×
×

Search in Mata Mata Musik

Persatuan Energi Blues yang Membahana Jakarta

Posted on: 12/21/19 at 2:10 pm

Aksi akustikan Alex Band (The Calling) di JBIF 2019 (Foto: Yuta Anugerah)

Bertempat di Tennis Indoor GBK Senayan, Jakarta Pusat, gelaran Jakarta Blues International Festival 2019 (JBIF 2019) membuka gerbangnya tepat pukul 15.00. Usai satu jam dari open gate, penampilan pertama dibuka Kolken yang menggiringi tinggi semangat di Iconic Stage, panggung outdoor tempat penampilan sederet musisi-musisi lokal.

Selain Iconic Stage, ada juga Crossroad Stage dengan skala sajian mungil dan intim. Panggung ini mewadahi peserta One-Minute Blues Challenge (OMBC, perlombaan jamming blues online yang dimulai JBIF sejak 15 September lalu.

Di saat bersamaan, konferensi pers pun berlangsung bersama The Calling. Di luar ruang konferensi pers, keseruan Iconic Stage dilanjutkan oleh aksi panggung Mahir & The Alligators yang tampil bersemangat saat hari semakin gelap. Penampilan mereka menjadi yang terakhir sebelum break Maghrib.

Sebelum menyelesaikan set-panggungnya, Bumblefoot hadir ke hadapan awak media. Mantan gitaris Guns n’ Roses itu bercerita seputar rilisan terbarunya.

Baca juga: Jakarta Blues International Festival 2019 Guncang Ibu Kota Bulan Depan!

“Judul album dan single terbaru saya, Little Brother Is Watching, terinspirasi dari novel kenamaan Orwell, 1984,” ungkapnya. Bumblefoot juga menjelaskan pengalamannya dengan musik blues, “Saya besar di era 70-an dengan musik  era 70-an juga. Di era itu, gitar blues sangat mendominasi!”

Usai break, panggung Vintage Stage dan pengunjung serentak memenuhi area. Suasana sejuk di dalam terasa pas ketika The Calling naik panggung. Pada penampilan hari pertamanya, mereka memainkan set akustik yang intim. Penonton disihir gelombang nostalgia trek-trek andalan grup pop rock asal AS itu.

Sebelum set The Calling ditutup, Iconic Stage kembali berkoar. Langit gelap menjadi saksi bahwa umur tua bukan jaminan melempem di atas panggung, begitulah The Rollies. Dibantu beberapa anak muda berbakat, The Rollies melepas aksi-aksi cadas dengan melodi otentik.

Kembali ke ruang konferensi pers, nama paling ditunggu-tunggu pun hadir. Paul Gilbert pun hadir lengkap dengan tuxedo. Saat ditanya siapa musisi Indonesia favoritnya, dengan bangga ia menjawab, “Musisi paling favorit saya berasal dari negara kalian! Eddie Van Halen! Ibunya itu orang Indonesia!”

Setelah sesepuh musik The Rollies turun dari Iconic StageVintage Stage kembali kembali bersorak. Kali ini, Bumblefoot yang berbekal gitar 12 senar (double-neck), ia menggelar masterclass yang memukau. Berbagai ilmu yang ditumpahkan kerap dibalas kekaguman pengunjung.

Sesi Masterclass kembali dilanjutkan dan sekarang giliran Paul Gilbert. Teknik picking kilat khas hingga jilatan blues yang genit, semua ia paparkan. Pengunjung pun antusias mengulik aksinya, semua pasang mata tertuju pada gitar Gilbert dan sang rockstar melepas tiap nada dengan megah.

Sementara itu, pengunjung dari Vintage Stage langsung disuguhi blues ganas Arya Novanda, penampil terakhir Iconic Stage. Tampil dengan bandnya, Arya menyayat gitar secara galak—memuntahkan lick blues nan kasar dan nikmat.

Arya Novanda (Foto: Yusak Anugerah).

Keseruan tak hanya di sana, Crossroad Stage, yang sebelumnya diisi oleh Anov Blues One dan Gina & The Blue Rays, kembali digenjot oleh set sangat hangat What The Funk dan gemuruh rock Black Horses. Satria & The Monster didaulat sebagai penampil terakhir hari pertama di Crossroad Stage. Jajaran penampil tersebut membuat malam minggu di JBIF 2019 menjadi pengalaman yang sangat berkesan.

Sebagai aksi-aksi pamungkas di hari pertama, Adrian Adioetomo melepas set intim dan hangat di atas Iconic Stage. Delta blues mengalir deras dari gitar baja miliknya. Uniknya, ada rendisi ulang dari trek kenamaan grup punk/rockabilly Social Distortion, yakni ‘Story of My Life’ yang dibawakan di aksinya itu. Tentu, Adrian menyulap trek tersebut menjadi sebuah nomor blues yang kaya akan improvisasi.

