×
×

Search in Mata Mata Musik

Mengenang Sosok Muda Legendaris: Nike Ardilla

Posted on: 12/28/19 at 12:05 am

Hari ini 44 tahun lalu, tepatnya 27 Desember 1975, pelantun lagu Bintang Kehidupan, Nike Ardilla. Di usianya yang belum genap 20 tahun, Nike Ardilla telah meraih puncak kesuksesannya.

Nike berpulang saat tengah berada di puncak karirnya ketika mobil Honda Civic yang dikendarainya menghantam beton di jalan Raden Eddy Martadinata di kota Bandung. Ia meninggal dunia karena kecelakaan itu pada 19 Maret 1995.

Perempuan kelahiran Bandung ini memiliki nama lengkap asli Raden Rara Nike Ratnadilla Kusnadi. Kemudian ia sempat memiliki ‘nama panggung’ Nike Astrina sebelum akhirnya nama Nike Ardilla dipilih sebagai nama populer hingga akhir hayatnya.

Nama Ardilla diambil dari Gunung Ardilaya di Desa Cisadap Kecamatan Ciamis, tetangga Desa Imbanagara. Nama itu adalah karuhun keluarga Nike di Ciamis.

Foto: NikeArdilla.net

Lahir sebagai putri dari pasangan R. Eddy Kusnadi dan Nining Ningsihrat – sejak kecil, Nike memang sudah menunjukkan ketertarikannya pada dunia tarik suara. Bakat menyanyi Nike mulai tumbuh sejak masih berumur 5 tahun. Darah seni Nike mengalir dari kakeknya, yang merupakan seorang penyanyi keroncong. Ketika berusia 5 tahun, Nike sudah berani tampil menyanyi saat ada acara keluarga di rumahnya. Nike kecil memang aktif dengan kegiatan-kegiatan seni. Dari mulai tarik suara, sampai dengan menari tarian daerah. Niatnya menekuni panggung tarik suara semakin serius setelah ia berhasil menjadi Juara Harapan I dalam ajang Lagu Pilihanku TVRI dan Juara Festival Pop Singer HAPMI Kodya Bandung pada tahun 1985, saat masih berusia 10 tahun. Nike juga rutin mengikuti berbagai festival musik mulai dari tingkat kecamatan, sekolah, dan pernah mewakili provinsi Jawa Barat dalam ajang Festival Pop Singer tingkat nasional.

Nike kemudian bergabung dengan manajemen Denny Sabri, seorang wartawan musik senior kenamaan pada masa itu. Di bawah manajemen Denny Sabri, Nike yang pada saat itu masih berstatus pelajar kelas 5 Sekolah Dasar sudah diminta untuk tampil di panggung-panggung pertunjukan musik rock, dengan menggunakan nama panggung Nike Astrina; nama ini diberikan dengan tujuan bahwa Nike akan menyaingi Nicky Astria, penyanyi rock wanita paling populer di era itu. Nike kerap didaulat untuk menjadi penampil pembuka dalam sejumlah konser penyanyi senior, termasuk Nicky Astria, Ita Permatasari, dan Ikang Fawzi. Karena pada masa itu Nike belum memiliki lagu sendiri, ia biasanya meng-cover lagu-lagu rock Barat seperti ‘The Final Countdown’ (Europe) dan ‘Hongky Tonk Woman’ (The Rolling Stones).

Pada tahun 1986, Nike memasuki dapur rekaman dengan merilis sebuah singel berjudul ‘Lupa Diri’, yang kemudian dimuat dalam album kompilasi bertajuk Bandung Rock Power (1987). Pada bulan Juli 1988, saat baru lulus dari bangku Sekolah Dasar, Nike akhirnya merekam album perdananya dengan judul Hanya Satu Nama di bawah naungan JK Records, namun album tersebut batal dirilis karena usia Nike yang masih sangat belia pada saat itu, sedangkan sebagian besar lirik lagunya bertema percintaan. Namun akhirnya album tersebut dirilis pada tahun 2013. Lama sekali jaraknya.

Seberkas Sinar

Dengan masih menggunakan nama Nike Astrina, pada awal 1989, Nike juga memulai karier aktingnya dengan membintangi sebuah film layar lebar berjudul Gadis Foto Model. Dalam film tersebut, Nike juga turut menjadi pengisi jalur suara, yang kemudian dirilis melalui album OST (Original Soundtrack) Gadis Foto Model.

