×
×

Search in Mata Mata Musik

Metallica Cetak Sejarah dengan The Black Album

Posted on: 12/19/19 at 8:18 pm

Album Heavy Metal Terlaris Sepanjang Masa, Tak Tertandingi Hingga Hari Ini.

Metallica, baru saja mencetak sejarah. Album self-titled mereka, atau yang lebih dikenal sebagai The Black Album, telah mendekati jumlah penjualan sekitar 17 juta di Amerika Serikat (AS) dan terjual lebih dari 31 juta di seluruh dunia.

Dilansir Forbes, jumlah penjualan ini merupakan hasil dari kemampuan Metallica untuk bertahan selama 550 minggu di posisi bawah Billboard 200, chart album yang paling banyak dikonsumsi di AS setiap minggunya. 

Baca juga: James Hetfield Tampil Menggelitik di Kumpulan Foto Lama Metallica

Raja heavy metal yang digawangi oleh James Hetfiled (vokal/gitar), Kirk Hammett (gitar), Lars Urlich (dram) dan Robert Trujillo (bass) ini menjadi musisi legendaris keempat dalam sejarah AS yang melampaui batas 550 minggu, mengikuti jejak Pink Floyd, Bob Marley dan Journey.

Bagaimana The Black Album Menjadikan Metallica Band Terbesar Sepanjang Masa

Di sepanjang dekade ‘80-an, Metallica berperan penting dalam membentuk kembali lanskap musik metal. Namun dengan album full length kelima mereka ini, mereka sepenuhnya mengubah arti menjadi sebuah band metal.

Menanggalkan semua hal klise dan sikap berlebihan yang sering dikaitkan dengan heavy metal, band yang berbasis di San Francisco, AS ini malah sepenuhnya fokus pada kreasi lagu, lebih memilih membiarkan musik mereka berbicara.

Baca juga: Metallica Akan Guncang 5 Festival Musik Rock AS Tahun Depan

Kurang puasnya sebagian besar fans dengan album …And Justice For All dari tahun 1988 yang dinilai terlalu berdurasi panjang memaksa Metallica untuk melakukan perubahan drastis dalam gaya bermusik mereka, yaitu dengan memformulasikan sound yang kuat dan lebih condong ke sisi yang heavy. Meninggalkan gaya Thrash Metal yang mereka usung dan pelopori di empat album awal: Kill ’em All (1983), Ride the Lightning (1984), Master of Puppets (1986) dan …And Justice For All (1988).

Untuk itu, masuklah produser Bob Rock, beserta petunjuk pertama bahwa Metallica bersedia mempertaruhkan reputasi mereka demi mencapai target musik mereka. Bob terkenal dengan karyanya bersama Bon Jovi dan The Cult, dan Metallica memilihnya karena sound yang diciptakannya di album Mötley Crüe Dr Feelgood. Tapi siapa pun yang mengira Metallica akan gagal saat itu sangatlah keliru.

Metallica 1991
Formasi Metallica ‘The Black Album’ (ki-ka): James Hetfield (vokal/gitar), Kirk Hammett (gitar), Lars Urlich (dram), Jason Newsted (bass). (Foto: Rollingstone)

Single utama dan lagu pembuka album hitam ini, ‘Enter Sandman’, bisa dibilang menjadi soundtrack mimpi buruk. Lagu ini terinspirasi oleh fabel Eropa tentang ‘sandman’ atau pria yang membuat anak-anak tidur dengan menaburkan pasir ke mata mereka.

Lagu pertama yang ditulis selama sesi pembuatan The Black Album, ‘Enter Sandman’ dibangun di atas riff dasar dan menjadi standar bagi gaya minimalis yang diusung Metallica untuk album ini. Bagian gitar solonya juga sebagian terinspirasi oleh sampel lagu ‘Magic Man’ milik Heart.

Meski begitu, mereka dengan cepat membuktikan kalau mereka tidak kehilangan sedikitpun keseriusan mereka di riff ‘Sad But True’ yang bertempo lambat namun cukup menghantam. Riff itu sempat mengalami penurunan nada, dari tuning E ke D, berkat usulan sang produser. Alhasil, lagunya secara keseluruhan menjadi tidak terlalu heavy namun cukup groovy membuat kepala banging secara non-stop. 

Sentuhan ajaib mereka juga tidak kalah manjurnya, meresapi lagu ‘Holier Than Thou’ dan ‘Don’t Tread On Me’, sementara ‘Wherever I May Roam’ menunjukkan betapa cerdasnya Metallica sebagai penulis lagu. ‘Through The Never’ menawarkan struktur yang rumit, sama seperti sebagian besar materi awal band, namun tetap bisa terangkum dalam durasi sekitar empat menit.

