×
×

Search in Mata Mata Musik

Musisi Indonesia Turut Tampil di CTM Festival 2020 Berlin, Jerman

Posted on: 12/25/19 at 4:21 pm

Gabber Modus Operandi
Grabber Modus Operandi

CTM Festival yang merupakan festival scene musik elektronik eksperimental paling disegani di Eropa ini juga menampilkan gabungan grup asal Indonesia, Gabber Modus Operandi bersama Wahono dan kru asal Uganda, Nakibembe Xylophone Troupe ke dalam line-up artisnya.

Gabber Modus Operandi adalah rising star baru di scene techno lokal, digawangi oleh pasangan Ican Harem dan Kasimyn yang berasal dari Bali. Gabber Modus Operandi mengusung genre hardcore techno alias gabber dengan tema kearifan lokal dengan nada-nada bernuansa Nusantara. Sedangkan Wahono adalah produser dan musisi techno asal Jakarta yang tergabung di label Divisi62 dan grup kontemporer Uwalmassa.

Wahono CTM Festival 2020
Wahono (Foto: Dok. Wahono)

Mereka akan berbagi panggung bersama tambahan line-up baru seperti Cera Khin, DJ Firmeza, Jessica Ekomane, KG, Lyra Pramuk, Nene H & Ensemble Basiani dan Valesuchi. Formasi ini akan menguatkan barisan pertama yang berisi AYA (fka LOFT), Deathprod, Giant Swan, Akua, Aquarian, Bbymutha, Dis Fig, Hildur Guðnadóttir, Robert Henke dan VTSS.

CTM mendatang akan digelar dari 24 Januari hingga 2 Februari 2020 di beberapa venue kota Berlin, Jerman seperti HAU Hebbel am Ufer, Berghain, Kunstquartier Bethanien, Festsaal Kreuzberg, dan SchwuZ. Sementara, beberapa pertunjukan spesial akan digelar di Radialsystem V dan seri listening party dilangsungkan di Betonhalle, Silent Green.

 Nakibembe Xylophone Troupe
Nakibembe Xylophone Troupe (Foto: Stéphane Charpentier)

Bertema ‘Liminal’, melalui situs resmi CTM, mereka menyatakan bahwa pergelaran ini diharapkan memantik diskusi kritis tentang masa kini dan masa depan yang mungkin terjadi.

“Sudah lama musik menjadi situs negosiasi dari pengalaman menembus batas dan aksi-aksi trangresif. Liminalitas adalah karakter dari banyak praktik kebudayaan, spiritual, sosial serta ritual yang berhubungan dengan musik. Inilah dasar dari perlawanan atas norma dan identitas.

Di saat yang sama, liminalitas adalah zona kontak dengan yang “liyan”, Ketaksadaran dan perubahan dari suatu Keberadaan. Apakah liminalitas dapat digunakan untuk bereksperimen? Mampukah kita menapaki liminalitas untuk menggodok dan membangun cara-cara baru hidup bersama yang liyan?

Dari gagasan tersebut, CTM 2020 akan menggali potensi politik eksperimental di ruang-ruang liminal yang saat ini, sayangnya, harus tetap berlangsung tanpa utopia yang nyata,” sebagaimana yang dipaparkan pada website CTM.

CTM Festival Berlin dikenal sebagai pergelaran seni eksperimental tahunan berdurasi sepuluh hari yang menampilkan kultur musik global yang terbuka, berjejaring dan kolaboratif. Selain seni dalam definisi konvensional, CTM juga menggelar inisiatif riset kolaboratif, co-commissions dan berbagai format lain yang kerap berubah.

Festival yang berdiri sejak 1999 lalu ini dikenal luas karena kerap menggabungkan konten artistik kontemporer yang menantang dan kultur klab malam dengan produksi teknis yang hebat.

Performa Grabber Modus Operandi memang hardcore banget!

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

AKHDA

DJ AKHDA Dedikasikan 'Senoparty' Untuk Seluruh DJ Indonesia Terdampak ...

AKHDA. Salah satu DJ meranglap Produser andal Indonesia, AKHDA baru saja merilis single terbarunya berjudul 'SENOPARTY' yang didedikasikan untuk kondisi pan

on Sep 27, 2020
Dipha Barus

Lewat 'Down (VIP Remix)', Dipha Barus Rilis Versi Baru Lagu Kolabnya D...

CADE dan Dipha Barus. Produser/DJ top Tanahr Air, Dipha Barus, baru saja merilis versi remix dari karya terbarunya berjudul 'Down', di mana Dipha Barus berk

on Sep 26, 2020
PartyDiRumah

PartyDiRumah.com Hadirkan Live Experience Berbeda Untuk Live Streaming

Industri hiburan malam banyak terkena dampak pandemi, nggak terkecuali. Banyak dari bar/cafe yang mesti guluparg tikar dan karpet namun banyak juga yang be

on Sep 25, 2020
Kimoji

DJ-Produser Kimoji Akhirnya Merilis 'Bougie Chai', Single Perdananya

DJ/Produser Kimoji. (Foto: Future EXP Kolektif). Setelah tiga tahun berkeliaran di klab malam di beberapa kota menjadi seorang DJ (Disk Jockey) tampaknya ng

on Sep 24, 2020