×
×

Search in Mata Mata Musik

Knuckle Bones “C’est La Vie”: Mengubah Wajah Metalcore Lebih Impresif

Posted on: 12/10/19 at 9:28 am

Cover album “C’est La Vie” milik Knuckle Bones (dok. Undying Music)

KNUCKLE BONES
C’est La Vie

(2019, Undying Music)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Dibentuk di Jakarta pada 2017, Knuckle Bones yang terdiri dari lima sekawan: Raka Putrawan (gitar), Revi Novkaputri (vokal), Riki Putrawan (bass), Savio Lagina Putra (gitar) dan Michy Ibrahim (dram) termasuk band yang pesat berkembang. Di tahun yang sama merilis EP ‘Inception’, setahun kemudian Knuckle Bones kembali merilis single berjudul ‘Fatamorgana’ yang kemudian disusul oleh ‘Indonesia’ dan ‘Fade’ hingga berhasil merampungkan album full length debutnya yang dibaptis dengan judul ‘C’est La Vie’. Album ini dirilis pada 25 Desember 2018 lalu dalam format digital via Spotify, Bandcamp dan iTunes serta diunggah di kanal Youtube-nya namun baru dirilis dalam format fisik berupa CD pada 2 Desember 2019 di bawah bendera indie label lokal, Undying Music.

Kelebihan: Sejak ‘C’est La Vie’ Knuckle Bones memantapkan konsep musiknya dengan menggeber style genre hibrida yang cukup unik, yaitu modern rock yang berbalut melodic metalcore yang terpengaruh berat oleh My Chemical Romance, Sum 41, As I Lay Dying dan Saosin. Mereka sukses memadukan sound cadas yang metallic dan vokal merdunya dengan ambiens yang atmosferik serta lebih gelap dengan lirik yang emosional. Knuckle Bones merupakan pengusung pertamanya dari Indonesia (mungkin juga Asia). Perpaduan aransemen vokal dan pronounce Ipip (panggilan akrab Revi) yang super catchy menjadi salah satu highlights album ini. Tiap lagunya memiliki banyak layer terutama di sektor ritem dan melodi serta diperkuat oleh kualitas rekaman yang apik, tebal, lebar sekaligus clarity. Di sepanjang 12 lagu di album ini tidak ada vokal teriak serak seperti scream atau growl tipikal metalcore, hanya vokal lirih nan soprano yang nyaman dan berhasil ‘nge-blend’ dengan beat-beat headbanging yang sarat poli ritmik ala ‘Djent’.

Kekurangan: Secara musikal nyaris tanpa cela, namun secara artistik, cover artwork albumnya kurang ‘eye catching’. Bagaimana pun ‘music speaks louder than everything else’.

Kesimpulan: Album bermuatan musik yang sangat memikat dan bersifat amfibi alias bisa hidup di dua dunia, scene pop maupun rock/metal.

Verdict: 8,5/10

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    God Bless

    God Bless Ungkap Arti Rayakan 48 Tahun Karier Via Lagu 'Mulai Hari Ini...

    Tonggak awal bagi legenda hidup rock Indonesia God Bless dimulai pada tanggal 4 dan 5 Mei 1973. Pada 5 Mei, nama God Bless disepakati oleh para personelnya

    on May 5, 2021
    HolyKillers

    Holykillers Menggeram Via "Squalor", Album Debut Metalcore Sarat Api

    Kuartet muda pengibar metalcore Holykillers unjuk taring dengan album perdananya. Mereka merangkum sisi kelam rentang waktu kehidupan dalam album yang dibe

    on Apr 29, 2021
    Greta Van Fleet

    Greta Van Fleet Patahkan Tudingan 'Rock Sudah Mati' Gene Simmons

    Greta Van Fleet / Gene Simmons (Foto: Kevin RC Wilson). Bagi para pecinta musik generasi millenial dan Z, Greta Van Fleet selama ini dielu-elukan sebagai ro

    on Apr 28, 2021
    The Devil Wears Prada

    The Devil Wears Prada Rilis 'Termination' Dari EP Sekuel Bertema Zombi

    The Devil Wears Prada. The Devil Wears Prada akan merilis EP berjudul ZII pada 21 Mei mendatang. Sebagai penerus tematik untuk EP Zombie tahun 2010 mereka.

    on Apr 26, 2021