×
×

Search in Mata Mata Musik

Paramore: ‘Begitu Sering Saya Ingin Keluar dari Band Ini’

Posted on: 08/25/18 at 6:26 am

Bongkar pasang personil, tuntutan hukum yang pahit, dan pertengkaran di publik membuat Paramore hampir tutup buku. Akankah band ini dapat tetap kompak seiring perilisan album terbesar mereka?

Oleh Sam Wolfson (The Guardian)

Keramahtamahan orang negara bagian selatan memang tidak dapat dipungkiri. Saat tiba di Nashville, rasanya seolah seperti saya baru saja menginjakkan kaki ke versi animasi sebuah acara live action. Semua orang yang saya temui menyapa saya dengan sapaan khas mereka yang membuat saya merasa disayang dan sedikit mabuk perjalanan. Saat berada dalam taksi dari bandara, saya mengatakan, “Cuacanya bagus,” dan supir taksinya pun menjawab, “Terima kasih, kami bermaksud membuat Anda senang,” seolah-olah penduduk setempat telah berunding dan setuju untuk membuat langit cerah dengan suhu 24 derajat. Di malam pertama saya mengunjungi bar murahan, seorang penggemar hockey yang sedang mabuk menaruh kedua tangannya di pundak saya dan bersandar sehingga hidungnya tepat di depan hidung saya. Saya yakin dia akan memukul wajah saya sampai dia berbisik: “Dengar, saya tahu kamu bukan orang sini jadi saya harus bilang, kamu harus mencoba sandwich bologna goreng, kamu tidak akan merasakan yang seenak itu.”

Hayley Williams, penyanyi utama Paramore dan satu-satunya personil yang tetap, pindah ke kota ini ketika dia berusia 13 tahun setelah ibu dan ayah tirinya bercerai. Selama fase pop-punk  awal band ini, dia dikenal karena warna rambutnya yang selalu berubah dan setelan Hot Topic. Tapi sekarang, dia tiba ke tempat makan siang mewah yang dipilihnya dengan rambut pirang platinum dan jaket kulit yang pas. Dia bisa dengan mudah dikira sebagai salah satu bintang country modern yang berduyun-duyun datang ke kota setiap tahunnya untuk melakukan rekaman di studio terkenalnya.

Paramore terbentuk ketika Hayley berusia 15 tahun. Sekarang dia sudah 28 tahun dan, pada dasarnya, tahun-tahun yang merintang tidak pernah mulus. Anehnya, untuk band rock yang terfokus pada ranah mainstream dengan latar belakang Kristen yang taat yang karya musiknya relatif tidak mengundang kontroversi, band ini tampaknya terus terlibat dalam beberapa pertengkaran internal yang besar; mustahil untuk menghitung banyaknya perselisihan dan bongkar pasang komposisi Paramore di laman kecil buku panduan.

Album keempat eponim mereka, yang dirilis tahun 2013, merupakan kesuksesan yang belum pernah terjadi sebelumnya: album tersebut menjadi No. 1 di AS dan Britania Raya,  mengamankan tempat mereka sebagai co-headline di festival di Reading dan Leeds, dan menganugerahkan mereka sebuah penghargaan Grammy untuk single “Ain’t It Fun”. Mereka menjadi salah satu band terbesar di dunia, namun sulit melupakan surat terbuka yang ditulis oleh mantan gitaris/pacar Hayley, Josh Farro, dan adiknya yang juga seorang drumer Paramore, Zac, di akun blog pribadinya di 2010 silam. Keduanya hengkang dengan mengutip sikap Hayley dan label band yang suka mengatur. Salah satu tuduhan yang paling menyakitkan adalah bahwa ayahnya [Hayley] “sering mengancam akan membubarkan band ini kalau kami mengeluh tentang apa pun, yang menunjukkan bahwa kami hanya sekadar orang suruhan … yang membuntuti ‘mimpi Hayley’”.

Personil yang tersisa – Hayley, bassist Jeremy Davis dan gitaris Taylor York – menghadapi kesulitan namun memberitahu Guardian pada waktu itu bahwa komposisi baru mereka “adalah yang terbaik yang mungkin bisa terjadi” dan bahwa mereka sekarang senang dan mantap sebagai suatu band. Tampaknya seolah-olah permasalahan mereka akhirnya akan berakhir dan era baru sebagai trio yang menang sudah dimulai.

Tapi semuanya tidak berjalan seperti itu. Dua tahun lalu, Davis keluar dari band dan belakangan ini sedang menuntut mereka di pengadilan federal untuk memperoleh bagian royalti dan pendapatan tour yang lebih besar. Dia mengklaim bahwa Hayley setuju bahwa ketiga dari mereka akan berbagi kepenulisan untuk keseluruh 17 lagu di album terakhir. Kenyataannya, Hayley dan Taylor lah yang ditulis sebagai penulis lagu di setiap lagu sementara dirinya hanya diberi kredit pada “Interlude: Holiday,” sebuah lagu banjo berdurasi 70 detik.

