×
×

Search in Mata Mata Musik

Suka Berburu Vinyl? Ini Perbedaan Antara Mono & Stereo!

Posted on: 08/13/19 at 9:00 am

Saat sedang melihat-lihat rilisan vinyl album rock populer 60-an, kemungkinan besar kalian akan menemukan perbedaan harga yang signifikan antara versi mono dan stereo dari album itu. Kenapa bisa begitu? Apakah yang satu lebih baik dari yang lainnya? Apakah perbedaannya penting?

Baca Juga: Vinyl Sumbang Sepertiga Hasil Penjualan Musik Fisik

Agar bisa sepenuhnya memahami perbedaan antara mono dan stereo, mari menggali rekaman monophonic yang mulai populer sejak sekitar 1948, tidak lama setelah phonograph mencuat ke permukaan. Dan stereophonic yang diperkenalkan ke publik kurang lebih 10 tahun kemudian.

Sejarah Monophonic & Stereophonic

Pada pertengahan abad ke-20 dulu, belum ada kaset, CD, apa lagi MP3. penggemar musik kasual yang ingin memutarkan sebuah album di rumah, pilihannya hanya vinyl. Untuk rilisan modern, kolektor vinyl mungkin harus memutuskan jenis piringan apa yang diinginkan. Apakah berwarna, bening, atau berwarna hitam pada umumnya.

Di 60-an dan 70-an, banyak kolektor yang mengalami dilema berbeda—apakah membeli versi monaural/monophonic atau stereophonic dari sebuah album. Mari kembali ke masa lalu dan melihat beberapa kemajuan teknologi besar yang dilalui rekaman vinyl untuk lebih memahami mengapa pilihan ini penting.

Pada tahun 1948, LP diperkenalkan ke dunia. Era membolak-balik piringan berisik setiap lima menit sekali pun berakhir. Itu adalah kemajuan yang monumental bagi pendengar musik, dan mengubah cara musik diciptakan dan dirilis. LP menunjukkan janji kemajuan dalam teknologi vinyl dan membuka jalan bagi lebih banyak perkembangan di masa depan.

Hampir 10 tahun kemudian, tepatnya tahun 1957, perubahan besar lainnya perlahan-lahan memasuki toko-toko kaset. Stereophonic, yang direkam menggunakan dua saluran transmisi dan reproduksi atau lebih, mulai dipasarkan, menjanjikan suara yang imersif dan kelebihan audio lainnya. Namun, tidak seperti perubahan drastis dari phonograph ke LP, penjualan album stereophonic tidak mampu menyalip monophonic selama lebih dari satu dekade.

Ada alasan di balik perubahan bertahap ini. Anggap saja, para kolektor dan engineer memasuki dunia yang lebih kompleks begitu teknologi stereo diperkenalkan ke konsumen. Untuk memutar rekaman stereo, kolektor awalnya memerlukan pengaturan khusus, atau mereka berisiko merusak peralatan dan album mereka. Di sisi produksi, ada kurva pembelajaran yang tajam dan biaya tambahan untuk merilis rekaman stereo.

Album yang awalnya dirilis pada periode ‘pancaroba’ antara tahun 1958 dan 1970—ketika banyak album diproduksi dalam versi mono dan stereo, dalam berbagai tingkat kualitas—memerlukan beberapa pertimbangan tambahan dari kolektor.

Bagi kalian yang tertarik dengan sejarah, ini mungkin salah satu era paling menarik dalam rekaman vinyl. Untuk memutuskan versi mana yang paling cocok untuk koleksi rilisan fisik, orang tersebut perlu mencari tahu bagaimana sebuah album awalnya direkam, di-mix, dan dirilis.

Perbedaan Rekaman Monophonic & Stereophonic

Perbedaan yang paling terasa antara mono dan stereo adalah pada sound-nya. (Foto: Google Images)

Pendengar biasa akan menyadari satu perbedaan utama dalam hasil rekaman mono dan stereo. Pemutaran audio di rekaman mono dianggap “terpusat.” Cara sederhana untuk menggambarkan ini adalah dengan membayangkan pengaturan mendengarkan musik dengan dua speaker—satu di sebelah kirimu, dan satu lagi di sebelah kanan. Lagu-lagu mono akan menghasilkan audio yang sama dari kedua speaker.

Sedangkan format stereo akan sering membelah suara, menggerakkan sinyal audio yang berbeda melalui speaker kiri dan kanan. Ini adalah teknik yang bisa lebih akurat menggambarkan bagaimana musik live diterima oleh pendengar.

