×
×

Search in Mata Mata Musik

Kencan Pertama di Atas Kapal dengan Zac Farro Paramore

Posted on: 08/25/18 at 6:51 am

Dalam sebuah kesempatan ‘kencan’ dengan Zac Farro, seorang penggemar berat Paramore ini puas mengulik banyak hal dari drumer andalan Paramore tersebut, dari tentang Hari Valentine, film kesukaan hingga hobi fotografinya.

Oleh Hannah Ewens (Noisey)

Saya, seorang penggemar berat Paramore, naik ke atas kapal palsu di sebuah restoran dan minum koktail dengan drumer dan pria di balik HALFNOISE.

Di setiap kencan pertama yang mengesankan, saya mendapati diri saya dengan cermat menggali lebih dalam tentang teman kencan saya untuk melihat di mana kesamaan kita. Minat, hobi, bagaimana kita melihat dunia, kenyataan bahwa kalian terlalu banyak menggunakan kata ‘seperti’ sebagai kata sandang ketika berbicara dan menulis fanfic Lord of the Rings saat kalian remaja. Hal-hal semacam itu.

Album Paramore Brand New Eyes adalah salah satu album favoritku sepanjang masa. Saya sangat terobsesi dengan album ini pada masa awal pacaran waktu saya remaja, dan pada saat hubungan saya yang lainnya berakhir dengan buruk selama periode pertumbuhan yang canggung ketika saya berumur 20 tahun, album itu sudah melekat di otak saya. Ini saja menjadi dasar yang kuat untuk mengasumsikan bahwa saya dan drumer mereka, Zac Farro, akan cocok.

Bagi seseorang yang telah keluar masuk dari band yang sukses selama bertahun-tahun—dia dan saudara laki-lakinya, Josh Farro sang gitaris, meninggalkan Paramore di tahun 2010 dan Zac bergabung kembali tahun lalu—anehnya, hanya ada sedikit informasi yang beredar online tentang dia. Sebagai personil suatu band, dia tentu bukan fokus utama dalam wawancara Paramore, dan dia tidak banyak berbagi di media sosial, dan lebih menyukai fotografi cetak dan dunia nyata.

Karena itu, saya punya beberapa info: Zac Farro saat ini tinggal di Franklin, Tennessee di mana Paramore dimulai (belakangan ini dia menghabiskan waktu di Selandia Baru juga). Dulu, dia adalah anggota termuda di Paramore dan memulai turnya dengan mereka di usia yang hanya 14 tahun. Dia adalah penggemar The National dan Radiohead. Setelah dari Paramore, dia memulai proyeknya sendiri, HALFNOISE, perpaduan indie rock yang setengah cerah dan berwarna, setengah trippy dan psychedelic—berbeda namun melengkapi album paling terbaru Paramore. Selera Zac kurang lebih seperti jika Tame Impala dan The Beach Boys membuat hook synth-pop, di atas estetika visual retro. Meskipun sudah resmi bergabung kembali dengan Paramore—dia menjelaskan dari awal bahwa menghidupkan kembali persahabatan mereka adalah hal yang sangat penting baginya—dia juga aktif pergi tour dan menulis dengan HALFNOISE. Mungkin itu kedengarannya gila, tapi setelah mengobrol dengannya, saya rasa menjalankan kreativitasnya jelas membuatnya bahagia.

Kami janjian untuk bertemu di sebuah restoran Italia yang bernama Bunga karena keluarga Farro adalah orang Italia-Amerika. Rupaya di lantai bawah ada kapal buatan dan saya sangat yakin dia menyukai The Life Aquatic jadi tempat ini sangatlah tepat. Saya senang bertemu dan berbicara dengan Zac; dia orang yang optimis dan tidak larut dalam kesedihan meskipun ketika kita sedang membicarakan sesuatu yang menyedihkan. Dia pun memberikan jawaban yang panjang dan menarik, walaupun tidak beraturan. Menyenangkan tentunya membiarkan orang lain menyetir pembicaraan sepenuhnya.

Jangan tanya apa yang kami bicarakan sebelumnya karena itu terjadi sebelum saya menyalakan dictaphone, tapi tiba-tiba kami memulai pembicaraan tentang stag do.

