×
×

Search in Mata Mata Musik

Lagu Natal Mariah Carey Akhirnya Jadi Lagu No. 1 Billboard

Posted on: 12/17/19 at 9:02 pm

Bagi Mariah Carey, musim Natal tahun ini dimulai tepat pada malam Halloween, saat jam menunjukkan pukul tengah malam dan tanggalan berganti ke bulan November.

Di Twitter, Mariah mengumumkan dimulainya waktu Natal dengan teriakan merdunya.

Sejak itu, mulailah misi tahunan Mariah untuk mendorong ‘All I Want for Christmas Is You’ – lagu Natalnya dari tahun 1994 – ke level berikutnya. Senin (16/12) kemarin, misi ini pun sukses terpenuhi saat lagu tersebut mencapai puncak tangga lagu Billboard Hot 100 untuk pertama kalinya, menjadikannya lagu tertua yang akhirnya mencapai posisi puncak dan lagu Natal pertama yang menduduki tempat teratas sejak ‘The Chipmunk Song’ 60 tahun lalu.

‘All I Want for Christmas’ menjadi lagu No. 1 pertama Mariah sejak 2008 dan yang ke-19 secara keseluruhan—satu angka di bawah perolehan rekor The Beatles. 

Namun sejauh ini, lagu itu memiliki perjalanan yang paling menakjubkan. ‘All I Want for Christmas’ telah bertahan selama tiga dekade, dengan lonjakan dalam beberapa tahun terakhir yang sebagian berkat perubahan yang didorong oleh teknologi dalam kebiasaan pendengar, termasuk popularitas playlist Natal, dan taktik marketing baru. Mungkin yang paling utama, ada kekukuhan dalam penulisan lagunya yang menjadi senjata lagu Natal ini.

“Ada lagu-lagu klasik—lagu-lagu standar yang populer di masa kecil semua orang—dan kemudian ada lagu reinterpretasi atau orisinil yang baru,” kata Dave Bakula, analis senior Nielsen Music. “Mariah hidup di tengah-tengah keduanya”.

“Lagu ini bukan tipe lagu yang semakin tahun semakin menurun, dengan pesan kuno di dalamnya,” tambahnya. “Ini lagu pop sederhana dan mudah yang kebetulan tentang Natal”.

Dalam sesi wawancara, Mariah menentang pentingnya mencapai peringkat No. 1. “Ini adalah sesuatu yang penggemar berat saya pikirkan, dan orang-orang yang sangat dekat dengan saya berbicara dengan saya tentang hal ini sepanjang tahun,” ucapnya. “Tapi saya tidak butuh hal lain untuk memvalidasi eksistensi lagu ini. Saya biasa menelaahnya setiap kali saya mendengarkan lagu ini, tapi sekarang, saya merasa akhirnya bisa menikmatinya”.

“Saya hanya sangat menyukai Natal,” tambahnya. “Saya tahu itu klise, tapi saya tidak peduli”.

Namun, lagu komersial sebesar ini tetap saja butuh rencana. Sebagai salah satu dari tiga lagu orisinil Mariah dalam albumnya di 1994, Merry Christmas, yang juga mencakup cover dari ‘Silent Night’ dan ‘Joy to the World,’ ‘All I Want for Christmas’ telah menjadi industri tersendiri bagi Mariah, yang, dalam mengakui kekekalan lagu itu, telah menghabiskan waktu bertahun-tahun membangun dunia yang lebih luas di sekitar lagu itu.

Rob Stringer, ketua Sony Music Group, mengatakan dalam email ke New York Times: “Setiap tahun kami memfokuskan program untuk menemukan cara baru memasarkan ‘All I Want for Christmas’ karena kemungkinan orang-orang mendengarkan lagu klasik yang abadi ini sepertinya semakin tumbuh”.

Mulai tahun 2014, Mariah telah melakoni serangkaian pertunjukan Natal di Las Vegas, Paris, London dan Madrid dengan lagu megahit itu; hari Minggu kemarin, dia menutup acara tahun ini dengan konser yang laris manis di Madison Square Garden, membawakan ‘All I Want for Christmas’ sebagai encore yang dikelilingi 11 pohon Natal, paduan suara gospel, kedua anaknya, semburan salju palsu dan, tentunya, Sinterklas.

