×
×

Search in Mata Mata Musik

Pearl Jam Prihatin Rasisme Bawah Sadar Dari Persekutuan Orang Kulit Putih

Posted on: 06/5/20 at 10:00 am

Pearl Jam.
Pearl Jam. (Foto: Danny Clinch).

Setelah pembunuhan tragis George Floyd oleh seorang perwira polisi Minneapolis di Amerika Serikat (AS), banyak calon sekutu kulit putih yang bergegas untuk memposting di media sosial tanpa memikirkan apakah menggunakan sebuah tagar atau berbagi meme adalah penggunaan terbaik dari hak istimewa mereka.

Baca juga: J Balvin Ajak Komunitas Latino Untuk Ikut Mendukung ‘Black Lives Matter’

Melihat geliat tersebut, sekarang Pearl Jam nampaknya menjadi salah satu band legendaris yang paling prihatin terhadap masalah rasisme ini, kini mereka telah memasuki wilayah abu-abu yang tidak nyaman, menginterogasi “rasisme bawah sadar” dari orang-orang itu sendiri dan sibuk mengurusi masalah yang terus-menerus tentang “suara-suara orang kulit putih yang mengambil alih narasi yang sedang sibuk dibagikan oleh komunitas kulit hitam”.

Dalam serangkaian cuitan/tweet singkat, para legenda grunge ini menyatakan bahwa “Pearl Jam dimulai dengan kecintaan kepada musik dan keadilan sosial”. Pernyataan itu kemudian berlanjut:

“Organisasi kami telah merenungkan di mana rasisme yang tanpa disadari masih muncul dalam kehidupan kita sendiri dan bagaimana kita dapat melakukan yang lebih baik. Sementara kami terus menggali, kami tidak ingin berkontribusi pada suara orang kulit putih yang mengambil alih narasi yang dibagikan komunitas kulit hitam. Adalah tanggung jawab kita masing-masing untuk mendengarkan dan mendidik diri kita sendiri tentang bagaimana menjadi manusia yang lebih baik dalam planet ini”.

Jalinan pesan itu diakhiri dengan “Possible starting point”: sebuah artikel berjudul “Performative Allyship Is Deadly (Here’s What to Do Instead)” oleh sang penulis dan penasihat keadilan sosial, Holiday Phillips. Holiday Phillips mengidentifikasi empat tanda bahwa gerakan di media sosial lebih sekedar performa daripada membantu: Itu singkat (beberapa kata atau gambar); itu mengekspresikan dirinya sebagai kemarahan atau ketidakpercayaan, seolah-olah tindakan rasisme mengejutkan daripada kehidupan sehari-hari banyak orang; itu tidak memiliki tanggung jawab pribadi, dan alih-alih menyalahkan masalah sistemik, itu mencari penjahat tertentu seperti satu polisi korup; dan terutama, itu disambut dengan pujian untuk orang yang mempostingnya. Holiday Phillips juga menawarkan saran untuk apa yang harus dilakukan, yang dapat kamu temukan dengan membaca artikelnya tersebut.

Baca juga: Adele Minta Kepada Fans Untuk “Marah Tapi Fokus” Saat Hormati George Floyd

Pada 10 Juni, Pearl Jam akan berpartisipasi dalam All in WA: A Concert for Relief COVID-19. Pada album terbaru mereka di bulan Maret lalu, Gigaton, para rocker kelahiran Seattle ini mengeksplorasi beberapa masalah sosial besar yang dihadapi masyarakat saat ini, termasuk membuat video yang bikin sadar perubahan iklim melalui lagu ‘Retrograde’ yang dibintangi oleh aktivis cilik asal Swedia yang berani, Greta Thunberg.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    For Revenge & Stereo Wall

    For Revenge & Stereo Wall Lebur Energi Emo Via Collab Single 'Jakarta ...

    Dua band yang dikenal sebagai pengusung gaya emo/modern rock, For Revenge dan Stereo Wall berkolaborasi dalam sebuah lagu yang menyatukan energi dan karakt

    on Mar 1, 2021
    Duff McKagan

    Album Band Punk Duff McKagan Yang Terpendam Sejak 1982 Akhirnya Dirili...

    The Living, Duff McKagan paling kiri. (Foto: Marty Perez). Di antara personel dalam formasi klasik Guns N' Roses (GN'R), Duff McKagan adalah member yang pal

    on Feb 25, 2021
    Grrrl Gang

    Grrrl Gang Bagikan Kisahnya Di Amerika Dalam MV 'Honey, Baby', Single ...

    Grrrl Gang. (Foto: Carkultera). Setelah lama enggak merilis musik baru, akhirnya trio alternative pop rock asal Yogyakarta, Grrrl Gang kembali menyuguhkan s

    on Feb 17, 2021
    BIAS

    Alt-Rocker Bias Angkat Kesetaraan Gender Via Single 'Selir Pemberontak...

    Bias. (Foto: dok. Bias). Semua orang enggak wajib jadi Feminis, tapi semua orang wajib jadi Humanis. Kesetaraan, keharmonisan, dan simbiosis mutualisme anta

    on Feb 1, 2021