×
×

Search in Mata Mata Musik

Potensi Kehancuran Musik Indie Jika Trump Matikan Layanan Pos AS

Posted on: 04/18/20 at 9:00 am

Mr. Postman alias Tukang Pos. Keren ye pakai celana pendek.

Komunitas musik bisa “kelar” yang bakal menjadi jaminan kehancuran akibat salah satu keputusan impulsif terbaru Presiden Donald Trump. USPS (United States Postal Service) alias Layanan Pos Amerika Serikat (AS), yang sejak lama sangat diandalkan oleh record label dan record store independen untuk mengirimkan bagian terbesar dari pesanan vinyl, kaset, dan CD di AS dengan harga murah, kini pendapatannya kian mengering karena layanan antaran pos kelas satu (first-class mail) untuk perdagangan ini terasa menurun akibat pembatasan sosial selama wabah virus Corona.

Toko retail Metal Blade.
Brian Slagel, pemilik dan CEO Metal Blade Records di toko retailnya, Las Vegas. (Foto: Metal Blade Records Facebook).

Seperti yang The Washington Post laporkan, Trump menegaskan bahwa ia akan mem”veto” (hak konstitusional penguasa untuk membatalkan suatu keputusan/peraturan -Ed.) paket bantuan virus Corona (Coronavirus Relief Package) senilai US$ 2 triliun atau sekitar Rp 31 kuadriliun yang baru-baru ini diberlakukan jika termasuk di dalamnya dana darurat untuk USPS. Menurut House Democrats, paket itu hanya menyisakan cukup uang bagi USPS untuk berlanjut hingga September 2020.

Langkah yang diambil Trump ini menimbulkan keraguan atas masa depan utilitas publik yang — selain dituliskan ke dalam Konstitusi AS — telah terbukti USPS menjadi sarana krusial untuk penjualan musik. Menurut data dari Discogs, USPS menyumbang sebagian besar dari jutaan pengiriman domestik yang difasilitasi oleh pasar musik online setiap tahun, dengan 86 persen penjual AS menggunakannya untuk mengirim dalam negeri dalam beberapa minggu terakhir. Untuk barang yang lebih kecil seperti album rekaman (CD, Vinyl, Kaset), pengiriman paket di kantor pos biasanya jauh lebih murah daripada mengirimnya melalui UPS atau FedEx — terutama jika penerima mau menunggu USPS Media Mail, yang cenderung lebih lambat tetapi lebih ekonomis. Menurut pentolan band kawakan alternative rock Mudhoney, Mark Arm, yang mengelola gudang di Sub Pop Records, “Tanpa Media Mail, opsi pengiriman termurah kami tidak akan murah sama sekali”.

Paket Divebomb Records.
Paket-paket berisi CD dari Divebomb Records yang siap dikirim via USPS. (Foto: Divebomb Records Facebook).

Untuk toko rekaman independen, “mail-order” (pesanan antaran pos) telah memainkan peran yang lebih besar dan lebih besar karena penjualan musik telah bergerak secara online. Sekarang, dengan semua orang wajib tetap di rumah di seluruh negeri ini, mail-order menjadi satu-satunya cara toko-toko ini dapat melakukan bisnis.

Baca juga: Apple Music Siapkan US$ 50 Juta Untuk Label Musik Indie Korban Pandemi Corona

“Kami mengandalkan situs web kami untuk menjadi satu-satunya sumber pendapatan kami selama krisis ini, dan kami selalu menawarkan pengiriman gratis untuk semua pembelian di AS,” kata Jim Henderson, co-pemilik rantai toko independen di California, Amoeba Music. “Tidak memiliki akses ke USPS tentu akan menghilangkan kemampuan kami untuk melanjutkan penawaran pengiriman gratis, karena opsi pengiriman alternatif secara dramatis lebih mahal dan rumit untuk dinavigasi, dan kemungkinan akan mematikan bagian perdagangan situs web kami sepenuhnya”.

Amoeba Music Store.
Amoeba Music store di Los Angeles, California, surganya album musik fisik. (Foto: Amoeba Music Facebook).

Selain record store, antaran pos juga sangat penting untuk label independen, yang mengandalkan rekaman fisik sebagai lawan streaming. “Pesanan langsung merupakan jumlah dukungan yang meningkat untuk artis kami setiap tahun,” kata Sam Valenti, pendiri dan CEO label asal Brooklyn, Ghostly International. “USPS adalah pilihan utama yang dipilih penggemar untuk dikirimkan, dan tanpa kemampuan mereka untuk mempertahankan layanan, artis pasti akan merasakan efek negatif ini”.