Kemudian ada pula beberapa pendamping lagu itu: buku anak-anak (dari 2015) dan film animasi (2017), beserta segudang konten online, mulai dari video GQ di mana Mariah mengutarakan kecintaannya pada Natal hingga mini dokumenter di Amazon tentang keabadian lagu itu. Bulan lalu, untuk ulang tahun album ke-25, Sony merilis ulang edisi deluxe Merry Christmas dengan empat versi berbeda dari ‘All I Want for Christmas’—kecuali versi duet dengan Justin Bieber dari 2011—dan timeline cetak sebesar hampir satu meter dari umur lagu. 

Tidak hanya sampai di situ, sementara video musik ‘All I Want for Christmas’ di YouTube sudah ditonton sekitar 600 juta kali sejak 2009, versi baru video yang menampilkan rekaman lama ditambahkan tahun ini, menyusul rekaman versi hitam-putih dari 2016—yang semuanya masuk dalam perhitungan tangga lagu Billboard.

Taktik ini pun berhasil: ‘All I Want for Christmas’ menjadi lagu yang paling sering diputar di AS minggu lalu, dengan lebih dari 45 juta streams, naik dari 35 juta streams di minggu sebelumnya. Dan sementara lagu itu memantapkan popularitasnya di abad ke-21 berkat film romansa komedi tahun 2003 Love Actually, kesuksesan digitalnya meroket sejak 2014, seiring streaming mulai mendominasi cara orang mendengarkan musik.

Tahun itu, ‘All I Want for Christmas’ di-streaming hanya sekitar 12,6 juta kali dari awal November hingga Desember, menurut Nielsen. Pada 2016, jumlah itu mencapai 61 juta dan tahun lalu, jumlahnya mencapai 185 juta streams, mencapai level terbaru ke No. 3 di Billboard karena sering muncul sedikit di bawah puncak playlist Natal, dari Christmas Hits resmi di Spotify hingga berbagai versi playlist buatan pengguna.

Airplay di radio juga mengikuti. Tahun lalu, lagu itu diputar sebanyak 42.000 kali, naik dari 24.000 kali di 2014. iHeartRadio, saluran radio terbesar di AS, mengatakan bahwa sejak dirilis, ‘All I Want for Christmas’ telah menarik sekitar 1,8 miliar audiens di stasiun-stasiun radionya.

“Ini secara konsisten menjadi lagu Natal percobaan terbaik bagi kami,” kata Tom Poleman, Chief Programming Officer iHeartRadio, “dan akhirnya menjadi salah satu lagu Natal yang paling banyak diputar di radio”. Lagu tersebut “secara sonik cocok bersanding dengan setiap lagu artis kontemporer dan juga melintasi berbagai genre,” jelasnya, memungkinkan lagu itu dimainkan di hampir semua format.

Seperti kebanyakan keajaiban Natal, asal mula lagu itu kontroversial dan diselimuti misteri.

Mariah, yang seolah lupa dengan usianya atau berlalunya waktu, bergurau bahwa ketika ia menulis lagu itu, dia masih ‘di dalam kandungan’. Realitanya, labelnya saat itu, Columbia Records, punya rencana merilis album Natal dan dia awalnya menolak keras. Mariah saat itu adalah artis muda yang baru menyelesaikan album ketiganya, Music Box, dan album Natal dulu tidak dianggap sebagai hal yang utama bagi artis yang sedang naik daun.

“Saya bukan orang yang suka memberikan segala macam kredit kepada eksekutif perusahaan rekaman,” kata Mariah, “tapi saya pikir itu ternyata merupakan langkah bisnis yang brilian”.

Menurut Mariah, ‘All I Want for Christmas’ pertama kali muncul saat dia sedang mengutak-atik keyboard Casio di kediamannya di bagian utara New York dengan diiringi lagu ‘It’s a Wonderful Life’. Dia menyanyikan satu melodi dan memainkan chord progression ke alat perekam mini-tape, dan kemudian merekam aransemen lengkapnya bersama kolaborator langganannya, Walter Afanasieff.

