×
×

Search in Mata Mata Musik

Pop-Punk Kembali Berjaya Berkat ‘Crossover’ Hip Hop & Aksi Viral TikTok

Posted on: 05/10/21 at 10:30 am

Pop-Punk Kembali Berjaya Berkat 'Crossover' Hip Hop & Aksi Viral TikTok

Pop-punk sepak terjangnya mengalami lonjakan selama setahun terakhir dan kemungkinan seterusnya. Terbukti subgenre punk rock ini kembali merayap ke banyak tangga lagu populer. Meskipun tergolong musik arus pinggir, pop-punk mampu bersanding dengan lagu-lagu pop arus utama. Dan penetrasi terbarunya berjalan dengan baik walau setahun lebih tanpa konser live dan gelaran Warped Tour yang identik dengan scene hardcore/punk. Nama-nama baru dan lama pengusung pop-punk telah ‘pop-up’ dan melonjak dengan bantuan beberapa kekuatan yang tidak terduga.

Baca juga: Ketika Musik Hip-Hop Rap dan Rock Metal Kawin Hingga Melahirkan Anak

Kekuatan pertama adalah ‘crossover’ antara pop-punk dan hip-hop, yang telah mendorong pop-punk ke puncak tangga lagu. Single 24kGoldn fitur iann dior, ‘Mood’, yang memadukan unsur pop-punk dan hip-hop menempati posisi No. 1 Billboard Hot 100. Versi remix lagu tersebut pun fitur Justin Bieber dan J Balvin. Sementara di tangga lagu Alternative Airplay, All Time Low meraih peringkat No. 1 pertama mereka dengan single ‘Monsters’, yang menampilkan bintang hip hop blackbear dan bintang pop Demi Lovato. Lagu ini juga mencapai No. 18 di Top 40.

Travis Barker Biang Racun Pop-Punk

Itu bukan satu-satunya ‘crossover’ kedua genre tersebut yang memuncaki tangga lagu pada tahun lalu. Machine Gun Kelly (MGK), yang berawal dikenal sebagai rapper, telah membuat keputusan untuk banting stir direksi musiknya dengan merilis album pop-punk melalui bantuan dramer Blink-182 dan produser Travis Barker. Enggak hanya terdengar mirip banget dengan pop-punk awal tahun 2000-an seperti Blink-182. Album MGK berjudul Tickets to My Downfall itu juga mereferensikan band-band seperti Jawbreaker, Operation Ivy, dan My Chemical Romance. Perubahan corak musik album baru MGK itu ternyata mambawa dampak besar dengan mencapai peringkat puncak Billboard 200.

MOD SUN, yang ikut menyutradarai Downfalls High, film untuk album pemuncak tangga lagu MGK, juga beralih dari hip-hop ke pop-punk. MOD SUN, yang bernama asli Derek Smith, bergabung dengan band post-hardcore Four Letter Lie dan Scary Kids Scaring Kids sebelum merilis tiga album solo hip-hop. Tahun ini, doi mengeluarkan album pop-punk berjudul Internet Killed the Rock Star, yang menampilkan Avril Lavigne dan MGK.

Rapper Trippie Redd juga merilis album rock tahun ini, Neon Shark vs Pegasus, diproduksi oleh (lagi-lagi) Travis Barker. Enggak bisa disangkal bahwa Barker adalah pemain utama dalam gelombang pop-punk ini dan tumpang tindihnya dengan hip-hop. Album solonya tahun 2011, Give the Drummer Some, menampilkan Pharrell Williams, Rick Ross, dan Lil Wayne (yang kemudian melakukan tur bareng Blink-182). Doi mengerjakan EP dari Yelawolf, 03 Greedo, dan nothing,nowhere. Doi juga tampil di lagu-lagu Lil Nas X, XXXTentacion, dan Ghostemane. Benar-benar ‘gaoel’ nih Om Travis dan penebar racun pop-punk kepada para artis hip hop.

Fall Out Boy dan Band-Band Awal 2000-an

Band-band pembawa obor pop-punk seperti Fall Out Boy dan Paramore pun tetap populer. Bahkan di masa istirahat dan comeback, mereka selalu mampu membantu menarik audiens genre ini. Seperti reunian My Chemical Romance yang membuat album-albumnya terus keluar-masuk ke tangga lagu Billboard. Padahal album studio terakhir mereka dirilis lebih dari 10 tahun yang lalu. Dalam beberapa hal, sepertinya pengaruh pop-punk enggak pernah meninggalkan kancah musik pop.