Pada bulan Oktober 1989 Nike bergabung dengan Proyek Q Records. Bersama label tersebut, Nike akhirnya berhasil merilis album berikutnya berjudul Seberkas Sinar, yang diproduseri oleh Deddy Dores. Dalam album ini, nama Nike yang sebelumnya Nike Astrina diganti menjadi Nike AR (singkatan dari Astrina dan Ratnadilla), tapi pengunaan nama ini pun tidak bertahan lama, dan akhirnya diganti menjadi Nike Ardilla.

Di usianya yang masih 14 tahun, album format kaset pita tersebut laris di pasaran sebanyak 500.000 kopi. Album ini dianggap sebagai album perdana Nike yang beredar di pasaran.

Selepas itu, Nike merilis satu album setiap tahun. Dan setiap tahun pula, album Nike laris bak kacang rebus di musim penghujan.

Foto: NikeArdilla.net

Bintang Kehidupan

Sejak kesuksesan album perdana tersebut, nama Nike Ardilla melambung ke jajaran artis papan atas. Deni Sabri Management memang mempersiapkan Nike Ardilla untuk menjadi artis multi talenta, awal pembentukan Nike Ardilla menjadi artis memang disiapkan untuk menggantikan Cut Irna yang terkenal sebagai model, Meriam Bellina bintang film top, dan diva rock ’80-an Nicky Astria.

Jadi menurut Deni, Nike adalah perpaduan dari Nicky Astria, Meriam Bellina, dan Cut Irna. Bahkan sebelum album perdana sukses di pasaran, Nike sudah dilibatkan dalam produksi beberapa film box office di jamannya dan kegiatan yang berhubungan dengan modeling dan show di daerah-daerah dari Aceh sampai Papua. Tahun 1990 adalah awal dominasi Nike Ardilla di dunia hiburan sehubungan dengan kesuksesan secara komersial album keduanya, Bintang Kehidupan. Angka penjualannya ada yang menyebut 2 juta hingga 4 juta, yang pasti memang kisaran segitu.

Dilanjutkan dengan terpilihnya Nike Ardilla sabagai GADIS Sampul Favorit di ajang model yang sangat bergengsi. Jadwal konsernya setiap tahun penuh, tampil di acara-acara selebritas dan ajang penghargaan, membintangi beberapa film layar lebar, bintang iklan, tampil di sampul majalah, dan masih banyak lagi. Mungkin karier Nike Ardilla terbilang singkat (1988-1995), hanya 6 tahun. Tapi dalam waktu singkat tersebut kariernya begitu cemerlang.

Tidak hanya di bidang musik saja Nike berkiprah, industri film Tanah Air pun tidak mau ketinggalan menggunakan Nike Ardilla sebagai pemeran utama di film-filmnya. Puluhan film box office dihasilkan Nike, bahkan film daerah paling laris, Kabayan, yang juga dibintangi Paramitha Rusady sebagai tokoh wanita utamanya, pada sekuel film yang dibintangi Didik Petet tersebut digantikan oleh Nike Ardilla. Nike juga sempat tampil di salah satu sinetron dengan rating tinggi arahan sutradara Putu Wijaya yang berjudul None, juga bersama Paramitha Rusady. Puluhan iklan pun telah dihasilkan Nike Ardilla.

Nike Ardilla di film Kabayan Saba Metropolitan (1992)

Nyalakan Api

Sukses luar biasa yang ditorehkan lewat album Bintang Kehidupan, membuat Deddy Dores menerapkan formula yang sama untuk album selanjutnya, Nyalakan Api. Bisa dibilang Lagu jagoan di album ini Nyalakan Api secara tema dan progresi lagunya mirip Bintang Kehidupan.

Hasilnya, album ini pun laris manis di pasaran dan terjual mencapai 1,75 juta keping. Album ini didukung oleh banyak musisi-musisi ternama di jamannya. Sebut saja Ikang Fawzi, Deddy Dhukun, Doddy Lesmana, Dommy Allen, Teddy Riady dan Wildan. Meskipun angka penjualannya tak sedahsyat album Bintang Kehidupan namun album ini tetap meraih BASF AWARD sebagai album pop rock terlaris 1991.

Kaset-kaset album Nike Ardilla

Album-album selanjutnya, yakni Matahariku (1992) terjual 1,5 juta kopi, Biarlah Aku Mengalah (1993) terjual 2 juta kopi, Biarkan Cintamu Berlalu (1994) terjual 1,25 juta kopi, dan Sandiwara Cinta (1995) menembus angkat lebih dari 5 juta kopi menurut berbagai sumber pasca kematiannya. Bahkan Sandiwara Cinta memecahkan rekor album dengan penjualan tertinggi sepanjang sejarah musik Indonesia.

