×
×

Search in Mata Mata Musik

Flying Solo – Pamungkas

Posted on: 07/8/19 at 3:19 pm

Pamungkas, si pemberi rasa tenteram.

Oleh: Amien.

Lebih kurang dua tahun ini, saya menyimak dan juga mendengarkan musisi — solois atau pun band — baru di Indonesia, terutama di Jakarta. Saya cukup tertarik dengan banyaknya pemain baru yang bermunculan dan menghadirkan materi yang cukup beragam.

Satu nama yang belakangan bertahan lama di playlist Spotify saya yaitu Pamungkas. Awal tahu Pamungkas, atau sebut saja Pam (biar akrab!), direkomendasikan oleh seorang Music Director salah satu radio ternama di Jakarta. Rasa penasaran pun membuat saya langsung mendengarkan album perdananya, Walk The Talk.

Menariknya, jalur pop yang diambil Pam ini ternyata mampu memberi ‘kenyamanan’ di kuping saya.

Kalau boleh saya coba gambarkan, seperti Alex Turner, Jamie Cullum, dan Alexander O’Connor alias Rex Orange County sedang berada di satu panggung. Kurang lebih begitulah perkenalan saya dengan musik yang dihadirkan oleh penyanyi bernama lengkap Rizky Pamungkas ini.

Dan beberapa waktu lalu, Pam melepaskan Flying Solo. Album keduanya ini tidak dirilis secara fisik, seperti album pertamanya, entah untuk alasan apa. Berbeda dengan solois lainnya, seperti Kunto Aji, Bin Idris, Jason Ranti, atau Harlan Boer yang juga merilis albumnya dalam bentuk fisik. Tetapi mungkin ini menjadi strategi Pam untuk menyiapkan sesuatu ke depannya nanti, seperti merilis box set misalnya, atau hal berbeda lainnya.

Nuansa yang dihadirkan Pam di Flying Solo masih beririsan dengan album pertamanya tahun lalu. Dirilis pada Juni 2019, album ini terdiri dari 11 trek yang bisa dinikmati. Sama seperti album perdananya, Flying Solo dikerjakannya sendiri, dan dirilis di bawah label Mas Pam Records.

Ada sedikit perbedaan pada album kedua ini menurut saya, mulai ada beberapa lagu yang up-beat dengan sedikit nuansa R&B, seperti di “The Retirement Of U.” Suara synthesizer yang menghanyutkan pun menghiasi keseluruhan rangkaian lagu Pam di album ini.

Ada satu lagu berbahasa Indonesia yang cukup menyita perhatian saya yaitu, “Intro IV.” Pam seakan mengajak pendengarnya untuk sejenak merenung, sebelum akhirnya perjalanan Flying Solo berlanjut ke trek berikutnya. Sebaliknya, “Nice Day” mampu membangkitkan rasa optimis untuk menjalani hari-hari dengan lebih menyenangkan.

Setidaknya, nuansa ataupun rasa nyaman yang saya tulis di atas adalah apa yang saya rasakan pada album Pamungkas, Flying Solo.

Verdict: 8/10.
Album ini bisa jadi jawaban dari kebutuhan rasa nyaman yang kalian butuhkan.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

BABYMETAL

Ulasan BABYMETAL - Metal Galaxy, Penjelajahan Dunia Sonik Baru

Menggabungkan berbagai gaya musik, band asal Jepang ini menyajikan karya paling kreatifnya hingga saat ini, Metal Galaxy. Baca juga: Bagaimana Babymetal Uba

on Oct 11, 2019
Synchronize Fest 2019

Kolaborasi Misi Green Movement di Synchronize Fest 2019

Kampanye sustainability di Synchronize Fest 2019 mengambil tema “Memanusiakan Alam, Mengalamikan Manusia”. Baca Juga: Synchronize Umumkan Daftar Lin

on Sep 27, 2019
Hodgepodge Superfest 2019

Hodgepodge Superfest 2019 X Mata Mata Musik After Movie

Di gelaran keduanya tahun ini, Hodgepodge berhasil suguhkan pengalaman berfestival yang menyenangkan. Baca Juga: Prophets of Rage Tutup Hodgepodge Superf

on Sep 20, 2019
Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019