Noisey: Apakah kamu banyak menghadiri acara stag do?

Zac Farro: Saya pernah datang ke acara stag do sungguhan di Selandia Baru di mana saya dulu tinggal, tapi kami menyebutnya bachelor party di Amerika. Kakak-kakak saya pernah datang ke salah satunya dan mereka membuat calon pengantin pria mengenakan… apa itu yang dipakai Borat?

Mankini.
Ya. Mereka mengisi area kemaluan dengan Icy Hot atau Tiger Balm, atau apa pun itu namanya, yang melemaskan otot yang terasa sangat dingin di awal namun tetap panas. Mereka mengisi penuh area kemaluan mankini itu. Dia harus memakainya dan berjalan di depan semua orang. Di Amerika, orang-orang biasanya pergi ke strip club untuk acara stag do. Yang saya pikir sangat menjijikan. Apakah kamu mau berbagi segelas koktail besar atau dua gelas normal saja?

Sebaiknya pesan dua gelas biasa, ini baru hari Senin.

Ini hari Senin?

Ya. Apakah tadi kamu lihat koktail Menara Miring Pisa untuk sepuluh orang? Ini adalah restoran Italia dan kamu orang Italia-Amerika, kan?

Ah, ya, ini tempat yang keren. Ada tempat di Nashville yang kelihatan seperti ini. Mungkin belum diperbarui sejak ’80-an—sepertinya tempat ini sedang mencoba. Agak menyebalkan mereka menjual tempat tersebut karena Nashville semakin dikuasai dengan bangunan dan apartemen dan condo.

Bagaimana Nashville? Saya punya gambaran yang sangat indah di pikiran saya tentang kota itu dari membaca wawancara Paramore.

Kalau kamu ingin pergi ke Nashville sendirian, dan hanya membawa tasmu, kamu pasti akan berpikir, ‘ini adalah tempat terburuk yang pernah saya kunjungi’. Tapi kota itu terus berkembang dan merupakan salah satu kota terpanas di AS saat ini. Orang-orang dari New York, LA, Chicago pindah ke sana karena kota itu punya pinggiran yang kasar di sekitarnya yang saya pikir New York dan LA dulu miliki. Saat saya pulang ke rumah saya merasa seperti saya melompat ke film Dazed and Confused. Dan kamu pergi ke bar murah dan kamu duduk di sana menikmati minuman dan orang-orang saling berayun.

Itulah yang ingin saya lihat.

Kamu akan melihat itu tapi kemudian kamu akan berpikir: apakah ada hal lain di kota ini? Nashville kelihatan seperti bangunan gedung coklat yang tidak ada gunanya. Kalau kamu pergi ke sana kamu harus menghubungi salah satu dari kami atau saya akan menghubungkanmu dengan teman saya karena kamu akan butuh orang untuk membawamu berkeliling.

Saat liburan saya lebih suka menjadi pengikut. Teman-temanku yang merencanakan semuanya dan saya pergi dengan mereka ke New York dan Chicago tahun lalu untuk menonton Riot Fest.

Oh bagus. Apakah kamu melihat kami manggung?

Tentunya!

Pertunjukannya sangat bagus tapi festival itu sendiri terasa seperti kembali ke Warped Tour. Seluruh aksi yang biasa kami mainkan dengan Paramore… saya punya rasa benci tapi suka dengan hal tersebut. Saya bertemu banyak orang-orang lama – bukan dengan cara yang buruk – tapi saya merasa seperti, terutama keluar dari band ini dan kemudian gabung kembali… ini masih band yang sama, tapi [aksi itu] rasanya seperti sudah lama sekali. Itu adalah hal yang tak terlupakan dari masa lalu.

Dan kamu masih sangat kecil saat kamu kenal orang-orang ini juga. Tiga belas tahun waktu kamu gabung dengan band ini, kan? Saya mungkin tidak ingin kumpul dengan semua orang yang sama.

Masalahnya sekarang adalah saya masih menjadi diri saya yang konyol dan tidak pernah berubah – tapi di samping itu, saya adalah orang yang sama sekali berbeda. Jadi hampir seperti kamu harus membuat orang mengetahui keadaanmu.

Saya bisa bayangkan. Omong-omong, ini hampir Hari Valentine.

