×
×

Search in Mata Mata Musik

Dicurigai Akan Gelar Konser Tanpa Izin, Joss Stone Dideportasi Dari Iran

Posted on: 07/5/19 at 5:35 pm

Iran dikenal memiliki larangan ketat untuk pertunjukan yang melibatkan perempuan tampil di depan umum.

Penyanyi asal Inggris Joss Stone mengatakan dirinya dideportasi dari Iran, dan mengklaim pihak berwenang menuduhnya akan menggelar konser tanpa izin di negara itu, di mana ada larangan ketat terhadap musisi wanita yang tampil di depan umum.

Dalam video yang diunggah di Instagramnya, artis berusia 32 tahun ini mengatakan, “Kami ditahan dan kemudian kami dideportasi,” sambil mengenakan jilbab putih, dan menambahkan bahwa dia masuk black list dan pihak berwenang tidak mempercayainya kalau Joss Stone dan rombongan tidak menggelar pertunjukan musik di muka umum dalam kesempatan yang seharusnya menjadi putaran terakhir dari tur dunianya.

“Setelah diskusi panjang dengan orang-orang imigrasi yang sangat ramah dan menyenangkan, keputusan untuk menahan kami malam itu dan mendeportasi kami di pagi hari pun dibuat,” katanya. “Tentu saja saya sangat kecewa. Sangat dekat tapi sangat jauh.”

Stone menambahkan, dia sadar kalau “tidak mungkin ada konser di depan umum karena saya seorang wanita” dan dia tidak “berusaha mengubah politik negara-negara yang saya kunjungi” atau “menaruh orang lain dalam bahaya.”

Total World Tour Stone, yang dimulai di Maroko pada Maret 2014, telah membawa sang penyanyi ke negara-negara termasuk Kazakhstan, Mongolia, Belize dan Yordania. Tujuan dari tur ini, menurut situs web Stone, adalah untuk “membawa keindahan dalam bentuk musik ke setiap negara di planet kita.” Tur Stone juga mencakup kegiatan amal di Lebanon, Syria dan Mauritius, di mana dia mendukung Mo’zar Atelier Musique, suatu grup yang membantu anak-anak mendapat pelajaran musik.

Pada Kamis malam (4/7) waktu setempat, seorang sumber diplomatik Iran mengatakan, “Masalah ini telah dievaluasi dengan sangat hati-hati oleh otoritas lokal Iran. Sepertinya, dia dan timnya memasuki Pulau Kish di Iran mungkin berdasarkan saran yang salah tentang peraturan visa untuk pulau itu

“Sementara Kish dianggap sebagai zona bebas, tanpa peraturan visa bagi wisatawan, terlibat dalam kegiatan ekonomi apa pun yang lebih dari sekadar turisme memerlukan pertimbangan sebelumnya dan permintaan untuk visa kerja melalui saluran resmi, yang sayangnya tidak dilakukan grup ini. Otoritas setempat telah memberi tahu grup tentang kesalahan ini dan peraturan visa untuk kunjungan mereka di masa mendatang.”

Sikap rezim Iran terhadap musik yang dibawakan di negara itu sudah sedikit lebih ‘ramah’ sejak revolusi. Semua bentuk musik dilarang tak lama setelah rezim mengambil kendali pada tahun 1979, tetapi pada akhir tahun ’90-an beberapa larangan dicabut di bawah pemerintahan presiden reformis Mohammad Khatami, yang memperbolehkan musik klasik barat untuk diajarkan di Tehran University dan mengizinkan konser di mana wanita boleh bernyanyi di hadapan audiens wanita.

Pada tahun 2005, presiden Iran saat itu, Mahmoud Ahmadinejad melarang pemutaran musik barat di stasiun radio dan TV milik negara, dan mengatakan keputusan itu dimaksudkan untuk memblokir “musik tidak senonoh dan barat dari Penyiaran Republik Islam Iran (Islamic Republic of Iran Broadcasting).”

Wanita yang tampil bernyanyi sendirian masih menjadi hal yang tabu di Iran, dengan beberapa pengecualian untuk acara opera, tetapi beberapa wanita telah berhasil menghindari larangan ini dengan ‘bernyanyi bersama,’ di mana mereka tampil dengan penyanyi lain.

Leila Alikarami—seorang pengacara hak asasi manusia yang telah mewakili musisi wanita di Iran—mengatakan ada harapan bahwa ketika Hassan Rouhani mengambil kendali di 2013, akan ada pendekatan yang lebih liberal untuk musisi wanita tampil secara live di negara itu.

“Hak asasi manusia masih dipandang sebagai ancaman bagi keamanan nasional oleh rezim,” jelasnya. “Kami berharap ada perubahan dengan Rouhani tetapi itu belum terjadi. Hal ini sudah mengakar secara budaya dan dalam peradilan.”

