×
×

Search in Mata Mata Musik

Legenda Punk Jakarta, Rino RGB (Rage Generation Brothers) Tutup Usia

Posted on: 06/5/20 at 6:00 am

Suasana berkabung sedang menyelimuti scene musik underground Tanah Air setelah tersiar kabar duka dari Rino Akbar, gitaris sekaligus pendiri RGB, band punk rock yang telah malang melintang sejak pertengahan 1990-an. Setelah sempat berjuang lama melawan penyakitnya, Rino RGB mengembuskan napas terakhirnya pada hari Kamis (4 Juni) pagi lalu di rumahnya.

Selain sosoknya yang bersahaja, berteman dengan siapa saja tanpa peduli aliran musik atau latar belakang apapun, Rino juga dikenal karena cukup ikonik sehingga membuat dirinya mudah dikenali. Tidak hanya terkenal karena bertubuh gendut, Rino termasuk fashionable, yang paling sering terlihat tampil ke mana-mana pakai jaket penuh emblem band-band punk/hardcore favoritnya, pakai topi dibalik, tindikan, rantai dompet dan sepatu boots. Melalui sepak terjang RGB lah, nama Rino mulai dikenal luas, tidak hanya di scene punk/hardcore, tapi juga di metal dan lain-lain.

Rino RGB.
Rino saat beraksi dengan RGB.

RGB adalah salah satu band lawas yang menjadi motor penggerak scene punk/hardcore di Jakarta khususnya. RGB berdiri pada tahun 1996, dengan formasi awal: Rino (gitar), Botak (Vox 1), Boker (Vox 2), Kelly (Bass), Alley (dram). Nama RGB merupakan singkatan dari Rage Generation Brothers. Rino, sang frontman menceritakan asal-usul ide nama RGB:

“RGB gw ambil dari (nama) kuliner seafood kaki lima, “Rebus Goreng Bakar”… Malam itu di sebuah tongkrongan lama di sekitar Rawamangun (Jakarta Timur)… Malamnya setelah kami jam session di sebuah studio, kami berkumpul di basecamp di dekat rumah gw, dan kami sepakat memakai kata “Rage Generation” diambil dari nama sebuah Fanzine dari Perancis saat itu, dan huruf B ketemu setelah kami lihat kamus Bahasa Inggris, “Brothers”, jadilah Rage Generation Brothers yang artinya Pergolakan Saudara Se-Generasi”.

Awalnya band ini hanya band session di tongkrongan SID Ganks dan Sub Normal yang merupakan bagian dari subkultur punk di Jakarta.

Pada tahun 1996, RGB merilis EP tanpa judul, berisi 4 lagu, hanya dicetak sebanyak 300 kopi dalam format kaset. Beberapa tahun berikutnya, album demi album dirilis. Selain karya yang berjejer, formasi orang-orang yang memperkuat RGB juga berjejer. Cukup banyak pergantian formasi yang dilakukan RGB. Tercatat, untuk vokalis 1996 – 2014: 4 orang, bassis 1996 – 2014: 10 orang, dramer 1996 – 2015: 4 orang. Jadi, hanya gitaris yang tidak pernah ganti alias Rino sendiri, satu-satunya anggota orisinil RGB.

Pada tahun 2000, langkah besar dilakukan RGB, dengan merilis album full length pertamanya, Our Life Style di bawah bendera Aquarius Musikindo, salah satu perusahaan rekaman besar skala nasional. Hal ini memicu banyak pro dan kontra di kalangan komunitas musik underground, khususnya punk. RGB adalah salah satu dari sekian kecil band punk yang menerobos perusahan rekaman besar alias major label, mereka melakukannya sebelum band asal Bali, Superman Is Dead masuk ke Sony Music. Bagi kalangan awam tidak ada yang aneh tapi bagi para punkers, underground scenester atau apapun sebutannya, itu adalah sesuatu yang kontroversial. Hal ini berkaitan dengan prinsip yang diusung para punkers, resistensi terhadap “established power”, salah satu simbolnya adalah korporasi atau perusahaan (selain pemerintah tentunya). RGB pun dicap “sell out”.

Tetapi apa sih alasan RGB bergabung dengan perusahan rekaman itu? Alasannya sederhana; Rino muak dengan anggapan arogan orang-orang jika musik punk itu sampah. Dia cuma ingin membuktikan, bahwa punk juga layak, sangat layak mungkin, untuk disebut karya dan dapat diterima masyarakat. Di masa-masa berikutnya, RGB merilis album-album mereka secara independen alias berdikari (merilis dengan label sendiri, Brothers Records), yakni Sambut Kemenangan (2007), Intro For Outro (2012) dan yang terakhir album PUNKUSTIK (2015) yang merupakan versi akustik lagu-lagu hits mereka dari album ke-1, ke-2 dan ke-3.

Layaknya band panggung, selain rekaman, manggung sudah pasti hal wajib yang dilakukan. Tur terakhir mereka ke Sabah, Malaysia sangat berkesan bagi Rino. Kekagumannya adalah karena selain sambutan kawan-kawan di sana juga karena banyak yang hafal lagu-lagu RGB dari album Our Life Style.

Selamat jalan, Rino, terima kasih untuk karya dan dedikasimu selama ini, rest in punk.

Sumber: berbagai literatur, wawancara
Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

The Network

Green Day Bangkitkan Proyek Misteriusnya, The Network dan Rilis EP "Tr...

The Network. Para personil Green Day telah menghidupkan kembali proyek sampingan new wave mereka yang misterius bernama The Network setelah 15 tahun non-akt

on Nov 21, 2020
Jamessteady ska

Sixtet Ska Asal Cirebon Jamessteady Kembali Dengan EP "Riot City Rocke...

Jamessteady. Jamessteady, nama yang nggak asing bagi penggemar musik ska, reggae maupun rock steady. Tumbuh dari scene musik reggae di kota Cirebon, Jamesst

on Nov 21, 2020
Anti-Flag

Anti-Flag Rilis Lagu 'A Dying Plea’ Fitur Tom Morello, DEWAYNE, Marc...

Anti-Flag. (Foto: Josh Massie). Anti-Flag telah memuntahkan lagu terbaru mereka, 'A Dying Plea Vol. 1' dan 'A Dying Plea Vol. 2' kepada dunia, menampilkan D

on Nov 19, 2020
Jendral Kantjil

Sebelum Luncurkan Single Baru, Punk Rocker Jendral Kantjil Reissue EP ...

Apa yang ada di benak kalian jika mendengar kata “Jendral Kantjil”? Sebuah film? Yaa, benar! Tetapi Jendral Kantjil ini adalah enam orangpemuda asal Ta

on Nov 6, 2020