×
×

Search in Mata Mata Musik

Membangunkan Monster Yang Tertidur

Posted on: 12/16/19 at 6:25 am

Cover album ‘The Artifact of Global Disease’ milik Delirium Tremens (gambar: Brutal Mind)

DELIRIUM TREMENS
The Artifact of Global Disease
(2019, Brutal Mind)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Delirium Tremens yang terbentuk pada 1995 silam merupakan salah satu band death metal lawas dari scene underground Jakarta yang konsisten di jalur kerasnya.

Mini album debutnya, ‘Psychodynamic Theory of Sadistic Perversion’ yang bermuatan 7 lagu (total durasi 21 menit) ini dirilis pada 1999 dengan formasi: alm. Jolly (vokal), Iik (gitar/vokal latar), Denis (bass) dan Willy (dram).

Tak terasa waktu berlalu begitu cepat, band ini menghabiskan dua dekade yang sia-sia dengan terlalu sering gonta-ganti personil namun tanpa menghasilkan satu pun karya.

Adalah Willy, satu-satunya member orisinil yang terus mempertahankan eksistensi band ini.

Sejak akhir 2017, ia berhasil menjadi ‘alarm’ bagi para sohib lawasnya untuk membangunkan ‘monster yang tertidur’ ini, yakni: Iik (gitar, Tremor, eks-Betrayer), Fahmi (vokal, Immense, Injected Sufferage, eks-Vile), Aden (bass, Obscura Pars). Tidak lama Iik memutuskan untuk hengkang karena ingin fokus ke Tremor. Alhasil Aden membanting stir ke gitar untuk menggantikan posisinya.

Circa pertengahan 2018 formasi band menjadi komplit dengan bergabungnya Budi (bass, eks-Panic Disorder) beserta Rabel (gitar, eks-Godzilla). Berkat kuatnya chemistry antar individu dan semangat untuk maju, terhitung singkat, mereka lekas merilis album full length-nya, ‘The Artifact of Global Disease’ pada 30 Juli 2019.

Kelebihan: Personil baru tentu sangat mempengaruhi proses penciptaan musik dengan memberikan nuansa, bahkan karakter baru. Bagi para fans lawas Delirium tentu akan menjadikan album pertamanya, ‘Psychodynamic…’ sebagai komparasi musikal. Mungkin itu salah satu alasan Delirium untuk mengikutsertakan versi rekaman ulang 2 lagu dari album tersebut, yakni ‘Anonymous’ (aslinya berjudul ‘Anonymous Faces of Death’ dan ‘H.V.S.’ (aslinya berjudul ‘Hyper Violence Syndrome’) yang menjadi urutan trek 9 dan 10 sebagai penutup album.

Trek 1 sampai 8 di album ‘The Artifact…’ adalah kumpulan komposisi anyar yang memaparkan secara jelas bahwa semua lagunya menjadi lebih brutal sekaligus variatif. Dari konsep dual ritem gitar dengan gaya riffing yang banyak bagian harmonis dan isian solonya hingga ke aransemen yang lebih rapat dan intens.

Skill musicianship keseluruhannya terasa berkembang, terutama pada blast beat dramnya yang bertempo lebih ngebut. Durasi tiap lagunya pun turut lebih panjang dengan total durasi 33 menit (belum termasuk 2 lagu lama). Dari kedua materi yang berbeda era pembuatannya tersebut saya dapat menarik benang merahnya bahwa Delirium berhasil melestarikan nuansa ‘old school’ brutal death metal dengan porsi bagian groove-nya dan duet vokal growl-scream-nya sebagai gaya khas Delirium.

Kekurangan: Karakter sound rekaman yang kurang organik dan terlalu modern untuk ukuran Delirium sehingga gagal memberikan ‘vibe’ old school brutal death metal yang semestinya.

Kesimpulan: Album ‘comeback’ dari band senior yang patut disambut hangat oleh maniak metal ekstrim lintas generasi. Kehadirannya menorehkan warna lain di tengah scene IDDM (Indonesian Death Metal).

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

DEAD VERTICAL XVII

Tujuh Belas Tahun Ke Atas Menggerinda Baja

Cover album 'XVII' milik Dead Vertical (Gambar: Blackandje Records) DEAD VERTICALXVII(2019, Blackandje) Oleh Dharma Samyayogi Fakta: Band grindcore ya

on Jan 10, 2020
TRAUMA BALAKOSA

Kembalinya Trauma Sebagai 'Balakosa' Pelestari OSDM Yang Otent...

Cover album 'Balakosa' milik Trauma (Gambar: Morbid Noise Records) TRAUMABalakosa(2019, Morbid Noise) Oleh Dharma Samyayogi Fakta: Trauma yang resmi t

on Jan 5, 2020
Kill Athena

Kill Athena Muntahkan Single Pemanasan Album Baru

Tiga personil inti Kill Athena (Foto: Kill Athena) Kill Athena telah merilis karya terakhir di penghujung 2019. Single terbaru yang berjudul 'Beneath My Eye

on Jan 2, 2020
Cassandra

Cassandra Kembali Dengan Singel 'Labellum Urban'

Band death metal asal Magelang ini memilih nama yang tidak sangar, nama seorang perempuan, Cassandra. Kak Sandra...eh...Cassandra ini bukan pelantun lagu '

on Dec 31, 2019