×
×

Search in Mata Mata Musik

Napalm Death “Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism”: Kembalinya Sang Pemimpin

Posted on: 09/19/20 at 9:00 am

Cover album Napalm Death Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism. (Gambar: Century Media Records).

NAPALM DEATH
Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism
(2020, Century Media)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Album studio ke-16 band pionir grindcore kebangsaan Inggris ini merupakan album full length pertama sejak Apex Predator – Easy Meat (2015) yang memiliki jarak antar album terpanjang dalam sejarah Napalm Death. Sejak album debut Scum (1987), band ini tergolong sangat produktif dengan merilis album tiap satu, dua atau tiga tahun, dan itu belum terhitung berbagai Single, EP atau Split EP/LP yang dirilis menyempil di antara diskografi panjangnya. Bahkan sebelum merilis album baru ini, Napalm Death sempat memuntahkan EP Logic Ravaged By Brute Force pada 7 Februari lalu.

Baca juga: Napalm Death Rilis ‘Backlash Just Because’, Single Pertama Dari Album Barunya

Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism membuktikan sekali lagi konsistensi Napalm Death dalam menghancurkan membran timpanik dengan kebisingan ultra sonik berbalut amarah sosial-politikal selama lebih dari 30 tahun. Namun album ini kembali menyuguhkan sisi eksperimental dari band ini. Meski berbeda eksperimentasinya dengan tiga album lawasnya, yakni Fear Emptiness Despair (1994), Diatribes (1996), Inside The Torn Apart (1997) yang sedikit menggeser grindcore dan mempersilakan masuk groove-industrial-metal yang kental bak Prong atau Fear Factory untuk berbaur. Yang pasti, kali ini benar-benar berbeda alias belum pernah digeber sebelumnya. Album yang lagi-lagi diproduseri oleh Russ Russell ini juga menandakan pertama kalinya gitaris Mitch Harris nyaris nggak terlibat dalam proses penggarapan album walau status doi masih sebagai personil permanen karena nama doi masih tercantum di booklet cover albumnya. Mitch hanya berkontribusi sebagai co-songwriter musik di satu lagu, sisa lagu-lagu lainnya dibabat si rambut pohon beringin, bassis Shane Embury.

Kelebihan: Empat lagu pertama album ini, yakni ‘Fuck the Factoid’, ‘Backlash Just Because’, ‘That Curse of Being in Thrall’, dan ‘Contagion’ sukses memenuhi ekspektasi standar lo terhadap sebuah album “The Godfather of Grindcore”. Tiap lagu tanpa diawali basa-basi-busuk menghajar dengan voltase tinggi melalui tempo super cepat sarat blast beat dan nuansa chaos yang begitu menyeruak. Meski menerjang dengan vokal barking ngamuk Mark ‘Barney’ Greenway dan intensitas gerinda galak minta ampun, hebatnya, tetap memiliki daya memorable melalui riffing dan isian beat yang cerdas. Dengan nada-nada disonan, progresi kord-nya nggak hanya disayat bergaya hardcore dan death metal, namun turut menginkorporasi gaya post-punk yang atmosferik dengan interval yang nggak lazim. Aransemennya memang padat dan rapat seperti nggak memberi celah untuk bernapas. Namun untungnya, di dalam komposisi musiknya selalu menyelipkan bagian groove bervoltase sedang dan rendah serta beat-beat pogo dan headbanging khas Napalm Death.

Nah, sekarang di mana letak eksperimentasinya? Di antara beberapa lagu eksperimentalnya, hanya dua lagu yang cocok menjadi bagian integral album, yakni ‘Invigorating Clutch’ dan ‘Amoral’. Kedua lagu ini menampilkan ritem dan tekstur musik yang terpengaruh berat oleh Killing Joke dan Sonic Youth. Meski mengalami perubahan tata komposisinya secara signifikan, terdapat benang merah yang mengikat dengan lagu-lagu utamanya yang total menggerinda, yaitu terletak pada semburan nada disonan yang murung dan kobaran api yang sama dalam lirik lagu lainnya, serta vokal barking Barney yang kini berubah menjadi lebih high lantaran konsep musik yang menuntut pola isian vokal yang lebih cepat.

Kekurangan: Bagi lo yang lebih doyan grindcore dengan tradisional blast beat pasti bakal merasa nggak nyaman dengan lagu ‘Joie De Ne Pas Vivre’. Selain hanya berkutat dengan disonansi kebisingan, vokal Barney terus-terusan scream bak kesurupan hantu Dead (Mayhem) di sepanjang lagu. Lebay nggak sih gue? Haha. Just kidding. Selain lagu ini, lagu eksperimental lainnya cukup berhasil menggoreskan varian warna di album ini.

Baca juga: Mark Greenway Sebut Album Baru Napalm Death Akan Bernuansa ‘Noise-Rock’

Kesimpulan: Throes Of Joy In The Jaws Of Defeatism mungkin nggak menghasilkan lagu-lagu hits sekaliber ‘Suffer the Children’ atau ‘If the Truth Be Known’ dari album seminal Harmony Corruption (1990). Namun album ini merupakan salah satu yang terkuat dalam menghipnotis para fans dari berbagai subgenre musik ekstrim melalui materi yang inovatif dan infeksius. Eksplorasi kreatif dedengkot grindcore ini ke wilayah yang belum mereka jelajahi sebelumnya nampaknya cukup menyegarkan bagi fans yang mengikuti band ini sejak awal atau pertengahan kariernya. Eksperimentasi mereka, contoh yang paling gamblang, ‘A Bellyful of Salt and Speen’, lagu industrial doom bernafaskan dhrone yang nggak menjadi kelebihan atau pun kekurangan dalam album ini, namun cocok menjadi soundtrack penutup kebiadaban kisah album ini. Mungkin konsep baru Napalm Death ini bakal menjadi suatu “set new standard” bagi masa depan grindcore dan musik ekstrim secara umum. Maka, nggak berlebihan jika gue bilang Napalm Death adalah sejatinya “Leaders Not Followers”, mengutip dari judul seri album kompilasi cover song mereka. Lebih tepatnya, “the undisputed kings of grindcore”.

Verdict: 9

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Extreme Hate

    Jelang EP Awal 2021 Extreme Hate, Trio Grindcore Ini Rilis Dua Single ...

    Mengawali tahun 2021 ini, trio grindcore Extreme Hate kembali masuk studio rekaman untuk beberapa lagu baru, dua lagu di antaranya yang dijadikan rangkaian

    on Feb 12, 2021
    Album Hard Rock & Heavy Metal Terbaik

    MataMata Musik: Top 20 Album Hard Rock & Heavy Metal Terbaik Tahun 202...

    Meski 2020 merupakan tahun paling bangsat bagi 99% populasi manusia di Bumi (1% lagi yang nggak kena dampak kehancuran, yang berpesta di atas penderitaan j

    on Dec 31, 2020
    Extreme Moshpit Awards

    Daftar Pemenang Penghargaan Spesial Musik Cadas: Extreme Moshpit Award...

    Extreme Moshpit adalah media musik cadas Indonesia yang bergerak sejak 2007. Selain mewujudkan gerakan baru tradisi fanzine dan media di ranah musik ekstri

    on Dec 3, 2020
    Tonny Christian Pangemanan

    In Memoriam: Tonny Christian Pangemanan dan NOXA, Martir Grindcore

    Tonny Christian Pangemanan. Langit nampak cerah namun kali ini begitu terasa gelap dan berkabut, itulah suasana yang menyelimuti komunitas musik cadas Tanah

    on Nov 14, 2020