×
×

Search in Mata Mata Musik

‘Plandemic (Narrow Minded)’ Cetus MOSI TIDAK PERCAYA Unit Metalcore Opportunist

Posted on: 12/23/20 at 11:00 am

'Plandemic (Narrow Minded)' Cetus MOSI TIDAK PERCAYA Unit Metalcore Opportunist

‘Plandemic (Narrow Minded)’ adalah single kedua band metalcore asal Pandeglang, Banten Opportunist yang dirilis pada tanggal 18 Desember 2020. Single baru ini, mereka kembali menyuarakan rasa geram dan protes kerasnya terhadap cacatnya aturan pemerintah seperti di single pertamanya, ‘Gutted’, yang dirilis Maret lalu.

Baca juga: Comeback Via ‘Wasting Time’, Kuartet Metalcore AFTERLIFE Menerjang Gerai Digital

Lagu Opportunist selalu bermuatan protes dan pemikiran yang berbobot. Seperti lagu ‘Plandemic (Narrow Minded)’ ini, menurut penuturan mereka, berfokus pada masalah yang oleh para oposisi narasi mainstream pandemi Covid-19. Pandemi yang diplesetkan menjadi “Plandemic” alias “pandemi yang terencana” secara singkat menceritakan tentang konspirasi mengenai tipuan yang dilakukan para saintis dan politisi tentang sistem kesehatan masyarakat dan industri farmasi dengan dalih kita harus mematuhi Protokol Kesehatan yang diberikan WHO. Sementara Protokol Kesehatan disalah gunakan oleh elit untuk memenuhi kepentingannya untuk menghidupkan kembali ekonomi perutnya sendiri dalam skala internasional.

Artwork single 'Plandemic (Narrow Minded)' oleh Opportunist.
Artwork single ‘Plandemic (Narrow Minded)’ oleh Opportunist.

“Band yang formasinya terdiri dari vokalis Ibnu SM, gitaris Rusmana, bassis Abdi MR, dan dramer Aditya Pratama ini menjelaskan panjang lebar:

“Sedangkan (Narrow Minded) artinya “berpikiran sempit”, sehingga kami menganalisa bahwa pandemic ini adalah ajang kompetisi elit sekaligus momentum penguasa untuk meraup keuntungan yang sangat rakus dan dangkal. Kadang kita tidak menyadari bahwa selama hampir satu tahun lamanya banyak sekali kejanggalan yang dilakukan oleh para saintis dan politisi yang berhasil mengecoh masyarakat dunia dengan Covid-19, jauh dalam pemikiran kami sebelumnya mengenai hal ini, percaya atau tidak bahwa ada schedule yang sengaja dibuat oleh sekumpulan babi rakus yang memiliki kepentingan bisnisnya sehingga mengakibatkan Ekonomi Global menurun drastis dan angka kematian melonjak naik dan masyarakat dunia telah banyak yang gugur atas tekanan psikologis ketakutan Covid-19 yang sangat berlebihan ini”.

“Dari beberapa kejanggalan yang dapat kami analisa sesuai fakta dan data di lapangan, kami melihat pemerintah berhasil dalam melakukan PSBB di berbagai daerah untuk memperlambat penyebaran virus agenda ini, dan meminimalisir angka positif di zona merah. Ada poin yang harus diambil dari PSBB ini, kasatnya seluruh aktivitas berhenti dan melanjutkan kegiatan WFH kadang tidak efektif”.

“Selain itu ada hal aneh mengenai Covid-19 yaitu dilakukannya penyebaran ketakutan oleh media-media yang selalu memberikan informasi yang seharusnya tidak perlu diberitahukan dan beberapa tidak akurat, tidak berguna selain untuk menakuti masyarakat dunia dan terutama di Indonesia”.

“Ada pun kejanggalan lain dari petugas kesehatan/tenaga medis yang akhir-akhir ini sangat menyayat hati melakukan perbuatan keji, jika melihat beberapa arsip video di lapangan yang diperlihatkan tentang penguburan jenazah Covid-19 dengan berbagai kesalahan yang dilakukan para tenaga medis, salah satunya seperti memanfaatkan jasad korban postitif Covid-19 dengan mengambil organ tubuh seperti bagian mata, ginjal, dan lain-lain, sehingga pihak keluarga hanya bisa melihat tanpa ikut menguburkan jenazah saudaranya, dan atas ketidaktahuan pihak keluarga, banyak sekali kejanggalan yang sangat fatal disalah gunakan oleh tenaga medis”.

