×
×

Search in Mata Mata Musik

Konser Marshmello di Fortnite Adalah Masa Depan Metaverse

Posted on: 02/7/19 at 11:48 am

Konser ini menjadi cuplikan seperti apa masa depan kita jika dikuasai teknologi AR dan VR.

Oleh: Peter Rubin (Wired)

Berdasarkan standar pertunjukan EDM di outdoor, penampilan Marshmello pada hari Sabtu kemarin (2/2) bisa dibilang cukup singkat. 10 menit biasanya bukan waktu yang cukup bagi pengunjung festival untuk berkumpul di depan panggung, apalagi untuk bisa mulai menggila—tetapi pengunjung Pleasant Park sudah berhari-hari menantikan penampilan ini, jadi semua orang dengan senang hati menikmati acara tersebut.

Tak hanya berjoget bersama, banyak pengunjung yang melakukan “Marsh Walk” sebagai bentuk penghormatan bagi sang penampil utama; di balik turntable-nya dan diapit oleh kucing raksasa yang menari-nari, Marshmello mengeluarkan segala jurus jitunya untuk sebisa mungkin memeras setiap energi yang ada dalam kesempatan itu. Dia harus melakukannya. Pasalnya, berdasarkan standar pertunjukan EDM di outdoor, penampilan Marshmello hari Sabtu itu juga belum pernah terjadi sebelumnya: karena itu semua terjadi di dalam video game Fortnite.

Sudah banyak orang yang bergabung ke dunia virtual dalam beberapa dekade terakhir. Sudah banyak juga yang pernah mengunjungi konser virtual. Meski begitu, acara Fortnite ini melambangkan sesuatu yang jauh berbeda. Menurut satu perkiraan (tidak berdasar), 10 juta pemain secara bersamaan menghadiri acara tersebut di mode “Showtime.” Dengan kata lain, ini lebih dari sekadar konser biasa. Meskipun singkat, ini adalah cuplikan seperti apa masa depan kita jika dikuasai teknologi AR dan VR: perkumpulan avatar dalam wujud nyata yang saling terhubung, dalam acara berskala besar yang masih bisa terasa personal.

Baca Juga: podcast, pesta joget, dan pertunjukan dari artis-artis seperti Reggie Watts. Tetapi ketika karyawannya mendengar tentang konser Fortnite, mereka memandang hal ini sebagai validasi berskala besar. “Saya bilang, ‘Ini dia,’” kata Katie Kelly, pemilik program di AltspaceVR. “Ini adalah versi terbesar dari apa yang kami coba lakukan—di game ini, dengan jutaan orang.”

Dalam hal ini, “jutaan” tidak sebanding dengan popularitas game ini. Bulan November lalu, Epic Games mengumumkan bahwa Fortnite telah mencapai lebih dari 200 juta pemain di seluruh dunia—lima kali lebih banyak dari jumlah di bulan Januari 2018. Dan sepanjang pertumbuhan itu, Epic telah mengubah Fortnite menjadi sesuatu yang lebih mirip dengan sebuah medium daripada permainan, memperbanyak konten seperti rangkaian sinetron televisi, dengan narasi dan hasilnya sendiri. Pada Juni 2018, peluncuran roket dalam game ini menjadi acara yang dihadiri banyak orang, yang mendorong para pemainnya untuk bekerja sama membangun menara dan platform super besar agar mereka bisa menonton peluncuran tersebut dengan maksimal.

Akan tetapi, konser Marshmello mewakili perubahan dalam pemrograman itu. Dipromosikan dalam game melalui selebaran dan serangkaian tantangan khusus—belum lagi area pertunjukan yang terbentuk selama seminggu, yang tampak seolah dibangun sedikit demi sedikit—para pemain mulai menganggap hal itu bukan hanya sebagai pengungkapan misterius (Apa yang terjadi saat roketnya diluncurkan?), tapi lebih ke hal yang spesifik. Kegiatan yang diadakan menjadi unsur penariknya.

“Saya berbicara dengan seorang wanita minggu lalu, dan dia mengatakan, ‘Anak saya mengoceh kalau dia tidak bisa pergi kemana-mana hari Sabtu karena dia harus datang ke konser pertamanya … di Fortnite,’” ujar Kelly. “Orang-orang terus mengatakan mereka menonton acara tersebut, tapi kalau Anda menanyakan anak-anak itu, mereka mungkin akan berkata ‘Saya hadir di sana.’” Marshmello juga tampak serius dengan konsernya itu; dia memasukkan Pleasant Park—kota pinggiran di barat laut peta game ini—ke jadwal tur resminya. Semua itu semakin mendorong adanya rasa kehadiran, rasa benar-benar berada di sana, di sebuah konser, dengan Marshmello meneriakkan “Saya ingin melihat kalian semua berjoget!”