Baca juga: Metallica Umumkan Konser Amal Kedua untuk All Within My Hands

Metallica mempelajari dinamika penulisan lagu sejak awal, memanfaatkan momen yang lebih ringan untuk membuat bagian yang lebih berat terdengar kolosal. Di The Black Album, ‘The Unforgiven’ menawarkan jeda sambil mengingatkan kita kepada lagu semi balada Metallica yang paling sukses di masa lalu, ‘One’, ‘Welcome Home (Sanitarium)’ dan ‘Fade to Black’.

Bahkan lagu balada ‘Nothing Else Matters’ mendapat tekanan kuat dari Metallica untuk memastikan bahwa mereka tidak pernah tersesat ke wilayah murahan, meskipun awalnya lagu itu tidak dimaksudkan menjadi lagu Metallica atau dimainkan untuk orang lain karena liriknya yang terlalu seperti lagu cinta. James Hetfield bahkan sempat takut fans berat mereka merasa jijik dan muntah saat mendengar lagu ini.

Yang banyak orang mungkin tidak ketahui, vokal Hetfield di ‘The Unforgiven’ dan ‘Nothing Else Matters’ sebenarnya terinspirasi oleh Chris Isaak, khususnya di lagu hit awal ‘90-an ‘Wicked Game.’ Menurut Bob Rock, dari belajar bernyanyi seperti Isaak lah Hetfield bisa menjadi penyanyi yang hebat seperti sekarang.

The Black Album terjual sebanyak 600.000 di minggu pertamanya, mencapai peringkat No. 1 di 10 negara dan memuncaki Billboard 200 selama empat minggu. 

Seiring mendekati minggu ke-500 di chart, album self-titled Metallica ini menjadi album terlama ketiga di dunia yang konsisten duduk anteng di chart. Sampai sekarang, album ini telah terjual sekitar 31 juta kopi rekaman fisik di seluruh dunia dan 16 kali mendapat sertifikasi platinum di AS. 

Di luar faktor musik, satu masalah pribadi yang mungkin membantu menghadirkan kegarangan di The Black Album adalah: pada saat pembuatan album, Lars Ulrich, Kirk Hammett dan Jason Newsted sama-sama sedang melalui proses perceraian dengan istri mereka. Kegagalan rumah tangga membuat ketiganya menyalurkan rasa bersalah dan frustasi mereka ke dalam musik demi menghasilkan sesuatu yang positif dari momen yang menyedihkan itu.

Dirilis pada 12 Agustus 1991, dengan sampul serba hitam – yang dicetuskan Ulrich sebagai reaksi terhadap citra metal yang standar dan berlebihan – dan, dia seperti ingin menegaskan bahwa meski dengan kesederhanaan artistiknya, tanpa judul, The Black Album mampu menggarisbawahi status Metallica sebagai band metal terbesar di dunia, namun juga menjadikan mereka sebagai salah satu band terbesar sepanjang masa.

Salah satu bagian lucu dari kolaborasi Metallica dengan Bob Rock di The Black Album adalah, mereka berencana untuk tidak lagi bekerja sama usai menyelesaikan album ini. Sikap keras kepala kedua pihak dinilai Rock membuat penggarapan album ini menjadi sangat sulit. Namun di luar dugaan, mereka justru lanjut berkolaborasi di tiga album Metallica selanjutnya: Load, Reload dan St. Anger.

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    The Warning - evolve

    THE WARNING, 3 Rocker Cantik Lagi-Lagi Sukses Meninggalkan Impresi

    Horeee… The Warning nongol lagi!Horeee… tidak banyak "PAUSE" walau masih trauma dengan pemblokiran video akibat penerapan perlindungan copyright yang b

    on Oct 23, 2021
    Lovebites

    LOVEBITES - Holy War (Live at Zepp DiverCity Tokyo 2020) GO-KILL!

    LOVEBITES, salah satu dari deretan band heavy metal Jepang terbaik yang semua anggotanya cewek. Tetapi penampilan mereka yang anggun bak tuan putri hanyala

    on Oct 19, 2021
    Max Portnoy

    Max Portnoy, Putra Mike Portnoy, Menjadi Dramer Baru Code Orange

    Foto: Max Portnoy (via Instagram). Max Portnoy, putra kandung dramer metal legendaris Mike Portnoy, sekarang resmi menjabat sebagai dramer Code Orange. Band

    on Oct 17, 2021
    Burgerkill

    Burgerkill Ft. Ahmad Dhani 'Satu Sisi', Kolaborasi Terepik Sepanjang M...

    Kenapa bisa dibilang kolaborasi paling epik? Yang pertama, karena kolaborasi ini menampilkan mesin metal nomor wahid Indonesia BURGERKILL (BK) dan salah sa

    on Oct 15, 2021