“Di samping pandemic ada momentum yang sangat ditunggu oleh pemerintah itu di luar nalar dan kendali kami secara gamblang, yaitu dirumuskannya UU CIPTAKER oleh pemerintah, pemerintah menstimuluskan beberapa kebijakan seperti UU Cipta Kerja (Omnibus Law) disahkan di masa pandemi Covid-19. Pemerintah sangat memanfaatkan keadaan sekarang untuk membuat aturan kepentingan investor dalam melakukan bisnis yang mengutamakan perut penguasa. Contohnya seperti pembukaan lahan tanah di hutan adat Papua, Kalimantan, NTT, Sumatra dan masih banyak beberapa tempat lagi. Membuat program usaha industri yang nantinya akan meraup keuntungan yang besar tanpa memikirkan dampak terhadap masyarakat, seperti di NTT tanah adat Pubabu yang dirampas oleh perusahaan yang akan membuka lahan ternak dan membakar rumah-rumah warga yang masih bertahan di daerah tanah adat tersebut, kemudian hutan adat di Dayak yang dijadikan perkebunan kelapa sawit oleh investor dengan cara melakukan kerusakan alam seperti penggundulan hutan atau dibakar untuk tercapainya bisnis elit tanpa melihat dampak yang terjadi terhadap lingkungan masyarakat sekitar, dan kebakaran hutan yang terus terjadi setiap harinya hingga saat ini. Keindahan alam dulu sangat terjaga kini telah dirusak oleh setan tanah yang haus kekuasaan yang menginginkan keuntungan dirinya sendiri”.

“Keresahan kami selanjutnya terhadap keamanan negara yang sangat arogan dan brutal terhadap demonstran yang melakukan aksi mengkritik kebijakan pemerintah, bagi kami tindakan keji yang dilakukan oleh siapa pun itu orangnya harus diusut sampai tuntas. Apa yang kami lihat
pada para buruh, mahasiswa dan elemen yang lainnya begitu pun relawan-relawan lingkungan yang ikut menolak kebijakan UU Ciptaker (Omnibus Law) yang berdampak buruk untuk masyarakat Indonesia dengan beragam kecacatan. Dari proses perumusan awalnya saja berbagai masyarakat banyak yang tidak setuju namun EGO pemerintah yang tidak memikirkan keluhan masyarakat tutup telinga sangat rapat dan ambisius sehingga dengan ini pemerintah mudah menciptakan UU Ciptaker (Omnibus Law) di sela pandemi ini”.

“Sungguh miris melihat sikap yang diambil oleh para elit yang hanya melihat skala ekonomi saja namun secara ekologis mereka tidak memikirkan dampaknya. Maka kali ini kami menyatakan sikap
terhadap pemerintah dengan kata MOSI TIDAK PERCAYA melalui karya kami ini. Kami berupaya menyuarakan berbagai macam keresahan yang kami dapat selama kejadian ini berlangsung. Ini adalah kritik yang kami ungkapkan dengan nyata, dengan terang-terangan, dan dengan cara sebaik-baiknya yang dapat kami lakukan dengan merilis single kami yang
berjudul ‘Plandemic (Narrow Minded)'”.

Baca juga: Patrick Mameli (Pestilence) “Jerinx” Versi Death Metal Tolak Konspirasi Covid-19

Ok, kepalkan tangan lo di udara sebelum lo hanyut dalam moshpit yang brutal nan chaos bersama ‘Plandemic (Narrow Minded)’:

Sumber: Siaran Pers
Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Band yang Diboikot Disney

    15 Band Cadas Yang Diboikot Oleh Walt Disney Karena Alasan Yang Ironis

    Bagaikan molekul kimiawi yang berbeda, raksasa korporat Disney dan musik cadas bisa dibilang nggak diciptakan untuk saling bertemu dan bersatu, karena selama i

    on Mar 13, 2021
    Industri Hiburan

    Surat Terbuka Untuk Presiden Jokowi Tentang Lumpuhnya Industri Hiburan

    JogjaROCKarta Festival, salah satu ikon industri hiburan kota Yogyakarta. (Foto: dok. Rajawali Indonesia). Tidak terasa waktu berlalu begitu cepat. Setahun

    on Mar 3, 2021
    Heaven In

    Dari Bogor, Heaven In Muncul Dengan Single Eksplosif 'Kelam' Penghancu...

    Heaven In. (Foto: Agung Laluyan). Heaven In, band chaotic-hardcore asal Bogor, baru saja merilis single terbaru milik mereka yang diberi judul 'Kelam' pada

    on Feb 13, 2021
    Carnivored

    Wawancara CARNIVORED Tentang Kisah Di Balik "Labirin" dan Perubahan Mu...

    Carnivored. (Foto: dok. band). Tahun 2021 dibuka oleh gelegar cadas extreme metal album terbaru dari Carnivored, Labirin, yang dirilis oleh Lawless Jakarta

    on Jan 29, 2021