×
×

Search in Mata Mata Musik

Legenda Cliff Burton Akan Terus Hidup Di Hati Fans Metallica Selamanya

Posted on: 09/28/20 at 10:00 am

Legenda Cliff Burton Akan Terus Hidup Di Hati Fans Metallica Selamanya
Foto yang menjadi cover depan buku otobiografi “To Live Is to Die: The Life and Death of Metallica’s Cliff Burton” oleh penulis Joel McIver dan dipublikasikan oleh Jawbone Press pada Juni 2009.

Tiap tanggal 10 Februari, seluruh fans Metallica dan metalhead di seluruh dunia merayakan hari kelahiran mendiang Cliff Burton, bassis paling fenomenal dan legendaris yang pernah dimiliki Metallica, dan tanpa perlu diperdebatkan, doi adalah salah satu musisi terbaik dalam sejarah musik heavy metal. Jika masih hidup, tahun ini Cliff akan genap berusia 58 tahun.

Baca juga: Ray Burton Tutup Usia, Ayahnya Mendiang Bassis Metallica, Cliff Burton

Namun, bukan hanya hari kelahirannya, hari kematiannya, 27 September, pun diperingati untuk mengenang sosok idola dan karya hebat musisi bernama lengkap Clifford Lee Burton ini. Kami, di MataMata Musik melalui artikel ini bukan ingin turut merayakan hari kematiannya, melainkan ingin memperingati dan mengenang momen terakhir Cliff selama sisa hidupnya bersama band heavy metal terbesar di planet ini.

Sebagian besar ‘Tallica Family mungkin sudah mengetahui bahwa kisah Cliff Burton memiliki dua peristiwa kematian. Pertama, kematian tragis Cliff sendiri, yang terjadi pada 27 September 1986, pada dini hari ketika bus tur yang membawa rombongan Metallica tergelincir dari jalan di Kronoberg County, Swedia. Peristiwa ini tentu telah menjadi bagian dari pengetahuan umum dunia heavy metal, kendaraan itu menggelinding ke tanggul dan melemparkan Cliff keluar jendela, dan akhirnya mendarat di atas alias menindih tubuh Cliff. Cliff meninggal seketika. Usia doi masih muda, 24 tahun.

Dan kematian yang kedua, 11 tahun sebelum tragedi itu, yang jarang dibahas tetapi berdampak besar pada kehidupan dan karier Cliff Burton. Pada Mei 1975, kakak laki-lakinya, Scott meninggal karena penyakit aneurisma otak pada usia 16 tahun, yang masih terlalu muda. Setelah mendengar orang tua mereka menceritakan segala sesuatunya, Cliff, yang saat itu berusia 13 tahun, menjadikan hal itu sebagai faktor motivasi untuk mengabdikan diri sepenuhnya pada musik. Seperti yang dikatakan sang ibunda, Jan Burton dalam suatu wawancara yang dipublikasikan di situs web fans Metallica, “Dia mengatakan kepada beberapa orang, ‘Gue akan menjadi bassis terbaik untuk abang gue'”.

Bentangan waktu pendek antara kedua kematian yang telah ditentukan itu mengubah segalanya bagi sejarah heavy metal dalam hal kebaikan sekaligus kesedihan. Cliff Burton menjual sepenuh jiwanya ke rock and roll untuk menjadi pemain bass yang hebat, berlatih selama berjam-jam tiap hari hingga melampaui keterampilan beberapa guru awalnya. Doi menjadi musisi yang konstan berkiprah di scene musik Bay Area, San Fransisco, bermain di beberapa band, yang pertama, EZ-Street bareng dua calon personil Faith No More, Jim Martin dan Mike Bordin, kemudian Agents of Misfortune, serta band heavy metal yang sudah cukup beken kala itu, Trauma.

Trauma lah yang membantu memperkenalkan Cliff kepada rekan satu band Metallica-nya di masa mendatang, yang begitu terpesona ketika mereka mendengar versi awal dari permainan solo bass yang merupakan cikal bakal lagu instrumental ‘(Anesthesia)-Pulling Teeth’ dari album debut Metallica Kill ‘Em All . James Hetfield dan Lars Ulrich lantas meyakinkan Cliff untuk bergabung dengan mereka sebagai pengganti Ron McGovney yang baru saja keluar dari band.

