×
×

Search in Mata Mata Musik

Perjuangan Hayley Williams (Paramore) Secara Mental Selama Masa Karantina

Posted on: 04/29/20 at 10:30 am

Hayley Williams.
Hayley Williams. (Foto: Apple Music).

Setelah 16 tahun berperan sebagai pemimpin band emo-rock influental Paramore, Hayley Williams akhirnya akan merilis album solo debutnya, Petals for Armour. Seperti banyak artis lainnya, dia dijadwalkan untuk tur di Amerika Serikat (AS) selama musim semi dan musim panas mendatang, memulai fase baru dalam kariernya, tampil di depan ribuan penggemar, dan yang paling penting, melakukan apa yang paling dia jagokan dan sukai. Sebaliknya, Hayley Williams sekarang terpaksa menjalani masa karantina di rumahnya di Nashville, AS, mengatasi tidak hanya efek Covid-19 terhadap peluncuran album barunya, tetapi kesehatan mentalnya juga.

Baca juga: Hayley Williams (Paramore) Rilis Single Baru ‘My Friend’ Bareng Videonya

Vokalis dengan rambut oranye ini menderita penyakit depresi, PTSD alias gangguan stress pasca-trauma dan kecemasan. Hayley Williams telah menghabiskan hari-harinya dengan sebaik mungkin sambil membuat kue, memasak, dan mendengarkan musik. Tapi itu tetap bisa menjadi sangat sulit. “Jika aku bangun dan tidak menyalakan musik, yang aku tidak lakukan hari ini, aku bisa merasa sangat hampa,” ujar Hayley Williams. “Aku bisa merasakan pikiranku berantakan, dan aku mencoba untuk memahami keseimbangan antara berlari dari pikiranku sendiri ketika ada hal-hal baik yang bisa aku ambil dari mereka”.

Hayley Williams, yang meminum obat untuk kesehatan mentalnya, tidak perlu menambah dosis, tetapi dia telah mengonsumsi suplemen seperti magnesium dan Vitamin D selama krisis virus Corona ini, menurut laporan dari The Los Angeles Times. “Aku menggunakan obat Cortisol manager, yang merupakan penghilang stres yang hebat,” jelas Hayley Williams. Dia juga melakukan teleterapi dengan terapisnya di Nashville, yang sudah menjadi kebiasaan ketika dia sedang berada di Los Angeles untuk menyelesaikan albumnya. “Bahkan ketika aku tidak ingin melakukannya, yang aku tidak ingin lakukan minggu lalu, aku menyelsaikan terapinya dan aku suka merasa seperti ‘Oh, ya ampun'”, jelasnya, sambil menghela nafas lega.

Ini adalah masa yang genting bagi para musisi. Konser live, yang adalah sumber pendapatan utama bagi sebagian besar artis, hampir semuanya telah dibatalkan atau ditunda. Musisi yang terbiasa bepergian bersama dan bangun di kota yang berbeda setiap malam sekarang terjebak di rumah tanpa batas waktu, khawatir tentang konser mereka berikutnya, dan kasus terparahnya, mengkhawatirkan besok harus makan apa. Semua orang berjuang dengan ketidakpastian. Bagi mereka yang memiliki masalah kesehatan mental, stresnya dapat menjadi tidak terkendali.

Baca juga: Hayley Williams Rilis Single Solo ‘Roses/Lotus/Violet/Iris’ Menampilkan Boygenius

Dr. Courtney Grimes adalah seorang psikoterapis dan pendiri The Collective, sebuah program berdurasi delapan minggu yang berbasis di Nashville yang berpusat pada terapi kelompok. “Selama pandemi ini, aku melihat kecemasan orang-orang yang semakin parah,” ujar dokter tersebut. “Tur dibatalkan, sesi rekaman dibatalkan. Musisi takut bahwa mereka akan kehilangan basis penggemar mereka karena mereka tidak dapat melakukan konser atau sesi meet and greet. Mereka tidak bisa berada di sekitar siapa pun”.

Hayley Williams hanyalah salah satu dari sejumlah musisi lainnya yang semakin terbuka tentang masalah psikologis mereka. Di era media sosial ini, musisi semakin terbuka mengenai pengalaman mereka dengan masalah kecanduan, trauma, dan perawatan, membantu menormalkan percakapan seputar kesehatan mental.

Demi Lovato juga telah lama terbuka membahas isu ini dengan penggemarnya. Pada 2011, dia secara terbuka mengungkapkan bahwa dia didiagnosis menderita gangguan bipolar dan sejak itu dia harus berjuang dengan masalah kecanduan narkoba, penyakit bulimia, dan anoreksia.

Selena Gomez juga jujur ​​tentang kesehatannya, mengungkapkan bahwa dia telah mencari perawatan rawat inap untuk penyakit kecemasan dan depresinya.

Sebuah studi yang dilakukan oleh Record Union pada tahun 2019 melaporkan bahwa 73% dari musisi independen telah mengalami stres, kecemasan atau depresi “dalam kaitannya dengan penciptaan musik mereka”. Itu bahkan sebelum krisis Covid-19 terjadi.

Beberapa cara bagi para musisi untuk merawat diri selama pandemi, menurut terapis trauma yang berbasis di Nashville, Dr. Lee Norton, termasuk mengonsumsi kafein, gula, dan makanan olahan sesedikit mungkin, karena “mereka meradang dan memengaruhi pikiran dan emosi kita”, dan menghindari lebih dari dua jam penggunaan media sosial, televisi, dan video game per harinya.

Dr. Grimes juga menasihati pasiennya untuk “tetap terhubung sebisa mungkin, apakah itu melalui panggilan telepon atau video call Zoom. Aku punya beberapa kelompok yang pergi ke taman, membawa gitar mereka dan mereka hanya duduk melingkar. Mereka menjaga jarak dengan satu sama lain, tetapi mereka tetap bisa melakukan kontak dengan orang lain, yaitu melalui musik”.

Penerjemah: Mohamad Shabaa El Sadiq
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Lollapalooza

    Lollapalooza Festival Sediakan 1.200 Tiket Gratis Bagi Yang Mau Divaks...

    Crowdsurfing di Lollapalooza 2019 (Foto: Erika Goldring/FilmMagic). Lollapalooza, salah satu festival musik dan seni terbesar di Amerika Serikat (AS) sedang

    on Jun 12, 2021
    Konser Punk

    Konser Punk Di AS Jual Tiket $18 Buat Tervaksinasi, $1000 Yang Belum

    Crowd di sebuah Punk Rock Show (Foto: Melinda Oswandel). Konser punk yang satu ini termasuk hal yang baru. Seorang promotor konser di Florida, Amerika Serik

    on May 30, 2021
    Eric Clapton

    Eric Clapton Tangannya Mati Rasa 2 Minggu Pasca Divaksin AstraZeneca

    Eric Clapton (Foto: via Facebook). Eric Clapton belum lama ini dikabarkan gusar dengan vaksin Covid-19. Gitaris legendaris ini merinci pengalaman saat keseh

    on May 16, 2021
    James Hetfield

    Pentolan Metallica Skeptis Soal Vaksin, Dari Kecil Tidak Pernah Divaks...

    James Hetfield (Foto: Tim Mosenfelder/Getty Images). Ketika industri konser mulai terbuka lagi, pentolan Metallica, James Hetfield mengakui doi "sedikit ske

    on May 8, 2021