Cara yang tepat untuk menggambarkan ini adalah dengan membayangkan orkestra yang direkam dengan mikrofon stereo yang ditempatkan di beberapa tempat berbeda di ruang pertunjukan. Dengan mencampur audio yang direkam mikrofon ini, seorang engineer dapat menciptakan suasana suara yang lebih menyelubungi rekaman.

Grey Area Secara Teknis

Menurut Larry Crane, pendiri Tape Op Magazine dan pemilik Jackpot! Recording Studio, ada grey area di antara mono dan stereo. Beberapa rekaman secara teknis tidak bersifat stereo meskipun diberi label seperti itu. Rilisan stereo terkadang memiliki satu mikrofon mono yang merekam setiap instrumen. Engineer kemudian dapat dengan mudah menggeser drum ke satu sisi, bass dan gitar ke sisi lainnya, dan memusatkan vokal. Ada juga teknik yang disebut “pemrosesan ulang untuk stereo.”

Seorang engineer bisa mengambil rekaman mono—mudah-mudahan dari kaset master—dan menyetel dua equalizer untuk membagi audio ke speaker kiri dan kanan. Atau, dengan memotong sudut lebih banyak lagi, para pendengar bisa menemukan campuran di mana gema stereo hanya ditambahkan ke lagu mono. Ini adalah teknik yang agak umum di 60-an, untuk para pendengar musik kasual.

Baca Juga: Mixmag Records Akan Rilis Koleksi Vinyl Pertama

Kenyataannya, metode ini secara teknis bukan stereo. Memang, menggeser instrumen atau menambahkan gema stereo akan menjadikan rekaman terdengar berbeda dari rilisan mono. Tetapi itu gagal mendapatkan hasil rekaman seperti menggunakan stereo asli. Ambiguitas ini memang nyata di sini, dan label “STEREO” di sampul album terkadang sangat mengecohkan.

Menurut Larry, ada juga pelopor stereo. Orang-orang seperti Bruce Swedien merekam rilisan jazz dalam versi stereo dan mono, bahkan ketika studio hanya ingin versi mononya saja. Bruce akhirnya mengerjakan beberapa rilisan besar, termasuk Thriller. Sejarah sekali lagi terbukti bisa menuntun keputusanmu. Mengenal beberapa pelopor stereo ini akan membantumu menemukan rilisan stereo awal yang luar biasa.

Perbedaan Persepsi

Sementara untuk perbedaan audio kualitatif, rilisan mono biasanya terdengar lebih gamblang dan memiliki lebih banyak pukulan, dengan instrumen yang sering “bersaing” untuk mendapatkan ruang dan berlapis di atas satu sama lain. Lagu-lagu stereo dapat memungkinkan lebih banyak “ruang,” memberikan ruang untuk vokal dan komponen kunci lainnya di pusat soundstage.

Kadang, kalian bisa merasakan apa yang ingin ditonjolkan sang artis dalam rilisan stereo dengan mendengarkan bagian yang menjadi ‘pusat ilusi’ soundstage. Larry Crane mengatakan “Menggeser berarti menciptakan ruang untuk apa yang penting di lagu, dan para artis dapat membangun dan menyampaikan maksud atau pesan dengan melakukan hal tersebut.”

Dengarkan perbedaan antara versi mono dan stereo di lagu “Lucy In The Sky With Diamonds” dari album fenomenal The Beatles di 1967, Sgt. Pepper’s Lonely Hearts Club Band berikut ini!

Versi Mono

Versi Stereo

Tidak dapat disangkal, ada lebih banyak nuansa dan kompleksitas yang tercantum dalam perbedaan antara rekaman mono dan stereo. Terutama melihat sampai ke akar sisi produksi, proses perekaman dan mixing berbeda tergantung pada lagu, engineer, masukan band, dan berbagai faktor lainnya. Tapi bagi konsumen akhir, ini sering kali bergantung pada urusan preferensi.

Perhatikan Beberapa Hal Ini Saat Membeli Rekaman Mono Atau Stereo!

Di zaman modern ini, kita sering menyia-nyiakan kenyamanan. Kolektor di 50-an dan 60-an harus tahu apakah pengaturan mereka dapat memutar mono, stereo, atau keduanya. Sekarang, pengaturan apa pun seharusnya bisa memutar rekaman mono dan stereo—jadi jangan beli rekaman mono atau stereo berdasarkan peralatan audio.

Baca Juga: Streaming Musik Ternyata Lebih Tidak Ramah Lingkungan

Band sering menyetujui versi mono atau stereo dari rekamannya dengan engineer sebelum dirilis. Ini adalah bagian dari sejarah yang biasanya bisa digali tentang sebuah rekaman. Namun setelah ini, band bisa saja keluar dari studio dan engineer akan membuat mix rilisan untuk output lainnya.

