×
×

Search in Mata Mata Musik

Hubungan Spotify Dengan Musisi Semakin Tegang

Posted on: 06/24/19 at 1:21 pm

Baru-baru ini, Spotify menyatakan kalau mereka terlalu banyak membayar royalti para musisi, penulis dan publisher musik. Dan sekarang, mereka ingin uang mereka dikembalikan.

Kalau kalian belum sadar, ketegangan antara komunitas penerbit musik dan Spotify semakin memanas dalam beberapa bulan terakhir.

Ini semua berawal pada bulan Maret lalu, saat Spotify, bersama dengan operator streaming musik lainnya seperti SiriusXM/Pandora, Google dan Amazon, mengajukan banding terhadap kenaikan bayaran wajib untuk penulis lagu dan publisher musik di Amerika Serikat.

Berita utama tentang kenaikan bayaran, yang diputuskan oleh Copyright Royalty Board (CRB) AS, menyatakan bahwa pembayaran streaming mekanis dari perusahaan seperti Spotify akan naik sebesar 44 persen atau lebih antara tahun 2018 dan 2022.

Namun, ternyata ada beberapa kerumitan tambahan dan yang kurang dilaporkan dari keputusan CRB mengenai penawaran diskon pelajar dan bundel rencana keluarga milik Spotify—yang memungkinkan hingga enam anggota keluarga untuk menikmati layanan Spotify Premium hanya seharga $14,99 per bulan.

“Menurut peraturan CRB yang baru, kami kelebihan membayar sebagian besar penerbit di 2018… Daripada segera mengumpulkan kelebihan pembayaran di 2018, kami menawarkan untuk memperpanjang periode pengembalian hingga akhir 2019,” kata juru bicara Spotify.

Karena kerumitan tambahan ini, Spotify sekarang menilai bahwa, secara retrospektif, menurut keputusan CRB, banyak penerbit musik sebenarnya berutang kepada Spotify untuk tahun 2018, karena kelebihan pembayaran berdasarkan tarif sebelumnya. Dan coba tebak! Mereka ingin uang itu dikembalikan.

Spotify menginformasikan berita ini kepada penerbit minggu lalu dan, seperti yang bisa dibayangkan, perusahaan-perusahaan tersebut—yang sudah memprotes banding CRB oleh Spotify—sangat marah akan hal itu.

Salah satu tokoh senior di industri publisher musik mengatakan kepada MBW, “Spotify mengeruk jutaan dolar dari penerbit di AS berdasarkan tarif baru CRB yang mendukung DSP, sekaligus mengajukan banding atas [keputusan CRB yang lebih luas]. Hal ini menempatkan beberapa penerbit musik dalam posisi negatif. Sulit dipercaya.”

Spotify tidak mengharapkan penerbit untuk segera mengembalikan uang yang ‘diutangkan’; sebaliknya, saldo negatif ini akan dianggap sebagai uang muka oleh Spotify, yang akan dikembalikan dari pembayaran royaltinya di 2019 kepada publisher (dan, dengan demikian, penulis lagu mereka).

“Saya menganggap sangat munafik bagi layanan digital yang mengajukan banding atas keputusan CRB namun kemudian mengambil keuntungan dari bagian-bagian keputusan itu yang menguntungkannya. Saya rasa kita seharusnya tidak perlu terkejut,” kata David Israelite, NMPA.

Pada 21 Juni kemarin, juru bicara Spotify mengatakan pada MBW, “Menurut peraturan baru CRB, kami kelebihan membayar sebagian besar penerbit di 2018. Sementara banding keputusan CRB sedang menunggu penyelesaian, tarif yang ditetapkan oleh CRB adalah yang berlaku saat ini, dan kami akan mematuhinya—tidak hanya untuk tahun 2018, tetapi juga untuk tahun-tahun mendatang di mana jumlah yang dibayarkan kepada penerbit akan meningkat secara signifikan.

“Daripada segera mengumpulkan kelebihan pembayaran di 2018, kami menawarkan untuk memperpanjang periode pengembalian hingga akhir 2019 untuk meminimalkan dampak penyesuaian pada perusahaan penerbitan.”

David Israelite, CEO National Music Publishers Association (NMPA) yang secara konsisten dan terbuka mengecam banding CRB oleh Spotify, mengatakan pada MBW menanggapi permintaan Spotify untuk pengembalian uang dari penerbit, “Saya menganggap sangat munafik bagi layanan digital yang mengajukan banding atas keputusan CRB namun kemudian mengambil keuntungan dari bagian-bagian keputusan itu yang menguntungkannya. Saya rasa kita seharusnya tidak perlu terkejut.”

CRB menetapkan bahwa tarif royalti streaming tahunan di Amerika Serikat antara 2018 dan 2022 akan ditentukan oleh hasil tertinggi di salah satu dari tiga model yang berbeda: (i) persentase dari total pendapatan perusahaan streaming; (ii) persentase dari apa yang dibayarkan oleh layanan streaming ke label rekaman setiap tahun; dan (iii)  biaya tetap per pelanggan di AS.

Dalam peraturan baru yang disetujui CRB untuk pembayaran streaming, tertulis: “Family Plan akan diperlakukan sebagai 1,5 pelanggan per bulan, dialokasikan secara pro rata dalam hal Family Plan Subscription yang berlaku hanya untuk sebagian dari satu bulan kalender. Student Plan akan diperlakukan sebagai 0,50 pelanggan per bulan, dialokasikan secara pro rata dalam hal Student Plan End User yang berlangganan hanya sebagian dari satu bulan kalender.”

Minggu lalu, NMPA mengumumkan, industri penerbitan musik AS mencetak rekor penghasilan sebesar $3,33 miliar pada 2018, naik sebesar 11,8 persen YoY, dan naik 55 persen jika dibandingkan dengan 2014.

Keterangan Foto Utama: Spotify klaim memberikan kelebihan pembayaran royalti kepada penulis lagu, musisi dan publisher musik. (Foto: Google Images)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Spotify

Spotify Kini Hadirkan Fitur Playlist Dan Podcast Khusus Untuk Hewan Pe...

Pet Playlist (Foto: Spotify.com) Jika Anda pernah merasa bersalah karena harus meninggalkan hewan peliharaan Anda sendirian di rumah, Spotify mungkin mempun

on Jan 17, 2020
Spotify

Spotify Uji Coba Tastebuds, Cara Anyar Cari Musik Baru via Teman

Tidak ada cara yang lebih baik untuk menemukan musik baru selain mendapatkan rekomendasi dari orang yang selera musiknya kurang lebih sama dengan kita. Spotify

on Dec 24, 2019
YouTube Music

Yuk, Kenali 3 Fitur Playlist Baru YouTube Music!

YouTube Music semakin memanaskan persaingan dengan kompetitornya seperti Spotify dan Apple Music lewat peluncuran tiga playlist yang dipersonalisasi. Ketiga

on Dec 18, 2019

Genius Tuntut Ganti Rugi Rp 700 M ke Google atas Penjiplakan Lirik Lag...

Bulan Juni lalu, Genius - perusahaan media digital yang terkenal menyediakan lirik lagu - menuding Google menjiplak basis data liriknya. Sekarang, Genius menja

on Dec 11, 2019