Di Amerika, Hari Valentine sangat dibuat berlebihan.

Oh ya?

Kalau kamu berpacaran dengan seseorang, lebih baik kamu datang dan melakukan sesuatu yang spesial. Beberapa tahun lalu waktu saya 19 tahun, saya merasa begitu terperangkap dan saya sedang masak makan malam dan saya merasa seperti saya harus melakukannya karena itu adalah bagian dari masyarakat, jadi saya harus menikmatinya. Kami mencicipi makan malam dan itu sangat tidak enak dan saya harus berkata sebaliknya. Saya hanya ingin melakukan hal lain, seperti main dengan teman saya atau yang lainnya. Saya mencintainya, saya pikir dia adalah salah satu orang di hidup saya yang pernah saya benar-benar cinta, jadi bukan karena saya tidak suka menghabiskan waktu dengannya, saya hanya merasa saya harus melakukan itu. Seperti ketika ibumu membuatkanmu pesta ulang tahun yang tidak kamu inginkan. Saya merasa sedikit terperangkap.

Kamu lebih memilih kencan yang sangat santai.

Saya tidak ingin menjadi orang yang menyebalkan, tapi itu harus terjadi secara natural. Itulah mengapa kejadian itu sangat buruk. Ketika dipaksa, kamu harus punya kencan yang sempurna, dan bawa bunga mawar dan coklat. Rasanya seperti kewajiban. Bukan berarti saya tidak melakukan apa pun yang saya tidak inginkan karena itu juga bagian dari suatu hubungan, kamu mencoba untuk tidak mementingkan diri sendiri. Sebentar, saya mulai ngawur. Maaf saya punya ADD, sedang di mana kita?

Oh tidak apa! Hari Valentine, ulang tahun…

Saya pikir itulah yang saya coba lakukan dengan hidup saya secara umum: tidak menjebak orang. Saya pernah melakukan itu, terutama dalam hubungan pacaran. Saya bilang, ‘saya sangat pandai dalam hal ini, saya sangat pandai dalam hal itu’ dan saya akan berbicara tentang diri saya hanya agar orang tersebut menyukai saya, kemudian saya bertingkah seperti gambaran diri saya yang saya buat. Lalu saya menyadari, ‘saya bukan seperti yang saya ceritakan, saya hanya ingin membuatmu terkesan.’ Sekarang saya lebih seperti, ‘inilah saya, agak aneh, punya ADD, terkadang sedih.’ Tampilan seolah saya sempurna. Tapi mereka tidak benar-benar menyukai orang aslinya.

Kencan Pertama di Atas Kapal dengan Zac Farro Paramore-2

Zac Farro menunjukkan hobi fotografinya dengan kamera film. (Foto: Chris Bethell)

[Koktail pun tiba]

Saya harus mengambil foto. Saya tahu kita baru saja membahas tentang itu tapi saya benar-benar mengambil foto sungguhan. [Mengeluarkan kamera filmnya] Saya sangat terobsesi dengan film.

Omong-omong, Instagram-mu sangat keren, saya tahu itu pujian yang aneh untuk diberikan…

Tidak, itu satu-satunya tempat saya mengunggah foto film saya.

Ceritakan tentang film favoritmu.

Tentunya karena topi saya [menunjuk ke topi nelayan merah] The Life Aquatic, saya suka film itu, Wes Anderson sangat luar biasa. Dia seperti satu film bagi saya. Sutradara favoritku adalah Richard Linklater, Wes Anderson dan Sofia Coppola. Lalu series Before Sunrise, apakah kamu pernah lihat?

Ya ampun, saya sangat suka itu.

Film-film itu mungkin berada di lima besar favorit saya.

Untuk sebagai teman menonton film favoritmu, makanan khas Italia apa yang keluargamu sering buat?

Ayahku sangat jago membuat roti focaccia. Dia juga bisa membuat Stromboli yang sangat enak. Saya belum sempat mencobanya karena saya vegetarian dan dia membuatnya dengan pepperoni. Tapi saya kira kamu bisa saja membuatnya dengan bahan sayuran, saya belum memikirkannya. Waktu kecil, ayahku senang memasak dan rasanya sangat enak. Dia sering membuat bola daging dan spaghetti pada saat itu, sekarang dia tidak peduli. Sekarang hanya ada makanan instan di atas piring kertas… apa-apaan! Dia biasanya membuat ayam masala dengan campuran anggur merah dan sebagainya, sekarang hanya ‘ini cheeseburger-mu’. Saya memberi tahu teman-teman saya kalau dia sangat jago masak dan kemudian mereka mampir dan dia malah pergi ke Costco.