Adapula aksi yang ditunggu-tunggu, Ken Hensley & Live Fire menjajah Vintage Stage. Duduk di balik kibor bergantian dengan gitar, Ken melahap semua telinga dengan permainan intens yang kerap diisi kebebasan improvisasi. Kepaduan dengan bandnya sudah pakem, dan penonton pun disuguhi hiburan tak terlupakan. Tak lupa juga teriakan solo Ken sembari membawakan sejumlah lagu-lagu lawas Uriah Heap, serta beberapa materi baru yang menjadi sajian pas untuk menutup hari pertama JBIF 2019.

Hari Kedua

Minggu, 11 Desember 2019, Tennis Indoor Senayan, GBK, Jakarta Pusat melanjutkan keseruan hari sebelumnya dengan gelaran Jakarta Blues International Festival 2019 (JBIF 19) hari Kedua. Enggan banyak membuang waktu, satu jam setelah gerbang acara dibuka, tepatnya pada pukul 16.00, Voxa langsung merebus semangat dengan nomor-nomor rock gahar gubahan mereka melalui panggung Iconic Stage. Diselipkan pula bumbu blues ke dalam beberapa solo gitarnya yang seraya menggaris bawahi musik akar tersebut sebagai tema yang diangkat.

Sama seperti sebelumnya, Crossroad Stage juga langsung menghadirkan sederet bakat-bakat segar yang terlibat dalam One-Minute Blues Challenge (OMBC), lomba jamming secara daring yang sudah digelar semenjak tanggal 15 September lalu. Melacak keseruannya lainnya, kita kembali lagi ke Iconic Stage. Voxa yang turun panggung langsung disusul oleh Edwin Marshall Project (EMP)—gitaris yang terkenal melalui aksi-aksinya bersama grup Cokelat. Dalam proyek solonya ini, Edwin membawakan lagu-lagunya sendiri yang jatuh dalam halaman rock dengan warna yang lebih 90-an di dalamnya.

Setelah penampilan dua nama “galak” di Iconic Stage, acara harus rehat sejenak untuk menyikapi Adzan Maghrib. Meski begitu, semakin malam akan semakin seru pula. Terbukti, pintu Vintage Stage yang baru dibuka langsung mengundang desak pengunjung yang hendak masuk. Terang saja, The Calling akan segera pentas, dan kali ini mereka tidak injak rem seperti hari pertama (akustik set). Alex dan band-nya tampil utuh dan maksimal. Dalam set tersebut, penonton dihibur dengan nomor-nomor klasik milik The Calling, macam “Adrienne” dan “Wherever You Will Go” yang disambut meriah.

Sebelum lagu terakhir dimainkan, gemuruh kecil terdengar dari luar. Ternyata, Satria & The Monster kembali. Tidak lagi main di panggung intim Crossover Stage, mereka bak menjajah Iconic Stage dan tampil megah. Alunan blues menyayat hari yang sudah gelap, kentalnya melodi-melodi giar membuat suasana menjadi hangat. Adapula penampilan Joey Lennon yang mampu “menculik” mereka yang ada di Crossover Stage ke era-era 60-an dengan komposisi lawas dan cover-cover lagu Beatles. John Lennon seperti hidup lagi di JBIF 2019.

Sehabis Joey Lennon, giliran Zigi Zaga yang naik ke atas panggung—memberikan warna berbeda di dalam gelaran JBIF 2019. Penonton yang baru beres menyimak The Calling pun tersangkut melihat aksi gila mereka. Lagu “I Got a Feeling” dari album debut mereka menjadi penutup yang panas, membuat semua menjadi lebih bersemangat.

Malam hari itu, nampak lagi keramaian yang mulai bergegas masuk ke dalam Vintage Stage. Banyak yang penasaran dengan set “intim” oleh legenda Ken Hensley (eks-Uriah Heep). Ya, di gelaran JBIF 2019 hari ke-2, Ken meluncurkan set solo yang menampilkan betul apa rasanya saat ia tengah menulis lagu. Set miliknya itu seperti mesin waktu, membawa semua yang menyimak ke era-era emas Uriah Heep dengan lagu-lagu seperti “Lady in Black”, atau dibuat terpana dengan lagunya sendiri macam “I Close My Eyes”.

