitu musik lagu ini mulai karena diawali dengan riffing bernada-nada rendah. Mungkin terinspirasi dari lagu Hypocrisy, ‘Pleasure of Molestation’ atau mungkin tidak, sekadar menebak, haha. But it’s no big deal anyway.

Kesimpulan: Predikat OSDM alias Old School Death Metal sebelumnya tidak pernah menempel pada Trauma ketika mereka mulai mengusung death metal di awal era ‘90an. Terminologi OSDM justru muncul dua dekade kemudian di saat band-band dari era itu sudah tua dan legendaris serta melahirkan regenerasi penerusnya. Trauma adalah OSDM itu sendiri, sama seperti para influencers panutannya seperti Massacre, Hypocrisy, Gorefest, Dismember, Deicide, dan lain-lain. Trek kesepuluh sekaligus penutup album ini, ‘Human Suffering’ merupakan versi baru hit lawas dari Extinction of Mankind yang semakin menegaskan kembalinya Trauma ke format death metal yang sesungguhnya.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

DEATH VOMIT JOGJAROCKARTA 2020

Death Vomit Segera Memuntahkan Album Baru, 'Dominion Over Creation...

Death Vomit (ki-ka): Roy Agus (dram), Sofyan Hadi (vokal/gitar), Oki Haribowo (bass) Monster death metal sepuh kelahiran Yogyakarta, Death Vomit belum lama

on Feb 5, 2020
GRAUSIG - Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone

Album 'Landmark' Death Metal Indonesia Yang Dibangkitkan Dari ...

Cover album 'Re-Abandoned, Forgotten & Rotting Alone' milik Grausig yang telah re-illustrated juga (Gambar: Disembowel Records) GRAUSIGRe-Abandoned, For

on Jan 12, 2020
DEAD VERTICAL XVII

Tujuh Belas Tahun Ke Atas Menggerinda Baja

Cover album 'XVII' milik Dead Vertical (Gambar: Blackandje Records) DEAD VERTICALXVII(2019, Blackandje) Oleh Dharma Samyayogi Fakta: Band grindcore ya

on Jan 10, 2020
Kill Athena

Kill Athena Muntahkan Single Pemanasan Album Baru

Tiga personil inti Kill Athena (Foto: Kill Athena) Kill Athena telah merilis karya terakhir di penghujung 2019. Single terbaru yang berjudul 'Beneath My Eye

on Jan 2, 2020