Taylor York masih bertahan di band ini dan, tujuh tahun setelah keluar, Zac Farro sekarang kembali bergabung. Keduanya mengikuti Hayley ke dalam restoran, dan saat kami duduk dan menyantap omelette dan membandingkan ketergantungan kafein, kamu tidak akan mengira pernah ada permusuhan di antara mereka.

Beberapa saat kemudian, adik terkecil Zac, Jonathan, menghubunginya melalui FaceTime untuk mengatakan dirinya punya bayi lagi. Zac tidak dapat mempercayainya. Dia pun berteriak. Dia memberikan ponselnya ke saya. “Selamat,” ucap saya. Dia kemudian memberikan ponselnya ke Hayley. “APRIL FOOLS!” teriak Jonathan dan semua orang tertawa. Itulah nuansanya di sini: orang-orang yang sangat nyaman dengan satu sama lain sampai saudaranya bisa menjebak mereka dengan berita palsu.

Paramore ‘Begitu Sering Saya Ingin Keluar dari Band Ini’-2

Lima bintang Paramore … Hunter Lamb, Josh Farro, Hayley Williams, Jeremy Davis, dan Zac Farro di tahun 2006 (Foto: Ralph Notaro/Getty)

Tapi, bagaimana bisa? Bagaimana kamu bisa begitu akrab dengan orang-orang yang pernah kamu hina secara umum setelah perselisihan besar? Surat terbuka Farro bersaudara menuduh ayah Hayley sebagai anggota band yang suka menindas dan mengecam Hayley karena menulis lirik yang tidak beriman. Apakah semua itu kebohongan belaka? Atau apakah Zac Farro berpikir semuanya benar pada saat itu namun hal-hal tersebut sudah berubah?

Dia menapik itu semua dengan mengisyaratkan bahwa dirinya tidak banyak terlibat dengan surat itu daripada kelihatannya. Zac yang baru saja menginjak usia 20 tahun pada saat itu agak menyalahkan kakaknya tersebut untuk apa yang terjadi. “Saya adalah orang yang sangat setia kepada keluarga saya dan saya mencintai mereka sampai mati,” ucapnya. “Saya mendukung Josh dalam banyak hal di mana saya tidak punya banyak suara seperti yang dia miliki … beberapa orang mengatakan saya hidup dalam bayangannya dan sekitar waktu [surat terbuka itu] keluar saya sedang menyadari hal tersebut. Bagaimana kami berniat meninggalkan band ini diutarakan dengan sangat berbeda.”

Dua anggota lainnya mengangguk dengan penuh dukungan, yang mengindikasikan bahwa Josh dan bukan adiknya yang memiliki masalah terbesar (mereka juga cepat menambahkan bahwa Josh sangat mendukung kembalinya Zac). Dan Zac juga mengaku merasa seolah kehebohan tersebut terjadi di kehidupan yang lain. “Itu seperti di tayangan podcast Serial. Kamu tahu yang pertama dengan Adnan [Syed]?” tanyanya. “Itu dimulai dan seperti: berusaha mengingat apa yang kamu lakukan ketika kamu remaja, berusaha mengingat apa yang terjadi pada jam 10:30 pagi di hari Kamis. Mustahil. Dalam seminggu, kamu lupa apa yang terjadi.”

Jadi mungkin permusuhan dengan Zac sudah menjadi kenangan yang jauh, tetapi memori keluarnya mantan bassist Jeremy Davis masih belum bisa dilupakan. Meski begitu, karena proses hukum yang sedang berlangsung, band ini mengatakan mereka tidak bisa membahas mengapa dia keluar, atau perselisihan royalti, dalam wawancara.

“Yang akan saya katakan adalah, kenyataan bahwa kami berada dalam gugatan hukum adalah omong kosong yang besar,” keluh Hayley. “Saya tidak merasa baik selama beberapa waktu; mungkin masih tidak.”

Taylor York mengatakan dia bahkan tidak merasakan kepergian Jeremy karena dia sangat terbiasa dengan rasa sakit Paramore. “Saya hanya mati rasa,” sebutnya. “Itu hanyalah drama lain dan contoh lain dari berada di suatu band dan itu menjadi sangat sulit, dan merasa buruk tentang kejadian itu. Kami punya pekerjaan yang paling keren tetapi mengapa harus begitu sulit?”

Saya bilang, tentunya itu tidak harus begitu sulit. Jika berada di Paramore membuatmu tertekan, kenapa tidak pergi saja selamanya?