Artis pop seperti Halsey dan 5 Seconds of Summer juga memiliki sedikit sentuhan pop-punk dalam musiknya. Tetapi lebih dari itu. Mereka berteman dengan artis beken di genre itu seperti All Time Low dan State Champs. Kemudian artis alternative pop seperti Billie Eilish dan Post Malone juga enggak jarang menggabungkan pop-punk dan hip-hop, di antara genre lainnya, ke dalam musik mereka. Serta si dynamic duo Twenty One Pilots, yang dalam banyak hal merupakan penerus band-band seperti Fall Out Boy dan My Chemical Romance, memiliki pengaruh hip-hop yang kuat, bersama dengan emo.

Relevansi pop-punk yang berkelanjutan sebagian disebabkan oleh sejarah panjang seringnya keterlibatan artis hip-hop sebagai tamu fitur di album pop-punk. Yaitu dalam bentuk kolaborasi lagu maupun konser live. Fall Out Boy, khususnya, telah banyak melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hip-hop. Berkolaborasi dengan artis seperti Wiz Khalifa, Big Sean, Lil Wayne, dan Jay-Z di sepanjang karier mereka. DCD2 Records (dulunya bernama Decaydance), label rekaman milik sang bassis, Pete Wentz bahkan mengontrak band rap-rock Gym Class Heroes, yang pentolannya, Travie McCoy, mencapai ‘ketenaran level pop’ dengan single tahun 2010-nya, ‘Billionaire’ yang menampilkan Bruno Mars. Di sekitar waktu yang sama, vokalis Paramore, Hayley Williams menjadi bintang tamu di lagu hit rapper B.O.B. ‘Airplanes’ dan sekuelnya, yang juga menampilkan Eminem. Lagu ‘The Only Exception’ dari Paramore juga muncul di radio berorientasi pop bersama dengan lagu ‘Airplanes’.

Emo Rap

Pengaburan pop-punk dan hip hop memuncak dengan munculnya emo rap, yang menjadi momentum pop-punk saat ini. Emo rap, selain memadukan rap dengan emo dan pop-punk dari pertengahan 2000-an, membuat emo bisa dicerna dan diakses oleh orang-orang yang enggak hanya terlihat seperti band emo di masa lalu yang sebagian besar laki-laki dan berkulit putih. Hal itu menunjukkan bahwa era emo arus utama (baca = mainstream) berdampak pada seluruh generasi musisi dan penggemar. Artis hip hop alias rapper seperti mendiang Juice WRLD, Lil Peep, dan XXXTentacion melonjak popularitasnya dengan mengambil dan bahkan mencicipi lagu-lagu pop-punk. Hal ini merevitalisasi satu genre dengan menerjemahkannya ke dalam genre lain yang lebih relevan: hip-hop.

Pop-punk, secara harfiah, adalah campuran musik punk rock dengan pop. Pop dalam konteks di sini adalah populer, genre apapun menjadi sesuatu yang lebih mudah dicerna dan diakses. Sejak pertengahan 2000-an, hip-hop telah menjadi salah satu genre yang menentukan era kita, mendominasi tangga lagu selama lima tahun terakhir. Artinya “pop” dalam pop-punk sekarang termasuk hip-hop. Sulit untuk membayangkan bahwa artis-artis ini akan mencapai kesuksesan ini jika gaya punk mereka enggak dicampur dengan hip-hop. Yah, ini kita bicara melalui kacamata pasar pop yang berorientasi ke pasar arus utama.

Pengaruh TikTok

Tetapi ada faktor utama lain yang berjasa membawa kembali pop-punk, dan itu menyebabkan banyak perubahan dalam industri musik. Yoi apalagi kalau bukan TikTok. Aplikasi video pendek TikTok telah merevitalisasi lagu-lagu hit dari tahun 2000-an dan 2010-an. Banyak di antaranya merupakan lagu-lagu dari band beken seperti ‘DONTTRUSTME’ dari 3OH!3, ‘All I Wanted’ dari Paramore, dan ‘Dear Maria, Count Me In’ dari All Time Low. Hal itu juga mendukung lagu-lagu baru, seperti ‘I Miss Having Sex but at Least I Don’t Want to Die Anymore’ dari band yang berdekatan dengan pop-punk Waterparks, yang bahkan enggak merilis lagu sebagai single. Namun kemudian menandatangani kontrak dengan label hip-hop 300 Entertainment. YUNGBLUD, yang karyanya menggabungkan unsur pop dan punk dengan genre lainnya, sering berkolaborasi dengan MGK dan Travis Barker, dan lagunya, ‘parents’ menjadi viral di TikTok awal tahun ini.