Selain itu Nike juga merilis beberapa album di Malaysia, salah satunya adalah album bertajuk Duri Terlindung (1994) yang terjual sekitar 1,25 kopi. Meskipun, album itu sebenarnya adalah album Biarkan Cintamu Berlalu yang dirilis dengan judul berbeda.

Nike bukan hanya sukses dari segi bisnis. Kemampuan dan bakatnya diakui berbagai pihak. Ia mendulang banyak penghargaan baik di dalam dan luar negeri. Bahkan dirinya kerap hilir-mudik tampil di berbagai negara, hingga ke Eropa dan Amerika.

Menjadi ‘Cult’ Setelah Kematiannya

Selama sejarah dunia hiburan Indonesia ada, hanya Nike Ardilla artis satu-satunya yang mendapatkan penghormatan paling tinggi di mana setiap tanggal kelahirannya dan kematiannya selalu diperingati.

Nike Ardilla Fans Club (NAFC) selalu memperingati kematian Nike dengan ziarah pada akhir pekan yang paling berdekatan dengan tanggal 19 Maret. Setiap tahun ribuan orang telah melakukan ziarah baik itu sehari-hari atau setiap tanggal kematiannya dan tanggal kelahirannya Nike Ardilla. Maka dengan hal tersebut dapatlah di sebutkan kalau hanya Nike Ardilla yang menjadi bukti kegemilangan budaya pop. Di mana semenjak awal kariernya, berbagai poster Nike menghiasi ruang publik, baik itu kafe, bus, TV, sekolah, dan sebagainya.

Bahkan setelah kematiannya pun nama Nike Ardilla masih mengisi ruang-ruang publik. Tak lama setelah kematiannya nama Nike Ardilla justru menjulang. Publik masih terus membicarakan Nike Ardilla. Majalah Asia Week menafsirkan Nike dalam sebuah kalimat satir In Dead She Soared atau “Dalam Kematian Dia Bersinar”. Setiap tahunnya ribuan fans yang tergabung dalam Nike Ardilla Fans Club (NAFC) melakukan ritual khusus pada tanggal 19 Maret dan 27 Desember yaitu berziarah ke makam dan mengadakan acara mengenang Nike seperti memutarkan film-film Nike dan menyanyikan lagu-lagu Nike di Bandung, tempat kelahiran dan tempat berpulangnya Nike.

Para fans Nike berdoa bersama di samping makamnya (Foto: Andrey Gromico)

Sebuah museum juga didirikan di Jalan Soekarno-Hatta, Bandung. Semua barang-barang Nike tersimpan di sana, seperti pakaian yang dikenakannya saat kejadian dan replika kamar Nike Ardilla. Selain itu, hampir semua album rekaman lagu-lagu Nike berhasil memperoleh penghargaan, terutama dari segi penjualan. Dalam rentang waktu yang relatif pendek, dia berhasil mengembangkan demikian jauh popularitas dan fanatisme penggemarnya bahkan melampaui apa yang diperoleh penyanyi terkenal yang sudah berkiprah puluhan tahun di dunianya.

Museum Nike Ardilla di Bandung

Di Sulawesi Barat terdapat sebuah rumah makan dengan nama Rumah Makan Nike Ardilla yang berlokasi di Wonomulyo, Polewali Mandar. Setiap harinya, rumah makan tersebut memutarkan lagu-lagu Nike dan memajang memorabilia Nike pada dinding ruangannya.

Rumah Makan Nike Ardilla di Wonomulyo, Polewali Mandar, Sumatera Barat

Menyaksikan bagaimana penggemar Nike begitu mengkultuskannya, membuat kita tersadar bahwa ada kecintaan yang bisa menjelma menjadi keimanan seperti halnya kepada agama. Musik juga bisa seperti itu. Musik yang hebat bisa melahirkan para penggemar yang mencintaimu dengan kepala batu, tanpa lelah. Semua fakta itu benar adanya di diri para penggemarnya.

Diskografi Nike Ardilla:

  • Hanya Satu Nama (1988)
  • Seberkas Sinar (1989)
  • Bintang Kehidupan (1990)
  • Nyalakan Api (1991)
  • Matahariku/Izinkan (1991)
  • Biarlah Aku Mengalah (1992)
  • Biarkan Cintamu Berlalu (1994)
  • Duri Terlindung (Album Malaysia) (1994)
  • Suara Hatiku (1995)
  • Sandiwara Cinta (1995)
  • Mama Aku Ingin Pulang (1995)

Mata Mata Musik's Newsletter