“Oh ya,” ucap Hayley dengan mantap. “Dua tahun lalu saya tanya Taylor apakah kami bisa membuat band baru. Saya sangat muak dengan omong kosong ini. Saya bilang kita harus mencoba sesuatu yang baru dan dengan nama baru.”

Taylor mengangguk setuju: “Begitu sering saya ingin keluar dari band ini. Menghadapi semua permasalahan dan drama ini selama bertahun-tahun … Saya seperti: ‘Saya rasa kita bisa terus maju, tapi tidak ada artinya kalau kita tidak mau berada di sini.’”

Jadi, kalau dua personil yang tersisa ingin mengakhiri band ini, kenapa tidak terjadi? Tidak ada yang bisa memberikan jawaban langsung mengapa Paramore akhirnya memutuskan untuk membuat album baru.

“Sejujurnya saya tidak tahu,” kata Hayley ketika saya bilang pasti ada sesuatu, sebelum mencoba menjelaskan. “Untuk beberapa alasan, kami terus tampil dan terus menulis dan, sedikit demi sedikit, lagu-lagunya menjadi lebih baik dan kami menjadi sedikit lebih terinspirasi melakukannya.”

Lagu-lagu yang mereka tulis bersama tidak terdengar seperti iterasi emo sebelumnya dari band ini. Ada beberapa yang bisa kamu lihat sebagai perubahan ke arah yang lebih nge-pop di album terakhir tapi, hanya saja, lagu-lagu tersebut lebih terdengar seperti karya rock ’80-an dari Paul Simon dan Dire Straits. Namun album ini bukan campuran ’80-an yang murahan; lagu-lagunya merupakan lagu pop yang kaya dan pintar, yang banyak artis besar ingin bawakan. Terutama single pertama “Hard Times”, dengan dentuman drum ala Lionel Richie, vokal yang sangat berlapis dan breakdown ala Daft Punk, kamu bisa dengan mudah membayangkan menjadi lagu terbesar mereka hingga saat ini.

Meski dengan kembalinya teman lama mereka dan periode kreatif yang subur, saya frustrasi dengan kurangnya penjelasan mereka tentang apa yang sebenarnya terus menjadi salah. Walaupun judul lagu di album After Laughter: “Forgiveness”, “Fake Happy”, dan “Rose-Colored Boy”, dengan reff “biarkan saya menangis lebih lama lagi”, menunjuk pada sebuah band yang setiap hari harus berjuang.

Saya terus menekan mereka tentang apa yang merusak hubungan mereka. Ketahanan mereka untuk membocorkan cerita sebagian, saya pikir, karena mereka semua berasal dari kota ini, yang, setidaknya di publik, terlihat seperti tempat di mana kalau kamu tidak bisa mengatakan sesuatu yang baik sebaiknya kamu tidak mengucapkannya sama sekali. Terkadang, kebaikan orang selatan ini bisa menjadi batasan dalam diskusi tentang apa yang sebenarnya terjadi, sesuatu yang mereka akui pernah menjadi masalah di masa lalu.

“Kami tumbuh di lingkungan yang sangat konservatif,” jelas Taylor, “di mana kamu selalu memberikan orang lain ruang karena kamu tidak mau bermusuhan. Jadi, kalau sesuatu membuatmu marah, kamu tidak membicarakannya.” Tapi perubahan terbesar dalam hidup mereka adalah yang sangat jelas: usia. Perselisihan ke-10 atau ke-12 yang Paramore miliki terjadi ketika mereka remaja. Ketika seseorang tidak senang mereka cemberut atau, lebih buruknya, membawa permasalahan mereka ke media sosial pribadinya agar semua orang tahu. Kemarahan terbuka itu berperan besar dalam kesuksesan band ini dengan fanbase remaja mereka tetapi juga menjadi tanda bahwa mereka tidak memiliki sarana untuk menangani masalah.

“Apabila ada sesuatu yang tidak berwujud yang tidak dapat kami pahami yang berbeda dari album ini, saya rasa ada banyak penerimaan akan hal-hal yang tidak … bersinar,” kata Hayley. “Kita semua kehilangan hal remaja di mana kita mencoba berpegangan erat pada seseorang, tidak menyadari bahwa kamu mencekik mereka. [Ketika] kamu menjadi orang dewasa, kamu tidak lagi saling berpegangan erat, jadi semua orang dapat menunjukkan dirinya sendiri. Kami telah menghabiskan lebih banyak waktu berkumpul dan tertawa selama mengerjakan album ini dan menangis bersama tentang hal-hal yang terjadi yang kami tidak pernah selesaikan.”

Itu jelas merupakan proses yang masih dilalui mereka, bahkan dalam wawancara ini: pada saat ini, tempat ini telah dipenuhi dengan pesta calon pengantin dan kami pindah ke sebuah ruangan pribadi yang lebih sempit. Di situ mulai terasa seperti adegan di film Mean Girls di mana semua orang berbicara tentang perasaan mereka.

