×
×

Search in Mata Mata Musik

Music Publishing: Pondasi Industri Yang Esensial Bagi Ekonomi Musisi

Posted on: 04/10/21 at 11:00 am

Music Publishing: Pondasi Industri Yang Esensial Bagi Ekonomi Musisi

Dewasa ini, banyak sekali fenomena memprihatinkan bagi kehidupan pencipta lagu “era lawas” di Indonesia. Para pencipta lagu tersebut yang jaya di eranya, saat di usia tua tidak memiliki keuangan yang cukup, hidupnya masih susah. Dan bahkan setelah meninggal dunia pun tidak ada manfaat ekonomi yang dapat diwariskan kepada ahli warisnya.

Baca juga: Jokowi Teken PP Baru: Putar Lagu Di Tempat Umum Wajib Bayar Royalti

Padahal, lagu-lagu karya mereka hingga kini masih kerap terdengar di berbagai tempat. Di mall, restoran, cafe, dan bahkan di-cover oleh artis lain. Ironis dan tragisnya, tidak ada sepeser pun royalti musik masuk ke kantong para pencipta lagu.

Hal demikian terjadi karena para pencipta lagu tersebut tidak melakukan pengelolaan hak ekonomi atas hak cipta berupa lagu kepada penerbit musik/lagu atau music publisher.

Musik yang kita dengar, kita download, kita stream ataupun yang ada dalam film telah menjadi bagian dari kehidupan kita. Tetapi lo ‘kan pasti tahu, bahwa sebelum musik yang kita dengar, saksikan penampilan live-nya ataupun direkam, yang hadir duluan adalah komposisi musik untuk menjadi sebuah lagu.

Kita lihat foto di atas, band yang sedang serius mengkomposisi sebuah lagu. Komposisi musik inilah yang pegang peranan penting dalam memonetisasi musik dan yang menjadi pondasi dari industri musik. Bisnis yang membuat, mempromosikan, mengontrol dan melindungi serta mengeksploitasi komposisi musik tersebut merupakan inti dari bisnis music publishing.

Music Publishing

Pada dasarnya Penerbit Musik alias Music Publisher (MP) adalah pihak yang mengekploitasi hak cipta. Caranya, dimulai dengan membuat hak cipta menjadi fiksasi (misalnya jadi format not balok tercetak, atau lagu), kemudian diterbitkan kepada publik. Tanpa langkah ini, hak cipta tidak bisa diuangkan.

Dengan kata lain, MP bertugas menerbitkan komposisi musik yang bertanggung jawab dan memastikan pencipta lagu dan komposer menerima hak atas komposisi musik mereka yang digunakan secara komersial.

Royalti Musik

Pencipta lagu atau komposer yang populer di industri musik biasanya menjalin kontrak kerja sama dengan MP. Persentase pembagian royalti biasanya mencapai hingga 50% dan bervariasi untuk berbagai jenis royalti. Dalam pengelolaannya, ada beberapa jenis royalti yang dikoleksikan dan didistribusikan ke komposer, yaitu:

Mechanical rights

Royalti mekanis yang didapatkan dari penjualan musik rekaman, seperti CD, Vinyl, unduhan digital dan streaming musik, yang dibayarkan kepada MP oleh perusahaan rekaman.

Sampling Rights

Royalti sampel yang didapatkan dari penggunaan sampel musik. Pengguna sampel harus meminta izin kepada pemegang hak cipta musik atau lagu yang sampelnya ingin digunakan. Royalti dibayarkan melalui MP sebelum didistribusikan kepada komposer.

Printing Rights

Royalti pencetakan yang didapatkan dari penjualan lembaran musik cetak. Yang bisa berupa notasi musik (partitur) dan / atau lirik. Royalti pencetakan ini umumnya dibayarkan langsung ke MP dan dapat bervariasi tergantung pada jenis lembaran musik dan apakah itu cetak fisik atau digital.

Public Performance Rights

Royalti performa yang didapatkan dari organisasi manejemen kolektif seperti YKCI, WAMI, RAI, SELMI, PAPPRI, ARDI atau ARMINDO yang mengkoleksikan hak komposer atas penggunaan penyiaran musiknya di ruang publik.

Synchronisation Rights

Royalti sinkronisasi yang didapatkan dari suatu komposisi saat digunakan dalam soundtrack film atau televisi. Berbagai royalti tersebut biasanya melewati MP sebelum sampai ke pemegang hak cipta.

MP juga berusaha supaya lagu-lagu dari komposer memungkinkan digunakan oleh artis rekaman hingga penggunaan komposisinya di media seperti soundtrack film dan iklan. Mereka biasanya juga menangani pendaftaran hak cipta untuk komposer. Di Indonesia melalui DJKI (Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual).

Kelima hak tersebut bisa dikelola sendiri oleh artis yang self-published. Tetapi tentunya rumit untuk dikelola karena permasalahan dan administrasi yang timbul cukup merepotkan. Karena itu, mengurusi publishing atau penerbitan berarti memerlukan sumber daya yang cukup dan kompeten untuk mengeksploitasi semua hak tersebut. Sehingga hak cipta bisa optimal secara komersial.

