×
×

Search in Mata Mata Musik

Menurut Gary Holt, Slayer Tidak Akan Pernah Kembali Reuni Lagi

Posted on: 06/10/20 at 9:30 am

Gary Holt.
Gary Holt. (Foto: Scott Legato/Getty Images).

Gary Holt mengatakan bahwa penampilan Slayer pada 30 November 2019 di The Forum di Los Angeles, Amerika Serikat (AS) memang merupakan konser terakhir band tersebut.

Baca juga: Slayer Rayakan ‘International Day Of Slayer’ Dengan Film ‘The Repentless Killogy’

“Setahuku, yang aku tahu ya, itu [adalah konser terakhir],” ujar sang gitaris kepada podcast Let There Be Talk oleh Dean Delray (dapat kamu dengar audionya di ujung artikel).

“Orang-orang mengatakan, ‘Oh, mungkin mereka akan kembali dalam beberapa tahun’. Aku tidak tahu. Jika itu terjadi, jika itu pernah terjadi, itu tidak ada hubungannya dengan aku. Orang lain akan menelpon dan bilang, ‘Kami ingin [melakukan ini]’. Setahuku, itu sudah selesai. Dan aku pikir itu seharusnya ya seperti itu. Band ini mengakhirinya (karier) dengan sempurna, berakhir dengan gaya yang sangat Slayer, dan berapa banyak orang yang mengatakan mereka bisa melakukan itu?”

Dia kemudian melanjutkan: “Semuanya sedang senang melakukan hal mereka sendiri. Aku juga sedang sangat senang. Bukan berarti Slayer membuatku tidak bahagia – aku diperlakukan seperti keluarga – tetapi aku telah kembali dengan keluarga pertamaku,” ujar Gary mengacu kepada legenda thrash metal Bay Area San Fransisco, Exodus. “Aku kembali dengan yang bukan saudara tiriku – aku kembali dengan saudara kandungku yang sebenarnya. Dan di sanalah hatiku berada, dan aku merindukannya, dan aku semakin kangen setiap saatnya”.

Pada tahun 2011, Gary Holt mulai mengisi posisi yang ditinggalkan almarhum Jeff Hanneman di konser live Slayer, dan menjadi gitaris pendukung full time pada tahun 2013, sambil tetap menjadi anggota Exodus.

Ketika Dean Delray menyarankan bahwa tidak ada orang lain yang bisa menggantikan Jeff Hanneman sebaik dirinya, Gary Holt menjawab: “Aku pikir pasti ada orang yang lain. Aku tidak senarsis itu untuk berpikir bahwa aku adalah satu-satunya orang yang bisa. Maksudku, ya, aku punya jasa secara old-school. Kurasa mereka tidak bisa hanya pergi dan merekrut anak muda. Seperti, ‘Siapa cowok berusia 25 tahun ini?’. Aku pikir akan ada perubahan kultur yang besar di dalam band, aku pikir itu ternyata lebih dari segalanya – (kita) harus merasa nyaman dan mengenal pria itu, aku cukup diterima di jajaran penggemar Slayer. Selalu ada seseorang yang seperti, ‘Ah, dia bahkan tidak pernah memainkan bagian solonya Jeff’. Ya aku tidak melakukan itu. Dan tidak ada seorang pun di band yang pernah memintaku untuk melakukan itu. Dan jika band benar-benar menginginkan itu, ada satu juta orang di band-band tribute yang sukses menggeber setiap nada gila yang pernah dimainkan Jeff, dan mereka akan menjadi lebih cocok untuk itu. Ketika aku pertama kali melakukannya, itu seharusnya menjadi hal jangka pendek, dan orang-orang merasa seperti, ‘Oh, keren. Kita bisa melihat Gary menempelkan gayanya sendiri di atasnya’, dan itulah yang aku lakukan”.

Saat ditanya bagaimana dia menciptakan bagian solonya di Slayer dan apakah dia benar-benar duduk dan menulis nada-nada gitarnya sendiri, Gary Holt mengatakan: “Beberapa kali, ya aku yang buat. Aku biasa melakukan sesuatu semacam improvisasi, dan kemudian aku akan menemukan sesuatu yang aku sukai dan aku akan menggunakannya. Dan kemudian selama dua tahun terakhir, aku mengerjakan sebuah bagian solo di Seasons [In The Abyss] yang aku suka. Aku hanya mengayunkannya. Aku melihat kembali ke Warren Lee, teknisi gitarku, dan jika aku melakukan pekerjaan yang sangat baik, dia akan seperti, ‘Itu go-kill bro’, dan kemudian aku akan mencoba sesuatu yang berbeda yang tidak berhasil dan dia akan menatap aku, seperti, ‘Itu payah bro’.  Tetapi aku mencoba menjaga suasananya tetap di sana”.

