×
×

Search in Mata Mata Musik

Perlu Segudang Musisi Wanita untuk Selamatkan Musik Rock

Posted on: 12/4/18 at 10:30 am

John Harris mengungkapkan kegelisahannya mengenai kemunduran musik rock yang perlu diselamatkan oleh segudang musisi wanita.

Oleh: John Harris (The Guardian)

Ilustrasi oleh Nicola Jennings. (Ilustrasi: Nicola Jennings)

Ilustrasi oleh Nicola Jennings. (Ilustrasi: Nicola Jennings)

Salah satu album terbaik yang dirilis tahun ini berjudul Tell Me How You Really Feel. Album itu dibuat oleh Courtney Barnett, seorang penyanyi dan penulis lagu berusia 30 tahun dari Melbourne, Australia yang baru-baru ini disebut sebagai “millennial paradoksial terbesar.” Tulisannya segar, mengesankan dan penuh kejutan. Salah satu lagu terbaik dari album itu ditujukan kepada pria-pria jahil di internet, dan memiliki chorus yang memparafrase ucapan Margaret Atwood: “I wanna walk through the park in the dark/Men are scared that women will laugh at them … Women are scared that men will kill them.” Lagunya berjudul “Nameless, Faceless,” yang dari segi judul mirip dengan lagu Nirvana di 1991 “Endless, Nameless” – dan menonjolkan fakta bahwa salah satu inspirasi Barnett adalah mantan pentolan Nirvana, Kurt Cobain, yang pernah menulis tentang “kenyamanan dalam mengetahui bahwa wanita adalah satu-satunya masa depan dalam rock’n’roll”.

Baca Juga: Rhadoo Akan Rilis EP Pertamanya Sejak 2015 

Tulisan Kurt tersebut pada akhirnya mungkin menjadi kenyataan. September lalu, penghargaan tahunan Mercury dimenangkan oleh Wolf Alice, kuartet yang berbasis di London yang kreativitasnya tampaknya terutama didorong oleh gitaris dan penyanyi mereka, Ellie Rowsell. Setiap daftar musisi kontemporer yang melakukan hal-hal menarik dan ikonoklastik dengan musik rock harus dipenuhi dengan nama-nama wanita: Barnett, Rowsell, artis solo Amerika penentang genre St Vincent, grup Anglo-Perancis Savages, band wanita asal Brixton Goat Girl. Dan minggu lalu, ada berita tentang perkembangan luar biasa di akar musik: menurut produsen gitar Fender, 50% dari “pemain pemula dan aspiratif” alat musik ini di Inggris dan AS kini adalah wanita. Hal ini ternyata berkaitan dengan temuan penelitian di 2016, yang terkait dengan popularitas Taylor Swift di kalangan anak perempuan. Meskipun belakangan ini dia jarang terlihat bersama gitarnya, tren ini terus berlanjut. Ini tentu hal yang baik, dan akan lebih baik lagi kalau keseimbangan gendernya sedikit lebih berimbang.

Baca Juga: Bagaimana Seorang Biksu Abad 18 Ciptakan Musik Electronik


Goat Girl tampil di festival Green Man pada Agustus lalu. (Foto: Redfens/Andrew Benge)

Musik rock yang berbasis gitar kini beranjak menuju ke pertengahan tahun ’60-an, dan sebagian besar absen dari tangga lagu yang dulu pernah menjadi bagian besar dari bagaimana para eksponennya ‘mengadili’ nilai lagu-lagu tersebut. Di masa-masa yang buruk, ada perasaan bahwa sebagian besar musisi rock kehabisan permutasi kreatif, seolah kemungkinan yang ditawarkan oleh 12 not dan irama 4/4 telah habis terpakai. Bisa dikatakan, sulit memisahkan pertanyaan apakah rock masih punya sisa-sisa kehidupan di dalamnya dari segunung gagasan yang telah lama terikat dengan dominasi kaum pria, dan kenyataan bahwa kebanyakan dari gagasan tersebut kini telah terhempas menjadi klise yang tak bisa diharapkan. Bayangkan David Brent dari The Office memainkan lagu wajib ala Bruce Springsteen “Free Love Freeway,” dan kamu harusnya bisa langsung memahami bahwa hal-hal yang dulu tampak keren dan romantis – mobil dan wanita, celana kulit, Jack Daniel – kini terlihat tidak hanya ketinggalan zaman tapi juga sangat konyol.