MP dan LMKN

Di era sekarang sepertinya kancah musik dari sisi ekonominya mulai beralih dari ekonomi Corporate (label rekaman) ke ekonomi Creator (komposer/musisi). Saat ini bisa dilihat tumbuhnya semakin banyak media yang memungkinkan Creator berhubungan langsung dengan pembeli/penggemar. Maka layanan music publishing semakin relevan. Bahkan cakupan bisnisnya yang lebih luas daripada label rekaman yang hanya memiliki, mengelola hak cipta yang direkam, lewat kepemilikan master rekaman.

Lewat MP pula komposer bisa mendaftarkan karyanya. MP berbeda dengan label rekaman, jadi untuk mendaftarkan karya, komposer sebenarnya tidak perlu label. Hanya perlu MP. Mereka juga bisa mendaftarkan karya musisi ke Lembaga Manajemen Kolektif Nasional (LMKN). Sementara itu agar jelas tugas masing-masing, MP bertugas untuk menjual (atau mengeksploitasi) dan LMKN melakukan koleksi hasil penjualan/eksploitasi tersebut. Silakan cek situs web LMKN.

Saat ini, di Indonesia sudah banyak bermunculan para penerbit musik. Tetapi guna memilih penerbit musik yang kompeten sehingga para komposer mendapatkan selayaknya hak-hak atas pengelolaan hak ekonomi ciptaannya, pencipta harus selektif dalam memilih penerbit musik. Jangan sampai salah pilih dan tertipu dengan penerbit lagu “abal-abal”. MP yang sudah cukup dikenal di antaranya ada WAMI, Massive Music, Nagaswara, Upbeat, Pustaka Musik, dan lain-lain.

Baca juga: SoundCloud Terapkan Sistem Royalti Baru Yang “Ramah” Bagi Artis Indie

MP Bukan Bagian Dari Label

Namun di industri di negara berkembang seperti Indonesia terjadi salah kaprah. MP pun sering disalah artikan yang menjadi salah satu faktor penghambat perkembangannya.

Secara historis, industri musik di Indonesia dibentuk oleh industri rekaman. Sementara industri rekaman tidak serta merta sama dengan industri musik. Lewat major label (perusahaan rekaman besar) yang masuk dan beroperasi di Indonesia sejak pertengahan 1990-an, industri mulai terbentuk dan berkembang. Karena itu pula semua yang ada di industri musik, sering disangka bagian dari label.

Menurut Irfan Aulia, managing director Massive Music, sering muncul pertanyaan dari musisi yang menyangka MP adalah bagian dari label. Mungkin Irfan tidak sendiri. Pengalaman orang lain pertama kali mendengar music publishing juga begitu.

Tetapi salah kaprah tersebut juga tidak terjadi begitu saja. Kebanyakan musisi yang tandatangan kontrak dengan label, tidak diberi tahu soal itu oleh labelnya (karena memang tugas musisi sendiri yang mengetahuinya). Dan lagi, kebanyakan label juga memiliki perusahaan MP (meski secara legal dipisahkan dengan PT yang berbeda).

Selain disangka bagian dari label, MP juga sering disalah diartikan sebagai penerbit, seperti penerbit buku. Jadi MP seringkali disangka pihak yang mengurus penerbitan ke media. Ya mirip sih, sama-sama menerbitkan, tetapi seperti yang sudah dijelaskan di atas, penerbitan produk musik dan media itu berbeda.

Itulah yang mungkin menjadi penyebab, artis selaku musisi kurang perhatian dengan pentingnya bekerja sama dengan MP setelah bernaung di bawah bendera label. Karena tidak semua label memiliki perusahaan MP atau bekerja sama dengan MP. Sehingga pendapatan royalti musik dari karya yang diterbitkannya menjadi tidak optimal.

Mudah-mudahan bisa tersebar dan lebih banyak orang mengerti tentang music publishing di Indonesia. Memahami music publishing adalah salah satu kunci agar musisi bisa mencari uang, lewat hak cipta yang sudah mereka miliki.

Sumber: Berbagai literatur
Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    roblox

    Roblox Selesaikan Klaim Hak Cipta Senilai Rp 2,8 T Dari Penerbit Musik

    Roblox, aplikasi layanan penyedia game online Roblox, sebuah layanan game online dan developer game yang tercatat secara resmi sebagai Roblox Corporation me

    on Sep 29, 2021
    Wolves Records

    Wolves Records Diluncurkan Klub Sepak Bola Wolverhampton Wanderers

    Wolves Records telah resmi diluncurkan oleh klub sepak bola Inggris, Wolverhampton Wanderers atau biasa disebut Wolves. Klub sepak bola tersebut bekerja

    on Sep 21, 2021
    RATM

    RATM Masuk Daftar 167 Lagu Yang Dicekal Radio AS Pasca Tragedi 9/11

    Rage Against The Machine (RATM) (Foto: Niels van Iperen/Getty Images). RATM singkatan dari Rage Against The Machine, band hardcore yang sukses melebur rap,

    on Sep 13, 2021
    Gene Simmons

    Gene Simmons Ungkap Siapa Pihak Yang Mematikan Industri Musik

    Gene Simmons KISS (Foto: Instagram @genesimmons). Gene Simmons, pencabik bass band hard rock legendaris, KISS, baru-baru ini kembali membuat suatu pernyataa

    on Sep 4, 2021