Afanasieff, yang memproduseri ‘My Heart Will Go On’ milik Celine Dion dan bekerja sama dengan Mariah di hits seperti ‘Dreamlover’ dan ‘Hero,’ memiliki cerita yang berbeda.

“Saya tidak tahu bagaimana menjelaskan cerita versi Mariah. Saya tahu waktu saya melihat hak cipta lagu ini—50 persen miliknya dan 50 persen milik saya—kami berdua menulis lagu ini,” tegasnya. “Saya duduk di belakang piano dengan Mariah di ruangan itu, dan saya mulai memainkan chord tertentu—seperti yang selalu saya lakukan pada setiap lagu yang pernah kami tulis bersama,” mengacu pada permainan piano yang memberikan lagu itu momentum penggeraknya. 

Mariah kemudian menyelesaikan liriknya, sementara Afanasieff mengomposeri lagu, yang tidak berisi instrumen live, dengan sequencer keyboard digital. Mereka merekam lagu itu di musim panas, mendekorasi ruang studio agar mendapatkan semangat Natal.

“Kami hanya melakukan apa pun yang kami inginkan, termasuk verse intro yang sangat lambat yang akhirnya menjadi judul lagu,” kata Afanasieff, menambahkan bahwa lagu tersebut tidak memiliki chorus yang sebenarnya. “Tidak ada irama atau alasan, semuanya berhasil begitu saja, meskipun itu melanggar aturan tertentu. Saya rasa itu bagian dari alasan lagu ini bertahan begitu lama”.

Mariah, yang secara dramatis berpisah dengan label lamanya beberapa tahun kemudian, dan Afanasieff belum bertemu dalam lebih dari 20 tahun terakhir. Tapi setiap Natal, lagu mereka tidak pernah absen diputar.

“Setiap tahun saya mencubit diri saya sendiri,” aku Afanasieff. “Memiliki andil dalam menciptakan lagu bersejarah yang sangat besar ini adalah hal yang luar biasa”. Konon, lagu itu adalah lagu yang paling menguntungkan dalam kariernya, berkat kenaikan posisinya di tangga lagu setiap tahunnya. 

“Saya akui, mantan-mantan istri saya, anak-anak saya dan cucu-cucu saya bisa menikmati banyak hal indah karena lagu itu,” tambahnya.

Mariah mengakui adanya rasa nostalgia tertentu yang datang dari tumbuh bersama lagu itu, tetapi dia menolak membedah keajaiban musiknya, seolah-olah itu akan mengurangi kebahagiaan murni lagu itu. “Saya tidak banyak memikirkannya dan hanya menikmatinya sebagai pendengar,” ujarnya. “Orang-orang ingin membahas lebih dalam, tapi saya merasa itu hanya lagu biasa.” 

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

BTS

BTS Toreh Sejarah Baru Dengan Menempati 2 Posisi Teratas Chart Billboa...

Selama tahun 2020 ini BTS memang sedang panen-panennya memecahkan rekor baru, dan setelah konser 2 hari mereka yang bertajuk Map of the Soul ON:E berjalan

on Oct 13, 2020
Mariah Carey

Mariah Carey Diam-Diam Pernah Membuat Album Alternative Rock!

Mariah Carey circa 1995. (Foto: via Frank Micelotta Archive/Getty Images). Hari ini, 29 September, Mariah Carey meluncurkan buku baru sekaligus buku memoar

on Sep 29, 2020
BTS

BTS Ceritakan Reaksi Mereka Saat Lagu ‘Dynamite’ Jadi No.1 di Bill...

BTS. (Foto: Big Hit Entertainment). Tanggal 2 September lalu, BTS menggelar acara Online Global Media Day di mana mereka membahas bagaimana rasanya meraih p

on Sep 3, 2020
Taylor Swift 40 Lagu Hits Terbesar Billboard Hot 100.

40 Lagu Hits Terbesar Taylor Swift Dalam Chart Billboard Hot 100

Taylor Swift, queen of pop era 2000-an. Tak terasa, kiprah popstar yang satu ini telah memasuki usia ke-14 tahun, tepatnya dimulai pada saat Taylor Swift me

on Aug 2, 2020