Setelah menelah habis ramua-ramuan magis Ken Hensley, kita menapak keluar menuju Iconic Stage. MC acara tengah mengumumkan bahwa salah satu ujung tombak blues Indonesia era sekarang akan segera tampil di atas panggung itu. Siapa lagi, selain Gugun Blues Shelter (GBS)! Seberapa blues penampilannya sudah tidak perlu ditanya lagi—permainan gitar Gugun menjadi sensasi dengan sendirinya, mencuri perhatian pengunjung dengan lagu-lagu andalan. Set penuh ragam menjadi asupan semua; lagu-lagu yang injak rem, seperti “When I See You Again,” ataupun yang ngebut bak “Set My Soul On Fire,” GBS membawakan semuanya dengan performa tinggi.

Tak lama dari aksi GBS, Bumblefoot hadir kembali ke Vintage Stage dengan energi maksimal. Berbekal topi koboi dikepala, serta double neck ikoniknya, Jemari Ron “Bumblefoot” menggilla menggilas neck gitar dengan kecepatan dan flow yang sedap. Belum lagi kala ia memainkan neck fretless dari gitar andalannya itu.

Ron ‘Bumblefoot’ Thal (Foto: Yusak Anugerah).

Crossover Stage juga masih memiliki keseruannya sendiri. Ada Jaya Blues Band—band reguler Jaya Pub yang melegenda—yang membawakan musik blues siap-dansa. Disusul pula oleh aksi Electric Cadillac yang menawan untuk menutup dan mengemas Crossover Stage JBIF 2019.

Baca juga: Dari Paul Gilbert hingga The Calling, Mana Favoritmu di JIBF 2019?

Kembali ke Iconic Stage, Sudah waktunya untuk Blues Libre—grup blues lengkap milik Indonesia yang berisikan musisi lintas umur—untuk tampil dan melanjutkan semangat GBS. Namun, ada yang spesial di keutuhan set Blues Libre. Mereka turut serta menggaet dua musisi blues internasional yang handal. Shun Kikuta dan Mingo dari Spanyol diajak bermain bersama, dan menjadi aksi memorable. Persatuan melalui blues!

Hari yang semakin larut menandakan puncak acara sudah di ujung mata. Sebelum Blues Libre menutup aksi mereka, Area indoor Vintage Stage sudah dipenuhi para penonton, mereka rela menunggu di dalam. Jelas rasanya, Paul Gilbert sebagai headliner akan segera tampil full-band.

Paul Gilbert menjadi penampilan pamungkas JBIF 2019 (Foto: Yusak Anugerah).

Ketika eks-gitaris Mr. Big itu hadir, penonton yang antusias tak dapat lagi menampung soraknya. Langsung pula ia setir nuansa dengan permainan gitar intens yang sesekali menggila. Lagu-lagu dari album terbarunya, serta beberapa lagu ikonik Mr. Big menjadi spektakel tak terlupakan. Namun, sebagai penutup, Paul punya kejuta. Tanpa disangka, naik pula Bumblefoot ke atas panggung.

Paul menutup aksinya dengan sesi blues jamming bersama Bumblefoot, “saling adu” kebolehan  dari dua musisi handal itu membuat semua orang takjub. Lagu-lagu timeless seperti “Come Together” milik the Beatles, dan “Rock n’ Roll” karya Zeppelin ditunjuk menjadi hidangan penutup, mengemas rangkaian secara acara JBIF 2019 secara gagah!

Sampai bertemu di JBIF berikutnya, mengutip Gary More: so long but I’ve still got the blues for you!

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

JBIF 2019

Persatuan Energi Blues di Jakarta International Festival 2019

Diselenggarakan pada tanggal 7-8 Desember 2019 lalu, Jakarta Blues International Festival di area Tennis Indoor Senayan menampilkan berbagai aksi panggung kere

on Dec 23, 2019
Paul Gilbert dikenal sebagai gitaris handal tercepat di dunia, karena biasa memainkan lagu-lagu dengan kesulitan teknis yang relatif tinggi.

Dari Paul Gilbert hingga The Calling, Mana Favoritmu di JIBF 2019?

Rangkaian acara Jakarta Blues International Festival (JIBF) 2019 bakal dimeriahkan sederet bintang dari Paul Gilbert, The Calling, hingga Gugun Blues Shelter.

on Nov 25, 2019
JBIF 2019

JBIF 2019 Gelar Acara Pemanasan di Hard Rock Cafe Jakarta

Jakarta Blues International Festival 2019 akan digelar satu bulan lagi. Setelah mengumumkan kompetisi One-Minute Blues Challenge (OMBC) online pada bulan Septe

on Nov 6, 2019
JBIF 2019

Meriahkan JBIF 2019 dengan One Minute Blues Challenge!

Jakarta Blues International Festival 2019 membuka kesempatan bagi pecinta musik di Indonesia untuk ‘nge-blues’ secara online lewat One Minute Blues Challen

on Nov 4, 2019