×
×

Search in Mata Mata Musik

‘Menari dengan Bayangan’, Merayakan Quarter Life Crisis Hindia

Posted on: 11/30/19 at 12:05 pm

Vokalis Feast Baskara Putra merilis album solonya bertajuk ‘Menari dengan Bayangan’. Ilham untuk menjahit lagu di album perdana Hindia—proyek solo Baskara—itu muncul usai menonton konser salah satu musisi favoritnya, John Mayer.

“Tiba-tiba pulang dari konser itu, gue berpikir banyak sampai tidak bisa bangun,” kata Baskara sebagaimana dilansir Antara, Jumat (29/11).

Baca juga: Laze Rilis Single Baru, Kolaborasi dengan Hindia

“Selama kontemplasi dalam dua minggu itu, gue mulai berpikir kayak, ‘Apa saja yang sudah gue alami di hidup ini yang mungkin bikin gue jadi kayak ini sekarang? Apa yang salah? Apa yang bisa lebih baik lagi?’,” imbuhnya.

Ia menerangkan, proses pengerjaan album banyak dibantu oleh produser musik Petra Sihombing.

“Gue selalu suka karya Petra karena kualitasnya. Menurut gue Petra selalu bisa menerjemahkan apa pun yang kompleks menjadi sesuatu yang sangat ringan,” kata jebolan Komunikasi UI ini.

Hindia–proyek solo Baskara Putra–baru saja merilis album perdana bertajuk ‘Menari dengan Bayangan’.

Selain Petra, Baskara juga didukung oleh enam produser lain, seperti Kareem Soenharjo untuk lagu “Evaluasi” dan “Jam Makan Siang”. Lalu ada Rizky Indriyadi untuk “Untuk Apa/Untuk Apa?” dan “Apapun yang Terjadi”. Sementara, Adhe Arrio banyak membantu di lagu “Secukupnya”, Ibnu Dian untuk “Membasuh”, dan Rayhan Noor untuk “Rumah ke Rumah”.

Sejumlah musisi pun turut digandeng Baskara untuk mengisi departemen vocal. Mereka adalah Sal Priadi, Rara Sekar, Matter Mos, Mohammed Kamga, Natasha Udu, Enrico Octaviano, dan Dicky Renanda.

Baca juga: Menyelami Kesedihan Hindia dan Rara Sekar di Single Baru

Adapun, total track di album ini ada 12 lagu. Namun, yang unik, Baskara juga menambahkan tiga pesan suara (voice note) yang diisi oleh perempuan-perempuan yang penting dalam hidup Baskara, termasuk sang ibu.

“Gue ingin semua lagu yang sudah rilis punya konteks yang berbeda pas masuk album,” kata Baskara lagi.

Merayakan ‘Quarter Life Crisis’

Baskara punya kenangan yang berjejalan soal krisis seperempat abad yang ia lalui. Album debut ini pada akhirnya berkisah soal pergulatan Baskara saat bertahan di fase rawan tersebut.

Krisis seperempat abad mengutip Kumparan, adalah periode dalam kehidupan yang membuat kita sering merasa ragu, cemas, dan bingung dengan tujuan hidup. Biasanya kondisi ini akan membuat kita menyadari bahwa ada suatu hal yang harus diubah dalam hidup. Namun, enggak tahu apa dan bagaimana cara untuk memulainya. Keadaan tersebut enggak jarang bikin makin bingung. Bahkan, memunculkan rasa kesepian.

Album ini merangkum cerita Hindia saat berada di titik nadir, membenci hidup, dan cara ia merawat kenangan masa kecilnya.

Kisah masa bocah Hindia diwakilkan lagu ‘Besok Mungkin Kita Sampai’. Menurut laporan Kumparan, di lagu ini, Hindia tampak sedang asyik berdialog antara dirinya yang dulu dengan era kiwari.

Baca juga: Hindia dan Sal Priadi Sering Belum Tidur Sampai Pagi

“Lirik lagu ini beberapa halnya ditulis dari gue SMP. Gue warnain yang bagus, terus rangkum jadi satu lagu. Karena, dulu sebelum full di musik, gue sering mikir, ‘lanjut S2, enggak, ya?’ atau ‘gue kapan, sih, settle?’. Teman-teman gue udah pada nikah, dan tiba-tiba mencicil rumah, tapi, hal kayak gini bikin lupa kalau hidup bukan kompetisi. Bersyukur dengan kecepatan lo sendiri,” katanya lagi.

Krisis seperempat abad Hindia juga diejawantahkan dalam lagu ‘Untuk Apa/Untuk Apa?’. Di lagu tersebut, Hindia menyesalkan masa saat sedang sibuk-sibuknya, hingga tak ada waktu lagi buat diri sendiri.

“Bahkan, mau makan siang enggak bisa gara-gara kerja, dan nyokap tahu jadwal gue dari Instagram. Itu udah enggak sehat, sih. Akhirnya jadi kayak, buat apa, sih, semuanya? Ini peringatan buat diri sendiri di masa depan, dan cautionary buat siapa pun yang mendengar,” tuturnya.

Problem krisis diri itu lantas ditutup dengan lagu ‘Evaluasi’. Sebuah penyerahan diri dari Hindia, bahwa ia harus tetap ikhlas dan berdamai dengan segala proses kehidupan.

“Masalah yang mengeruh, perasaan yang rapuh, ini belum separuhnya, biasa saja, kamu tak apa. Perjalanan yang jauh, kau bangun untuk bertaruh, hari belum selesai, biasa saja, kamu tak apa.”

‘Menari dengan Bayangan’ menjadi usaha Hindia untuk merayakan krisis seperempat abadnya, yang disebut Kumparan, gelap, misterius, dan tak familiar, tapi selalu mengikutinya, seperti bayangan.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Kelompok Penerbang Roket Vs .Feast

Turnamen Babak 1 – Side A: Kelompok Penerbang Roket Vs .Feast. Vote ...

Vote dengan tulis di kolom komentar di bawah! Caranya gampang, login terlebih dahulu ke akun Facebook atau Twitter kamu atau bikin akun sebentar di Disqus.

on Aug 5, 2020
Lagu Rock Indonesia Terbaik

Turnamen 32 Lagu Rock Indonesia Terbaik 2020 Untuk 1 Lagu Juara

Hello Musik Mania, kami kembali hadirkan permainan seru untuk menentukan satu lagu pemenang alias Sang Juara dari 32 Lagu Rock Indonesia Terbaik 2020 sejau

on Aug 5, 2020
.Feast

Setelah Viral Kontroversi, .Feast Rilis Single Baru, 'Di Padang Lumpuh...

.Feast rilis single di tengah momentum yang pas. (Foto: Facebook .Feast). .Feast, band rock yang lahir dari rahim komunitas musik indie di Jakarta belakanga

on May 4, 2020
RAN dan Hindia

'Si Lemah' Single RAN dan Hindia Jadi Penutup Omne Trium Perfectum: Th...

RAN bersama Hindia dalam video musik 'Si Lemah'. Masih dalam rangkaian Omne Trium Perfectum: The Series, sebuah konsep proyek terbaru RAN yang berarti, “E

on May 4, 2020