×
×

Search in Mata Mata Musik

Pionir Skacore Waiting Room Hidup Kembali Via Reissue Album Debutnya

Posted on: 09/30/20 at 7:00 am

Pionir Skacore Waiting Room Hidup Kembali Via Reissue Album Debutnya
Waiting Room circa 1998. (Foto: via Facebook/Waiting Room).

Band veteran pengusung skacore (kombinasi ska, punk rock dan hardcore), Waiting Room telah merilis ulang album debut self-titled mereka tanggal 25 September lalu. Album yang pertama kali dilepas pertengahan tahun 1997 lalu ini di-repackage dalam format kaset dan CD oleh label rekaman Sabda Nada Records. Sedangkan diskografi album penuh Waiting Room, yakni Waiting Room (1997), Propaganda (1999) dan Music (2001) akan tersedia di berbagai layanan music streaming setelahnya oleh label rekaman Aquarius Musikindo (AQM).

Baca juga: Coriky, band punk proyekan Ian MacKaye, Joe Lally, Amy Farina Rilis Single Baru

Waiting Room Waiting Room repackage.
Waiting Room Waiting Room repackage.

Album debut Waiting Room sendiri merupakan album fenomenal pada era ledakan pertama gelombang band independen di pertengahan dekade 1990-an. Diproduksi secara independen, baik biaya maupun teknis, oleh para personil band, album debut ini mendokumentasikan fase perjalanan karier Waiting Room di saat membawakan konsep Skacore (Ska, Hardcore dan Punk). Band yang terbentuk pada 1994 ini awalnya menawarkan konsep band cover tribute to Fugazi (band post-hardcore asal Washington DC). Kemudian pada perkembangannya, bermutasi menjadi band Ska dengan mengambil pengaruh dari The Mighty Mighty Bosstones, Operation Ivy, Murphy’s Law, Madness dan The Specials. Nggak puas hanya membawakan lagu cover, Waiting Room lantas menulis lagu-lagu sendiri yang berhasil direkam dalam debut album ini.

Direkam di CMC studio di Jl. Dr. Saharjo, Jakarta Selatan (yang sayangnya sudah gulung tikar sekarang) oleh para personil yang saat itu beranggotakan Eka Annash (vokal), Lukman Laksmana (vokal), Irfanno Muhammad (gitar), Ivan ‘Ibob’ Riayatsyah (bass), Albert Kurniawan (gitar) dan Chandra ‘Ican’ Krisna (dram). Proses rekaman dilakukan selama kurun waktu sekitar enam bulan dari pertengahan 1996 hingga awal 1997 secara analog menggunakan pita reel 3,5 inchi. Dengan segala keterbatasan dan tanpa bantuan produser, album ini merupakan pengalaman rekaman profesional pertama untuk semua personil yang masih junior dan amatir. Di tengah proses rekaman pun gitaris Albert harus meninggalkan band untuk studi ke Amerika Serikat dan digantikan oleh Juan Rosyid.

Album debut ini akhirnya dilepas pada pertengahan 1997 dalam format kaset dan menjadikan Waiting Room sebagai band Ska lokal pertama yang resmi merilis album. Desain sampul albumnya adalah hasil karya dari seniman Motulz, termasuk membuat ilustrasi kartun ikonik Buaya yang menjadi sampul album, sehingga disebut album ‘Buayaska’ oleh penggemar, walau secara resmi hanya bertitel Waiting Room, sedangkan layout desain oleh Arian 13 yang saat itu masih menjabat sebagai vokalis Puppen, band hardcore seminal asal Bandung. Atas rekomendasi teman-teman dari Puppen, album ini juga didistribusikan oleh label rekaman asal Bandung Tropic Records dan berhasil terjual sekitar 10 ribu kopi.

Waiting Room menjadi salah satu band pionir yang memulai gerakan band independen di pertengahan 1990-an bersama nama legendaris lain sepeti PAS, Pure Saturday, Pestol Aer, Puppen, Cherry Bombshell, Burgerkill, Koil, Betrayer dan masih banyak lainnya. Deretan nama tersebut aktif menjelajah panggung underground dan pentas seni sepanjang dekade 1990-an mulai dari Poster Café Jakarta, GOR Saparua Bandung dan lainnya. Seperti yang kita tahu, genre musik Ska pun meledak di industri musik Nusantara di akhir dekade 1990-an dibawakan oleh band-band lain seperti Tipe-X, Jun Fan Gung Foo, Purpose, Gallery, dan lain-lain.

Waiting Room sempat merilsi dua album setelahnya, yakni Propaganda (1999) dan Music (2001) via label rekaman Independent Records (sub-divisi Aquarius Musikindo) yang berkesperimen dengan Funk, Jazz, Hip-Hop dan Pop sebelum akhirnya membubarkan diri pada awal 2003.

Pada akhir 2013, Waiting Room sempat melakukan mini reuni dan tampil di Rolling Stone Café, kembali membawakan konsep cover tribute to Fugazi. Hingga akhirnya di akhir 2019 lalu, dalam rangka perilisan katalog penuh album-album di bawah naungan Aquarius Musikindo via layanan musik streaming membangunkan kembali aktifitas band. Kemudian diputuskan untuk merilis ulang album debut ‘Buayaska’ yang sempat lama hilang dari peredaran.

Baca juga: Unit Hardcore Punk, Maio Rilis Single Tentang Fenomena Lingkaran Tidak Sehat

Sekali lagi, kami ingatkan bahwa album debut Waiting Room telah dirilis dalam format kaset dan digital pada tanggal 25 September 2020 dan untuk pertama kalinya dirilis dalam format CD di awal bulan Oktober 2020. Sedangkan katalog penuh album akan tersedia di berbagai layanan music streaming online segera di akhir tahun.

Ok, selamat mendengarkan album ‘Buayaska’ sambil skankin’ pogo!

Sumber: Siaran Pers
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Kuasa

Selain Eksplorasi Secara Massif, Album KAUSA "Una In Perpetuum" Bertam...

Sebagai band yang berbasis heavy metal dan punk rock, KAUSA termasuk band yang gemar berpetualang secara musikal. Dan kini mereka menganalogikan diri merek

on Oct 13, 2020
Turnamen Lagu Punk

Inilah Sang Juara Turnamen 24 Lagu Punk Rock Indonesia Terbaik 2020!

Ok guys, usai sudah, Turnamen 24 Lagu Punk Rock Indonesia Terbaik 2020 persembahan MataMata Musik yang digelar selama bulan September. Tibalah sa

on Oct 1, 2020
Time Bomb and The Gangs

Lewat 'One Roots', Time Bomb and The Gangs Ajak Bersatu Semua Perbedaa...

Time Bomb and The Gangs. Dari zaman ke zaman perkembangan musik rock cukup signifikan penyebaran dan pengaruhnya di dunia. Nggak sedikit musik ini melahirka

on Sep 29, 2020
Turnamen Lagu Punk

Turnamen Babak Final - NSFL Vs The Rang-Rangs Vs Uncle Bendoth. Vote S...

Vote dengan tulis di kolom komentar di bawah! Caranya gampang, login terlebih dahulu ke akun Facebook atau Twitter lo atau bikin akun sebentar di Disqus.

on Sep 29, 2020