×
×

Search in Mata Mata Musik

Monsta X, Bakal Jadi The Next Big Thing di Amerika Serikat?

Maraknya label rekaman Amerika Seikat berlomba menggaet artis-artis K-pop, Monsta X sedang jadi sorotan karena dianggap bisa dengan cepat menyusul popularitas BTS dan Blackpink.

Juli 2017 silam, Monsta X menggelar pertunjukan pertama mereka di Amerika Serikat, konser dua malam di The Novo yang berkapasitas 2.400 penonton di pusat kota Los Angeles. Konser tersebut disambut meriah oleh para penggemar berat K-pop, yang suka dengan estetika di lagu-lagu seperti “Rush.” Tetapi lagu-lagu seperti itu baru saja mulai menerobos audiens di Amerika pada saat itu.

Dua tahun kemudian, segalanya berubah drastis. Bulan Agustus nanti, Monsta X akan kembali ke Los Angeles untuk mengadakan konser besar-besaran mereka di Staples Centre, sebuah indikasi masuknya mereka ke daftar papan atas K-pop.

Dan kali ini, mereka didukung oleh label rekaman besar dari Amerika Serikat, Epic Records dan konsorsium manajemen musik paling berpengaruh di negara Paman Sam.

Grup beranggotakan tujuh personil ini, menandatangani kontrak dengan anak perusahaan Sony Music, Epic Records pada bulan Mei kemarin. Hal tersebut menempatkan mereka di bersama bintang-bintang rap dan pop asal Amerika Serikat termasuk DJ Khaled dan Travis Scott.

“Kami selalu sejalan dengan visi untuk Monsta X yang ingin meraih audiens luar, selain audiens inti mereka,” kata Ezekiel Lewis, wakil presiden A&R di Epic Records.

“Kami memandang mereka sebagai boyband dengan potensi besar yang kebetulan berasal dari Korea ketimbang melihat melalui lensa K-Pop yang lebih sempit.”

Monsta X tidak sendirian dalam hal ini. Beberapa artis top K-pop baru-baru ini menandatangani kontrak bernilai tinggi dengan label-label besar Amerika Serikat, BLACKPINK dengan Interscope, NCT127 dengan Capitol dan TXT (Tomorrow X Together) dengan Republic.

RCA juga sudah mengontrak Ateez. Columbia memiliki kesepakatan dengan BTS, grup yang membawa K-pop ke stratosfer Amerika Serikat.

BTS salah satu artis label Amerika Serikat, Columbia Records.

Di Amerika Serikat sendiri, K-pop berkembang dari hanya sekedar fandom digital underground menjadi pengisi Saturday Night Live dan ajang Grammy. Festival seperti KCON, berhasil menarik minat ratusan ribu penggemar. Setelah BTS mencatatkan tiga album di puncak Billboard 200 dan menjual habis tiket konser mereka di Rose Bowl, K-pop sekarang bisa dibilang sejajar dengan status Beyoncè dan Taylor Swift.

Sama halnya dengan disco, teen-pop dan EDM, perusahaan rekaman besar asal Amerika Serikat sedang gencar-gencarnya berinvestasi di ranah K-pop, genre yang terkenal serba cepat, beragam dan didominasi kaum muda yang sukses secara global.

Meski demikian, ada risiko yang harus dihadapi, K-pop sebagian besar masih dinyanyikan dalam bahasa Korea. Sudah ada sistem label hierarkis yang khas dan budaya yang digerakkan oleh penggemar yang menciptakan grup-grup ini.

Ada hal penting yang perlu dicatat, semua tren K-pop berubah dengan cepat, dan basis penggemar penuh dengan anak muda yang plin-plan. Jika tren K-pop bergeser, atau genre ini tidak lagi menjadi favorit, label yang berinvestasi besar bisa mengalami kerugian.

Girls’ Generation bergabung dengan Interscope hampir satu dekade lalu.

Terlepas dari daya tarik yang besar di dunia maya maupun di panggung live mereka, ada tantangan besar dalam membawa K-pop ke atas tangga lagu Amerika Serikat. Tapi fakta tiket konser besar mereka yang terjual habis, memang sulit untuk diabaikan oleh label-label besar.

