×
×

Search in Mata Mata Musik

Ozzy Osbourne “Ordinary Man”: Secercah Cahaya Dalam Kegelapan

Posted on: 02/27/20 at 11:00 am

Ozzy Osbourne "Ordinary Man": Secercah Cahaya Dalam Kegelapan
Cover album Ordinary Man oleh Ozzy Osbourne. (Gambar: Epic Records).

OZZY OSBOURNE
Ordinary Man
(2020, Epic/Sony)

Oleh Dharma Samyayogi

Fakta: Ozzy Osbourne kembali dengan album solo pertamanya dalam 10 tahun walau jalan menuju perilisannya setahun belakangan ini terasa sangat sulit. Menurut mbahnya heavy metal ini, doi mengalami tahun yang terburuk dalam hidupnya, namun akhirnya berhasil menemukan waktu yang tepat untuk merampungkan rekaman Ordinary Man.

Selama 2018, mbah Ozzy sempat menjalani “No More Tours 2”, tur perpisahannya, dan semuanya berjalan lancar sampai akhir tahun itu. Pertama, doi terkena infeksi Staph yang menggiringnya untuk dirawat di rumah sakit. Kedua, pada awal 2019, doi berjuang melawan penyakit pneumonia dan terjatuh secara fatal di rumahnya, sehingga memaksanya untuk menunda semua jadwal turnya di sepanjang 2019. Di luar semua itu, ternyata doi juga sedang berjuang melawan penyakit parkinson setiap saat yang doi ungkapkan baru awal tahun ini. Sebenarnya doi pertama kali didiagnosis dengan kondisi tersebut sudah sejak 2003. Doi pun kembali membatalkan turnya di tahun ini yang merupakan jadwal ulang dari tahun lalu.

Di tengah “neraka personal”-nya itu, Ozzy diminta menjadi bintang tamu di lagunya Post Malone, ‘Take What You Want’. Produser si Posty, Andrew Watt kemudian bekerja dengan Ozzy di album baru ini. Andrew turut bermain gitar untuk melengkapi formasi band pendukung Ozzy yang diperkuat oleh bassis Guns N’ Roses Duff McKagan dan dramer Red Hot Chili Peppers Chad Smith. Bersama Ozzy, ketiga musisi tersebut menghasilkan materi album yang ciamik dalam waktu yang terbilang sangat singkat. Di luar formasi tersebut, album ini turut melibatkan sederet gabungan artis muda dan tua yang “te-o-pe be-ge-te”, yakni Post Malone, Slash, Tom Morello, dan Elton John.

Kelebihan: Meski didera oleh gangguan kesehatannya, nyanyian Ozzy terdengar sekuat seperti biasanya di Ordinary Man. Tentu, mungkin ada sedikit hasil “sulapan” studio yang membantu hal itu walau suara Ozzy tetap menjadi salah satu keajaiban musik cadas yang paling sering diremehkan masyarakat ini. Kualitas vokal doi mungkin belum sejajar dengan sesama dewa metal seperti halnya Bruce Dickinson, Rob Halford, atau almarhum Ronnie James Dio, namun ada kualitas spesial yang seperti menghantui telinga gue dari suara Ozzy yang begitu distingtif.

Single pertamanya, ‘Under the Graveyard’ menangkap performa terbaik Ozzy, saat Prince of Darkness ini menyanyikan bait-bait bertempo sedang dengan garukan riff cadas dan petikan melodik nan cantik sebelum meluncurkan refrain yang cukup anthemic. Lirik lagu ini pun nampaknya ungkapan rasa sakit dan penderitaan Ozzy setahun belakangan ini, saat dia menyanyikan, “Hari ini gue bangun dan gue membenci diri gue sendiri / Kematian nggak menjawab saat gue menangis minta tolong”.

