×
×

Search in Mata Mata Musik

Neil Peart, Drummer Terbesar Sepanjang Masa Tutup Usia

Posted on: 01/11/20 at 5:09 pm

Neil Peart foto bersama DW drum kit di acara Drum Channel soundstage , 12 Mei 2010 di Oxnard, California, AS (Foto: Clayton Call/Redferns)

Neil Peart, dramer virtuoso dan penulis lirik band progressive rock legendaris Rush kelahiran Toronto, Ontario, Kanada, meninggal dunia pada hari Selasa, 7 Januari 2020, di Santa Monica, California, pada usia 67 tahun, yang dikabarkan langsung dari Elliot Mintz, seorang juru bicara keluarganya. Penyebab kematian Neil adalah penyakit kanker otak yang diam-diam telah diperjuangkan Neil selama tiga setengah tahun. Perwakilan band Rush juga mengkonfirmasi berita tersebut ke banyak media terkemuka internasional.

Dalam sebuah pernyataan yang dirilis Jum’at (10/1/2010) sore, rekan bandnya di Rush, Geddy Lee dan Alex Lifeson menyebut Neil sebagai “teman, saudara lelaki, dan teman satu bandnya selama lebih dari 45 tahun,” dan mengatakan bahwa dia “sangat berani” dalam pertempurannya dengan glioblastoma – suatu bentuk kanker otak yang agresif. “Kami meminta teman-teman, penggemar, dan media memahami dengan wajar kebutuhan keluarganya akan privasi dan kedamaian pada saat yang sangat menyakitkan dan sulit ini,” tulis Geddy dan Alex. “Mereka yang ingin menyatakan belasungkawa, mereka dapat memilih grup penelitian kanker atau grup amal pengobatan kanker yang bisa mereka pilih sendiri dan memberikan sumbangan atas nama Neil Peart. Beristirahatlah dengan tenang, Saudaraku”.

View this post on Instagram

Neil Peart September 12, 1952 – January 7, 2020

A post shared by Rush (@rush) on

Neil Peart adalah salah satu dramer rock terhebat yang paling fenomenal dan legendaris, dengan gaya bermain yang flamboyan namun presisi (dipengaruhi oleh pahlawan dram masa kecilnya, yaitu Keith Moon (The Who) yang terkenal dengan gaya eksentriknya), sambil memperluas teknik dan kemungkinan imajinatif dari instrumennya.

Neil Peart telah memenangkan banyak penghargaan untuk dram, dan Neil telah dipilih sebagai dramer rock terbesar sepanjang masa oleh penggemar musik, kritikus, dan sesama musisi, menurut majalah Drummerworld.

Neil Peart, Drummer Terbesar Sepanjang Masa Tutup Usia

Neil bergabung dengan bassis/vokalis Geddy Lee dan gitaris Alex Lifeson di Rush pada 1974 untuk menggantikan John Rutsey. Selain menjadi dramer band, Neil berperan sebagai penulis lirik utama pengganti Geddy, yang memiliki sangat sedikit minat dalam menulis walau telah menulis lirik album debut ‘self titled’, Rush (1974). Sebaliknya, Geddy bersama dengan Alex memfokuskan diri pada aspek penulisan instrumental dari Rush. Neil membantu kedua rekannya tersebut membuat Rush menjelma menjadi band rock klasik yang esensial sepanjang masa. Komposisi setiap lagu Rush yang sarat isian dram dan aransemen yang kompleks, dibangun secara hati-hati dan dramatis dengan berdurasi panjang namun tetap memiliki hook pop yang memorable seperti lagu ‘Tom Sawyer’ atau ‘The Spirit of Radio’. Dia juga seorang praktisi terbaik drum solo dalam tiap konser Rush.

Neil Peart, Drummer Terbesar Sepanjang Masa Tutup Usia
Geddy Lee, Neil Peart, Alex Lifeson, circa 1980 (Foto: Fin Costello/GettyImages)

Sebagai dramer otodidak yang teliti, Neil Peart juga merupakan penulis banyak buku, dimulai dengan The Masked Rider: Cycling in West Africa pada 1996, yang mencatat tur sepeda 1988 di Kamerun – dalam memoar itu, ia mengenang sebuah pertunjukan dram tangan dadakan yang menarik seluruh warga desa di sana untuk menonton.

Neil tidak pernah berhenti memercayai segala kemungkinan musik rock (ia menyebutnya sebagai “sebuah hadiah yang melebihi harga” dalam lagu Rush rilisan 1980 ‘The Spirit of Radio’) dan membenci apa yang ia lihat sebagai komersialisasi yang berlebihan dari industri musik dan artis yang dia anggap bodoh sebagai penjilat. “Ini tentang menjadi pahlawan Anda sendiri,” katanya kepada Rolling Stone pada tahun 2015. “Saya berangkat untuk tidak pernah mengkhianati nilai-nilai yang dimiliki oleh musisi berusia 16 tahun, untuk tidak pernah menjual, untuk tidak pernah tunduk pada trend. Kompromi adalah apa yang tidak pernah bisa saya terima”. Neil memang idealis namun dia bisa membuktikan ke semua orang di industri bahwa musik bandnya bisa mengguncang dunia musik rock tanpa harus menjadi kompromis.

