×
×

Search in Mata Mata Musik

Beberapa Situs Musik Korea Rilis Pernyataan Terkait Isu Royalti Melon

Posted on: 07/11/19 at 1:16 pm

Melon, layanan musik online asal Korea, dicurigai melakukan penggelapan royalti lewat label musik palsu bernama LS Music.

Baca Juga: Royalti “Bitter Sweet Symphony” Akhirnya Balik ke Tangan Richard Ashcroft

Menyusul kecurigaan baru-baru ini terhadap Melon terkait penggelapan royalti dari pemegang hak cipta, beberapa situs musik lainnya (Bugs, FLO, Genie Music, dan VIBE) mengeluarkan pernyataan gabungannya.

Pada 9 Juli kemarin, Dreamus Company merilis pernyataan yang berbunyi sebagai berikut.

“Halo.

Ini Dreamus Company, operator FLO.

Karena kecurigaan baru-baru ini terhadap penggelapan royalti oleh Melon, platform layanan musik Bugs, FLO, genie music, dan VIBE berada dalam situasi serius yang sulit diungkapkan dalam kata-kata.

Di industri layanan musik, di mana ada dasar kepercayaan, adanya kegiatan ilegal terkait perhitungan dana sangat tidak dapat diterima dan tidak dapat dimaafkan. Itu juga merupakan tindakan yang sangat merugikan dan membahayakan kepercayaan yang telah diperoleh platform layanan musik lainnya melalui kerja keras selama bertahun-tahun.

Hingga saat ini, platform layanan musik Bugs, FLO, Genie Music, dan VIBE, di antaranya, telah bekerja keras untuk melindungi royalti dan mengembangkan layanan streaming yang legal dan berbayar antara pencipta dan konsumen.

Baca Juga: Fortnite Bisa Dituntut Bayar Royalti Musik Populer

Menggunakan situasi ini sebagai pengingat, keempat situs ini akan mencerminkan keseriusan serta pentingnya tindakan tersebut dan bekerja sekeras yang kami bisa untuk mendapatkan kembali kepercayaan untuk semua platform layanan musik.

Bersama dengan Kementerian Kebudayaan, Olahraga, dan Pariwisata, keempat situs ini akan bekerja sama dalam membangun dan mengimplementasikan rencana untuk meningkatkan transparansi dana. Kami akan aktif bekerja sama dengan semua langkah yang diperlukan termasuk pemeriksaan perhitungan dana untuk mendapatkan kembali kepercayaan [publik] pada industri kami.

Terima kasih.”

Melon dituduh telah menggelapkan royalti dari pemegang hak cipta dengan membuat label musik palsu bernama LS Music. LS Music dilaporkan dibentuk antara tahun 2009 dan 2011, saat Melon dioperasikan oleh Loen Entertainment.

Sistem distribusi royalti asli pada tahun 2011 memberikan 46 persen dari total keuntungan kepada Melon, dengan 54 persen sisanya disalurkan ke pemegang hak cipta. Namun, Melon dilaporkan menggelapkan miliaran won (sekitar Rp11,9 miliar) royalti dari pemegang hak cipta dengan mendaftarkan LS Music sebagai bagian dari sistem distribusi royalti, di mana LS Music memperoleh sekitar 10 persen dari total keuntungan.

Artikel asli ditulis oleh S. Cho untuk Soompi dan sudah melalui proses penyaduran serta pengeditan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Keterangan Foto Utama: 4 platform layanan musik Korea Selatan, Genie Music, FLO, Bugs dan VIBE, mengecam tindakan penggelapan dana royalti oleh Melon. (Foto via Soompi)

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Royalti Musik

    Royalti Musik PP No. 56 Saja Heboh, Indonesia Ketinggalan Zaman!

    Main musik mau jadi apa? Tanya orang tua dulu ketika seorang anak mengungkapkan cita-citanya menjadi musisi terkenal. Suatu cita-cita yang jauh dari ideal

    on Apr 13, 2021
    Music Publishing

    Music Publishing: Pondasi Industri Yang Esensial Bagi Ekonomi Musisi

    Dewasa ini, banyak sekali fenomena memprihatinkan bagi kehidupan pencipta lagu “era lawas” di Indonesia. Para pencipta lagu tersebut yang jaya di erany

    on Apr 10, 2021
    Royalti Musik

    Royalti Musik: Daftar Tarifnya Di 14 Tempat Publik Sesuai SK Menteri

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) telah menandatangani Peraturan Pemerintah Nomor 56 Tahun 2021 tentang Pengelolaan Royalti Hak Cipta Lagu dan atau Musik pada

    on Apr 9, 2021
    Jokowi PP 56-2021

    Jokowi Teken PP Baru: Putar Lagu Di Tempat Umum Wajib Bayar Royalti

    Presiden Joko Widodo (Jokowi) meneken Peraturan Pemerintah tentang pengelolaan royalti hak cipta lagu dan musik. Dengan PP bernomor 56/2021 bisa memberikan

    on Apr 7, 2021