Di antara koktail dan Costco, obrolan kami berpindah menjadi tentang kopi dan freelancer yang menggunakan kedai kopi sebagai tempat kerja.

Jadi kamu ingin kedai kopi kembali menjadi tempat yang romantis. Orang-orang kreatif, seniman dengan diskusi cerdas dan minum kopi; seperti tempat bertukar pikiran.

Saya ingin segalanya menjadi romantis. Saya meromantisasi semuanya. Lihat saja film favoritku. Saya pikir hal ini hampir menjadi masalah. Itulah mengapa saya merasa terlahir di zaman yang salah. Dengan gaya pacaran modern, kamu hanya saling mengirim pesan sepanjang hari, seperti ‘oh saya baru melakukan ini atau melakukan itu’. Tak ada lagi keindahan di dalamnya. Saya tahu saya terus mengatakannya, tapi itulah yang saya cari. Itulah mengapa saya suka bermain dengan HALFNOISE. Saya juga suka Paramore, saya sangat bersyukur bisa menjadi teman baik lagi dengan mereka. Tapi dengan band kecil ini, kami semua tinggal di satu Airbnb, bertemu satu sama lain, bermain bersama, tidak ada manajer tour. Ada keindahan tersendiri di dalamnya.

Paramore sepenuhnya membebaskanmu dengan HALFNOISE untuk menjadi apa yang kamu inginkan?

Ya. Di awal tahun 2016 saya berbicara dengan diri saya sendiri. Saya bilang, ‘Ini adalah tahun terakhir saya mengerjakan HALFNOISE karena saya harus mendapat pekerjaan dan berkarya.’ Saya mengatakan itu enam tahun setelah saya meninggalkan Paramore dan saya telah bekerja sangat keras sejak saya berusia 14 tahun dan menabung banyak uangku sendiri untuk membeli rumah dan jalan-jalan, dan saya merasa sangat keren bisa tinggal di Selandia Baru. Tapi di akhir itu semua saya seperti, ‘ok, saya perlu mulai mencari uang, mulai bekerja’ dan saya pribadi tidak percaya bahwa memulai suatu band di zaman sekarang dan sering pergi tour—seperti semua band yang kamu dengarkan saat remaja seperti Paramore—masih bisa berhasil.

Tapi semuanya berjalan baik pada akhirnya

Ya, itu sangat sangat spesial dan saya tidak akan menyia-nyiakannya.

 

Sumber: https://noisey.vice.com/en_us/article/59kbdz/zac-farro-paramore-halfnoise-first-date-interview-2018 

Posted on February 9, 2018, 12:15 am

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Loudness

Eksklusif: Mata Mata Musik Ngobrol Bareng dengan Loudness

Band heavy metal legendaris asal Jepang, Loudness, baru saja mampir ke Jakarta untuk menggelar konser di Hard Rock Café Jakarta pada hari Selasa kemarin (12/1

on Nov 14, 2019

Vokalis Lamb Of God Bahas Kondisi Musik di 2019

Menurut vokalis Lamb of God, Randy Blythe, “Kalau kamu duduk di belakang komputer untuk mencela dan menghakimi orang lain, itu bertentangan dengan segala ses

on Oct 21, 2019
Zico

Zico Mengaku Pernah Alami Rambut Rontok Karena Stres

Zico buka-bukaan tentang musik dan kekhawatirannya saat menjadi tamu di acara Kim Shin Young‘s Hope Song At Noon pada 8 Oktober kemarin. Baca juga: Crush

on Oct 10, 2019
Kygo Avicii

Kygo: Avicii Adalah Alasan Mengapa Saya Mulai Membuat Musik

Di dalam wawancara yang dilangsungkan baru-baru ini di Las Vegas, Kygo membahas tentang perjalanan karier musik miliknya sampai inspirasi yang ia dapatkan dari

on Oct 7, 2019