Dia kemudian melanjutkan: “Banyak materi musik awal-awal Slayer, seperti materi album Show No Mercy, di mana Jeff mengeluarkan banyak melodi, menaruh banyak nada yang khas, dan aku mencoba untuk menyimpannya. Jika ada waktu ketika dia melepaskan diri dari aksi kacaunya yang cepat dan menempatkan, seperti, melodi tertulis, aku mencoba untuk menjaga itu atau sesuatu yang sangat mirip. Tapi band mengizinkanku untuk melakukan gayaku sendiri, karena aku tidak bisa bermain seperti Jeff; itu gila lho. Jeff melakukannya secara alami, jadi jika seseorang ingin bermain seperti Jeff, itu adalah pria di sebuah band tribute yang mendedikasikan dirinya untuk belajar cara bermain seperti Jeff. Aku harus belajar kembali bagaimana menjadi pemain gitar untuk melakukan omong kosong itu. Aku seorang pemain gitar rock yang memainkan lagu-lagu yang sangat cepat. Aku dibesarkan oleh hard rock, dan itulah aku. Aku memiliki waktu yang lebih mudah memainkan bagian solo The Angus (Young, AC/DC) daripada punya Jeff karena mereka adalah akarku”.

Setelah Slayer memainkan konser terakhirnya, Ayesha King, istri gitaris Slayer, Kerry King, mengatakan bahwa “tidak ada kesempatan bahkan di neraka” bahwa para ikon thrash metal itu akan bersatu kembali untuk konser lebih lanjut setelah tur perpisahan selesai.

Baca juga: Slayer Akan Hadirkan The Repentless Killogy di November 2019!

Setahun setengah sebelumnya, istri Tom Araya, Sandra Araya mengatakan bahwa dia belum mempertanyakan keputusannya untuk memulai tur terakhir Slayer sebelum band itu berhenti. Sandra Araya, yang telah menikah dengan vokalis/bassis Slayer ini selama lebih dari 20 tahun, mengatakan kepada situs web Metal Pulp And Paper bahwa pengumuman bahwa band ini akan mengakhiri karier mereka yang sudah berjalan hampir empat dekade lamanya tidak muncul sebagai suatu kejutan. “Tidak bagiku,” jelasnya. “Aku tidak bisa dengan nyaman membahas terlalu banyak detail. Aku hanya akan pergi dengan kata ‘tidak’”.

Saat ditanya apakah keputusan untuk membubarkan Slayer adalah keputusan yang sulit dilakukan oleh Tom dan Kerry, Sandra mengatakan: “Tom tidak pernah menebak ulang keputusan yang dibuatnya. Aku tidak tahu tentang (pendapat) Kerry”.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Metallica

    35 Tahun Metallica "Master Of Puppets", Album Terbaik Sepanjang Masa

    Metallica circa 1986. (Foto: Ross Halfin via Metallica.com). Bagi sebagian besar kritikus dan penggemar, Master of Puppets adalah album terbaik Metallica. S

    on Mar 4, 2021
    Irfan Sembiring

    Irfan "Rotor" Sembiring, Legenda Metal Indonesia Telah Berpulang Ke Si...

    Penampilan Irfan Sembiring, sesudah dan sebelum, masa kini dan masa lalu. Kabar duka tentang kepergian Irfan Sembiring, sang legenda musik extreme metal Ind

    on Feb 16, 2021
    Pantera era jadul

    Rex Brown Ogah Reissue 4 Album Awal Era Lawas Pantera: Itu Bukan Pante...

    Pantera di era 1980-an. Pantera memang sudah bubar sejak tahun 2003, namun warisan musiknya abadi. Tetapi enggak seperti band berstatus legendaris pada umum

    on Feb 8, 2021
    Album Rock & Metal Paling Diantisipasi 2021

    30 Album Hard Rock & Heavy Metal Paling Diantisipasi Di Tahun 2021

    Tahun 2020 enggak cuma meluluh-lantakkan industri musik, melainkan semua lini kehidupan di dunia. Sementara ini kita memang masih berada di masa pandemi Co

    on Jan 31, 2021