×
×

Search in Mata Mata Musik

Paul McCartney: Beatles Nyaris Konser Penontonnya Dipisah Berdasarkan Warna Kulit

Posted on: 06/7/20 at 7:00 am

Paul McCartney.
Paul McCartney. (Foto: mageSPACE/Shutterstock).

Paul McCartney telah memposting pernyataan dukungan untuk berbagai protes demi keadilan rasial pada hari Jum’at lalu. “Kita semua perlu bekerja sama untuk mengatasi rasisme dalam bentuk apa pun,” tulis sang legenda The Beatles. “Kita perlu belajar lebih banyak, mendengarkan lebih banyak, berbicara lebih banyak, mendidik diri kita sendiri dan, terutama, mengambil tindakan”.

Musisi bergelar bangsawan Inggris itu juga menambahkan tautan ke gerakan Black Lives Matter, Color of Change, NAACP, Stand Up to RacismCampaign Zero, dan Community Justice Exchange.

Paul McCartney kemudian menceritakan sebuah konser di mana The Beatles dibooking untuk tampil di Gator Bowl di Jacksonville, Amerika Serikat (AS) pada tahun 1964, di mana penonton konser ini akan dipisahkan berdasarkan warna kulitnya. Kaget mengetahui hal itu, mereka langsung menolak untuk tampil. “Kami tidak pernah bermain untuk penonton yang dipisahkan dan kami tidak akan mulai sekarang,” ujar John Lennon saat itu. “Aku lebih baik kehilangan uang (upah) penampilan kami”. Konser ini akhirnya menjadi acara dengan penonton tidak terpisah pertama di wilayah itu. Sejak itu, The Beatles memasukkan klausul dalam kontrak mereka yang menjamin bahwa penonton mereka tidak akan dipisahkan berdasarkan golongan apapun.

Baca Juga: Little Richard, Sang Pionir Rock & Roll, Gurunya The Beatles Tutup Usia

Paul McCartney menjelaskan pendirian The Beatles dalam wawancara di tahun 1966. “Kami tidak berprasangka,” tuturnya. “Kami selalu tertarik dengan penonton yang rasnya tercampur. Dengan itu sebagai sikap kami, yang dimiliki oleh semua anggota, kami tidak pernah ingin bermain konser di Afrika Selatan atau tempat mana pun di mana orang kulit hitam akan dipisahkan. Itu bukan hal yang baik-baik saja; kami hanya berpikir, ‘Mengapa kamu memisahkan orang kulit hitam dari kulit putih? Itu bodoh, ya ‘kan?'”. Dan dua tahun setelah itu, Paul McCartney menulis sebuah lagu yang melodinya sangat anthemic, ‘Blackbird’ sebagai penghargaan untuk gerakan Civil Rights (Hak Sipil).

“Aku merasa muak dan marah karena kita berada di sini hampir 60 tahun kemudian dan dunia masih saja kaget dengan adegan mengerikan dari pembunuhan keji George Floyd di tangan rasisme polisi, bersama dengan banyak orang lain yang muncul sebelumnya,” tambah Paul McCartney di postingannya. “Aku menginginkan keadilan bagi keluarga George Floyd, aku menginginkan keadilan bagi semua orang yang telah meninggal dan menderita. Menutup mulut bukanlah suatu pilihan”.

Baca pernyataan lengkap Paul McCartney di bawah ini:

“Sementara kami terus melihat protes dan demonstrasi di seluruh dunia, aku tahu banyak dari kita ingin tahu apa yang bisa kita lakukan untuk membantu. Tidak ada dari kita yang memiliki semua jawaban dan tidak ada perbaikan yang cepat tetapi kita perlu perubahan. Kita semua perlu bekerja sama untuk mengatasi rasisme dalam bentuk apa pun. Kita perlu belajar lebih banyak, mendengarkan lebih banyak, berbicara lebih banyak, mendidik diri kita sendiri dan, terutama, mengambil tindakan.

Pada tahun 1964, The Beatles akan bermain konser di Jacksonville, AS dan kami mengetahui bahwa itu akan menjadi penonton yang terpisah. Itu rasanya salah. Kami berkata, ‘Kami tidak akan melakukan itu!’ Dan konser yang akhirnya kami lakukan adalah untuk konser dengan penonton tidak terpisah pertama mereka. Kami kemudian memastikan ini ada di dalam kontrak kami. Bagi kami, itu seperti akal sehat.

Aku merasa muak dan marah karena kita berada di sini hampir 60 tahun kemudian dan dunia masih saja kaget dengan adegan mengerikan dari pembunuhan keji George Floyd di tangan rasisme polisi, bersama dengan banyak orang lain yang datang sebelumnya.

Kita semua di sini mendukung dan berdiri di samping semua orang yang memprotes dan mengangkat suara mereka saat ini. Aku menginginkan keadilan bagi keluarga George Floyd, aku menginginkan keadilan bagi semua orang yang telah meninggal dan menderita. Menutup mulut bukanlah sebuah pilihan.

Cinta, Paul McCartney”.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

John Lennon LP & Mark David Chapman

Dilelang, Album Bertandatangan John Lennon Milik Pembunuhnya Buka Harg...

Sampul album LP Double Fantasy dan Mark David Chapman. Album piringan hitam (LP) yang ditandatangani mendiang John Lennon untuk pembunuhnya, Mark David Chap

on Nov 22, 2020
RABR

Mantan Band Tribute The Beatles, RABR Rilis EP Perdana Bernuansa Retro...

Pada hari Jum’at, 10 Oktober 2020, RABR secara resmi merilis mini album alias EP perdana dalam format digital melalui berbagai platform musik seperti Spo

on Oct 16, 2020
Pembunuh John Lennon

Pembunuh John Lennon Beri Pengakuan Baru Alasan Tindakan Kejinya

John Lennon. (Foto: Vinnie Zuffante/Michael Ochs Archives/Getty Images). Seorang pembunuh John Lennon pada tahun 1980, Mark David Chapman mengakui bahwa doi

on Sep 24, 2020
John Lennon

Yoko Ono Merasa John Lennon Bakal Jadi Rapper Jika Masih Hidup

John Lennon. (Foto: via YouTube). Sepanjang kariernya, legenda The Beatles John Lennon telah membuat segala macam musik dari lagu-lagu blues-rock hingga ins

on Aug 6, 2020