TikTok juga mencetak beberapa bintang baru. Jxdn a.k.a Jaden Hossler sudah beken banget terutama sebagai influencer TikTok sebelum doi merilis karya musiknya sendiri. Doi juga menggunakan pop-punk sebagai genre pilihannya, dipengaruhi oleh emo rap dan artis di seluruh spektrum, seperti Blink-182 dan All Time Low. Doi juga mendapat bantuan dari Travis Barker, yang telah mengontrak Jxdn ke label rekaman miliknya, DTA Records. Barker juga memproduksi bintang TikTok yang menjadi musisi, Nessa Barrett. Single-nya, ‘La Di Die’ juga menampilkan Jxdn. Gaya Nessa sekilas mengingatkan ke Avril Lavigne era awal. Memang goks manuver si Om Travis, punk rocker tampan nan tajir melintir (ape coba? haha -Ed.).

TikTok Mesin Nostalgia Pop-Punk

TikTok terbukti ampuh mengangkat dua hal yang membantu mengembalikan pop-punk, yaitu: nostalgia dan mempromosikan subkultur. Mesin ‘reminder’ bernama TikTok ini telah menyebabkan lagu hits masa lalu menjadi viral di kalangan generasi baru. Dari Fleetwood Mac hingga Arctic Monkeys. Pop-punk selalu memiliki basis penggemar fanatik yang kuat, meskipun enggak menjadi bagian dari budaya pop arus utama dalam dekade terakhir. Dan dalam banyak kasus, para penggemar tersebut juga telah membuktikan bahwa mereka bersedia tampil dalam kehidupan nyata, di luar TikTok. MGK baru-baru ini memainkan konser live di hadapan 5.500 orang. Tentu saja menarik reaksi publik yang beragam karena pandemi yang sedang berlangsung. Di TikTok, pengguna menyortir konten mereka ke dalam subkultur menggunakan tag, dan TikTok menyajikan konten itu ke khalayak luas, memungkinkan mereka untuk mendapatkan pengikut dan akhirnya menjadi viral.

Kombinasi hip-hop dan TikTok-lah yang sebagian besar bertanggung jawab untuk membawa pop-punk kembali menjadi sorotan. TikTok adalah aplikasi berbasis audio. Pengguna mengambil cuplikan suara dari postingan lain dan menggunakannya dalam video mereka sendiri, dan pengguna dapat mencari video lain yang menggunakan audio itu. TikTok juga memungkinkan pengguna untuk menggabungkan, menyambungkan, atau menambahkan suara atau cuplikan video. TikTok ini tentang pengambilan sampel dan remix, tetapi dalam bentuk audiovisual. Jadi, tidak mengherankan jika ini menjadi landasan peluncuran suatu musik. Terutama hip-hop dan pencampurannya dengan genre lain yang telah menemukan tempat yang alami di sana.

Hip Hop dan TikTok

Hip-hop telah lama dikenal gemar mengandalkan pengambilan sampel musik. Ketika artis hip-hop mulai mencicipi lagu-lagu rock dan metal, emo rap lahir. Musik emo dan TikTok berbagi target demografis, tentu saja remaja. Dan remaja saat ini telah tumbuh selama ledakan hip-hop arus utama. Lagu-lagu emo rap seperti ‘Death Bed (Coffee for Your Head)’ dari Powfu yang menampilkan beabadoobee, ‘Without You’ dari The Kid LAROI, dan ‘XO Tour LIF3’ dari Lil Uzi Vert adalah tag suara yang populer di aplikasi tersebut.