Kalau lo simak ‘(Anesthesia) —Pulling Teeth’ hari ini atau sampai kapan pun, ya nggak sulit lah untuk memahami apa yang bikin James Hetfield dan Lars Ulrich begitu tertarik kepada Cliff Burton. Mereka terpukau karena permainan Cliff membawa dinamisme dan kekuatan melalui penggunaan pedal efeknya, terutama pedal wah-wah yang memberikan goyangan dan daya gedor pada lagu. Kedalaman dan kecepatan jarinya juga memperlihatkan seorang pemain bass yang bisa mengimbangi power chord cepat dari riff-riff powerful yang berhamburan dalam tiga mahakarya album yang direkam Cliff Burton bersama Metallica: Kill ‘Em All (1983), Ride the Lightning (1984), dan Master of Puppets (1986).

Cliff Burton hadir di tiga album pertama Metallica, yang membedakan dirinya sebagai bagian yang sangat penting dari kesuksesan dan perjalanan karier band thrash metal yang pertama kali diakui industri musik mainstream itu. Gaya permainan dan aksi panggung Cliff merupakan satu paket yang luar biasa, yakni enak didengar dan enak dipandang. Tiap performanya, doi nyaris non-stop headbanging dan gahar yang mana sangat bad-ass! Dan doi dengan santai mengisi bagian bassnya untuk menggandakan daya tampol bagian gitar ritemnya James Hetfield, tetapi pada saat-saat seperti solo kromatik intro lagu ‘For Whom the Bell Tolls’ atau dentuman bagian solonya yang nge-prog di lagu instrumental ‘Orion’, doi bisa sangat menonjol dan mendobrak komposisi musiknya. Bahkan sering kali, doi terlihat seperti memperlakukan bass bak gitar saat mencabik-cabik instrumennya. Lo lihat saja video konser Metallica, 1985 silam di bawah ini. Anjay, old school abiz tapi metal as fuck, bray!

Kontribusinya pada penulisan lagu dan kehadirannya menjadi kekuatan yang positif dalam Metallica, termasuk semangatnya untuk melakukan pekerjaannya, membantu mendorong Metallica ke tingkat kesuksesan di seluruh dunia yang belum pernah terlampaui pada saat itu. Dan, seperti yang sering diulangi tetapi masih layak disebut berulang-ulang, mereka melakukannya tanpa dukungan promosi stasiun radio komersial dan MTV.

Ketika Cliff direnggut dari dunia ini pada 27 September 1986, segala sesuatunya menjadi berbeda bagi Metallica setelah itu. Para anggota yang masih hidup terus terjun ke dalam karier musik mereka dengan kekuatan yang lebih besar, yang berpuncak pada pencapaian agung mereka dengan album …And Justice For All (1988) dan video musik ‘One’ yang melambungkan mereka ke popularitas yang lebih tinggi dan luas sampai di titik balik paling mainstream mereka lewat kesuksesan gila-gilaan album self-titled alias “Black Album” (1991).

Namun, setelah itu, Metallica dinilai “sell-out” bagaikan pisau bermata dua. Mengubah penampilan mereka menjadi lebih “bersih” dan meninggalkan thrash metal demi mengadopsi “southern rock”. Vokal James Hetfiled tak lagi lantang, tak ubahnya Garth Brooks atau Billy Ray Cyrus keselek duren, haha. Dibenci dan dicemoohi komunitas metal namun disambut manis oleh komunitas pop/rock. Nggak sedikit fans yang membayangkan dan berspekulasi, mungkin jika Cliff Burton masih hidup, doi adalah orang yang paling keras menentang keputusan perubahan besar Metallica tersebut. Cliff dikenal sebagai musisi yang berintegritas tinggi. Bahkan, ada yang mengatakan, kalau Cliff nggak tahan terus akhirnya memutuskan keluar seperti Jason Newsted, mungkin Cliff akan bergabung dengan sesama dedengkot scene Bay Area Thrash, yaitu Exodus, yang sejak awal hingga kini konsisten THRASH dengan huruf kapital semua.

Cliff Burton bersama tiga sohibnya.

