×
×

Search in Mata Mata Musik

Post Traumatic – Mike Shinoda

Posted on: 06/24/18 at 6:06 pm

Di album solo debutnya, rapper dan produser Linkin Park berduka atas kematian teman satu band-nya Chester Bennington tapi tidak pernah menerjemahkan kesedihan itu ke dalam lirik yang jujur atau penulisan lagu yang diilhami.

Oleh: Stephen Kearse. (Pitchfork)

Pada 27 Oktober 2017, tiga bulan setelah tragedi bunuh diri Chester Bennington, para personil Linkin Park yang tersisa mengadakan konser penghormatan di Hollywood Bowl. Didukung oleh banyak musisi, grup ini membawakan lagu-lagu legendarisnya dengan kemarahan, kecemasan, dan kesungguhan khasnya. Rekaman live-stream dari pertunjukan itu berpindah-pindah dari para penampil, penonton, dan gagang mik yang tidak terpakai yang didedikasikan untuk Bennington, tapi sulit untuk tidak fokus pada rapper dan produser Mike Shinoda. Sinyalnya tampak memimpin setiap lagu, suaranya memperkenalkan sebagian besar tamu, senyumnya membelah tragedi yang mendasari acara tersebut. Dengan tidak adanya Bennington, Shinoda telah menjadi pemimpin de facto Linkin Park.

“Looking for an Answer,” lagu duka yang dia debutkan di acara itu, bergulat dengan tanggung jawab mendadak itu. “There’s an emptiness tonight/A hole that wasn’t there before,” gumamnya pada para penonton yang terdiam, sambil memainkan akor piano murungnya sendiri di atas panggung. Itu adalah momen yang rentan dalam pertunjukan yang sebaliknya tidak berperasaan, dengan Shinoda menangguhkan nada ‘hal ini tidak mungkin terjadi tanpamu’ untuk sebentar menjadi manusia yang hancur. Kesedihan itu menjiwai Post Traumatic. Pertama kali hengkang dari Linkin Park sejak proyek rapnya, Fort Minor, di pertengahan tahun 2000-an, Shinoda muncul sebagai artis solo. “Pada intinya, kesedihan adalah pengalaman pribadi yang intim. Karena itu, ini bukan Linkin Park maupun Fort Minor—ini hanya saya,” tulisnya pada perilisan EP Post Traumatic, awal mula tiga lagu album ini. Latar belakang murung ini memberikan Shinoda kesempatan untuk memperlihatkan jiwanya, untuk merincikan apa yang merayap di kulitnya sekali saja. Tapi itu tidak pernah terjadi.

Post Traumatic terasa impersonal dan jauh. “Somebody else defined me/Cannot put the past behind me/Do I even have a decision?/Feeling like I’m living in a story already written,” Shinoda meratap di “Place to Start.” Dia kemungkinan mengorek dendam yang jelek tapi nyata dari bayangan panjang yang dihadirkan oleh perjuangan Bennington melawan depresi dan kecemasan bagi grup ini—dan perannya sendiri dalam membentuk reputasi itu. Tapi lirik canggungnya ini juga bisa mengacu pada seorang eksekutif label atau anggota band lainnya atau fotografer pernikahannya. Subjek ini terasa jelas, tapi saat Shinoda terpeleset ke dalam kebencian diri yang bahkan lebih samar (“Pointing fingers at villains, but I’m a villain myself”), improvisasinya menjadi semakin kurang nyata, sebuah isu yang diperparah dengan vokal statisnya. Dia kesulitan berbicara dengan jujur.

“Over Again,” yang mendatangi kembali konser penghormatan untuk Chester, sedikit lebih konkrit. Dalam momen tajam yang langka, Shinoda menggambarkan paradoks berlatih lagu-lagu yang dia tulis bersama dengan orang yang dia dukai: “We rehearsed it for a month/I’m not worried ’bout the set/I get tackled by the grief at times that I would least expect,” rapnya. Ini adalah pengakuan yang jujur dan menyedihkan: suara Bennington adalah titik tumpu musik Linkin Park. Setiap latihan, setiap bridge, setiap lagu sekarang dirusak oleh ketidakhadirannya. Tapi reff-nya—“You say goodbye over and over and over again”—membuat sentimen itu menjadi tidak berguna lagi. Dan “Over Again” masih mengandung rasa malu: Sebelum dia membereskan risiko pengulangan, Shinoda melewatkan diskusi-diskusi sulit yang membawanya dan empat personil band lainnya, yang kesedihannya masih samar-samar di Post Traumatic, untuk mengadakan penghormatan tersebut.