Iran memiliki kontrol ketat pada konser publik, dan pertunjukan apa pun perlu disetujui oleh kementerian kebudayaan, yang mengharuskan promotor dan artis untuk mengisi formulir yang menyatakan lokasi acara, jumlah pengunjung dan beberapa detail lainnya. Menurut pengalaman Alikarami, kementerian bisa membutuhkan waktu mulai dari dua bulan hingga satu tahun untuk membalas permintaan dan dia pernah melihat kasus di mana konser-konser yang telah disetujui sebelumnya dibatalkan dengan sedikit pemberitahuan.

Alikarami percaya Stone seharusnya diizinkan untuk mengunjungi negara itu karena dia “dengan jelas menyatakan niatnya bukan untuk tampil,” tetapi menambahkan bahwa situasi di Iran jauh lebih buruk bagi wanita Iran yang ingin tampil di negara mereka sendiri, dan mengatakan rezim ini “menyerang identitas wanita Muslim.”

“Sungguh memilukan karena orang-orang ini sangat menyukai musik; ini bukan soal menghasilkan uang, ini tentang tampil di depan umum dan didengar,” tuturnya.

Mohammed Shabani—seorang PhD Researcher di SOAS University of London dan ahli dalam masalah Iran—mengatakan bahwa bagi Stone, situasinya, meskipun tidak menyenangkan dalam waktu dekat, adalah hal yang positif baginya. “Saya yakin Joss Stone dan timnya membuat perhitungan: mereka pergi ke Iran dan akan ada satu dari dua hasil yang didapat, yang keduanya baik untuknya,” ucapnya.

“A: Kamu pergi, mengadakan konser dan ditangkap lalu mendapat publisitas. B: Kamu ditahan dan dideportasi dan menjadi banyak berita utama. Ini sama-sama menguntungkan. Untuk rezim, mereka mungkin tidak ingin mengambil risiko kalau dia tampil dan membuat kehebohan.”

Berbagai kelompok di Iran terus menolak aturan ketat ini, termasuk Radio Khiaban, sebuah situs yang memutar rekaman wanita Iran bernyanyi di ruang publik untuk menunjukkan “pertunjukan sehari-hari yang menginspirasi dan tindakan perlawanan wanita yang dipaksa untuk dipisahkan dan dikecualikan.”

Alikarami menyebutkan, wanita di Iran telah menghadapi diskriminasi saat berusaha tampil selama beberapa dekade. “Wanita telah ditindas oleh sistem patriarki sebelum rezim di tahun 1979,” ungkapnya. “Ini bukan melulu soal agama, terkadang ini soal tradisi.”

Stone mulai populer di usia 14 tahun sebagai bintang pop luar biasa dari pedesaan Devon, menandatangani kontrak dengan EMI sebelum merilis album debutnya The Soul Sessions, yang kemudian menandai dirinya sebagai musisi sensasional berambut pirang dan bermata biru setelah menjual sebanyak 12 juta salinan dan meraih nominasi Mercury Prize di 2004.

Artikel asli ditulis oleh Lanre Bakare untuk The Guardian dan sudah melalui proses penyaduran serta pengeditan oleh redaksi Mata Mata Musik.

Keterangan Foto Utama: Joss Stone mengatakan deportasinya dari Iran ‘mematahkan sebagian kecil hati saya.’ (Foto: PA/Tabatha Fireman)

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Amanda Casea

    Amanda Casea Keluar Dari Zona Nyaman Via Single 'Mengapa Patah Hati'

    Amanda Casea menunjukkan bentuk hasil usahanya untuk keluar dari zona nyamannya dengan merilis single keempatnya, 'Mengapa Patah Hati'. Dan single ini menj

    on Oct 18, 2021
    Monica Tania

    Monica Tania Ungkap Pengalaman Toxic Relationship Via Single 'Maaf'

    Monica Tania, penyanyi muda berbakat kelahiran Medan ini kembali untuk melepas karya baru. Setelah merilis empat single di tahun ini, cewek yang pernah ber

    on Oct 18, 2021
    Adele

    Adele Rilis Single Baru Pertama Dalam 6 Tahun dan Raih Rekor Spotify

    Foto: Simon Emmett. Akhirnya, single baru pertama Adele dalam enam tahun telah hadir di semua platform digital. Judulnya sudah diketahui sebelumnya, 'Easy o

    on Oct 15, 2021
    Adele

    Adele Resmi Umumkan Judul Album Barunya "30" Secara Emosional

    Foto: via Instagram/@adele. Adele telah secara resmi mengumumkan album barunya yang dikasih judul 30. Penerus dari album 25 tahun 2015 ini akan mendarat pad

    on Oct 13, 2021