×
×

Search in Mata Mata Musik

O.M – Mooner

Posted on: 01/20/19 at 5:41 pm

Rekti selalu diidentikan dengan The SIGIT, serta Absar yang juga menjadi bagian The SIGIT, mungkin membuat orang berpikir bahwa Mooner dan The SIGIT adalah sama dari segi aransemennya. 

Oleh: FEK. 

Apa yang membedakan antara Mooner dan The SIGIT? Sepertinya itu pertanyaan yang dilontarkan setiap pendengar The SIGIT.

Kali pertama mendengarkan beberapa lagu Mooner di album pertamanya, Tabiat, saya berpendapat, “Ini sih masih The SIGIT banget, terus ngapain bikin band lagi?” Kental dengan alunan stoner rock, band yang diperkuat oleh Rekti (The SIGIT), Absar (The Slave), Tama (Sigmun) dan Marshella,  mengajak pendengarnya untuk merasakan magisnya bunyi yang dihasilkan oleh sitar di album terbaru mereka. Elemen penting yang turut menyumbangkan nyawa ke album ini. Hal yang paling terasa beda adalah pada pembuatan lirik yang dilakukan oleh Rekti menggunakan bahasa Indonesia! Marshella sebagai vokalis dirasa pas dalam pengolahan nada-nadanya.

O.M dirilis dalam format CD dan kaset, tapi rencananya album ini juga akan dirilis dalam format piringan hitam dalam waktu dekat. Buat kalian yang suka ngoleksi kaset, rilisan kaset pita mereka dibuat dalam empat warna berbeda. Cocok banget buat dikoleksi! Tapi sayang, kurang dari 24 jam kasetnya sudah habis. 🙁

Oke, balik lagi ngomongin musiknya. Dalam album ini saya cukup senang karena eksplorasi yang digunakan berbeda dengan musik-musik The SIGIT. Ditambah dengan sentuhan alat musik seruling pada lagu “Menenggala” serta suara sitar di “Kelana” yang dimainkan oleh Asrie Tresnady, seorang seniman yang memperdalam alat musik tersebut di India. Bahkan kalian akan langsung mendengarnya pada lagu pertama dari album ini yang berjudul “Indo”.

Buat kamu yang suka menonton mereka secara live dan mendengarkan lagu-lagu di album Tabiat, pasti sering moshing, stage dive atau minimal headbang tipis di tempat kamu berdiri. Sedangkan untuk O.M, beat-beat cepatnya memang akan membuatmu menganggukan kepala tapi mungkin tanpa kalian sadari, jempol dan bagian badan kalian yang lain juga akan terdorongi untuk bergoyang layaknya nonton orkes melayu.

Lebih menarik lagi, pada lagu “Kama” dibuat menjadi nuansa timur tengah dan tentunya masih dengan sentuhan stoner rock. Keren! Suara Marshella juga lebih kuat dari album sebelumnya sehingga bisa mengimbangi riff dan lick gitar yang dilakukan Absar. Diksi-diksi dalam pembuatan liriknya juga cukup gila bahkan dari judul lagunya pun membuat saya harus membuka kamus karena penasaran apa makna kata tersebut.

Verdict: 8/10.
Tidak perlu berkata panjang lebar lagi. Ini adalah album yang cocok untuk menikmati Minggu sore bersama dua teman akrab saya, tembakau dan kopi hitam. 

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019
Jamie Aditya

Ulasan Album: LMNOPOP! - Jamie Aditya

Do you have soul? Oleh: Rio Tantomo. Terakhir kali saya berbincang dengan Jamie Aditya, dia mengaku mengidap Attention Deficit Hyperactivity Disorder (

on Sep 2, 2019
Keterangan Foto Utama: Kurosuke (kredit foto: @juuubar via @kurosuke.san Instagram account)

Kurosuke Rilis Little Joy dalam Format Video Musik

Mengajak banyak teman dan para musisi dalam sebuah pesta es krim Salah satu roster dari Berita Angkasa, Kurosuke yang merupakan proyek bermusi

on Aug 21, 2019

Ulasan Album: Grayscale-Diskoteq

Diskoteq, pertama mengetahui mereka lewat seorang teman. Dalam bayangan saya, Diskoteq adalah band elektronic disco yang sarat dengan keribetan perkabelan sana

on Aug 20, 2019