×
×

Search in Mata Mata Musik

Kongres AS Alokasikan Rp 212,7 Triliun Untuk Gedung Teater & Venue Konser Indie

Posted on: 12/21/20 at 10:00 am

Kongres AS Alokasikan Rp 212,7 Triliun Untuk Gedung Teater & Venue Konser Indie
Foto: Mr. Small’s Theatre, Millvale.

Kongres Amerika Serikat (AS) telah menyetujui paket bantuan Covid-19 bipartisan baru yang mengalokasikan dana sebesar US$ 15 miliar (sekitar Rp 212,7 triliun) untuk gedung teater dan venue alias tempat konser independen.

Baca juga: Dave Grohl dan Ratusan Musisi Lainnya Bersatu Dukung Venue Musik Independen

Menurut Nicholas Wu dari USA Today, paket bantuan tersebut mencakup Undang-Undang Save Our Stages Act. Pertama kali diperkenalkan oleh Senator John Cornyn dari Texas dan Amy Klobuchar dari Minnesota selama musim panas tahun ini, undang-undang tersebut menyerukan dukungan keuangan selama enam bulan untuk “menjaga semua venue tetap beroperasi, bisa membayar karyawan, dan melestarikan sektor ekonomi penting bagi masyarakat di seluruh Amerika”.

Di bawah naungan proposal awalnya, semua venue tersebut akan diberikan hibah yang mencakup 45% dari biaya operasi bisnis dari tahun sebelumnya atau sebesar US$ 10 juta (sekitar Rp 141,8 miliar) atau angka berapa saja yang jumlahnya lebih kecil. Semua venue kemudian akan diizinkan menggunakan uang itu untuk melunasi “biaya yang timbul selama pandemi Covid-19” serta sewa, utilitas, hipotek, alat pelindung diri, pemeliharaan, biaya administrasi, pajak, dan pengeluaran untuk memenuhi kebutuhan pedoman penjarakan sosial alias social distancing.

National Independent Venue Association, yang dibentuk awal tahun ini sebagai tanggapan atas pandemi dan mewakili sekitar 2.800 venue dari seluruh AS, telah melobi Kongres untuk mengeluarkan Undang-Undang Save Our Stages Act tanpa penundaan. Menurut sebuah studi yang dilakukan selama musim panas tahun ini, 90% anggota NIVA mengatakan bahwa mereka pada akhirnya akan dipaksa untuk menghentikan operasi secara permanen tanpa dukungan pemerintah federal. Untuk sementara, NIVA berupaya mengumpulkan uang untuk semua venue independen melalui donasi perusahaan dan inisiatif lainnya, termasuk #SOSFest digital.

Dayna Frank, pemilik dan CEO venue konser Minneapolis First Avenue dan Presiden Dewan NIVA, mengatakan dalam suatu pernyataan: “Kami sangat senang bahwa Kongres telah mendengar seruan dari semua venue independen yang ditutup di seluruh negeri dan memberi kami garis hidup yang penting dengan menyertakan Save Our Stages Act dalam RUU Bantuan Covid-19. Kami juga sangat bersyukur bahwa RUU ini memberikan Bantuan Pengangguran Pandemi yang akan membantu jutaan orang yang kehilangan pekerjaan bukan karena kesalahan mereka sendiri selama krisis ekonomi ini. Kami mendesak pengesahan cepat undang-undang ini, yang akan membantu mereka yang paling membutuhkan dan memastikan musik tetap hidup untuk generasi yang akan datang”.

Paket bantuan Covid-19 juga memberikan cek stimulus US$ 600 (sekitar Rp 8,5 juta) untuk setiap orang dewasa AS dan US$ 600 untuk setiap tanggungan mereka (istri, anak), meningkatkan tunjangan pengangguran, dan program perlindungan gaji yang layak untuk surat kabar lokal, televisi, dan penyiar radio.

Teks lengkap dari undang-undang tersebut telah dirilis. Venue yang memenuhi syarat untuk mendapatkan bantuan tidak boleh dimiliki oleh perusahaan yang beroperasi di beberapa negara atau lebih dari 10 negara bagian, dan tidak mempekerjakan lebih dari 500 orang. Semua venue yang kehilangan 90% pendapatan awalnya akan diprioritaskan untuk distribusi hibah, diikuti oleh semua venue yang kehilangan pendapatan 70%.

Baca juga: Industri Konser Di Amerika Terhitung Rugi Rp 423,5 Triliun Selama Pandemi 2020

Alangkah kerennya jika hal serupa diterapkan oleh Pemerintah Indonesia untuk para pekerja seni kreatif terutama di industri musik. Tanpa prosedur yang berbelit-belit, dana bantuannya mudah dan cepat teralokasikan kepada semua yang berhak menerimanya, dari musisi underground sampai mainstream, dari label rekaman underground sampai mainstream, dari venue underground sampai mainstream. Ah… rasanya terlalu jauh untuk berharap ke sana, dana bansos saja dikorupsi, ngentiauw lah.

Penerjemah & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Royalti Musik

    Royalti Musik PP No. 56 Saja Heboh, Indonesia Ketinggalan Zaman!

    Main musik mau jadi apa? Tanya orang tua dulu ketika seorang anak mengungkapkan cita-citanya menjadi musisi terkenal. Suatu cita-cita yang jauh dari ideal

    on Apr 13, 2021
    Music Publishing

    Music Publishing: Pondasi Industri Yang Esensial Bagi Ekonomi Musisi

    Dewasa ini, banyak sekali fenomena memprihatinkan bagi kehidupan pencipta lagu “era lawas” di Indonesia. Para pencipta lagu tersebut yang jaya di erany

    on Apr 10, 2021
    Industri Hiburan

    Surat Terbuka Untuk Presiden Jokowi Tentang Lumpuhnya Industri Hiburan

    JogjaROCKarta Festival, salah satu ikon industri hiburan kota Yogyakarta. (Foto: dok. Rajawali Indonesia). Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Setahun

    on Mar 3, 2021
    Lacuna Coil

    Lacuna Coil & 100 Artis Italia Gelar Konser "Diam Bak Patung" Untuk Un...

    Lacuna Coil "Silent Strike". (Foto: via YouTube). Lacuna Coil dan lebih dari 100 artis musik Italia lainnya melakukan unjuk rasa dengan aksi mogok tanpa per

    on Mar 2, 2021