×
×

Search in Mata Mata Musik

Band Grindcore Jepang Jadi Target Pengawasan Pemerintah Cina

Salah satu lagu milik band asal Jepang, Unholy Grave, yang berjudul “Taiwan: Another China,” membuat mereka menjadi target spesifik ‘malware’ pemerintahan Cina.

Dalam beberapa waktu terakhir, sangat jelas bahwa pemerintah China tidak nyaman dengan kebebasan berekspresi, khususnya di industri seni. Awal tahun ini, negeri tirai bambu tersebut baru merilis Bohemian Rhapsody setelah menghapus semua rujukan tentang homoseksualitas Freddie Mercury, dan seorang wanita Cina diturunkan dari kereta karena memakai riasan gothic.

Sekarang, laporan terbaru menunjukkan, malware China yang dipasang secara paksa pada ponsel imigran di tempat-tempat tertentu di sepanjang perbatasan menargetkan karya-karya budaya dan literatur—termasuk musik milik band grindcore asal Jepang.

Dilansir dari Vice, malware Android sedang diinstal pada ponsel warga asing yang melintasi perbatasan tertentu ke provinsi Xinjiang. Petugas keamanan perbatasan tampaknya secara paksa mengambil ponsel orang-orang dan menginstal program yang memungkinkan mereka untuk memonitor pesan teks, mengunduh nama pengguna, dan mencari file yang dilarang.

Kebanyakan file yang dicari oleh aplikasi tersebut adalah teks Islam yang mungkin menjurus ke ekstremisme agama. Hal ini dianggap sebagai upaya yang mencolok untuk menyulitkan populasi Muslim Xinjiang. Tetapi, file lain yang juga termasuk dalam daftar media yang ditargetkan adalah musik dari band grindcore asal Jepang, Unholy Grave, yang memiliki lagu berjudul “Taiwan: Another China.”

Menurut Maya Wang, peneliti senior Cina dari Human Rights Watch, “[Aplikasi ini] menyediakan sumber bukti lain yang menunjukkan bagaimana pengawasan massal secara luas dilakukan di Xinjiang. Kita sudah tahu penduduk Xinjiang—khususnya Muslim Uyghur—menjadi sasaran pengawasan terus-menerus dan multidimensi di wilayah ini…Apa yang ditemukan melampaui itu: ini menunjukkan bahwa orang asing pun juga menjadi sasaran massal seperti itu, dan pengawasan yang melanggar hukum.”

“Pemerintah Cina, baik secara hukum maupun praktik, sering mencampurkan kegiatan keagamaan yang damai dengan terorisme,” lanjut Wang. “Hukum Cina mendefinisikan terorisme dan ekstremisme dengan cara yang sangat luas dan tidak jelas. Contohnya, tuduhan ekstremisme dapat dijatuhkan hanya karena memiliki ‘barang yang mendukung terorisme,’ meskipun tidak ada definisi yang jelas soal barang apa yang dimaksud.”

Artikel asli ditulis oleh redaksi Kerrang! dan sudah melalui proses penyaduran serta pengeditan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Keterangan Foto Utama: Unholy Grave, unit grindcore asal Jepang jadi salah satu target pengawasan pemerintahan Cina. (Foto: Unholy Grave/Facebook)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Austin Butler Akan Perankan Elvis Presley di Biopik Mendatang

Austin Butler Akan Perankan Elvis Presley di Biopik Mendatang

Butler akan memerankan Elvis, sementara Tom Hanks akan berperan sebagai manajer Elvis, Col. Tom Parker. Dilansir dari THR, Austin Butler akan memerankan sos

on Jul 16, 2019
Foo Fighters Luncurkan EP Berjudul 00950025

Foo Fighters Luncurkan EP Live Yang Berjudul 00950025

Penggemar Foo Fighters diberi kesempatan untuk mengintip arsip lama band rock ini lewat perilisan EP live terbaru mereka. EP yang diberi judul 00950025 ini

on Jul 8, 2019
Speaker First Teken Kontrak Dengan Label Internasional

Speaker First Teken Kontrak Dengan Label Internasional

Trio rock and roll asal Bandung ini satu label dengan Tame Impala, Frank Ocean, Iron Maiden, hingga Coldplay Salah satu dedengkot rock kota Bandung, Speaker

on Jun 15, 2019
Bikini Kill Gelar Konser Pertama dalam 22 Tahun

Bikini Kill Gelar Konser Pertama dalam 22 Tahun

Legenda riot grrrl ini tampil membawakan 27 lagu di Hollywood. Bikini Kill menggelar konser pertama mereka dalam 22 tahun pada Kamis malam (25/4) dan membaw

on Apr 29, 2019