Baca Juga: Travis Scott Gandeng Tame Impala dan John Mayer untuk Tampil di SNL

Tahun 1996 silam, penulis Joy Press dan Simon Reynolds menerbitkan buku brilian berjudul The Sex Revolts, yang dipuji sebagai “buku pertama yang memandang pemberontakan dan rock’n’roll melalui lensa gender.” Perihal pola dasar band, mereka menuliskan “kebahagiaan persahabatan kekanak-kanakan, potensi kekuatan dalam jumlah yang jatuh di tengah-tengah antara geng remaja dan formasi militer.” Setiap pria di usia tertentu yang gemar terhadap musik mungkin akan mengenali daya tarik hal-hal tersebut: setidaknya 25% dari koleksi album milik pribadi menyatakan demikian. Namun setidaknya selama 15 tahun, gagasan ini terus menurun. Satu-satunya grup asal Inggris yang besar dan setengah terpercaya yang masih mewujudkan hal-hal seperti itu adalah Arctic Monkeys (yang semakin kesepian); kalau mereka sedang tidak mengeluarkan musik, kamu akan ditinggalkan dengan band asal Inggris yang banyak diejek seperti Catfish and the Bottlemen, atau sederet rocker tua yang diketuai oleh apa yang orang zaman sekarang sebut sebagai The Rolling Stones.

Baca Juga: NakJoon dan Luna f(x) Berpisah di Video Teaser ‘Still…’

St Vincent tampil di Lollapalooza, Chicago. (Foto: WireImage/ Timothy Hiatt)

Sebaliknya, ada garis berbeda yang terpusat pada wanita yang terus menginspirasi tidak hanya musisi yang berprestasi tinggi tetapi juga orang-orang yang baru mengangkat gitar dan mikrofon untuk pertama kalinya. Awal mulanya berasal dari abu peninggalan punk rock, dan artis-artis pionir seperti Patti Smith, Siouxsie Sioux, The Slits, Poly Styrene dari X-Ray Spex, Chrissie Hynde dari The Pretenders dan Pauline Murray dari Penetration. 20 tahun setelah musisi berbakat tersebut tiba, aspek paling kreatif dari apa yang dijuluki Britpop diwujudkan oleh Elastica, kuartet dengan vokalis wanita yang musiknya penuh dengan konfrontasi dan kecerdasan – sementara di AS, zaman yang disebut-sebut sebagai ‘era grunge’ menyaksikan munculnya band-band seperti Babes in Toyland, L7 dan Hole, yang dikomandani oleh wanita yang ditinggal mati Cobain, Courtney Love. Di waktu yang hampir bersamaan, muncul riot grrrl dari Olympia, ibukota negara bagian Washington. Di antara tujuan-tujuan yang diakui para wanita, di tengahnya ada tujuan untuk membuat diri mereka didengar “di hadapan pria-pria ranah rock yang mengatakan kami tidak bisa memainkan alat musik kami”; impian riot grrrl akhirnya menginspirasi para provokator bangsawan asal Rusia, Pussy Riot.

Baca Juga: Skrillex Konfirmasi Nama Kolaborasi dengan JOYRYDE dan Albumnya Sendiri

Taruh semuanya di pusat sejarah musik modern, dan beberapa hal lainnya akan menjadi jelas. Sejauh ini, titel penulis lagu terkemuka asal Inggris dalam 20 tahun terakhir tentunya dipegang oleh PJ Harvey, yang tidak pernah henti mendulang prestasi penemuan yang mendorong batas kreatifnya. Berdasarkan kriteria yang serupa, hanya ada segelintir bakat modern yang lebih menarik dari St Vincent, alias Annie Clark, yang pendekatan terhadap instrumennya disimpulkan oleh mantan kolaboratornya sebagai berikut: “Semua pria biasanya hanya memainkan banyak not dengan sangat cepat. Tapi saat giliran Annie datang, dia menolak melakukan gaya main gitar yang jelas terlihat seperti onani yang dilakukan musisi kulit putih … Dia membuat bunyi-bunyi aneh. Seperti monster Loch Ness yang sedang melahirkan di dalam silo.”