Trek pembuka album ini, ‘Straight to Hell’, sesuai judulnya, seperti langsung menggiring kita ke neraka menemui sang pangeran kegelapan. Sebagai salah satu musisi tamu, Slash telah memberikan kontribusi geberan riff dan sayatan solo gitar yang cukup catchy dan menonjol. Bisa sedikit menghibur kalian yang kecewa dengan ketidakhadiran Zakk Wylde dalam album ini.

Kemudian, lagu utama album ini yang berjudul sama, ‘Ordinary Man’ menampilkan vokal khas dan keterampilan bermain piano Elton John. Sebuah nomor balada sederhana yang tentunya diperkuat oleh fakta bahwa lagu itu menampilkan dua vokalis rock legendaris yang ikonik.

Musicianship di sepanjang album ini memang top-notch, dengan Duff McKagan dan Chad Smith berperan sebagai seksi ritem bersama Andrew Watt yang membuktikan dirinya sebagai gitaris sekaligus produser edan dengan hasil akhir sound megah yang menampar namun nyaman di kuping.

Kekurangan: Sebelum istirahat karena masalah kesehatannya, Ozzy sempat menyambut kembali gitaris Zakk Wylde untuk memperkuat formasi band turnya pada 2018, “No More Tours 2”. Zakk membawakan nuansa metal yang menggetarkan di atas panggung, dan tentunya cukup mengejutkan banyak fans ternyata Zakk nggak lagi menjadi bagian dari album baru Ozzy ini. Sebenarnya sejak album sebelumnya, Scream (2010), Zakk juga sudah digantikan oleh Gus G. Lagu-lagu di Ordinary Man memang keren, tapi terdengar terlalu bersih dan terlalu rapih, sebuah album rock yang sangat komersial layaknya Bon Jovi atau Poison, hehehe. Nggak ada yang salah dengan hal itu sih, tetapi alangkah lebih nampol jika sound-nya menjadi lebih kotor dan berat sebagaimana karakter sound gitar Zakk.

Kesimpulan: Meski Ordinary Man belum sehebat dua album klasik Ozzy, yakni Blizzard of Ozz dan Diary of a Madman, album ini telah naik kelas secara musikalitas dari album-album terdahulu seperti Black Rain dan Scream. Terdapat penulisan lagu yang kuat, baik secara musik maupun lirik, dengan banyak bagian chorus dan refrain yang infeksius di seluruh album. Yang patut diapresiasi lebih adalah fakta yang perlu digarisbawahi bahwa Ozzy rekaman album ini di usia 70 tahun, dan selama prosesnya, kakek ini diganggu oleh sederet masalah kesehatannya. Nampaknya masih ada secercah cahaya di sepanjang lorong kegelapan yang dilalui oleh Prince of Darkness.

Verdict: 8,5

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Jaggernaut

Stoner Rocker Juggernaut Mengajak Kembali Ke EP "Masa Pertengahan"

Jaggernaut. Setelah sebelas tahun, mini album Juggernaut dibangkitkan kembali oleh Rekam Jaya sebagai bagian dari program reissue dan dokumentasi arsip musi

on Oct 26, 2020
Kuasa

Selain Eksplorasi Secara Massif, Album KAUSA "Una In Perpetuum" Bertam...

Sebagai band yang berbasis heavy metal dan punk rock, KAUSA termasuk band yang gemar berpetualang secara musikal. Dan kini mereka menganalogikan diri merek

on Oct 13, 2020
Eddie Van Halen

10 Momentum Riff Terbaik Eddie Van Halen Di Sepanjang Karier Sang Guit...

Flying n' shredding bersama Eddie Van Halen. (Foto: Ebet Roberts, Redferns). Tanggal 6 Oktober 2020 menjadi hari yang suram bagi seluruh umat rock di planet

on Oct 8, 2020
Cliff Burton

Legenda Cliff Burton Akan Terus Hidup Di Hati Fans Metallica Selamanya

Foto yang menjadi cover depan buku otobiografi "To Live Is to Die: The Life and Death of Metallica's Cliff Burton" oleh penulis Joel McIver dan dipublikasikan

on Sep 28, 2020