Dampak dari setiap erosi kemampuan instansi ini mungkin akhirnya dirasakan paling akut oleh label kecil yang sering menemui jalan buntu. Marco Reosti, pendiri label punk asal Detroit, Salinas Records, mengatakan labelnya “benar-benar tidak akan dapat beroperasi tanpa USPS”. Manny Lemus, salah satu pendiri label asal New York, Citrus City, menambahkan, “USPS melakukan banyak hal untuk label yang lebih kecil dan benar-benar siapa saja dan semua orang yang menjalankan bisnis kecil”.

Iklan pesanan online vinyl dan t-shirt band hardcore lawas Gorilla Biscuits rilisan label indie punk hardcore, Revelation Records dengan online store-nya, RevHQ.com.

USPS tampaknya menjadi korban dari beberapa kekuatan politik yang berbeda. Salah satunya adalah dorongan pasar bebas konservatif selama beberapa dekade untuk memprivatisasi layanan pemerintah, upaya yang didorong oleh perombakan akuntansi era George W. Bush yang membuat USPS terlihat unik tidak menguntungkan.

Faktor lain dalam keadaan sulit USPS saat ini adalah perselisihan pribadi antara Trump dengan CEO Amazon Jeff Bezos. Presiden tampaknya keliru berpikir bahwa bisnisnya Bezos sedang didukung oleh USPS. (Pada kenyataannya, menghilangkan USPS justru akan membantu bisnis pengiriman swasta Amazon sendiri).

Stok vinyl gudang Amazon Music.
Stok vinyl di gudang Amazon Music. (Foto: CoS).

Yang paling menakutkan adalah kemungkinan bahwa, ketika Covid-19 dengan social distancing mengarahkan lebih banyak orang AS untuk memberikan hak pilihnya melalui surat, membuat USPS yang sedang “berjalan tertatih-tatih” ini dapat mengurangi harapan untuk pemilihan yang bebas dan adil. Pilpres (Pemilihan Presiden) akan digelar pada November mendatang.

Namun, masih ada harapan bahwa USPS akan selamat dari ancaman terbaru ini. Meskipun paket stimulus virus Corona baru-baru ini tidak termasuk hibah untuk instansi tersebut, legislasi terakhir memang menawarkan pinjaman U$ 10 juta atau sekitar Rp 155 miliar kepada USPS, yang menunggu persetujuan dari Departemen Keuangan AS. Tanpa pinjaman, perkiraan yang ditunjukkan kepada anggota parlemen mengatakan USPS bisa menjadi “tidak likuid secara finansial” hingga 30 September.

“Dengan semuanya ditumpuk dan membebani seluruh ritel independen sekarang, dan negara pada umumnya bergantung pada antaran pos lebih daripada tahun-tahun belakangan ini, tampaknya secara tak terduga bahwa pemerintah federal akan melakukan apa saja untuk lebih membebani bisnis dan warga negaranya,” kata Jim Henderson, Amoeba Music. “Tapi ini adalah waktu yang tidak dapat diduga, jadi… kurasa kita akan berharap bahwa logika akan berlaku”.

Sumber: Pitchfork (penulis: Marc Hogan)
Penerjemah & Editor: Dharma Samyayogi

Mata Mata Musik's Newsletter

    Related Posts

    Lollapalooza

    Lollapalooza Festival Sediakan 1.200 Tiket Gratis Bagi Yang Mau Divaks...

    Crowdsurfing di Lollapalooza 2019 (Foto: Erika Goldring/FilmMagic). Lollapalooza, salah satu festival musik dan seni terbesar di Amerika Serikat (AS) sedang

    on Jun 12, 2021
    Konser Punk

    Konser Punk Di AS Jual Tiket $18 Buat Tervaksinasi, $1000 Yang Belum

    Crowd di sebuah Punk Rock Show (Foto: Melinda Oswandel). Konser punk yang satu ini termasuk hal yang baru. Seorang promotor konser di Florida, Amerika Serik

    on May 30, 2021
    Eric Clapton

    Eric Clapton Tangannya Mati Rasa 2 Minggu Pasca Divaksin AstraZeneca

    Eric Clapton (Foto: via Facebook). Eric Clapton belum lama ini dikabarkan gusar dengan vaksin Covid-19. Gitaris legendaris ini merinci pengalaman saat keseh

    on May 16, 2021
    James Hetfield

    Pentolan Metallica Skeptis Soal Vaksin, Dari Kecil Tidak Pernah Divaks...

    James Hetfield (Foto: Tim Mosenfelder/Getty Images). Ketika industri konser mulai terbuka lagi, pentolan Metallica, James Hetfield mengakui doi "sedikit ske

    on May 8, 2021