Neil Peart adalah ‘dramernya dramer’, dicintai oleh teman-temannya; dia memenangkan hadiah dalam jajak pendapat pembaca majalah Modern Drummer sebanyak 38 kali, dan merupakan pengaruh paling formatif kepada dramer-dramer muda yang tak terhitung jumlahnya. “Kekuatan, ketepatan/presisi, dan komposisinya tak tertandingi,” kata Dave Grohl dalam sebuah pernyataan yang dirilis Jum’at. “Dia dipanggil ‘Profesor’ karena suatu alasan: Kita semua belajar darinya”.

“Neil adalah penabuh dram yang paling ber-‘air drumming’ sepanjang masa,” mantan dramer The Police, Stewart Copeland mengatakan kepada Rolling Stone pada 2015. “Neil mendorong band itu, yang memiliki banyak musikalitas, banyak ide dijejalkan ke setiap delapan bar – tapi dia terus berdenyut, yang merupakan hal penting. Dan dia bisa melakukan itu sambil melakukan semua jenis atraksi yang keren”.

Mungkin tidak akan ada band-band progressive rock/metal seperti Queensryche, Dream Theater, Symphony X, Fates Warning atau Opeth jika tidak ada Rush. Rush dianggap sebagai dewanya rock progresif. Mike Portnoy, mantan dramer Dream Theater ini adalah salah satu dari sekian banyak musisi top yang mengidolakan Neil Peart. Dan ia pun memposting tulisan panjang dan fotonya saat bersama sang idola di akun Instagramnya.

View this post on Instagram

It absolutely breaks my heart to pieces to get the news of the passing of one of my greatest heroes of all time. Neil Peart will always be a mentor and a hero to me and his influence on me as a drummer for the past 40 years is absolutely impossible to measure. But beyond that, over the past 15 years or so, he’s become a friend…always such a gentleman and a gracious host. Always inviting me to come to soundcheck and spend some time before the show whenever Rush was passing through. Always sending complimentary copies of his new books, or Holiday emails with pictures of he and his young daughter Olivia. I have so many memories through the years, but probably the most Special was the last time I saw him. I took my son Max to see Rush on their farewell tour as I wanted him to see the band before they retired…Neil ever the incredible gracious host invited us to soundcheck, let Max play his drums, gave him a pair of sticks and an autographed snare drum head and opened up his dressing room to us for the evening. The point is, if you were his guest you were family. I could go on and on and on but I need to process this. Sadly, I’ve known about Neil’s declining health for a few years now and always feared this news…but I am still shaken to the core in shock. My deepest condolences go out to Geddy and Alex, to Carrie and Olivia, to Michael and Lorne and Chris S, to Ray and Pegi, and to all of his faithful fans all around the world of which I will always be one of the biggest. Rest In Peace Bubba You’ll always be my hero 😥 RIP Neil Peart

A post shared by Mike Portnoy (@mikeportnoy) on

Rush menyelesaikan tur terakhir mereka pada bulan Agustus 2015, setelah merilis album terakhir mereka, Clockwork Angels, pada 2012 via Roadrunner Records. Sejak itu Neil menyatakan sudah selesai dengan tur. Dia mempertanyakan apakah dia bisa tetap mampu secara fisik memainkan perannya yang penuh tuntutan, dan dia ingin menghabiskan lebih banyak waktu dengan istrinya, Carrie Nuttal, dan putrinya Olivia.

Keputusan berat itu diambil karena Neil memiliki masa lalu yang cukup tragis, yang dia sangat takut mengalaminya lagi. Pada 10 Agustus 1997, anak perempuan Neil yang berusia 19 tahun, Selena, meninggal dalam kecelakaan mobil tunggal dalam perjalanan jauh ke universitasnya di Toronto. Lima bulan kemudian giliran ibu Selena – istri Neil yang telah hidup bersama selama 23 tahun, Jackie Taylor – didiagnosis menderita kanker stadium akhir, dan hancurlah mental Neil. Kemudian dia mengatakan kepada teman-teman bandnya untuk menganggap bahwa dia sudah pensiun dari musik. Beberapa tahun kemudian, dia menikah lagi pada tahun 2000, dan sejak itu menemukan jalan kembali ke Rush pada tahun 2001.

Neil Peart dibesarkan di Port Dalhousie, pinggiran Kanada kelas menengah 70 mil dari Toronto, tempat ia mengambil pelajaran dram pertamanya pada usia 13 tahun. Ketika remaja, ia mengeritingkan rambutnya, memakai jubah dan sepatu bot ungu di bus kota, dan menuliskan “Tuhan sudah mati” di dinding kamarnya. Pada suatu ketika, ia mendapat masalah karena memukul ketukan di mejanya selama di kelas. Gurunya punya ide untuk memberi hukuman kepadanya, dia disuruh memukul-mukul mejanya tanpa henti harus bertahan selama satu jam. Hal itu justru menjadi waktu yang ia habiskan dengan senang hati menciptakan kembali bagian-bagian isian dram Keith Moon dari album The Who, Tommy.