Setelah pop-punk keluar dari kancah arus utama pada akhir 2000-an, hal itu mengalami penyempitan, sehingga pengulangan yang terjadi di pertengahan 2010-an terdengar lebih mentah (lebih keras dan punk) dan kurang terpengaruh pop. Namun hal itu berubah dalam dua tahun terakhir. Album tahun 2020 milik Neck Deep, Stand Atlantic, dan Boston Manor, yang materi sebelumnya sangat sesuai dengan gaya pop-punk yang lebih “back-to-basics”, malah merilis album yang lebih eksperimental, memasukkan pop, elektronik, dan bahkan hip hop. Artis seperti Rivals dan DE’WAYNE termaskuk dalam pasukan yang melanjutkan trend ini. Mari kita simak single terbaru dari Stand Atlantic, ‘deathwish’ yang menampilkan rapper nothing,nowhere di bawah ini, bray.

Semakin Bongkar Batas Ras dan Gender

Generasi baru band pop-punk, seperti Pinkshift dan Meet Me @ The Altar, memiliki daya tarik yang lebih. Meskipun musik mereka lebih tradisional, lebih mentah, lebih punk daripada pop-punk, dunia Barat melihat mereka mewakili bentuk kemajuan yang berbeda dalam genre ini. Yaitu kedua band tersebut dihuni oleh personel yang berbeda secara ras dan digawangi oleh cewek. Sebenarnya soal ras dan gender juga bukan hal baru. Karena musik punk sudah digemari di seluruh dunia, berbagai benua, negara dan tentu saja ras dan gender. Apalagi di Indonesia. Yah, yang jelas turut senang rasanya melihat band genre ini yang mencuat dengan paket lengkap sebagai bentuk salam jari tengah kepada segala bentuk diskriminasi perbedaan. Punk as fuck.

Prediksi Ledakan Pop-Punk

Secara keseluruhan, ada poros besar untuk musik cadas di dunia pop, dengan album pop berfusi rock and roll-nya Miley Cyrus, Plastic Hearts dan album pop metal-nya Poppy, I Disagree. Doja Cat bahkan menampilkan lagu hit-nya, ‘Say So’ versi metal lengkap dengan band pengiring di panggung MTV EMA 2020.

Baca juga: Popstar Doja Cat Bikin Kejutan Dengan Performa Live Lagu ‘Say So’ Versi Metal!

Sulit untuk mengatakan ke arah mana fenomena ini akan terjadi. Apakah ini hanya ledakan pop-punk ataukah invasi rock sepenuhnya, dan siapa yang akan diuntungkan. Secara historis, band-band yang sukses di tahun 2000-an mampu mempertahankan momentum itu, tetapi lebih sulit bagi band-band yang lebih muda untuk menerobos.

Saat ini, demam rock masih terlihat hanya mendongkrak bintang pop dan hip-hop yang sudah terkenal sebelum membuat musik rock-nya sendiri dan mungkin bisa mencapai tingkat kesuksesan yang sama dengan album pop atau rap-nya. Jika ledakan pop-punk ini terus berlanjut, tentunya akan menarik untuk melihat artis baru mana yang muncul sebagai jawara selama era ini dan setelahnya.

Penulis & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Lil Baby

    Lil Baby & Lil Durk Tampil Prima Di Album Collab "Voice Of The Heroes"

    Lil Baby dan Lil Durk (Foto: Michael Thomas). Lil Baby dan Lil Durk sebelumnya memang sudah diantisipasi oleh banyak penggemar hip hop untuk melepas karya k

    on Jun 5, 2021
    Ramones

    Ramones 'I Wanna Be Sedated' Digubah Tenacious D Buat Kampanye Vaksin

    Jack Black / Kyle Gass / Amy Lee, via YouTube Ramones lagu-lagunya memang asyik buat di-cover. Contohnya Kyle Gass dari Tenacious D yang telah menggubah sal

    on Jun 5, 2021
    Bad Bunny

    Bad Bunny Nyanyi Bahasa Jepang Di Single Barunya, 'Yonaguni', Simak!

    Bad Bunny (Foto: via Twitter). Bad Bunny baru saja merilis single baru berjudul 'Yonaguni' pada Kamis malam, 5 Mei 2021. Kali ini sang rapper asal Puerto Ri

    on Jun 4, 2021
    Lil Loaded

    Lil Loaded, Rapper Muda Pelantun Hit '6locc 6a6y' Meninggal Bunuh Diri

    Lil Loaded (Foto: Prince Williams/Wireimage). Lil Loaded, rapper muda yang sedang menapaki jalan terang ke level kesuksesan berikutnya, meninggal dunia di u

    on Jun 1, 2021