Baca Juga: 10 Tahun Tanpa Rilis Album, The Raconteurs Kini Persiapkan Album Baru Mereka

Banyak musisi wanita yang sukses saat ini merasa tidak nyaman dengan siapa pun yang merendahkan gender mereka. Dengan alasan yang baik, beropini tentang hal-hal seperti itu – khususnya kalau kamu seorang pria – selalu berujung mendapat ejekan dengan kategori jurnalistik yang klise seperti “wanita dalam musik rock”, sebuah ide yang begitu gila sampai memiliki halaman Wikipedia-nya sendiri. Saya hanya bisa menulis ini sebagai seseorang yang memiliki keterikatan yang mendalam dengan suara yang dibuat dengan gitar dan drum, serta sedikit ketidaknyamanan tentang membuat opini yang bagaimana pun juga tampak sudah jelas: segelintir artis yang melakukan apa pun yang menarik dengan musik rock adalah artis wanita, dan kebanyakan dari hal tersebut dikarenakan oleh dua hal – tidak adanya testosteron, dan penghindaran naluriah dari segala hal yang berbau macho, yang kini hanya sekadar menjadi beban berat bagi industri rock.

Baca Juga: Inilah S#aFLA, Girlband Kpop yang Baru Mulai Debut

Artis yang sering diundang ke acara-acara festival sayangnya masih didominasi artis pria. Tahun lalu, The Guardian menemukan: di antara 370 acara yang terdaftar untuk satu malam di daftar situs web Ents24.com, 69% dari daftar penampil seluruhnya diisi oleh pria, hanya 9% yang seluruhnya diisi wanita (yang setengahnya adalah artis solo), dan hampir tiga per empatnya berisi band yang beranggotakan pria dan wanita yang diisi tidak lebih dari satu wanita di setiap bandnya.

Baca Juga: 7 Lagu Karya Idola K-Pop Untuk Penggemarnya!

Dan meski begitu: melihat para wanita rupanya semakin banyak yang mengerumuni toko gitar, penyeimbangan di musik rock mungkin akan segera menghampiri kita (meski terlambat), sesuatu yang juga diindikasikan dengan perkembangan di rumah saya sendiri. Seiring saya menulis artikel ini, anak perempuan saya yang berusia sembilan tahun sedang berlatih bermain drum: bunyi menakutkan yang rutin mengisi segala penjuru rumah, menenggelamkan musik apa pun dari zaman dulu yang saya dengarkan di lantai atas.

Keterangan foto utama: Debbie Harry dari Blondie. (Foto: Lynn Goldsmith/Google Images)

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

ice-t

Ice-T Bahas Keputusannya Mundur dari Panggung Rap

Menurut Ice-T, generasi lama hip-hop tidak akan pernah masuk rotasi lagi. Ketika diskusi tentang daftar rapper terbaik beredar di media sosial, banyak yang

on Oct 17, 2019
Coldplay

Coldplay Sebar Poster Misterius Sambut Album Baru

Rumor seputar album “eksperimental” Coldplay yang akan rilis akhir tahun ini sekarang diperkuat dengan poster misterius yang tersebar di São Paulo, Brasil

on Oct 17, 2019
Guns N’ Roses

Guns N’ Roses Cetak Sejarah di YouTube dengan “Sweet Child O’ Mi...

Video musik lagu ikonik Guns N’ Roses dari tahun 1987 itu menjadi satu-satunya video musik dari era ’80-an yang mencapai 1 miliar views.  Baca juga: Gu

on Oct 17, 2019
Queen

Queen Larang Donald Trump Gunakan Lagu Mereka dalam Kampanye

Band rock legendaris Queen mendesak Trump untuk tidak lagi menggunakan musik mereka, setelah “We Will Rock You” muncul di video kampanye baru presiden AS

on Oct 16, 2019