Mengingat pelajaran sejarah di atas, menciptakan kedua mix sering kali dilakukan di luar kepentingan konsumen—dengan peralatan pada saat itu, banyak kolektor hanya mampu membeli satu versi atau yang lainnya. Dengan demikian, itu juga merupakan teknik yang terkadang digunakan untuk lebih mengomersialkan album melalui perilisan ulang, selang beberapa waktu setelah musiknya direkam.

Ambil Piper At The Gates of Dawn, misalnya. Pink Floyd menyetujui perilisan mono awal untuk debut mereka di 1967, tetapi versi stereonya kemudian dibuat. Dengarkan betapa berbedanya bunyi versi mono dan stereo dari “Interstellar Overdrive.” Beberapa orang mengklaim, versi stereo yang menampilkan geseran tak menentu dari kiri ke kanan tidak akan mendapat persetujuan dari band.

Versi stereo Piper At The Gates of Dawn jauh lebih banyak didistribusikan, tetapi banyak yang berpendapat versi mononya lebih baik. Menyimpan kedua versi dalam koleksinya, Larry memuji “maksud yang lebih baik,” “energi terfokus,” dan “kekuatan” dalam suara versi mono. Jajak pendapat Steve Hoffman pun lebih condong ke versi mono, tetapi ada alasan kuat untuk menyukai salah satu versi di forum.

Cara mudah lainnya untuk memilih antara mono dan stereo adalah dengan mengikuti preferensi band tersebut sendiri. Hal ini menunjukkan maksud pencipta saat membuat album, representasi yang sebenarnya dari apa yang mereka coba sampaikan.

Namun tentunya ada keuntungan tersendiri kalau kalian memilih salah satu versi tersebut. Salah satunya, mungkin menemukan sesuatu yang lebih langka atau lebih berharga.

Berikut adalah beberapa petunjuk lain untuk membantu kalian memilih. Perlu diingat kalau beberapa poin ini sangat umum, dan pastinya ada pengecualian.

– Apa pun yang dirilis sebelum 1959 direkam pada saat stereo belum tersedia secara komersial, jadi rilisan mono akan menjadi yang paling akurat. Perilisan ulang apa pun dalam format stereo dibuat secara artifisial dan sering kali di bawah standar. Aturan umumnya, curigailah album versi stereo yang awalnya dirilis sebelum 1959-1960.

– Antara 1959 dan 1970, lebih baik melakukan riset tentang album terlebih dulu. Lihat maksud band saat menggali sejarah album. Kalau ragu, ikuti preferensi pribadi, atau pertimbangkan beli kedua versi untuk koleksi.

– Untuk apa pun yang awalnya dirilis setelah 1970, umumnya lebih aman memilih stereo.

Meski terkesan ‘jadul’, mono belum mati, lho! Bahkan kadang bernilai lebih dari versi stereonya. Larry menyebutkan beberapa cara baru bahwa mono bisa digunakan untuk merekam album modern, termasuk karya terbarunya di EP Mono Sunday State.

Buat yang suka berburu vinyl klasik, ada baiknya mencari tahu dulu perbedaan mono dan stereo.

Keterangan Foto Utama: Perbedaan vinyl mono dan stereo. (Foto via Fox News/iStock)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Interpol Umumkan Reissue Vinyl Album Keduanya, Antics

Interpol Umumkan Reissue Vinyl Album Keduanya, Antics

Album kedua klasik Interpol, Antics, merayakan ulang tahunnya yang ke-15 bulan depan. Band asal New York ini akan menandai peristiwa penting itu dengan perilis

on Aug 25, 2019
Massive Attack

Massive Attack Rilis Vinyl Mezzanine Versi Dub September 2019!

Versi digital yang di-remaster dari album Mezzanine juga tersedia Jumat depan, 23 Agustus 2019 dalam format 2CD dan digital. Baca Juga: Four Tet dan ‘3D’

on Aug 20, 2019
record store

7 Records Store Wajib Dikunjungi Di Singapura!

Jangan cuma datang ke Singapura untuk menikmati konsernya. Mengunjungi record store di Singapura bisa jadi kegiatan menyenangkan untuk dilakukan. Baca Juga:

on Aug 14, 2019
Motörhead Hadirkan Reissue Deluxe Overkill & Bomber di Box Set 1979

Motörhead Hadirkan Reissue Deluxe Overkill & Bomber di Box Set 1979

Tahun-tahun awal Motörhead akan kembali dihadirkan bertepatan dengan peringatan 40 tahun dua album klasik band, Overkill dan Bomber. Set ini juga berisi rekam

on Jul 26, 2019