Hampir satu dekade yang lalu, girl group Girls’ Generation menandatangani kontrak dengan Interscope dan 2NE1 merilis musik dengan Capitol. Mereka menjadi salah satu yang pertama dalam gelombang baru K-pop ini, tetapi mungkin melesat terlalu kencang.

Namun setelah meledaknya BTS, potensi K-pop di Amerika pun berubah, dan Monsta X adalah salah satu grup terkuat yang (berharap) bisa menyamai kesuksesan itu.

Monsta X—yang terdiri dari Wonho, I.M, Kihyun, Minhyuk, Jooheon, Shownu dan Hyungwon—dibentuk pada tahun 2015 melalui reality show di Korea Selatan. Mereka menonjol dengan gaya yang lebih agresif, menggabungkan trap modern, R&B dan musik dance dengan sedikit sentuhan dark electronic. Dan “Hero” menjadi bagian penting genre ini.

Mereka makin mencuat lewat kolaborasinya dengan superstar EDM, Steve Aoki di “Play It Cool.” Single pertama mereka di bawah Epic Records, “Who Do You Love,” adalah kolaborasi yang moody bersama rapper yang juga saudara satu label mereka, French Montana.

Tidak mengejutkan kalau kedua single tersebut langsung menempati berbagai tangga lagu dan mengantongi airplay tinggi di radio. Single tersebut merupakan cara pintar untuk memikat penggemar hip-hop, EDM dan R&B secara bersamaan.

“Kami suka mendorong batas,” kata Monsta X. “Itulah cara kami membangun suara kami dan terus berubah selama bertahun-tahun.”

Monsta X berada di bawah naungan Epic Records di AS.

Manajer Monsta X di Amerika Serikat, Eshy Gazit, adalah salah satu otak di balik kesuksesan BTS di negara Paman Sam tersebut. “Mengubah pembicaraan seputar K-pop adalah tugas yang sangat menantang,” kata Gazit.

“Ketika saya mulai bekerja dengan BTS di 2016, orang-orang di industri dan media sangat ragu kalau BTS akan berhasil. Pada saat itu banyak orang di sini menganggap K-pop sebagai produk artifisial dan meremehkannya. [Tetapi] saya melihat potensi besar di basis penggemarnya yang luar biasa.”

Kalau berbicara soal basis penggemar, penampilan BLACKPINK di Coachella Valley Music & Arts Festival tahun ini bisa dijadikan salah satu contoh. Siapa yang menyangka kalau set mereka menjadi salah satu yang dinantikan dan berujung menjadi penampilan yang paling banyak dibicarakan pada pekan Coachella tersebut. YouTube Music pun sampai menyiarkan langsung set mereka di layar besar di sisi sebuah gedung di Times Square.

Dan sepertinya Monsta X adalah salah satu dari beberapa grup K-pop yang berpotensi meraih popularitas besar seperti itu, atau bahkan lebih.

Tapi ini bukan masalah hanya mengikuti tren K-pop saja. Korea Selatan membangun industri musik K-pop menjadi sistem yang mapan dan khusus dengan struktur dan ekspektasi yang berbeda.

“Itu tidak seperti ‘Siapa berikutnya?’ Dalam kemitraan apa pun harus ada kepercayaan dan itu bukan proses yang cepat,” kata Jacqueline Saturn, Presiden anak perusahaan Capitol, Caroline/Harvest Records, yang mengontrak NCT127 dalam kemitraan dengan SM Entertainment.

“Kamu harus menghabiskan waktu untuk memahami organisasinya dan sadar bahwa mereka tahu yang terbaik. Itu bukan ‘Ini yang harus kalian lakukan,’ itu lebih seperti ‘Bagaimana kita bisa bekerja sama mengerjakan sesuatu yang luar biasa yang akan bertahan lama?’”

