×
×

Search in Mata Mata Musik

Metallica dan Manajernya Siap Investasi Usaha Baru Senilai Triliunan Rupiah

Posted on: 07/13/20 at 7:30 am

Metallica dan Manajernya Siap Investasi Usaha Baru Senilai Triliunan Rupiah
Metallica. (Foto: Q Prime Artist Management).

Metallica dan salah satu managernya, Cliff Burnstein adalah di antara pihak-pihak yang terlibat dalam usaha akuisisi properti-intelektual yang dipimpin oleh mantan bankir investasi dari perusahaan Morgan Stanley, Paul Donahue, menurut laporan dari dua sumber yang dekat dengan situasi tersebut kepada Variety.

Baca Juga: Tommy Lee (Mötley Crüe) Main Dram di Versi Remix Lagu Tyla Yaweh Ft. Post Malone

Sumber tersebut menekankan bahwa usaha itu, yang bernama Worldwired Music IP Fund dan akan memiliki nilai sumber daya dengan kisaran US$ 300 – US$ 500 juta (Rp 4,3 hingga 7,1 triliun), tidak dipimpin oleh Metallica atau pun Cliff Burnstein – meski Worldwired adalah nama tur terbaru Metallica – dan juga meski mereka adalah di antara pihak-pihak yang terlibat di dalamnya, yang menurut sumber itu juga termasuk mantan presiden/COO perusahaan Fender, Matt Janopaul dan salah satu mantan presiden Sony/ATV, Rick Krim. Usaha ini akan memasukkan katalog lagu sebagai bagian dari portofolionya, yang menurut satu sumber kemungkinan akan memasukkan – tetapi tidak terbatas pada – katalog berbagai musik rock klasik.

Pihak-pihak yang terlibat lainnya masih belum jelas, tetapi sebuah sumber mengatakan bahwa “berbagai sumber daya yang penting” akan mendukungnya. Sumber itu juga belum dapat menjelaskan jenis aset properti intelektual mana yang akan menjadi fokus usaha baru Metallica ini.

Paul Donahue telah bekerja dengan Morgan Stanley selama 32 tahun dan telah menjabat sebagai ketua pasar modal di Amerika Serikat (AS) dari tahun 2006 hingga bulan Mei tahun ini, di mana dia adalah salah satu bankir IPO terkemuka di Wall Street. Dia tetap menjadi penasihat khusus untuk perusahaan itu. Dia juga memiliki saham kepemilikan di Fender Guitars dan telah mengenal Metallica dan para pejabat eksekutif Q-Prime sejak pertengahan tahun 1990-an; dia adalah anggota dewan penasihat yayasan amal All Within My Hands milik Metallica dan telah menjadi anggota dewan organisasi amal industri musik T.J. Martell Foundation sejak tahun 2003.

Sebuah sumber menekankan bahwa usaha itu tidak secara langsung terinspirasi oleh perusahaan start-up Hipgnosis Songs, yang telah menghabiskan lebih dari US$ 1 miliar (Rp 14,3 triliun) untuk membeli katalog musik dari para produser dan penulis lagu hit hanya dalam dua tahun, bagaimanapun, perusahaan itu telah terbukti – dan meningkatkan – nilai katalog-katalog musik. Hipgnosis, yang dirintis oleh mantan manajer Elton John/ Beyonce/ Iron Maiden, Merck Mercuriades, telah membeli katalog dari penulis lagu dan produser termasuk Timbaland, Dave Stewart dari Eurythmics, The-Dream, The Chainsmokers, dan banyak lagi lainnya.

Sementara penerbitan musik dan bentuk-bentuk properti intelektual lainnya telah lama dipandang sebagai bukti resesi dan telah lama menjadi area bisnis yang menguntungkan. Pandemi virus Corona ini – yang hampir sepenuhnya telah mematikan aktifitas tur, salah satu mesin finansial utama dari industri musik – malah hanya memperbesar perspektif dan peluang bisnis semacam itu.

Metallica adalah salah satu band paling penting dan berpengaruh dalam 40 tahun terakhir, dan juga salah satu yang paling sukses secara finansial – sebagian berkat Q Prime, yang didirikan oleh Cliff Burnstein dan Peter Mensch dan mulai mengelolanya sejak tahun 1984. Metallica awalnya semakin terkenal ketika penjualan CD – format album rekaman paling menguntungkan – mulai booming, dan telah melakukan tur setiap tahun sejak mereka pertama kali dibentuk kecuali pada tahun 2020 (meskipun mereka memiliki beberapa jadwal konser yang telah di-booking untuk akhir tahun ini). Menurut Pollstar, pada saat penampilan terakhir Metallica pada bulan September, band ini telah menjual 22,1 juta total tiket dan meraup keuntungan sekitar US$ 1,4 miliar (Rp 20,1 triliun) sejak tahun 1982, menempatkan mereka selevel dengan artis-artis kelas A seperti Rolling Stones, U2, Taylor Swift dan Ed Sheeran.

Dan itu baru bagian turnya saja – penghasilan Metallica dari streaming, merch, dan penjualan album fisik juga sangat hebat, paling tidak karena pada 2012, Metallica mengambil kendali atas rekaman master mereka dan membentuk label mereka sendiri, Blackened. Beroperasi di antara kantor Q-Prime dan markas besar Metallica, label itu menangani rilisan baru mereka melalui kesepakatan distribusi dengan Rhino Records milik Warner serta katalog musiknya, yang secara konsisten laku senilai puluhan miliar Rupiah setiap tahunnya. Gogon makan kikil alias gokil!

The greatest and the richest heavy metal band on the planet? They surely are.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Metallica

    Metallica Rilis Album Berisi 53 Lagu Cover Dari "The Black Album"

    Formasi Metallica era The Black Album, 1991 (Foto: Elektra). Metallica secara resmi merilis album kompilasi berjudul The Metallica Blacklist. Album yang ber

    on Sep 10, 2021
    AMHH Metallica

    Metallica Canangkan Program Beasiswa Untuk Pendidikan Tenaga Kerja

    Tampilan situs web Allwithinmyhands.org Sebuah brand apparel beken asal Amerika Serikat (AS), CARHARTT, bekerja sama dengan yayasan sosial berbasis non-prof

    on Sep 8, 2021
    Taipei Houston

    Taipei Houston, Band Rock Besutan Dua Putra Lars Ulrich Siap Debut

    Taipei Houston (Foto: Aleyna Dogan via Instagram). Taipei Houston, adalah band besutan dua putra kandung dramer Metallica, Lars Ulrich. Band ini terdiri dar

    on Sep 3, 2021
    Jason Newsted

    Jason Newsted Akui "Marah" Suara Bass Di Rekaman "Justice..." Hilang

    Metallica di era bersama Jason Newsted (Foto: Paul Natkin/WireImage). Jason Newsted telah mengakui bahwa sebenarnya doi "marah" setelah doi pertama kali men

    on Aug 29, 2021