×
×

Search in Mata Mata Musik

‘Perempuan Mati Di Bawah Jembatan’ Dirilis Ulang Oleh Yab Sarpote

Posted on: 04/29/20 at 9:00 am

Yab Sarpote.
Yab Sarpote. (Foto: Yab Sarpote).

Versi live lagu ‘Perempuan Mati di Bawah Jembatan’ menjadi lagu latar film dokumenter More Than Work (2019) karya Konde Institute bersama Ford Foundation dan Wikimedia Indonesia, sebuah film tentang eksploitasi tubuh perempuan dalam media. Empat tahun sebelumnya, lagu ini dinyanyikan pertama kali di panggung solidaritas untuk para perempuan korban dan penyintas kekerasan seksual pada 10 Mei 2015 di Titik Nol Jogja. Saat itu, puluhan orang hadir dalam acara yang diadakan untuk mengecam perampokan, pembunuhan dan pemerkosaan terhadap EM, seorang mahasiswi UGM. Pada suatu pagi, EM ditemukan sudah tak bernyawa di bawah Jembatan Janti, Jogja. Pelaku kekerasan tersebut adalah pelanggan angkringan milik EM.

Perempuan Mati di Bawah Jembatan oleh Yab Sarpote.

Data dari Komnas Perempuan menunjukkan, selama 12 tahun kekerasan terhadap perempuan meningkat delapan kali lipat atau setara 792 persen di Indonesia. Sepanjang tahun 2019 sendiri, terjadi 431.471 kasus kekerasan terhadap perempuan. Jumlah tersebut naik sebesar 6 persen dari tahun sebelumnya, yakni 406.178 kasus. Ini baru kasus yang terlaporkan dan tercatat. Kemungkinan besar kasus yang sebenarnya lebih banyak. Data ini menunjukkan betapa perempuan makin hari makin hidup dalam dunia yang tidak aman.

Kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan ini diperparah dengan cara pandang dan perlakuan mayoritas masyarakat yang bias gender terhadap korban dan penyintas kekerasan, khususnya kekerasan seksual. Para perempuan yang menjadi korban dan penyintas seringkali bukannya memperoleh pembelaan, perlindungan, dan dukungan, tetapi tuduhan dan pengambinghitaman (victim blaming). Para korban dan penyintas kekerasan seksual seringkali dipandang tidak dapat menjaga diri, tidak dapat berpakaian yang ‘sewajarnya’, dan tidak dapat memenuhi ekspektasi masyarakat dalam berperilaku. Kekerasan terhadap perempuan seringkali dimaklumi dan dicap bersumber dari kesalahan perempuan sendiri.

Dalam dunia yang mengancam seperti ini, perempuan, khususnya yang jadi korban dan penyintas kekerasan, harus berjuang sendiri untuk tetap bertahan. Korban dan penyintas kekerasan tidak hanya menghadapi trauma kekerasan dari pelaku, tetapi juga trauma kekerasan dari masyarakat. Maka, tak jarang para korban dan penyintas kekerasan mengalami depresi dan gangguan mental, bahkan memiliki tendensi bunuh diri.

Lewat lirik, nada, dan komposisinya, lagu ‘Perempuan Mati di Bawah Jembatan’ mencoba menafsirkan dan merepresentasikan ketertekanan dan ketertindasan perempuan dalam dunia yang menormalkan kekerasan berbasis gender ini.

Selama rentang 2015-2019, hanya ada versi live ‘Perempuan Mati di Bawah Jembatan’, versi yang dijadikan lagu latar film dokumenter yang telah disebutkan sebelumnya. Baru pada akhir 2019, Yab Sarpote memutuskan untuk merekam lagu ini secara serius dengan merangkul Rarya Lakshito (Cello) dan Sheila Maildha (Keyboard) untuk memperkaya lagu yang biasanya dibawakan hanya dengan gitar akustik ini. Hasilnya adalah rilis audio resmi saat ini.

Proses rekaman, mixing, dan mastering ‘Perempuan Mati di Bawah Jembatan’ dilakukan di Studio Jogja Audio School oleh salah satu engineer studio tersebut, yaitu Eta. Karya visual lagu ini didesain oleh desainer grafis asal Bulgaria, yaitu Davey David, sementara seluruh produksi dan pasca produksi video musiknya digarap secara mandiri oleh Yab Sarpote.

Paralel dengan hal tersebut, video musik lagu ini juga mencoba memvisualkan trauma, depresi, gangguan mental, keterasingan, dan tendensi bunuh diri (suicidal tendencies -Ed.) yang dialami oleh perempuan yang jadi korban kekerasan. Video musik ini mencoba merepresentasikan salah satu respons fisik dan mental perempuan setelah mengalami kekerasan seksual.

Audio lagu ini dapat disimak di iTunes, Spotify, dan platform digital lainnya. Sementara itu, video musiknya dapat ditonton di YouTube.

Sumber: Siaran Pers
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter