×
×

Search in Mata Mata Musik

Review Album Gorillaz, The Now Now

Posted on: 06/30/18 at 4:05 pm

Sumber: https://pitchfork.com/reviews/albums/gorillaz-the-now-now/

Posted on June 29, 2018

review-album-gorillaz-the-now-now

Sampul album Gorillaz, The Now Now. (Foto via Pitchfork)

Daya tarik isolasi mendefinisikan proyek terbaru Damon Albarn. Dengan hanya beberapa tamu di album ini, dia menuliskan lagu-lagu sederhana, yang kebanyakan bersemangat namun dengan kata-kata yang menunjukkan sebaliknya

Oleh Jazz Monroe (Pitchfork)

Di usianya yang ke-50, Damon Albarn masih menulis lagu untuk band kartun terpopuler di dunia karena dia percaya akan ide romantis bahwa grup yang menaiki tangga lagu internasional bisa mengubah dunia. Kartun adalah hal yang menarik bagi anak muda, yang menjadikan avatar multikultural sang ilustrator dan pendiri Jamie Hewlett—2-D, Russel, Noodle, Murdoc yang “dipenjara”, dan bassist Ace—seperti kuda Troya untuk jenis politik yang orang-orang tidak ingin dengar dari kaum miliarder. Album-albumnya berkisar dari protes ekosentris hingga playlist pesta distopia, yang semuanya penuh dengan pesona dan pengaruh artistik Albarn dan sejumput perhitungan, seolah-olah album-album itu diproduksi oleh ahli budaya pop yang ‘hippie’.

Sulit untuk tidak menyukai seseorang yang mahir secara melodi seperti Albarn, atau sangat terang-terangan menyukai karya mereka. Di The Now Now—album kedua Gorillaz dalam dua tahun ini, dan album keempat Albarn dalam lima tahun—dia menuliskan lagu-lagu sederhana, yang kebanyakan bersemangat dengan kata-kata yang menunjukkan sebaliknya. Terlepas dari konsep hebat mereka, ini adalah album yang paling tidak ambisius dan paling sederhana dalam beberapa tahun: ditulis pada saat tur, dikerjakan oleh Albarn dan Hewlett di studio mereka, dan direkam dalam jangka waktu sebulan. Ini adalah, seperti yang dikatakan band ini, album solo oleh karakter Albarn, 2-D. Bagi yang kurang imajinatif, album ini terdengar seperti saluran musik funk yang mengambang, psych-pop yang ceria, dan disco kelas atas yang mungkin menjadi soundtrack hari libur yang Albarn jarang miliki.

Ketika Gorillaz mengeluarkan album yang luar biasa, itu biasanya berkat sejenis kemewahan sarkastis, seolah mereka didikte oleh seseorang yang sedang bersantai di kursi pinggir kolam renang dan tidak mau menaruh iPad-nya. Meski ketika mereka dalam formasi, ada sesuatu yang kurang tepat dari versi pop mereka. Album ini dibuka dengan “Humility,” yang terdengar seperti lagu hits musim panas yang diciptakan oleh A.I. (artificial intelligence): bassline yang memantul, synth yang cepat, dan riff George Benson yang dimainkan dengan gembira seperti capung. Semuanya berada di tempat yang tepat, tetapi nadanya, serta banyak hal lain di sini seperti itu, memunculkan rasa bosan yang muncul ketika kamu akhirnya tiba di pantai dan bertanya-tanya apakah kamu sebenarnya masih ingin menghabiskan waktu di tempat tersebut. The Now Now diprogram menyenangkan—album ramah yang tidak pernah mengancam akan mengusirmu pergi—tetapi kesalahannya justru menarik dan merupakan bagian dari ketangkasan Gorillaz yang membangun dunia.