Kata “kehadiran” sudah lama digunakan untuk menggambarkan fenomena konseptual VR yang mengubah permainan ini, namun menurut Mikael Jakobsson, seorang ilmuwan peneliti di MIT Game Lab, keterlibatan hadir dalam berbagai bentuk. “Fenomena Fortnite menunjukkan bahwa tidak perlu ada banyak koneksi teknologi untuk membuat orang-orang merasa bersama di tempat virtual—untuk berteman, dan mulai peduli dengan apa yang terjadi dengan karakter mereka,” jelasnya. Dia menghargai ketersediaan game ini di berbagai platform: “Anda bisa memainkannya di komputer atau konsol atau tablet yang layak—itulah yang menciptakan peluang untuk mendapatkan jumlah di mana game ini menjadi semacam fenomena budaya.”

Memang, pada kenyataannya, pengalaman yang didapat tidak seperti yang diharapkan saat mendengar tentang konser yang dihadiri 10 juta orang. Fortnite mengelompokkan gameplay-nya menjadi “battle royales” dengan 100 pemain, jadi meskipun ada jutaan orang yang bermain pada saat tertentu, Anda hanya akan melihat 99 pemain lain yang bergabung dengan Anda di konser Marshmello—dan Anda hanya akan bisa mendengar tiga pemain lain di grup Anda.

Tetapi, terlepas dari tidak adanya ciri khas dari acara yang dihadiri banyak orang tersebut, orang-orang yang hadir melaporkan adanya rasa memiliki dan kegembiraan yang nyata. “Acaranya sangat lucu, sangat aneh dan menyenangkan dengan cara unik yang dimiliki Fortnite, dengan orang-orang berpakaian konyol melakukan gerakan konyol dan membangun menara setinggi langit,” tulis Riley MacLeod di Kotaku. “Musiknya, ya ampun, sangat catchy, dan saya bahkan ikut menari atas kemauan saya sendiri.”

Dan benar saja, kebebasan itulah—perasaan di mana seseorang lepas menikmati momen yang terjadi—yang dicari di setiap pengalaman yang dimediasi teknologi. Sesuatu yang membuat bahagia dan istimewa persis seperti hal yang nyata. “Sejujurnya tidak ada banyak perbedaan antara konser Marshmello dan VR,” kata Kelly. “Anda punya animasi olahan yang menjadi pengganti agar orang-orang bisa bergerak dan menari—ada sesuatu yang luar biasa dari melihat orang-orang menari di VR—tapi selain itu, resep untuk membuat acara virtual yang keren tidak terlalu rumit. Kita tahu apa yang membuat kita bahagia, baik itu secara virtual ataupun dalam layar: Bagaimana Anda mempersingkat momen-momen kenikmatan itu?”

Epic dan Fortnite, atas usaha mereka, berhasil menghadirkan sesuatu yang spesial: fenomena VR khusus, tanpa melibatkan headset. “Itulah yang terjadi saat orang-orang disatukan,” kata Jakobsson. “Mereka sendiri akan menjadi daya tarik bagi orang lain untuk bergabung. Ini bukan lagi hanya soal game-nya—ini soal orang-orang yang menjadi temanmu di sana.”

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

High Octane Superfest 2019

Bersiap Untuk High Octane Superfest 2019

Festival musik metal inisiasi dari Seringai tersebut akan diadakan pada 28 September 2019 di Studio Palem, Kemang. Baca Juga: Rayakan Usia 17 Tahun, Seri

on Sep 23, 2019
Marshmello

“Happier” dari Marshmello & Bastille Catatkan Rekor di Chart Billb...

“Happier” melanjutkan dominasinya di puncak tangga lagu Hot Dance/Electronic Songs selama 50 minggu berturut-turut. Baca Juga: Marshmello Gandeng Musisi

on Sep 9, 2019
Honne

Honne Akan Tampil Tiga Hari di Jakarta

Setelah tiket hari pertama dan kedua sold out, Ismaya Live umumkan konser Honne hari ketiga. Baca Juga: Love Me/Love Me Not – HONNE Ismaya Live 

on Sep 2, 2019
Keterangan Foto Utama: The 1975 (kredit foto: @the1975 Instagram account)

The 1975 Akan Kembali Menyapa Penggemar di Indonesia

Akan menggelar konser pada 29 September 2019 di Helipad Parking Ground GBK Senayan, Jakarta Band asal Manchester, Inggris, The 1975 resmi akan menggelar

on Aug 16, 2019