Terkadang, ketiganya akan kembali mengatakan betapa baiknya semua ini berjalan. Di satu waktu, Zac mengatakan: “Saya biasa berpikir, ‘Wow, masa depan terlihat sangat jauh’, sekarang saya seperti, ‘saya harap saya bisa terus mengikuti karena [masa depan] itu semakin dekat.’” Tapi di waktu lainnya, semacam kemuraman terjadi. Saya bertanya apakah mereka memikirkan tentang apa yang akan mereka lakukan ketika mereka kira-kira berusia 50 tahun, mengingat band ini adalah satu-satunya yang mereka tahu. Itu seperti mengejutkan mereka.

“Apabila saya membayangkan masa depan saya, itu sangat gelap,” ucap Taylor. “Saya hanya tidak bisa memikirkan itu di kepala saya. Saya tahu itu terdengar aneh tapi saya pikir saya punya cukup kecemasan dan ketakutan tentang hari esok atau bahkan siang ini.”

Tiga jam setelah kami pertama bertemu, ruangan ini terasa agak tegang. Mereka sangat menyenangkan dan baik hati dan berterima kasih untuk wawancara ini, tapi jelas bagi band ini jika ingin terus berkarya ke depannya mereka tidak bisa hanya berpura-pura segalanya berjalan dengan baik; mereka harus mengatakan apa yang mereka sebenarnya rasakan.

“Dulu, misi kami adalah membungkam orang-orang dengan apa yang kami ingin mereka lihat. Kamu tahu: ‘Sekarang kami bertiga, kami sangat baik-baik saja!’” kata Hayley. “Dan saya rasa kami tidak lagi benar-benar punya agenda tersebut. Anehnya, saya pikir kami sebenarnya berada di tempat yang lebih baik sebagai sebuah band daripada sebelumnya. Saya pikir dulu hal ini bisa membuat kami marah. Bukan karenamu, tapi karena membahas semua ini; tapi sekarang saya baik-baik saja. Ini hampir terasa seperti bukan masalah besar karena kami tidak begitu menentangnya.”

Tiba-tiba, mereka harus pergi. Mereka melompat masuk ke mobil Hayley dan berkendara selama empat jam ke Atlanta di mana mereka berhasil mendapatkan tiket konser Radiohead. Mereka tidak mengadakan acara pertemuan atau sebagainya ketika berada di sana. Hanya teman dekat yang pergi melihat konser. Esok harinya Hayley mengirimkan saya email, menceritakan tentang daftar lagu mereka di perjalanan dan betapa senangnya mereka. “Lagu “No Surprises” sangat keren didengarkan secara live,” tulisnya, “karena saya ingat mendengarkannya saat duduk di kursi belakang mobil Josh dengan Zac dan Taylor dan beberapa teman lainnya sekaligus menonton kembang api di hari kemerdekaan di 2003.”

Saat itulah saya mengerti mengapa mereka masih terus melaju dengan Paramore. Karena orang-orang yang masih ada di band ini, yang bersedia diwawancara dan menyelesaikan masalah, adalah orang-orang yang persahabatannya dapat menerjang apa pun yang menghadangnya.

 

Sumber: https://www.theguardian.com/music/2017/apr/22/paramore-wanted-to-quit-band-so-many-times          

Posted on April 22, 2017, 07:00 am

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Gimana Nasib Masa Depan Paramore

Hayley Williams Akui Tidak Tahu Arah Paramore Selanjutnya!

Sudah lebih dari dua tahun sejak Paramore merilis album terakhir mereka, After Laughter, dan hampir setahun sejak mereka terakhir menggelar pertunjukan live, d

on Aug 18, 2019
Hayley Williams

Hayley Williams Isyaratkan Materi Baru Paramore Atau Solonya?

Teaser yang diunggah di Instagram pribadi Hayley Williams tidak ada suaranya! Baca Juga: American Football Gandeng Hayley Williams di “Uncomfortably Numb

on Jun 24, 2019
Claire Elise Boucher Akan ‘Bunuh’ Grimes!

Claire Elise Boucher Akan 'Bunuh' Grimes!

Dalam wawancara dengan WSJ Magazine, artis asal Kanada ini juga membahas tentang Elon Musk dan rencananya mengeksekusi persona Grimes di hadapan publik. Ole

on Mar 25, 2019
Simon Wright Bahas Keputusannya Hengkang dari ACDC

Simon Wright Bahas Hengkangnya Dari AC/DC

Simon Wright mengatakan kehilangan antusiasme untuk banyak hal. Oleh: Redaksi Blabbermouth. Drumer Simon Wright, yang saat ini bermain di DIO DISCIPLES d

on Jan 7, 2019