Keberhasilan The Now Now adalah sebagian karena daftar tamu yang sangat singkat (Snoop Dogg dan Jamie Principle, di “Hollywood,” adalah satu-satunya tamu yang menyumbang vokal), tidak seperti album tahun lalu Humanz yang punya terlalu banyak tamu. Daya tarik isolasi mendefinisikan album ini—Albarn menulisnya di kamar hotel saat sedang tur—dan motifnya sesuai dengan temanya tentang politik modern dan teknologi. Album ini pun dimulai dengan “Calling the world from isolation,” sebuah mantra yang berubah bentuk untuk menyinggung Brexit, undang-undang senjata, dan momok politik lainnya. Sangat berguna bahwa tema-tema ini, dengan sentuhan ringan Albarn, sebagian besar serupa, karena tema-tema ini kemudian menjadi terlibat dengan subplot hubungan yang disabotase. “Baby I just survived, I got drunk, I’m sorry, am I losing you,” keluhnya di “Fire Flies,” sebuah permohonan kembali yang bisa juga diartikan sebagai permintaan Inggris untuk kembali ke Uni Eropa. Setelah perasaan tanpa akhir yang terus menerus, ini adalah perkembangan pribadi yang disambut baik, meskipun dirusak dengan musik space funk yang lambat dan tidak menarik, yang hampir tidak lebih meyakinkan dari naratornya yang menunjukkan penyesalan.

Mengingat kegemarannya akan musik dari Mali dan Republik Demokratik Kongo, sangat menarik melihat Albarn tetap menjadi penggemar irama pop-house dan boom-bap yang generik. Gorillaz mungkin satu-satunya band di dunia yang bisa diperbaiki oleh Diplo: Homogenitas ritmis mereka—bersama dengan filter stasiun ruang angkasa pada vokal Albarn yang sudah melonggar—terkadang membatasi karya yang sebaliknya bisa menjadi manisan pop yang sangat bagus. Sering kali, lagu-lagu terbaik adalah yang paling sederhana, seperti “Souk Eye” dan “One Percent,” lagu akustik pilihan yang dihiasi dengan desiran android dan synth yang merindu. Kedua lagu ini mungkin telah menempati karya lanjutan dari Everyday Robots, LP solo Albarn di tahun 2014, kalau bukan karena binar-binar dongeng mereka—perasaan bahwa segalanya sangat buruk namun di saat yang sama juga penuh dengan sihir, sebuah kualitas yang menggerakkan semua karya Gorillaz yang secara apokaliptik paling bagus.

Albarn memiliki kesempatan untuk memperbaiki koleksi baladanya yang lesu di Everyday Robots, album solo pertamanya yang membiarkan kesedihannya eksis tanpa ornamentasi. Band kartun ini bisa mengejutkanmu seperti itu, di sebuah playlist pop musim panas atau di toko Urban Outfitters, yang membuat proyek ini, dengan cara yang aneh, menjadi perhatian solo yang lebih cocok daripada karya solo Albarn yang sebenarnya. Dia adalah institusinya sendiri sekarang, bukan seorang penggemar ataupun yang tahu segalanya, tak ada bandingannya, masih dengan pandangan anak sekolah untuk hal-hal yang absurd dan ketertarikan dalam hampir semua hal. Album ini mungkin terlalu sederhana untuk kebaikannya sendiri, tetapi The Now Now adalah persinggahan komersial langka yang terasa seperti produk yang sangat menarik.

Mata Mata Musik's Newsletter

Related Posts

Damon Albarn

Damon Albarn (Blur, Gorillaz) Debutkan Proyek Orkestra Baru Saat Lives...

Damon Albarn. (Foto: YouTube). Akhir pekan terakhir ini seharusnya menandakan peluncuran tur musim semi untuk proyek orkestra baru Damon Albarn yang bernama

on May 19, 2020
Gorillaz

Gorillaz Hormati Tony Allen Melalui ‘How Far?’, Lagu Baru Kolab De...

Band virtual Gorillaz buatan Damon Albarn. Gorillaz memberi penghormatan spesial kepada sang dramer Afrobeat legendaris, almarhum Tony Allen – rekan band

on May 4, 2020
BABYMETAL

BABYMETAL - Metal Galaxy, Penjelajahan Dunia Sonik Baru

Menggabungkan berbagai gaya musik, band asal Jepang ini menyajikan karya paling kreatifnya hingga saat ini, Metal Galaxy. Baca juga: Bagaimana Babymetal Uba

on Oct 11, 2019
Jason Ranti

Ulasan Album: Sekilas Info - Jason Ranti

“Iwan fals tak perlu cemas lagi karena (dirinya) telah teregenerasi,” cetus seorang warganet di kolom komentar Youtube. Baca Juga: 3 Musisi 3 Kota Berka

on Sep 3, 2019