Alusi tentang “Ghosts” juga sama tidak jelas. “This is not about you and me/I can’t bring back what it used to be,” nyanyi Shinoda, melanjutkan tradisi lamanya yang ketergantungan pada kata ganti (lihat: “They point the finger at me again”). Upaya untuk mengisi kekosongan membuat frustrasi. Kesengsaraan Shinoda penuh dengan siluet, bayangan, dan kegelapan, dengan tidak ada karakter maupun orang.

Ketika kata-katanya berhasil, Shinoda dikhianati oleh telinganya. Dengan sedikit pengecualian, dasar suara default Post Traumatic adalah lubang besar tak berdasar yang berisi bass dan snare. Berbeda dengan kesibukan produksinya di Linkin Park, estetika di album ini senggang dan halus, penuh dengan suara synth yang tidak menyenangkan dan key lamban yang bergema ke dalam jurang. Begitu sedikit yang terjadi sehingga kamu bisa menghitung sedikit variasinya: “Promises I Cant Keep” dan “Watching as I Fall” menampilkan beberapa sulih suara yang berkembang; “I.O.U.”  memiliki sirene; gitar elektrik dibunyikan bersama di “Make It Up as I Go.”

Hasil dari semua stasis ini adalah pasokan udara mati yang tidak ada habisnya, masalah yang Shinoda coba tangani dengan sering mengadopsi Auto-Tune dan efek vokal lainnya untuk menguatkan suaranya. Itu juga merupakan sebuah kesia-siaan: efek-efek tersebut membuat rap dan nyanyiannya tetap tidak hidup. “You’re the opposite of stars, like rats spelled backwards,” rapnya di “Lift Off.” Saya pikir bukan begitu cara membalikkan kata.

Sangat mengejutkan mendengar Shinoda kesulitan dengan elemen dasar penulisan lagu tersebut. Di masa kejayaan mereka, Linkin Park adalah kemenangan ekonomi dan kemewahan. Seorang DJ, seorang rapper, seorang bassist, seorang drummer, seorang gitaris, dan seorang pengembara seharusnya menjadi komposisi untuk lelucon bar yang lucu, tapi mereka menemukan cara untuk menjadi selaras. Dan meskipun mereka menjadi bagian terlucunya, bagi penggemar Linkin Park, leluconnya ada di orang-orang yang terlalu kaku untuk merangkul arak-arakan yang buruk namun menyenangkan dari band ini.

Di sepanjang Post Traumatic, kamu bisa merasakan betapa tidak tertambatnya Shinoda tanpa pertunjukan besar itu. Dadanya tidak terengah sejauh yang terjadi di Fort Minor. Komposisinya tidak meledak seperti karya terbaiknya untuk Linkin Park. Teman-teman band-nya tidak ada di sana untuk mengangkatnya ketika dia gagal. Dia terdengar terabaikan.

Keterangan foto utama: Post Traumatic – Mike Shinoda, Warner Bros 2018. (Foto: Google Images)

Sumber: https://pitchfork.com/reviews/albums/mike-shinoda-post-traumatic/
Posted on June 23, 2018

 

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Featured Cover Jasad

Jasad "5": Death Metal Album Of The Year

Cover mini album Jasad '5'. (Gambar: Rottrevore Records). JASAD5(2019, Rottrevore) Oleh Dharma Samyayogi Fakta: Jasad adalah salah satu sesepuh death

on Dec 17, 2019
10 Penjualan Album K-Pop Pria Terlaris 2019

10 Penjualan Album K-Pop Pria Terlaris pada 2019

Beberapa tahun ke belakang, termasuk 2019, penjualan album sangat sulit. Peristiwa ini terjadi di seluruh dunia. Akan tetapi, terdapat fenomena abnormal. Terny

on Oct 19, 2019

Persembahan Terbaru dari Mantra Vutura dan Elda Suryani

Single berjudul Bank of the River menjadi single keempat dari Mantra Vutura setelah single kolaborasi dengan Bam Mastro, Danilla, dan Luise Najib Mantra

on Oct 1, 2019
Dhira Bongs

Dhira Bongs Ajak Pendengarnya Berpartisipasi di Album Ketiga

Melalui crowd funding yang diadakan di kolase.com, Dhira ingin para pendengarnya menjadi Executive Producer di album ketiganya. Baca Juga: Mocca Rilis Si

on Sep 24, 2019