Salah satu momen penting yang mengacu pada sosok Cliff, yaitu pada saat persiapan album debut Metallica yang awalnya berniat untuk diberi judul Metal Up Your Ass dengan cover album yang menampilkan tangan memegang belati yang muncul dari jamban toilet. Namun, bos Megaforce Records, Jon Zazula meyakinkan mereka untuk mengubah judul dan cover album tersebut, karena menurutnya distributor musik nggak akan mau mengambil stok albumnya karena terlalu eksplisit untuk di-display di toko-toko. Artwork cover terakhir menampilkan bayangan tangan yang memegang palu berlumuran darah. Cliff Burton dikreditkan sebagai pencetus judul Kill ‘Em All, lantaran Cliff sering mengucapkan, “Those record company fuckers …kill ’em all!” sebagai respons dan ungkapan rasa kecewanya terhadap situasi itu. Lars Ulrich kemudian mengusulkan dan mengatakan “Kill ‘Em All” adalah judul yang bagus, dan Jon Zazula setuju.

Metallica terus berkembang menjadi band metal terbesar di planet ini, dan hingga kini pun belum ada indikasi band “the next Metallica” jika suatu saat Metallica menuntaskan bab final ceritanya.

Dan terbukti bahwa kesedihan dan rasa kehilangan Cliff Burton masih membebani sisa personil Metallica. Dalam sebuah video yang dirilis untuk mempromosikan buku tentang pembuatan album Master of Puppets, Kirk Hammett menghapus air mata ketika berbicara tentang sohib lamanya itu. Dan kematiannya juga masih membayang-bayang di antara jutaan fans band ini, sebagaimana dibuktikan dengan upaya mereka melalui petisi yang berhasil setelah Board of Supervisors, Alameda County, California memproklamirkan bahwa kampung halaman Cliff Burton di Castro Valley, California resmi menggelar “Cliff Burton Day” pada tanggal 10 Februari 2018 di hari yang menjadi ulang tahun Cliff yang ke-56. Dan sejak itu, tiap tanggal tersebut ditetapkan sebagai “Cliff Burton Day” bagi umat ‘Tallica di seluruh dunia.

Kontribusi keluarga Burton terhadap kota tempat Cliff lahir dan tumbuh besar pun sudah sangat dikenal. Sebagian pembayaran royalti Cliff dari Metallica didonasikan oleh orang tua Cliff untuk dana beasiswa jurusan musik di Castro Valley High School.

Baca juga: 20 Lagu Terbaik Metallica Sepanjang Masa

Lebih dari tiga dekade kemudian setelah kematian Cliff Burton, masih banyak orang di dunia ini yang belum rela ditinggalkannya. Mereka begitu mengagumi karyanya dan terpengaruh oleh karyanya. Cliff masih membayangi Metallica dengan cara dan dampak yang nggak pernah bisa dilakukan oleh Jason Newsted atau Robert Trujillo. Dari semua bakat yang mereka miliki, sulit untuk bersaing dengan sang legenda Cliff Burton. Karisma yang tak tertandingi.

Sumber: Berbagai Literatur
Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jaggernaut

Stoner Rocker Juggernaut Mengajak Kembali Ke EP "Masa Pertengahan"

Jaggernaut. Setelah sebelas tahun, mini album Juggernaut dibangkitkan kembali oleh Rekam Jaya sebagai bagian dari program reissue dan dokumentasi arsip musi

on Oct 26, 2020
Miley Cyrus

Miley Cyrus Sedang Di Tengah Proses Rekaman Album Lagu Cover Metallica

Miley Cyrus dan Lars Ulrich (Metallica) di tengah konser tribute to Chris Cornell. (Foto: Instagram/Lars Ulrich). Bukan rahasia lagi bahwa Miley Cyrus adala

on Oct 21, 2020
Alex Skolnick

WTF! Alex Skolnick (Testament) Ternyata Bisa Nge-Rap Dan Sudah Merilis...

Alex Skolnick (Testament). (Foto: Kid Logic Media). Gitaris virtuoso Testament, Alex Skolnick sejak lama dianggap sebagai salah satu gitaris thrash metal te

on Oct 14, 2020
Kuasa

Selain Eksplorasi Secara Massif, Album KAUSA "Una In Perpetuum" Bertam...

Sebagai band yang berbasis heavy metal dan punk rock, KAUSA termasuk band yang gemar berpetualang secara musikal. Dan kini mereka menganalogikan diri merek

on Oct 13, 2020