Neil Peart, Drummer Terbesar Sepanjang Masa Tutup Usia

Terobosannya bersama Rush terjadi saat album kedua yang berjudul 2112 pada 1976 – sisi pertama dari album ini adalah opera rock yang ditetapkan dalam tahun yang jauh di masa depan, menggabungkan visi ‘sci-fi’ Neil dan ideologi Rand-ian (yang kemudian ia tolak dan menyebut dirinya libertarian) dengan sandiwara progressive rock yang eksplosif. Tonggak berikutnya muncul dengan lagu berjudul ‘Subdivisions’ dari album Rush rilisan 1982, Signals. Liriknya adalah sebuah otobiografi kisah kesengsaraan pinggiran kota (“Pinggiran kota tidak memiliki pesona untuk menenangkan mimpi dari kegelisahan para pemuda”).

“Di awal (karir) banyak lirik-lirik fantasi, hanya untuk bersenang-senang,” kata Neil kepada Rolling Stone. “Karena saya belum percaya bahwa saya bisa memasukkan sesuatu yang nyata ke dalam sebuah lagu. ‘Subdivisions’ adalah lagu kebangsaan bagi banyak orang yang tumbuh dalam keadaan seperti itu, dan sejak saat itu, saya menyadari apa yang paling ingin saya masukkan ke dalam lagu adalah pengalaman manusia”.

Sejak saat itu, musik Rush menjadi lebih ringkas, tanpa kehilangan kompleksitasnya. “Ketika Punk dan New Wave datang,” kata Neil kepada Rolling Stone, “Kami cukup muda untuk dengan lembut memasukkannya ke dalam musik kami, daripada menjadi reaksioner tentang hal itu – seperti musisi lain yang saya dengar berkata, ‘Apa yang seharusnya kita lakukan sekarang, melupakan cara bermain? “Kami adalah juga penggemar genre musik tersebut dan bisa bilang,” Oh, kami juga menginginkan itu”. Dan pada album Moving Pictures (1981), kami berhasil, belajar bagaimana menjadi sangat rumit dan untuk mengatur pengaturan besar menjadi pernyataan yang ringkas”.

Neil juga selalu curiga pada showbiz, ia menghabiskan banyak waktu luangnya di jalan di masa-masa awal Rush ‘terkubur’ dalam setumpuk buku. Dia termasuk kutu buku. Pada tahun-tahun terakhir, ia menghindari rutinitas tur yang biasa dengan melakukan perjalanan dari satu pertunjukan ke pertunjukan lainnya dengan sepeda motor, lepas landas tak lama setelah setiap pertunjukan berakhir. Refreshing.

Selama dekade ’90an, ia menghasilkan dua album tribute untuk legenda jazz Buddy Rich, dan pada saat ketika banyak penggemarnya sudah menganggap dia dramer rock terbaik di dunia, Neil mulai mengambil pelajaran dengan Freddie Gruber, seorang musisi jazz dan instruktur dram. Neil memuji Gruber (dan guru lainnya, Peter Erskine) dengan membantunya menciptakan kembali teknik dan rasa waktu dari awal, membawanya ke pendekatan yang lebih lancar dan alur yang lebih dalam. “Apa itu seorang ‘master’ selain murid ‘master’?” Neil memberi tahu Rolling Stone pada 2012: “Ada tanggung jawab bagimu untuk terus menjadi lebih baik dan untuk mengeksplorasi jalan dari profesi Anda. Saya telah ditempatkan di posisi ini, dan saya tentu tidak menganggap remeh itu. Saya menjadi dramer profesional. Akibatnya, saya merasa bertanggung jawab bahwa saya benar-benar mendedikasikan diri untuk hal itu sepanjang waktu, meskipun ketika kami sedang tidak tur, latihan dram tetap menjadi rutinitas saya. Saya harus menjaga instrumen saya cocok untuk bulan depan ketika saya harus mulai berlatih untuk tur. Jadi itu adalah tanggung jawab penuh waktu. Ini sangat menyenangkan dan sangat saya syukuri”.

Setuju, Neil memang seorang dramer master. Selamat jalan, Om. Rush never die \m/

Didokumentasikan pada saat konser di Rotterdam, Belanda circa2007 dalam rangkaina tur mempromosikan album ‘Snakes And Arrows’.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

PRIMUS

PRIMUS Mengumumkan Tur Spesial Cover Song RUSH: 'A Tribute To King...

Primus (Foto: Chapman Baehler). Masih ingat Primus, nggak? Penggemar rock/metal era '90an pasti kenal band funk metal/alternative rock asal El Sobrante, Cal

on Feb 20, 2020