“Namun, kebesaran K-pop sepadan dengan upayanya,” kata Dr Jung-Bong Choi, seorang profesor di Baptist University yang mempelajari globalisasi budaya pop Korea Selatan. “K-pop secara unik cocok dengan budaya media sosial zaman sekarang, di mana antusiasme penggemar menciptakan identitas komunitas yang jauh melampaui musik.”

“K-pop menggeser model selebritas top-down di dunia barat tersebut,” ungkapnya. “Para artis memperlakukan penggemarnya benar-benar seperti keluarga besar: pesta klub penggemar, kontes menari, bertemu dengan para idol, dan sebagainya.”

Fleksibilitas K-pop dapat menarik banyak budaya yang berbeda dalam waktu yang bersamaan. “Banyak etnis minoritas yang merasa terasing dari budaya mainstream Eropa cenderung condong ke arah K-pop,” kata Choi.

“Ada titik di mana K-pop tidak lagi menjadi ‘merek nasional.’ Penandatanganan kontrak baru-baru ini dengan label-label AS tampaknya bisa terus berlanjut …[di saat] industri K-pop dalam negeri mencapai titik jenuh.” – Dr Jung-Bong Choi, profesor di Baptist University

Mengingat K-pop telah menjalar di seluruh penjuru Korea Selatan, artis-artis juga mungkin mencari tempat lain untuk berkembang. (Ini juga merupakan tahun yang penuh gejolak di Seoul, dengan adanya skandal Burning Sun yang meluas dan pengunduran diri pendiri YG Entertainment, Yang Hyun-suk.)

“Ada titik di mana K-pop tidak lagi menjadi ‘merek nasional,’” kata Choi. “Penandatanganan kontrak baru-baru ini dengan label-label AS tampaknya bisa terus berlanjut …[di saat] industri K-pop dalam negeri mencapai titik jenuh.”

Bagi para artis, prospek komersial baru di AS juga berarti mereka harus menghadapi jadwal yang padat dan ‘kecemasan’ karier juga. “Menghadapi tantangan tekanan yang semakin besar adalah hal yang agak tidak bisa dihindari,” kata Monsta X, tentang fase karier mereka di Amerika Serikat. “Siklus kerja yang intensif adalah sesuatu yang harus diterima sebagai band K-pop.”

“Musik yang bagus dan manajer dan tim yang pintar akan selalu menemukan cara untuk menjadi populer, baik itu K-pop atau bukan,” tegas Gazit. “Tapi satu hal yang pasti, pembatasan tidak menganggap serius K-pop dan artis-artis dari Asia [atau dari] keturunan Asia sudah berakhir.”

Keterangan Foto Utama: Monsta X, grup yang belum lama ini dikontrak oleh label besar asal AS, Epic Records. (Foto: dok. Epic Records)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

B-Free

Rapper B-Free Minta Maaf Karena Menjelekkan BTS 6 Tahun Lalu

Dalam sebuah wawancara, B-Free mengkritik RM dan Suga BTS karena memilih menjadi idol K-pop dan menjiplak musik Kanye West. Baca Juga: Konser Mendatang BTS d

on Jul 22, 2019
5 Lagu B-side K-Pop yang Harusnya Jadi Lagu Utama!

5 Lagu B-side K-Pop yang Harusnya Jadi Lagu Utama!

Karena sebenarnya single utama bukan berarti paling bagus di antara lagu lain yang ada di sebuah mini album atau album penuh. Terkadang, kalian dibuat jatuh

on Jul 20, 2019
DAY6

DAY6 Bahas Tentang Mimpi, Fans Internasional & Lainnya

DAY6 dikenal sebagai band terpercaya yang selalu memberikan usaha terbaiknya. Baca Juga: BTS, SHINee, BLACKPINK, DAY6, dan NU’EST W Nangkring di Jajaran 10

on Jul 17, 2019
BTS Tembus Daftar Celebrity 100 Versi Forbes Tahun Ini!

BTS Tembus Daftar Celebrity 100 Versi Forbes Tahun Ini!

Map of the Soul: Persona, album studio terbaru Bangtan Boys, memuncak di No. 1 Billboard 200 AS dan menjadi album terlaris dalam sejarah Korea Selatan. Tayl

on Jul 16, 2019